Antara Wajah Cantik dan Hati Kedua Saya

Friday, November 1, 2013



Kenapa Saya Ingin Cantik?


Teringat dulu saat kuliah, seorang dosen manajemen sumber daya manusia, meminta saya menulis tanda tangan di papan tulis. Semua anak sekelas, termasuk dosen, ingin membaca diri saya lewat tanda tangan saya. Lantas apa kata sang dosen?

Dosen saya berkata : kamu ini punya rasa tidak percaya diri yang akut.
Ucapan dosen saya mengundang tawa anak-anak sekelas.
Kata mereka : Ngga mungkin orang kaya Achi gak pede.

Ya, anak-anak di kelas benar. Saya orang paling 'gila' di kelas. Suka telat tanpa rasa malu, suka ngem-Ci di kampus, doyan baca puisi di depan umum, pandai presentasi kala itu. Masa, sih, saya pemalu?

Tapi saya membenarkan ucapan sang dosen. Sangat membenarkan. Sejak kecil saya sudah kehilangan rasa percaya diri saya. Gigi saya yang rusak karena pengaruh antibiotika yang diminum mama saya sejak saya di kandungan dan bayi, kemudian penyakit sinusitis yang selalu membuat saya ingusan. Lalu mata saya yang jereng dan minus, serta kulit saya yang hitam. Dan keluarga saya yang berasal dari keluarga pas-pasan. Rasa tidak PD itu semakin menggila saat saya masuk SMP. Tapi saya selalu menutupinya dengan bercanda, tertawa, namun gagal. Saya seringkali sendirian, akhirnya menumpahkan rasa tidak PD itu lewat gambar dan tulisan.

Saya pernah dijauhi karena saya 'miskin' gak punya duit buat ke mall. Saya dikucilkan karena ingusan terus, pernah dihina-hina karena mata jereng. Saya terus berusaha menutupinya dengan tertawa, berusaha meraih prestasi. Tapi ternyata, saya selalu kalah lomba. Tak ada prestasi kemenangan lomba yang berhasil saya ukir. Kecuali menjadi juara 2 lomba pidato karang taruna nasional dari 2 peserta, lomba menyanyi se-RT dan yang agak bergengsi jadi juara 1 lomba membuat komik di majalah Annida.

Maka di balik sikap saya yang sok pede, sok hebat, sok kece dan lain lainnya, sebenarnya saya sedang menyembunyikan rasa tidak PD itu. Stress, kesal dengan tubuh sendiri, apalagi setelah SMA saya jadi bongsor dan gemuk, tambah tidak pedelah saya. Saya pun mencari prestasi lain : menjadi penulis hebat. Fokus menuju cita-cita itu membuat saya melupakan hal-hal yang membuat saya tidak PD.

Menghebat-hebatkan diri sendiri meski belum hebat. Sampai detik ini, kadang-kadang saya suka gak PD lagi sama badan saya. Kambuh istilahnya. Saya benci lihat mata jereng saya, saya benci lihat tubuh saya, saya benci lihat wajah saya, saya benci lihat hidung bengkok saya, saya benci lihat gigi saya yang jelek dan sering disangka orang sebagai perokok atau pecandu

Namun mulai detik ini, saya mau membuang sisa-sisa kebencian itu. Saya harus bersyukur dan menerima diri saya apa adanya. Terlebih setelah saya berteman dengan Ramaditya Adikara dia tidak jereng, lebih parah dari itu... dia tuna netra. Lalu kemarin di Subang saya bertemu Chrysanova Dewi yang secara fisik tidak sempurna tapi semangat mereka berdua sungguh luar biasa. Saya seperti ditampar oleh Chrysanova, di tengah ketidaksempurnaan fisik dia tetap percaya diri menulis, membuat kue, bergaul... dan mungkin masih banyak orang-orang yang tak seberuntung kita. Seperti Putri Herlina misalnya yang kemarin sempat jadi Hot Issiue di FB.

Sebelum menulis status panjang ini, saya bercermin. Memerhatikan bagian-bagian wajah yang saya benci. Lalu istigfar berkali-kali untuk kesekian kalinya. Beryukur adalah kunci utama menerima diri. Khususnya menerima kondisi tubuh diri sendiri. Masih banyak kelebihan lain yang Allah beri pada kita. Jadi janganlah fokus pada kekurangan fisik.

Ya, saya memang tidak seksi, tidak cantik, kulit kasar karena sering alergi, tidak putih, tak punya gigi rata dan bersih tapi saya tetap bisa berkarya. Tetap bisa beribadah...

Buat Pak Dosen, hari ini saya buang sisa tidak percaya diri di dalam diri saya. Tapi soal tanda tangan ngga bisa saya rubah. Sudah masuk KTP, Rekening Bank dan tentu saja, saya penulis yang kelak TTD saya dicari banyak pembaca hmm....

Sebelum Saya Menerima... Ada Kejadian Yang Membuat Saya Merenung

Entah mulainya darimana, saya merasa menjadi penulis perempuan itu harus cantik dan berwajah kinclong supaya karya-karyanya laku. Entah saya dapat pemikiran darimana. Mungkin setelah seringkali saya melihat penulis-penulis perempuan berparas cantik, fashionable, bertubuh kurus, berwajah tirus, jilbab modis dan muka kinclong. Ya... saya tahu banyak sekali krim-krim wajah di luar sana yang bisa membuat wajah saya bisa kinclong dalam sekejap, obat dokter pun bertaburan. Sebenarnya saya bisa seperti mereka. Tapi saya ingin cantik alami.

Maka sekali lagi untuk kesekian kalinya saya memandang cermin dan melihat tubuh saya yang mekar pasca melahirkan dan sedang menyusui. Susah sekali turun berat badan ini. Sedihnya... 2 minggu lagi saya launching novel HATI KEDUA bersama teman duet saya Ramaditya Adikara menulis novel MATA KEDUA. Saya tahu launching itu akan jadi salah satu launching besar dalam novel-novel saya. Akan diliput banyak media dan sekonyong-konyong saya ingin kurus. Baiklah... ini gara-gara propaganda media yang menyebutkan bahwa cantik haruslah kurus, menyebalkan bukan? Karena tahu saya tak mungkin jadi kurus dalam waktu 2 minggu, maka saya memilih ingin wajah saya cantik. Saya trauma dengan krim-krim instan, krim korealah, krim kesehatanlah atau krim dokterlah... saya ingin menemukan ramuan cantik alami.

Maka saya mencoba beberapa herbal. Saya sibuk mencoba herbal ini dan itu, beberapa hari tak menemukan perubahan, saya mulai mencari pencuci muka baru. Mengganti merk sabun muka, dan walhasil saya malah jerawatan! Stress bukan main karena acara launching semakin dekat. Saya pun semakin ingin terobsesi cantik. Pikiran tolol saya, bila saya tampil cantik maka novel saya akan best seller. Toh Andrea Hirata saja tak pernah menjadi cantik tapi novelnya bisa go internasional.

Jerawat yang bermunculan itu membuat saya panik, lalu saya coba obat herbal jenis lain. Beberapa cara tradisional termasuk terapi air oksigen, eh, saya malah masuk angin. Ya ampun... bermula dari masuk angin itulah saya kemudian demam. Benar-benar demam dan kena flu berat. 

Saat demam, saya tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk menyusui pun saya kelelahan. Karena hati-hati mengkonsumsi obat saat menyusui, saya pun minum obat herbal yang proses penyembuhannya lama sekali. Minum parasetamol pun yang takarannya rendah. Alhasil saya sehari sembuh, besoknya kambuh. Saya merasa kalah dan terkapar di tempat tidur. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah : bagaimana saya bisa sembuh? Bagaimana saya bisa tampil maksimal saat launching kalau saya sakit begini? Maka sekonyong-konyong pikiran soal wajah saya terlupakan. Saya mengabaikan si jerawat kecil-kecil yang mulai nakal tumbuh karena efek ganti pembersih muka dan tidak cocok di muka saya. Saya ngga peduli sama jerawat itu, saya mendadak lebih peduli sama kesehatan saya. 

Maka sehari sebelum hari_H saya merenung. Ya Allah, apakah ini teguran darimu? Hamba terobsesi ingin cantik sampai tidak khusuk saat shalat, sampai mengurangi jatah membaca Al-Quran untuk perawatan wajah, sampai susah tidur karena pikiran selalu kepada : bagaimana jadi cantik dan cantik? Engkau menegur hamba Ya Allah... Engkau ingin hamba sadar bahwa kecantikan di dunia hanyalah sementara. Kecantikan tak lebih penting dari kesehatan!

Ya! Kamu masih bisa launching dan bekerja bila kamu sehat! Sedangkan secantik apa pun dirimu, selangsing apa pun tubuhmu jika kamu sakit dan terkapar di tempat tidur tak ada gunanya bukan? Maka malam itu aku menangis, memohon kepada Allah agar mengampuni dosaku. Sungguh obsesi cantik membuat aku terlena. Lupa bahwa banyak hal yang lebih penting dari sekedar cantik. Kecantikan fisik adalah obsesi dunia semata.

Esok paginya, dengan badan yang masih sakit dan letih aku memberanikan diri untuk tetap berangkat ke acara launching. Aku tak mau mengecewakan mas Rama, tak mau mengecewakan penerbit, tak mau mengecewakan pembaca yang sudah hadir untuk bisa berjumpa denganku. Sungguh... meski dengan suara yang parau dan napas yang agak tersengal, aku akhirnya bisa hadir di atas panggung launching. Sharing soal suka duka membuat Hati Kedua. Bahkan aku tetap membacakan surat cinta Rara kepada Rama dengan mengerahkan seluruh kekuatanku. Setelah launching selesai, rasanya semua urat sendiku mau putus *agak lebay ini hehehe* Tapi kelelahan itu berganti dengan kepuasan. Launchingnya sukses besar dan Insya Allah, novelnya pun akan jadi novel Best Seller Nasional! Aamiin....

Untungnya selama launching dan sesi foto plus TTD, ngga ada satu pembaca pun yang komen : mbak achi kok jerawatan? Kalau ada yang komen gitu mungkin udah aku lipet-lipet dijadiin perahu kertas... hehehe *canda ding. 

Kesimpulannya : Jika tubuh SEHAT maka kita pun akan CANTIK!











Belum baca HATI KEDUA? MATA KEDUA? 

Ini dia penampakan buku kembar tersebut.



Belum punya novelnya? Segera aja ke Gramedia. Satunya Rp. 69.000,- kalau beli dua ya Rp.69.000 dikali dua hehehe. Kalau mau paket murah meriah bisa langsung inbox ke 085643376193 : pesan Mata Kedua dan Hati Kedua, hanya 100 ribu saja (belum ongkir).

Penasaran mau mengenal jauh soal novel kembar ini? Silakan klik http://matahatikedua.com/
Ada Lomba menulis juga dari penerbitnya lho, berhadiah total 20 juta! Nih klik penerbitnya di : 
http://andipublisher.com/sub-16-lomba-menulis-cerita.html

Suka sama postingan ini? Silakan share ya, siapa tahu bermanfaat :)
Boleh tinggalkan jejak komen, siapa tahu menjalin silahturahim baru.

Salam
Achi TM








SUN(NY) - BAB 1

Sunday, July 14, 2013

                 Stasiun Tugu.
            Gelembung-gelembung sabun berterbangan di pintu masuk. Penjual gelembung berhasil menarik perhatian anak-anak. Satu gelembung mengenai pipiku dan pecah. Aku tergelak kecil, teringat masa saat aku bermain gelembung bersama adikku di Monas.
            Ke Jakarta… aku akan pergi. Disertai raut wajah sedih Pak’e yang semakin menua dan air mata Simbok yang mengendap-endap turun di sudut matanya. Setelah pembicaraan alot selama berhari-hari, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Jakarta.
            “Kamu yakin bisa jadi penulis?” tanya Pak’e di malam aku memutuskan untuk hijrah. Ia menyesap rokoknya perlahan, mengalihkan gundah pada asap-asap tembakau.
            Aku mengangguk penuh semangat. Meski di dalam hati aku sendiri bingung : benarkah aku ingin jadi penulis? Aku hanya suka menulis puisi tapi tak pernah berpikir ingin menjadi seorang penulis. Tapi hanya itu profesi yang terpikirkan olehku. Menjadi sekretaris, administrasi kantor, marketing? Itu sudah masuk dalam balik bantal lusuhku, hanya berkawan dengan mimpi-mimpi di malam hari. Kantor mana yang mau menerimaku kerja?
            Pernah aku bekerja di sebuah warnet, sebagai admin. Hanya karena salah mengambil uang lima puluh ribuan yang aku kira sebagai uang ribuan, aku dimarahi habis-habisan. Aku hanya kurang konsentrasi saja.
            Aku juga pernah bekerja di taman bacaan. Hanya sebagai sukarelawan, di sanalah aku mengenal novel-novel milik Samudera Hujan. Seorang penulis perempuan yang diam-diam aku berikan titel sebagai idolaku. Bekerja di taman bacaan tidak membuat aku merasa hidup. Mungkin aku akan bertahan di kota ini kalau saja teman-temanku tidak banyak usil bertanya.
            Setiap ada reunian SMA atau hang out bareng teman-teman kampus dulu, selalu saja ditanya : kerja di mana? Atau pernah kerja di mana? Ini lebih menyakitkan daripada pertanyaan : sudah menikah atau belum? Kalau belum menikah mungkin hanya akan disangkutpautkan dengan jawaban : belum ketemu jodohnya.
            Tapi kalau belum pernah bekerja meski sudah 2 tahun lulus kuliah manajemen, pasti akan disangkut pautkan dengan : kepribadian aku yang kurang memenuhi syarat psikolog, atau cibiran kecil yang menunjukkan kalau aku bodoh.
            Lebih menyakitkan lagi jika harus bertemu dengan teman-teman SMA yang pernah mengejek aku. Waktu itu sedang pelajaran Kimia dan kami harus memasukkan cairan berwarna biru –entah apa- ke dalam sebuah wadah. Ada tiga cairan dengan warna hijau, kuning dan biru saat itu. Ketika giliranku untuk mencampur cairan, aku memasukkan cairan warna biru ke dalam wadah cairan hijau. Seorang teman yang agak menyebalkan saat itu malah menertawaiku.
            “Cerah ndak lulus TK yo… ndak bisa bedain warna!” celetuknya mengundang tawa. Mungkin lucu. Aku pun ikut tertawa.
            Tapi siapakah yang tahu kalau saat itu aku melipat sedih?
            “Kenapa ndak cari guru menulis di Yogya saja, tho, nduk? Di Yogya, kan, banyak akademi penulis. Banyak penulis-penulis cakep juga.” Kata Simbok yang sedang mengupas bawang malam itu. “Malah Mas Anton bilang, sekarang di Yogya sudah banyak penerbit… opo itu, yang suka bikin-bikin buku.”
            “Buat apa ke Jakarta kalau begitu?” sambung Pak’e.
            “Saya mengidolakan penulis yang bernama Samudera Hujan, Bu. Kemarin saya lihat di internet, dia sedang ada di Jakarta selama dua bulan.”
            “Jadi ke Jakarta dua bulan saja, tho?” selidik Pak’e.
            Aku menunduk, mengangguk, memainkan ujung tikar. Maunya, tidak usah balik lagi ke sini sebelum aku jadi orang sukses. Sebelum aku punya pekerjaan. Kerja apa saja di Jakarta asal aku tidak pengangguran dan diremehkan di sini. Aku menghela napas, tak sanggup meluncurkan keluhan itu.
            “Kamu itu… padahal kalau menyerah cari kerja di Yogya, kan, bisa pergi ke Solo, Semarang, Klaten. Ndak mesti pergi ke Kota itu. Bikin tambah sesak saja kamu.” Pak’e mematikan rokoknya lalu bangkit.
            “Ya… ndak apa-apa, tho… Mas Agung, Mas Timo dan Mbak Yas aja bisa berhasil di sana.” Aku menyebut nama tiga sepupuku.
            “Mereka di Bekasi, bukan Jakarta.” Ralat Simbok.
            “Dekat-dekatlah, Mbok.”
            “Ya… terserah kamu saja.”
            Setelah janji kalau dua bulan lagi aku akan pulang ke Yogya, Simbok dan Pak’e pun mengizinkan. Mereka mengantarku sampai di stasiun Tugu. Mutiara sudah membelikan aku tiket kereta kemarin, jadi hari ini aku tak perlu capek-capek mengantri tiket.
            Tangan kananku mencangklong ransel besar sedangkan tangan kiriku menarik koper.
Simbok membawakan satu kardus oleh-oleh dari Yogya. Ada bakpia, kerak nasi, geplak, dan yangko. Kata Simbok, aku wajib mampir ke rumah budeku, mampir juga ke rumah Mas Agung, Mas Timo dan Mbak Yas untuk memberikan oleh-oleh dan salam dari Simbok serta Pak’e. Pak’e membawakan satu kardus oleh-oleh lagi. Katanya untuk penulis idolaku itu. Samudera Hujan.
            Aku tergelak kecil. Apa mau orang seperti dia makan makanan kampung begini? Tapi aku tak kuasa menolak kehendak Pak’e. Kereta belum datang. Peron terlihat cukup sepi, karena memang bukan musim liburan mahasiswa. Aku sengaja pergi di hari dan bulan-bulan sunyi. Penjual roti cane melintas, seorang ibu-ibu menawarkan blangkon dan batik, seorang bapak-bapak yang lain menjual kaos dagadu murah. Berkali-kali aku menolak dengan sopan sampai kemudian terdengar pengumuman Senja Utama Yogyakarta menuju Jakarta sudah tiba.
            Aku, Mutiara, Pak’e dan Simbok berdiri. Siap dengan barang bawaan, menunggu kereta datang.
            “Ceraaah!” suara beberapa perempuan yang tak asing di telingaku, membuat langkahku tertunda. Masih berdiri di kursi peron, teman-temanku itu berlari berhamburan ke arahku.
            Teman-teman geng waktu kuliah. Ada 7 orang, empat di antaranya sudah menikah dan yang pasti mereka bertujuh sudah bekerja. Aku menyambut mereka dengan sapaan hangat. Asih mencubit pipiku kencang.
            “Kenapa pergi di hari kerja? Kami jadi harus kabur dari kantor buat ngejar kamu.”
            “Iya… kirain ndak jadi ke Jakarta.” Timpal Wuri.
            “Mau apa tho ke Jakarta? Ngoyo bener… mau cari jodoh, yo?” Sari nyeletuk dan langsung disikut oleh Dewi. Aku pura-pura meninju bahu Sari.
            “Mau nyari berondong….” Jawabku kalem. Ketujuh temanku tertawa kencang.
            Kami pun ngobrol singkat, masing-masing memberikan wejangan. Suara deru kereta api yang datang membuat suara mereka hilang pelan-pelan, berganti bising. Tapi kami tetap saling tertawa sampai kemudian aku melihat sosok lelaki itu di belakang tubuh Dewi. Ia berjalan pelan sambil memasukkan tangannya ke saku, sebuah gaya jalan yang dulu pernah aku cintai. Semua kebisingan dan suara tawa sahabatku berubah menjadi sebuah suara baret yang menyayat-nyayat luka. Asih sepertinya sadar kalau aku berhenti melengkungkan bibirku. Ia menoleh ke belakang, tepat saat lelaki itu menghentikan langkahnya sekitar 70 meter dari arah kami.
            “Rah, katanya dia sudah mau bercerai sama istrinya.” Wuri langsung bicara di dekat telingaku. Membuat bulu halusku meremang.
            “Benarkah?” tanyaku dengan bibir nyaris beku.
            Asih langsung menghalangi pandanganku dari bayangannya. “Wis kamu di Jakarta hati-hati, ya.” Dia memelukku erat. Asih paling tahu apa yang aku rasakan. “Aku sudah ancam dia supaya ngga datang, tapi dia ngotot mau ketemu kamu.”
            Kudengar suara Pak’e memanggilku. Kereta sudah lama berhenti, orang-orang mulai sibuk menaikkan barang bawaan mereka. Aku menoleh ke Pak’e dan meminta waktu sebentar dengan isyarat mata dan bibir. Pak’e tersenyum kecil dan mengangkut koper yang aku pegang, ia naik ke atas kereta bersama Simbok dan Mutiara. Setelah mengucap terima kasih dengan setengah mendesis, aku kembali pada teman-temanku. Aku peluk mereka satu per satu. Pelukan yang kaku.
            Bukan karena mereka terasa jauh dariku. Tapi pandangan lelaki itu membuat aku tak nyaman. Sampai akhirnya lelaki itu menyeruak ke belakang tubuh Dian yang aku peluk paling akhir. Dia menyerobot masuk pada jarak antara tubuhku dengan tubuh Dian.
            “Cerah. Kalau kamu sudah sampai Jakarta jangan lupa pulang, ya. Kalau kamu pulang, aku siap menyambut kamu.”
            “Terima kasih.” Aku meringis kecil, tersenyum kikuk, memperbaiki anak rambutku yang masih rapih. Suara dari speaker stasiun menandakan bahwa kereta akan segera berangkat. Pak’e sudah berteriak dari jendela kereta.
            Aku berbalik badan dan berlari cepat, setengah melompat aku masuk ke dalam gerbong kereta dan berjalan mencari tempat dudukku yang sudah ditempati oleh Pak’e. Barang-barangku sudah dikemas rapih di atas bagasi kereta, di samping Pak’e duduk ada seorang perempuan berbadan mungil dan kecil, perempuan berambut lurus dan hitam lebat itu tersenyum padaku.
            Pak’e menghampiriku, memeluk dan memberikan wejangan. Simbok eman-eman soal oleh-oleh sedangkan Mutiara minta foto Donny Alamsyah dan tanda tangannya. Walah… memangnya aku bisa bertemu artis semudah itu? Tapi Mutiara ngotot dan merengek. Sampai kemudian Pak’e menariknya turun dari kereta.
            Aku melambai pada mereka hingga ke luar jendela. Pak’e, Simbok dan Mutiara berbaur dengan ketujuh temanku. Mereka bertujuh ribut bukan main.
            “Awas kecantol cowok ganteng, ya!” teriak Asih yang sepertinya sengaja memanas-manasi lelaki di belakangnya.
            “Oleh-oleh, yo… emasnya monas!” seru Wuri.
            “Awas kalo ndak pulang pas reuni… putus hubungan!” teriak yang lain dan disambut gelak tawa.
            Aku hanya terbahak sambil terus melambai dan melambai. Kurasakan kereta perlahan bergerak maju, bayangan tubuh mereka semakin jauh. Bagaikan layar film yang berganti adegan. Sosok lelaki itu yang terakhir aku lihat, ia melambai penuh arti dan segera kutarik tanganku agar tak membalas lambaiannya. Tubuhku seperti kaget, terkejut dan tak tahu bagaimana harus bereaksi, terduduk lemas. Menyandar di jendela.

            Bayangan-bayangan masa lalu berkelebatan datang. Sesuatu yang sudah lama aku kubur dan menjadi salah satu alasan mengapa aku ingin pergi dari kota kelahiranku. Dia… dia dan dia! Lelaki itu. Mengeja namanya saja di hatiku sudah menyesakkan. Seperti ada sebuah tangan gaib yang menyumpal seluruh rongga tubuhku dengan daun-daun kering dan memaksaku untuk ikut menguning.

.........

(baca lanjutannya di novel terbaru saya berjudul SUN(NY) sekuel dari novel CLOUD(Y)

Adikku Yang Yatim

Tuesday, June 11, 2013

Namanya Alkhaiduri Hudaya Arsi, dia disunat saat berumur 5 tahun menjelang 6 tahun. Aku ingat sekali saat dia disunat, setelah bius sunatnya hilang dia kesakitan bukan main. Aku mengenggam tangannya, memeluknya dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Aku mengajarkan dia beristigfar lebih lama setiap dia merasakan sakit. Uniknya, adikku ikut sunatan massal. Tidak ada pesta sama sekali karena kondisi keuangan keluarga memang sedang tidak stabil. Yang lebih menarik lagi, dia disunat atas kemauannya sendiri. Bahkan ayahku pun sampai kaget dengan keberaniannya.

2 tahun kemudian, ayah meninggal karena penyakit Kanker yang menggerogotinya. Mungkin... disunatnya Ucha adalah satu dari sekian pertanda bahwa umur Ayah tidak akan lama. Ucha ditinggalkan saat usianya 6  tahun lebih. Menjelang tujuh tahun. Dia masih kecil, belum mengerti apa-apa, bahkan ia merasa sedikit 'senang' karena kalau Ayah meninggal tidak ada yang memarahi dia lagi. Ayah sebenarnya hanya marah untuk hal-hal yang penting. Seperti kalau Ucha tidak mau shalat di masjid atau tidak mau mengaji, Ayah marah. Atau kalau Ucha terlalu banyak makan mie dan jajan sembarangan, Ayah pasti marah. Marah yang tegas. Tapi, ya, namanya anak kecil. Kemarahan itu dianggap sesuatu yang menakutkan.

Tiga tahun lebih sudah berlalu, umur Ucha sudah mau 11 tahun. 3 Tahun yang dilalui dengan berat oleh kami. Kelima kakak-kakaknya. Berat... karena setelah Ayah meninggal, mama sakit-sakitan. Mama menemukan 'kesehatan'nya setelah beliau aktif kembali di PAUD. Kami senang melihat mama sehat lahir dan batin tapi mau tidak mau, Ucha jadi agak sedikit 'terlantar'. Terlebih kelima kakaknya sudah sibuk semua. Kami takut Ucha kehilangan figur seorang Ayah. Beruntung, Ucha ngga pernah kehilangan figur mama, meski mama sibuk melanjutkan kuliah S1-nya di usia ke 51 tahun.

Setelah Ayah meninggal, Ucha berkembang sangat pesat. Berkembang fisiknya. Ia layaknya anak kelas 1 SMP. Siapa sangka dia masih kelas 4/5 SD? Tak banyak juga yang tahu bahwa ia adalah anak yatim. Pun banyak yang tahu tapi abai terhadap kesejetahteraannya. Khususnya aku... kadang aku abai terhadap kebutuhan dia akan kasih sayang. Khususnya setahun belakangan ini. Dia semakin tumbuh besar tapi jiwanya masih jiwa anak-anak. Dia acap kali kena marah kakak-kakaknya karena kami ingin melindungi dia... memarahinya karena kemalaman bermain, memarahinya karena jajan sembarangan, dan marah-marah lainnya. Sampai kami sadar bahwa Ucha ini masih kecil! Dia butuh figur seorang Ayah. Dia bukan anak dewasa seperti kami para kakaknya. Meski kami memarahi dia karena kasih sayang.

Kami disibukkan oleh kesibukan masing-masing. Khususnya 2 tahun pertama sepeninggal Ayah, kami mati-matian membangun kembali ekonomi keluarga yang gonjang-ganjing. Selama ini ayahlah tumpuan keluarga. Ayah tak meninggalkan harta apa pun selain kebaikan-kebaikan dan nasehat yang lebih berharga dari harta. Beruntungnya tak ada hutang piutang yang melilit yang menyusahkan. Tapi kami, 6 bersaudara, baru 3 orang yang meretas. 3 Orang lainnya, 1 masih kuliah, 1 masih kelas 2 SMA dan 1 masih kelas 2 SD. Tentu butuh banyak pendanaan. Kesibukan kami membenahi keuangan membuat kami agak lengah dengan kesejahteraan hati Ucha. Sampai suatu hari... aku sadar, kami sadar, bahwa Ucha juga butuh pelukan. Ucha butuh kasih sayang dan kelembutan. Ucha butuh dimanja layaknya anak seumur dia.

Sejak aku punya anak, kasih sayangku padanya berkurang. Aku harus mencurahkan kasih sayangku kepada anakku. Beruntung... selalu ada kesadaran bahwa Ucha adalah anak yatim. Bahwa meski dia adikku, dia layak disayangi, layak dikasihi....

*curhat sore hari semata.



Diskusi Dokter and I saat Sesar

Friday, May 31, 2013

Waktu lagi dioperasi sesar, dokter A, SPOG sekaligus pemilik RSIA tempatku disesar, bertanya padaku :
Dokter A : Ibu asli dari mana?
Aku : Lahir di Jakarta, besar di Tangerang, Dok.
Dokter A : Orang tua asli mana?
Aku : Ayah dari Aceh, Dok. Ibu dari Jawa-Betawi.
Dokter A : Suami asli mana? *sambil terus oprek-oprek perut gue yang udah mati rasa.
Aku : *nahan ngantuk. Dari Jogja, Dok.
Dokter A : Waah... anaknya bisa jadi presiden, dong... kan rata-rata orang Jawa semua.
Aku : *melek lagi* Aamiin... (suara kenceng)
Dokter A : Tahi-tahu ngomong bahasa Aceh.
Aku : Bengong ... Hah? saya ga bisa ngomong bahasa Aceh, Dok.
Dokter A : Katanya Ayah kamu dari Aceh?
Aku : Lha iyaa... tapi saya ke Aceh juga baru sekali...
Dokter A : ber--Oooo terus diem....

Malamnya, temenku jenguk. Ngobrol-ngobrol terus cerita.
Temen : Eh, Dokter A, kan orang Aceh asli... dia katanya kalo ada pasien orang Aceh suka dikasih diskon rumah sakit sampe 50% lho...
Aku : Huwaaa.... tau gitu tadi gue kursus bahasa Aceh duluuu sama Vie Rynov lumayan, kan, diskon sampe 6 juta bo!

Masa Depan Untuk Kamu Sendiri

Wednesday, April 10, 2013

Selama beberapa tahun, saya selalu bertemu dengan orang-orang yang kebanyakan tidak punya visi dan misi dalam hidup mereka. Jangankan visi misi hidup, untuk menyatakan apa cita-cita mereka saja, banyak yang masih ragu. Tidak mantap dalam menyebutkan cita-cita. Kalau sudah tak mantap diucapkan apakah bisa mantap diperjuangkan?

Kebanyakan, mereka yang saya temui -yang tidak punya visi misi hidup- adalah kaum perempuan. Entah kenapa bisa begitu, mungkin kebetulan saja saya yang bertemu mereka. Dari hasil renungan saya yang pendek, saya mengambil kesimpulan bahwa mereka -para perempuan yang tak bervisi misi itu- masih berpikir bahwa perempuan kelak hanya akan menikah, jadi ibu rumah tangga, kerja di dapur, mengurus suami dan anak saja. Sehingga tak perlu bersusah payah rasanya membuat target-target hidup serta merancang masa depan.

Ini, sih, pemikiran saya saja yang mungkin ngalor ngidul. Tapi sungguh, selalu gemas jika bertemu dengan mereka-mereka yang kerap kali berprinsip : hidup ngalir aja, deh, kayak air.

Kalau ditanya : Tahun depan punya target hidup apa? Jawabnya : Ngalir aja. Ngambang aja. Ngikut arus aja. Hello... ini bukan jamannya lagi kita ikut arus.

Ketika saya masih SMP, saya juga hobi bilang : ikut arus ajalah, santai aja hadapi hidup. Kayaknya kalau nyebut kalimat itu keren banget deh. Rasanya seperti anak gaul kebanyakan. Tapi saat SMA, saya digodok sama almarhum ayah saya supaya melek pada kehidupan. Saat saya sedang asyik-asyiknya nongkrong, ngeband, main, ngalor ngidul dan pulang malam. Alm Ayah saya selalu marah-marah.

"Udah gede mau jadi apa?"
"Kamu kayak ngga punya target hidup!"
"Kamu tahu kerasnya persaingan dunia kerja di luar sana setelah kamu lulus SMA?"
"Emang kamu kira Ayah bisa nguliahin kamu sampai jadi sarjana? Gimana kalau nanti Ayah ngga punya uang buat membayar kuliah kamu? Bisa apa kamu setelah lulus SMA?"

Dengan lantangnya saya jawab :

"Saya bisa nyari duit dari nulis!" (saat itu baru kelas 2 SMA dan boro-boro ada cerpen yang dimuat. Semua cerpen saya ditolak dengan sempurna)
"Ayah ngga yakin kamu bisa dapat hidup dari nulis!"
"Achi yakin!"
"Pokoknya Ayah mau kamu membuat target hidup lima tahun ke depan!"

Saat itulah saya memulai sesuatu yang baru. Menuliskan target hidup untuk 5 tahun ke depan. Percaya atau tidak, saya menuliskan di target hidup saya : Umur 21 tahun saya harus sudah jadi penulis cerpen. Umur 22 tahun saya harus punya novel dan menikah!

Target hidup itu saya pampang di lemari kamar saya. Setiap saya masuk kamar pasti selalu saya baca, saya aminkan sehingga saya aplikasikan pelan-pelan. Target singkat yang saya tulis dalam hidup saya adalah : Seminggu minimal saya menulis satu cerpen sampai saya berhasil menembus media. Dan itu butuh waktu 2-3 tahun!

Puluhan bahkan ratusan cerpen saya yang rongsok, ngga kepake, kebuang di disket, ditolak di sana sini dan ngga berbobot sama sekali. Tapi dari ratusan itu saya bisa menghasilkan 1 cerpen yang akhirnya nembus media.

Dari Ayah sayalah saya belajar untuk punya visi misi dalam hidup. Untuk melangkah dan fokus pada cita-cita saya. Meski Ayah kerap meremehkan saya untuk jadi penulis tapi saya tahu diam-diam Almarhum mendukung saya. Dia keras mendidik saya, memarahi saya, memberi saya sejuta nasihat. Bahwa hidup ini ngga mudah. Bahwa hidup ini perjuangan. Ayah ngga pernah ngajarin saya bahwa kesuksesan adalah : rumah mewah, mobil mewah dan uang yang banyak.

Ayah hanya mengajarkan saya untuk sukses dalam hidup. Sukses versinya Ayah adalah : menjadikan anak-anaknya bermanfaat bagi orang lain, berjalan di jalan Allah dan apa pun yang anak-anaknya lakukan harus karena Allah. Kalau kelak jadi penulis haruslah menulis karena Allah.

Akhirnya visi misi saya lebih kepada : bermanfaat untuk orang lain, membangun sesuatu yang bisa mensejahterakan saya dan orang lain. Cita-cita saya adalah membangun taman bacaan, sekolah menulis, jadi penulis yang bermanfaat dunia akhirat dan selama bertahun-tahun saya berjalan menuju ke sana.

Maka ketika ada orang-orang yang sudah berumur 25 tahun masih galau sama kehidupannya boleh jadi dia tak punya visi misi dalam hidup. Bahkan ngga tahu dia mau ngapain dalam hidup ini. Sebagai umat Islam saya miris sekali melihat begitu banyaknya orang-orang shaleh tapi nyaris tidak punya visi misi dalam hidupnya. Nyaris tidak ada pergerakan menuju impian dan cita-cita. Kalau pun punya impian hanyalah sebatas "mimpi" yang tidak diperjuangkan.

Ayo! Islam harus bangkit! Pemuda-pemudinya jangan hanya fokus sibuk grasak-grusuk ibadah untuk diri sendiri. Tapi beribadahlah untuk orang lain. Membangun masyarakat dengan apa yang kita mampu. Minimal kita bisa membangun diri kita sendiri. Menciptakan masa depan kita sendiri.

Kita tahu semua masa depan kita adalah kematian dan Islam mengajarkan agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. Jadi jangan lagi berkata hidup ini ngalir aja kayak air. Jangan pula hanya sekedar berkata tapi mulailah merombak diri : pastikan tujuan yang mau kamu capai, apa impian yang ingin kamu raih.

Apakah Rasulullah hanya menjalani hidup seperti aliran air? Tidak! Beliau punya target dalam dakwah, memanage dengan baik, beribadah tidak hanya kepada Allah tetapi juga untuk kemaslahatan ummat. Nah, mari kita membuka mata. Jangan sia-siakan masa muda.

Di umur saya yang ke-28 tahun ini saya mendapatkan banyak sekali kekayaan batin. Dari hasil didikan Ayah, saya pun mendidik beberapa anak kursus Rumah Pena seperti Ayah dulu mendidik saya. Alhamdulillah sudah beberapa orang akhirnya bisa mandiri, menggapai impian dan cita-citanya. Meskipun saya sendiri masih sering labil, masih sering jatuh tapi saya selalu berusaha bangkit lagi. Karena saya tahu jalan mana yang akan saya tempuh. Kalau pun jalan yang tempuh salah, Allah pasti akan menunjukkan kesalahannya dan memberitahu mana jalan yang terbaik bagi salah. Meski terkadang dalam menunjukkan jalan itu saya harus dibuat menangis-nangis dan terluka. Tapi terlukanya hanya menurut kita, padahal Allah tak pernah berniat melukai hamba-Nya.

Al Fatihah untuk almarhum Ayah saya yang meninggal tahun 2010.
Achjar Chalil bin M. Arsjad.

Masa depan untuk kita sendiri, untuk kamu sendiri, jangan sampai terlambat melangkah meraih cita-cita dan impian. Tetapkan visi hidup mulai dari sekarang!

Rumah Pena, 10 April 2013


Tuan Narsis Over Dosis


TUAN NARSIS OVER DOSIS
~ Achi TM ~


Ini dia Sinopsis FTV lama yang saya posting lagi di sini. Semoga bisa membantu teman-teman yang mau belajar menulis skenario ya ^_^
Ini link FTV-nya, ditayangkan di RCTI.




*** 

     Feri (20th) adalah ketua geng cowok popular di kampus Vita (19th). Tentu saja dia popular bukan karena dia cerdas dan baik hati. Feri popular karena tingkahnya yang sok kayak preman. Galak, suka memalak mahasiswa, naik moge tanpa spion kemana-mana, selalu pakai baju berantakan dan sering kali mainin perasaan cewek. Alias, semua cewek yang nembak dia selalu dia tolak. Feri anti sama perempuan, apalagi sama perempuan yang suka pakai cermin. Feri punya tiga anak buah, Bima si cungkring, Timo si gendut dan Gadis si cewek mungil. Feri punya benda rahasia yang ia kalungkan dalam sebuah kotak kecil. Semua orang tidak ada yang tahu apa isi rahasia itu, yang bisa bikin Feri mati kutu dan klepek-klepek. Tapi, Cuma Vita yang tahu. Kok bisa?
            Vita ini adalah cewek cupu di kampus. Dia selalu saja jadi bulan-bulanan Feri n the genk. Biasanya yang Feri suruh buat menggeledah barang milik Vita adalah Gadis. Vita selalu menyimpan benda-benda mahal yang ia sembunyikan di dalam tasnya. Apalagi kalau sedang dikerjai, Vita hanya bisa diam saja. Tapi dalam hatinya, Vita benci banget sama Feri.
Sampai suatu hari, ia ditolong oleh Raka (20th) cowok baik hati, anggota senat dan pujaan banyak mahasiswi juga. Karena hal itulah, Vita jadi mulai jatuh cinta sama Raka. Karena itulah Vita terus membuntuti Raka yang apesnya ketahuan sama Feri saat Vita masuk ke dalam sebuah gang kecil. Feri pun meminta uang sama Vita tapi Vita menolak dan memberontak. Benda pusaka Feri yang selalu cowok itu kalungkan. Vita heran karena isinya hanya sebuah cermin. Feri mengejar Vita dan tanpa sengaja Vita menyodorkan cermin itu. Saat melihat cermin itu, reaksi Feri langsung berubah. Dia langsung narsis over dosis alias menyukai dirinya sendiri di cermin itu. Bisa berjam-jam dia di depan cermin hanya untuk menata rambut, mengelus wajah dan memilin jenggot tipisnya. Meski sudah Vita tinggal tapi Feri tetap pada posisinya yang sama. Karena kasihan, Vita menarik cermin itu dan menutupnya. Saat ditutup, Feri langsung sadar dan ngga narsis lagi. Dia malu sama penyakit anehnya itu dan memohon sama Vita supaya ngga menyebarkan aib itu.
Pantas saja Feri tidak pernah mau melihat cermin bahkan motornya pun ngga pake kaca spion. Feri pun cerita perihal sakit narsisnya itu, karena sejak kecil ia selalu ditinggal kedua orang tuanya dan ngga punya teman. Di kamarnya ada sebuah cermin besar, saat melihat cermin itu, Feri jadi senang ngobrol sendiri sama bayangannya di cermin sampai-sampai dia menganggap dirinya adalah yang paling sempurna. Vita pun jahil dan memegang cermin keramat Feri. Cermin kecil itu ternyata adalah peninggalan almarhumah ibunya yang meninggal 2 tahun yang lalu. Semua cermin di rumahnya sudah dihancurkan sama bapaknya Feri. Hanya tersisa cermin itu saja.
Vita pun berjanji tidak akan membongkar aib Feri asalkan Feri mau mengikuti semua perintahnya. Feri pun terpaksa. Vita meminta Feri and the gank buat membuntuti Raka dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Raka. Akhirnya dengan segala kekonyolan yang ada, Feri and the gank mencari-cari informasi soal Raka. Mulai dari rumah, makanan kesukaan, kebiasaan Raka sampai warna celana boxing yang lagi Raka pakai. Gadis, sih, suka-suka aja karena Raka itu keren. Tapi Gadis lebih suka sama Feri daripada Raka. Jadi Gadis suka sebal kalau Vita memperlakukan Feri semena-mena, seperti mau balas dendam. Seperti Feri diminta buat bawa bakul jamu ke kelas Vita, memijiti Vita bahkan meminta Feri berteriak di lapangan kalau Vita adalah gadis tecantik di kampus. Jelas saja Feri disorakin, karena Vita, kan, cewek yang nerd banget di kampus.
Tapi keisengan Vita malah membuat petaka. Cewek-cewek di kampus yang ditolaki sama Feri langsung mengejar Vita dan mengerjai Vita di taman dekat kampus. Beruntung Raka datang dan membuat Vita tertolong. Di sana Vita keceplosan kalau dia suka sama Raka. Raka pun menyambut cinta Vita. Betapa girangnya Vita karena ia bisa jadian. Orang yang pertama kali Vita kabari adalah Feri. Ia mencari Feri ke sana kemari dan memeluk Feri yang ternyata lagi narsis sendirian di ruang dosen. Si dosen sendiri bingung sama ulang Feri. Akhirnya Vita menghancurkan kaca dan membuat Feri sadar. Vita bilang dia udah jadian sama Raka. Feri ikutan girang, tapi Vita dikejar dosen karena sudah menghancurkan cermin yang ada di ruangannya.
Sejak Vita jadian sama Raka, Vita perlahan-lahan berubah. Menjadi lebih cantik. Feri lambat laun jadi kehilangan sosok Vita. Gadis menyuruh Feri mengambil cermin keramatnya tapi Feri menolak. Dia ngga mau menganggu Vita. Malah Gadis yang menghampiri Vita dan minta cermin itu. Saat Vita mau memberikannya, ia baru ingat kalau tak sengaja cermin itu ia titipi ke Raka. Gadis dan Feri pun mencari Raka. Karena lelah mereka mampir ke minimarket, di sana ternyata minimarketnya baru saja kerampokan. Dengan gagah berani Feri mengejar 3 kawanan perampok yang salah satunya ternyata dalah Raka.
Feri meninju Raka habis-habisan, Raka minta agar Feri tidak membongkar rahasianya. Tapi Feri yang sudah kadung sebal sama Raka langsung mengadukannya ke Vita. Vita tidak terima kalau Feri memfitnah Raka seperti itu. Raka itu cerdas dan dia anggota senat! Teriak Vita saat akhirnya mereka bertengkar. Raka lega karena Vita tidak percaya sama Feri. Tapi Feri tidak putus asa, ia terus mengikuti Raka untuk mendapatkan bukti sampai kemudian, Raka menemukan kelemahan Feri. Cermin kecil Feri yang sengaja jatuh dari tas Raka. Saat melihat cermin itu, Feri langsung berubah jadi narsis over dosis. Naasnya, Raka malah menggiring Feri dengan cermin itu dan mengurung Feri di kandang kambing. Gadis yang melihat hal itu berusaha menarik Feri keluar dari kandang kambing tapi Feri menolak. Ia sibuk narsis di depan cerminnya. Gadis menarik cermin itu tapi dia malah diseruduk sama kambing. Gadis pun pergi meminta bantuan kedua temannya. Tapi saat Gadis dan kedua temannya datang ke sana, ternyata Feri sudah hilang. Feri sibuk narsis ria sampai-sampai lupa kalau ia berjalan ke sembarang arah.
Gadis menelepon Vita dan meminta Vita cepat datang. Karena ikutan panic, Vita ikut mencari Feri. Akhirnya Vita menemukan Feri dalam keadaan tetap bercermin dan kakinya mau terperosok ke jurang kecil. Vita dan memeluk Feri, cermin di tangan Feri pecah. Vita ketakutan kalau Feri jatuh dan mati. Feri jadi tersentuh karena Vita khawatir.
Di sebuah balai-balai bamboo, Vita memberi kepala Feri yang terluka dengan obat. Melihat hal itu, Gadis cemburu dan merebut obat-obatan di tangan Vita. Gadis menyuruh Vita pergi tapi Vita ngga mau. Saat itulah Raka kembali datang dan meminta Vita pulang. Raka kesal karena melihat Feri baik-baik saja. Vita bingung antara pulang atau mengobati Feri. Vita akhirnya naik ke dalam mobil Raka dan pulang sama Raka. Tapi di rumah, ia selalu teringat Feri. Esoknya di kampus, Feri tidak kuliah.
Selama satu minggu, Feri menghilang. Ketiga temannya juga tidak tahu keberadaan Feri. Hal itu membuat Vita kehilangan. Sementara itu, Raka dan kedua temannya sedang merencanakan perampokan selanjutnya. Raka butuh uang banyak agar bisa membayar cicilan mobil yang setiap hari ia bawa ke kampus. Raka ingin hidup mewah padahal orang tuanya berasal dari keluarga biasa saja. Malam itu, mereka berencana merampok ke sebuah rumah yang ternyata adalah rumah Feri. Raka tidak mengetahui hal itu.
Saat Raka mau merampok, kebetulan Vita datang ke rumah Feri dan disambut oleh pelayannya Feri. Ketika pelayan memberikan teh pada Vita, Raka cs datang memakai topeng. Raka kaget melihat Vita dan hendak kabur tapi ditahan oleh kedua temannya. Vita pun disandera sama kedua temannya, beruntung Vita pernah menghadapi Feri saat masih sering mengerjai dia, jadilah Vita punya celah untuk melawan. Saat itulah, Vita menarik topeng Raka dan terkejut melihat pacarnya itu.
Vita marah pada Raka sementara Raka berusaha untuk menjelaskan. Sayang di kejauhan, mobil orang tua Feri datang. Kedua teman Raka segera menyeret Raka untuk pergi sebelum ditangkap polisi. Di rumah Vita sangat kecewa, ternyata dia sudah salah menilai Raka. Hanya dari pencitraan Raka semata. Aslinya Raka jauh lebih buruk dari Feri.
Esoknya Vita tak sengaja ketemu Feri di taman kampus, karena malu pada Feri, Vita akhirnya pergi. Feri menahan Vita. Vita pun curhat kalau hatinya hancur. Feri menjelaskan sama Vita kalau semua orang pasti punya kelemahan tapi bagaimana memperbaiki kelemahan itu adalah sebuah kelebihan. Raka minta maaf sama Vita dan berjanji akan memperbaiki kelemahan dirinya tapi Vita sudah terlanjur hilang rasa cintanya. Karena Raka pernah membohongi dirinya. Akhirnya Vita minta putus. Raka menyesal.
Melihat Feri yang murung karena jatuh cinta sama Vita, Gadis akhirnya mengalah. Ia dan kedua temannya mau membantu Feri untuk jadian sama Vita. Besoknya Gadis dan kedua teman Feri menculik Vita dan membawa Vita ke sebuah ruangan yang penuh cermin. Vita kaget karena Feri muncul di depan cermin dan bersikap normal saja. Feri bilang, selama satu minggu menghilang dia pergi ke ahli hypnosis dan psikolog. Feri mau meninggalkan penyakit narsis over dosisnya demi Vita. Soalnya kalau narsisnya masih akut, pasti bakalan merepotkan Vita terus. Vita tersipu malu. Feri bilang : Mencintai kamu lebih menyenangkan daripada mencintai diri sendiri.

***

Tanya Jawab Soal Kepenulisan (dari bikin judul sampai mangkas adegan)


Tanya : 
Mbak Achie, tanya lagi ya, waktu mengedit tulisan kita, misalnya saja novel, pertimbangan apakah saat kita memilih adegan yang kita tulis itu perlu dihilangkan atau dipertahankan?


Jawab :
Banyak membaca dan menonton bisa jadi referensi kita dalam membuat adegan. Kalau mau menghilangkan adegan : pilih yang ngga bermanfaat. Adegan yang ngga berpengaruh pada cerita, konflik atau ending. Kemudian pangkas adegan-adegan klise yang udah sering ada.


Tanya :

Mau nanya, Bagaimana menentukan Judul agar menarik dan sesuai dengan cerita yang kita buat..Aku lemah di dalam penentuan judul...("Kasi tau ya...thank you")

Jawab :
Dyah Rinni (Penulis Novel Marginalia menjawab )
Dyah Rinni @adrianus: coba deh cari beberapa kata kunci untuk novelmu. bikin daftarnya dan mulai mengotak-atik. bayangkan juga di toko buku nanti akankah dengan judulmu, orang akan lebih memilih bukumu dibandingkan dengan yang lain? jangan terlalu panjang agar orang lebih mudah menghafalnya


Tanya : 

Mbak Achie, pengen tanya, bener nggak sih kalau nulis novel semua tokoh harus muncul di bab I? Saya pernah ngobrol dengan salah satu pemilik penerbit di Jogja kata beliau seperti itu

Jawab :
Achi-tm Penulis Halo Irfa, ngga juga. Kalau tokoh utama iya, semua harus muncul di bab2 awal tapi ngga harus di bab 1. Kepenuhan dong nanti bab 1-nya. Coba sering-sering baca novel juga sebagai referensi 

Tanya :
beda nya cara menulis cerpen dengan diary apa kak.....????

Jawab :
Achi-tm Penulis Kalau cerpen itu fiksi, diary itu pengalaman nyata kita. Cerpen itu ada karakter dan tokoh fiksinya, ada konflik yang dibangun, ada ending yang terselesaikan. Kalau diary kebanyakan hanya berisi curahan-curahan hati dan perasaan saja. Kadang ngga jelas plot dan alurnya, sedangkan untuk cerpen, alur/plot harus jelas.


Yang mau tanya-tanya soal kepenulisan yuk gabung di Grup RUMAH PENA ini linknya.

Atau tanya-tanya di komen postingan ini juga boleh ^_*

DIBUKA KELAS MENULIS RUMAH PENA DI DEPOK

Thursday, March 14, 2013

Alhamdulillah sudah 2 orang mendaftar untuk ikut kursus menulis novel di Depok. Yuuk... siapa lagi yang menyusul? Peserta dibatasi hanya 15 orang lho ;)

***

Telah Dibuka! Kelas menulis novel tatap muka.
Bersama Aida Maslamah : Penulis novel Sunset In Weh Island (bentangbelia)

Pengen belajar menulis novel langsung dengan penulis yang produktif? Di Rumah Pena tempatnya. Kali ini Rumah Pena hadir di UKMC Universitas Indonesia Depok.

Kelas dimulai tanggal 4 April 2013
Ada dosen tamu juga yang didatangkan langsung dari penerbit mayor.

Investasi terjangkau : Rp. 500 ribu per bulan dan lama belajar 2 bulan: seminggu sekali.
Peserta hanya dibatasi 15 orang saja.

Segera daftarkan diri kamu. Dapatkan ilmu seputar mencari ide, membangun plot dan alur, karakterisasi tokoh, menulis bab per bab novel sampai bagaimana menemukan surprise ending.

PlUS : tips n trick nembus penerbit mayor! Jadi penulis novel itu asyik ;)

Info lebih lanjut bisa hub : 085643376193

Apakah Penulis WAJIB Punya Laptop?

Monday, February 4, 2013

Saya baru saja selesai memberikan sharing tentang perjalanan menulis saya di sebuah grup.
Rencananya saya mau copas sharing itu ke dalam blog ini, tapi sebelum saya mulai merapihkan isi sharing itu saya teringat pada sebuah pengalaman.



Impian terbesar seorang penulis adalah ingin sekali bisa menulis di mana saja, kapan saja. Tentu saja untuk mewujudkan keinginan itu setiap penulis harus punya gadget, minimal laptop yang bisa dibawa ke mana saja. Tahun 2005, ketika saya menekuni dunia menulis, laptop itu masih merupakan barang yang sangat mahal. (khususnya untuk saya yang berasal dari keluarga pas-pasan). Maka untuk mengganti peran laptop, saya pun membawa buku agenda berukuran besar kemana-mana. Tentu saja setiap ada inspirasi yang nyangkut di otak, saya langsung mencari tempat duduk dan menuliskan ide-ide di mana saja dan kapan saja. Dengan modal buku agenda dan pulpen.

Saya yakin, selain saya, banyak sekali penulis-penulis lain yang juga bawa notes ke mana-mana. Sekarang setelah ada BB dan harga laptop yang murah meriah, kemana-mana penulis selalu bawa laptop dan BB :D atau minimal HP yang punya fitur word/note.

Tahun 2005, keinginan untuk punya laptop sangat menggebu-gebu. Terlebih komputer di rumah saya hanya ada satu, sudah tua pula! Dan menjadi rebutan Ayah saya yang seorang guru serta adik saya yang sejak SMA sudah jadi pembuat website untuk sekolah-sekolah negeri. Jadilah saya selalu dapat urutan menggunakan komputer paling akhir. Bahkan tidak dapat jatah sama sekali. Ujung-ujungnya saya harus ke rental komputer, ngetik berjam-jam, ngeluarin uang berpuluh ribu, belum kalau harus ngeprint atau ke warnet untuk kirim naskah. Akses internet di rumah pun saat itu belum familiar. Keperluan internet masih mengandalkan warnet.

Kondisi menyebalkan seperti itu membuat saya sering mengeluh, andaikan saya punya laptop! Dan laptop menjadi prioritas utama saya, saya mulai menabung dari uang jajan kuliah untuk bisa beli laptop. Tapi Oooh... laptop mahal sekali saat itu T_T minimal harganya 6 juta. Belum familiar notebook murah meriah seperti sekarang. Bertahun-tahun Laptop menjadi obsesi saya, membuat saya semangat untuk terus menulis. MEMBARA!

Sampai akhirnya tahun 2007, saya mendapat kesempatan menulis skenario serial Si ENTONG. Menulis serial pertama kali -meski masih jadi co writer dan honornya kecil sekali- saya akhirnya bisa punya akses menulis yang menghasilkan uang cepat dan sering. Namanya serial stripping jadi sehari saya menulis satu episode. Saat itulah saya nekat sama boss saya untuk minta dibelikan laptop. Alias nyicil laptop! Senangnya permintaan saya dikabulkan.

Saya punya laptop tahun 2007, Acer (lupa lengkapnya Acer berapa) ukurannya besar, kerenlah pokoknya. Harganya 6,5 juta. Setiap satu episode honor nulis saya dipotong Rp. 300 ribu sampai akhirnya bisa lunas. Waaaw benar-benar sesuatu deh, butuh berbulan-bulan untuk bisa melunasi laptop pertama saya.

Karena merasakan bagaimana susahnya punya laptop, saya pun sangat menghargai fungsi laptop yang saya beli yaitu : UNTUK BEKERJA (MENULIS DAN MENULIS) saya ingin dengan menggunakan laptop saya bisa lebih produktif menulis. Itu janji saya pada diri sendiri, alhamdulillah terkabulkan. Saya semakin banyak menulis.

Perihal laptop ini tak berhenti di sini, setelah dua tahun punya laptop saya bertemu dengan beberapa teman (yang baru mulai karir sebagai penulis) belum menembus media mana pun mereka sudah mengeluh "Ini karena saya ngga punya laptop makanya saya ngga bisa nembus media. Kamu enak, chi, punya laptop jadi bisa produktif" maka tak bosan-bosan saya ceritakan perihal kondisi saya sebelum punya laptop.

Dan pernyataan itu bukan hanya dari satu dua orang. Sampai-sampai saya bosan menjelaskan dan akhirnya hanya bisa bilang ya sudah beli saja laptop kalau memang mampu. Tapi apa yang terjadi? Setelah sang teman mempunyai laptop dia malah lebih sibuk fesbukan daripada menulis, dia malah lebih sering main game daripada menulis, lebih sering nonton film di laptopnya daripada menulis. Lalu di mana semangat dan janji menggebu-gebu dirinya dulu yang mengatakan : kalau saya punya laptop saya pasti lebih produktif menulis.

Nah, sekarang buat kamu yang suka nulis, apakah kamu punya laptop?
Apakah laptop kamu sudah dipergunakan dengan maksimal? Apa tujuan kamu punya laptop?
Sudah berapa cerpen dan novel kamu hasilkan dari laptop kamu?

Mari kita merenung sama-sama... benarkah semua fasilitas yang sudah kita miliki : laptop, internet, kemudahan informasi, penerbit yang semakin banyak dan lain sebagainya, sudah menjadikan kita lebih produktif dalam menulis?

Salam
Achi TM

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati