Ngga Ada Waktu Buat Belajar Nulis? Berhentilah Mimpi Jadi Penulis

Thursday, December 18, 2014

"Mbak saya mau jadi penulis tapi saya sibuk kuliah dan mengurus organisasi."
Maka saya kehilangan kata-kata untuk menjawab. Jadi saya harus jawab apa dong? Kalau mau jadi penulis tapi karena alasan 'sibuk' sehingga tidak menulis lalu apa yang mau saya ajari?
Saya juga pernah kuliah dan jadi mahasiswa. Saya mulai fokus belajar menulis secara profesional itu kuliah semester 2. Umur waktu itu 19 tahun. Saya mulai ikut kelas menulis di Dewan Kesenian Tangerang, belajar dengan KSI Tangerang. Setiap sabtu saya bolak-balik ke sana untuk belajar, dari sore jam 3 sampai malam jam 9. Di sanalah saya jadi kenal banyak sastrawan dari lokal sampai tingkat nasional.
Lalu tugas-tugas kuliah? Tetap saya kerjakan. Tugas-tugas menulis? Saya kerjakan juga. Main? Tetap dong. Tugas domestik rumah? Kerjain juga. Tapi kan ngga organisasi, mbak.
Umur 20 tahun, saat masih belajar nulis, saya sudah didapuk jadi ketua Karang Taruna tingkat RW. Yang membawahi 7 RT. Yang sibuknya naudzubillah karena saya tidak menyangka jadi ketua karang taruna itu harus urus ke tingkat Kota, koordinasi dengan lurah, dengan camat, rapat sama bapak-bapak pejabat, dicemplungi jadi panitia acara Karang Taruna tingkat nasional. Memimpin seabrek rapat sama pengurus, setiap bulan selalu ada acara bakti sosial. Harus jadi pengurus remaja masjid juga.
Sampai-sampai pernah ada cowok yang naksir saya terus mundur. Gara-gara, setelah dia nganterin saya dan teman saya dari meeting Karang Taruna Nasional, dia ngajak saya jalan. Dengan polosnya saya ngga bisa : "Setiap sabtu saya belajar nulis. Minggu saya belajar nulis juga." Mundurlah dia... batal ngegebet saya.
Di umur 20 tahun itu juga, jelang 21, saya gabung dengan FLP DKI. Nyaris ngga pernah absen ikut pelatihannya setiap hari minggu. Dari beberapa belas orang anggota pra muda, hanya 3 orang saja yang dilantik karena sisanya hilang entah ke mana.
Terus kapan nulisnyaaa???
Ya, saat malam hari, satu jam sebelum tidur, saya biasa menulis. Hari sabtu atau minggu pulang dari pelatihan menulis, saya langsung ngetik. Saya menulis di buku agenda tebal karena tidak punya laptop. Komputer pun punya ayah dan sering tidak diizinkan make. Saya sekuat tenaga punya target 1 minggu 1 cerpen. Lalu mulailah naskah saya dimuat di berbagai media.
Jadi, kalau ada orang mau belajar menulis tapi bilangnya TIDAK PUNYA WAKTU BUAT MENULIS KARENA SIBUK! Maaf... saya tidak respek lagi mau mengajari. Setiap orang punya waktu yang sama. Tinggal bagaimana niatnya aja.
Saya belajar nulis harus merelakan waktu masa muda saya. Banyak teman-teman kuliah bilang saya ngga asik. Diajak nongkrong sabtu minggu sibuk melulu. Kadang di kampus, waktu luang saya pakai buat nulis. Makanya saya jadi jomblo lumutan sampai akhirnya mas Agung datang menyerang halah....
Terus setelah menikah saya dan berhenti berorganisasi saya jadi punya banyak waktu luang gitu? Upss... cuma ibu-ibu yang ngerti gimana repotnya mengurus dua anak dan rumah. Masih lebih mudah mengurus remaja satu RW cyiin....
Selalu ada waktu buat menulis.
Harus ada waktu buat menulis.
Apalagi kalau kamu mau menjadikan menulis itu sebagai ladang dakwah. Selelah apa pun. Seletih apa pun harus bisa.

(Wajib dibaca buat yang mau nulis FTV) Jangan Pake Setting Planet Mars

Wednesday, December 10, 2014

Banyak inbox, mention twitter atau email yang meminta kesediaan saya untuk membaca sinopsis FTV atau skenario yang mereka buat. Dengan harapan saya bisa mengajukan sinopsis dan skenario itu ke PH kemudian tadaa jadilah satu tayangan FTV. Tidak semudah itu :( pertama saya bukanlah produser yang bisa dengan mudah memutuskan ini Acc yang itu ngga Acc lalu ajukan ke TV.

Oke, cara kerja nulis FTV versi saya begini, saya ngga tahu kalau versi penulis skenario lain. Kan tiap-tiap PH dan Stasiun TV punya kebijakan berbeda. Tapi pada umumnya, dari pengalaman menulis FTV di 3 PH inilah jalur yang harus ditempuh.

Stasiun TV punya keinginan program/tema apa yang mau diangkat lalu order ke PH ---> PH lalu order sinopsis ke penulis-penulis mereka (saya salah satunya) ---> saya  lalu membuat beberapa sinopsis ---> kirim pe PH, disortir produser ---> Produser kirim ke TV, disortir orang program, ACC or TOLAK ---> kirim balik ke penulis sinopsis yang di ACC ---> TULIS ---> Kirim ke PH, dikoreksi di PH, OK, kirim ke TV, OK, ada dua kemungkinan setelah itu : SYUTING (dapat bayaran) Batal Syuting karena kebijakan TV yang berubah (Ngga dapat bayaran)

Nah, cukup panjang kan jalur yang harus ditempuh? Jadi, saya ngga bisa dengan mudah serta merta kirim sinopsis teman-teman ke PH. Apalagi kalau orangnya tidak saya kenal, kirim sinopsis sambil bilang : Saya butuh uang cepat buat biaya berobat dll dll. Bukan saya ngga mau bantu, tapi kalau sinopsisnya jelek, saya harus gimana? Setidaknya saya tahu standarnya apa yang dimaui TV. Kemudian kalau pun di ACC proses penulisannya bisa seminggu, bisa untung kalau habis tulis langsung syuting, kalau tiba-tiba batal dan ngga dapat duit gimana? Masa saya harus nombok?

Ne ne ne

Saya sudah kapok sekaliii... kasih kerjaan sembarangan ke orang. Karena pernah naskah yang dia tulis dicancel, saya ga bisa bayar dia, eh dia ngamuk-ngamuk di FB, jelek-jelekin saya sebagai makhluk jahat sejagad raya. Padahal dia orang yang saya kenal baik. Gimana kalau sama orang yang ngga saya kenal?

Padahal, nih, selama 8 tahun nulis skenario (masih seumur jagunglah) saya sering banget FTV-nya dicancel. Sampai puluhan juta juga saya ga bisa dapat honor. Saya cukup sekali nagih, kalau mereka ga kasih, saya ngga punya kekuatan kontrak apa pun. Karena kontrak dilakukan di akhir proses penulisan kalau disyuting. Kalau ngga syuting ya ngga kontrak. Tapi dengan saya sabar, ya udah ikhlasin, saya kirim lagi ke PH yang sama, PH itu akan welcome sama kita dan kita terus dikasih kerjaan. Tentu saja ini PH yang kredibel. Kalau PH abal-abal dan keseringan ga bayar honor mah... capek deeh....

Oke

Setelah tahu proses nulis FTV yang sebenarnya ngga terlalu ribet. Sekarang saya mau kasih sedikit TIPS supaya sinopsis FTV kamu bisa nembus ke PH. Salah tiganya ini :

1. Boleh memasukkan nilai-nilai moral, tapi buatlah tersirat. Moralnya ngga usah ditulisin sampai setengah halaman. Tapi buat melalui cerita, melalui adegan, sehingga lebih enak dibaca.

2. Buat cerita yang komplit padat dan ringkas dan lucu (buat komedi romantis) dramatik dan ngenes (buat FTV Drama) sehingga saat produser membaca, dia sudah punya bayangan nih akan seperti apa naskahnya, akan seperti apa penampakan di filmnya.

3. Buat judul yang unik. Contoh saya pernah diorder sama PH untuk membuat FTV Spesial Ultah SCTV. Saya buat judul : 22 Cinta Surya Untuk Citra. Nah, isinya sih ditolak sama SCTV, masih biasa katanya. Tapi karena mereka SUKA sama judulnya, mereka meminta saya untuk menulis cerita baru dengan judul yang sama dan tadaa... jadilah 22 Cinta Surya Untuk Citra.

4. Ingat ini nulis FTV bukan nulis novel. Kalau nulis novel kamu bisa membebaskan dirimu seluas-luasnya dan segila gilanya imajinasimu. Mau bikin tokohnya ngebom Monas, kek, atau si tokoh menghancurkan gedung, terbang ke planet mars, atau dia jatuh cinta sama alien sah sah aja... kalau kapasitasnya adalah FILM dengan catatan filmnya punya budget gede, tapi kalau FTV?

Dengan budget yang 200-500 juta apa bisa bikin seperti itu? Sah sah aja kamu mau cerita pakai setting di Kalimantan, Papua, atau Aceh, asal untuk FTV berbudget tinggi, spesial dan budgetnya di atas 500 juta itu. Kalau budgetnya standar ya paling Yogya, Bali, Bandung dan sekitarnya. Itu pun kalau ke Bali atau Yogya, pihak PH biasanya minta 3-4 naskah FTV yang di acc TV supaya bisa balik modal. Jadi ingat FTV juga pemainnya terbatas, ngga bisa bikin adegan kolosal. Nah batasan-batasan ini seharusnya membuat yang mau nulis sinopsis jadi lebih kreatif. Dengan batasan yang ada gimana caranya bikin cerita OKE punya.

Okee... itu dulu sharing tentang FTV, good luck ya ^^

Salam
Achi TM
Novel terbaru yang akan terbit : My YELLOW LETTER dan a Couple Of Writer


Jangan Bosen Buat Meraih Mimpi

Saturday, December 6, 2014

Malam ini saya mau ngeblog dulu sebelum kembali mengerjakan naskah tulisan yang belum selesai.
Sejujurnya beberapa waktu belakangan ini saya sedang menerima banyak sekali masalah, bukan masalah pribadi saya akan tetapi masalah sahabat-sahabat saya. Saya hanya bisa mendengarkan, memberi masukan dan memberikan support untuk masalah-masalah mereka.

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQdkFkt_qBRxpsFwHE9SN87CxmHPkHRf-q9wiqlAmNhJsrqGl_u

Lantas tiba-tiba saya ingat bahwa saya sendiri punya masalah. Masalah sepele sebenarnya, saya kurang bersyukur. Banyak hal-hal luar biasa yang saya anggap kurang dan kurang, alhasil saya jadi galau juga. Berikut hal-hal yang luput saya syukuri.

1. Saya masih bisa hidup sampai detik ini : saya bersyukur sekali. Apalagi bila mengingat alm ayah saya, alm tante, nenek, kakek, dan om saya yang sudah tidak ada lagi di dunia. Lalu melihat di beranda facebook banyak sekali orang hilir mudik mengucapkan bela sungkawa atas kematian seseorang. Satu per satu akun facebook non aktif karena pemiliknya telah kembali kepada Allah. Lantas mengapa saya tak bersyukur?

2. Saya dikaruniai dua anak yang sehat, lucu dan cerdas. Anak saya tidak mengidap penyakit serius, tapi saya sering mengeluh mengurus mereka berdua. Mengeluh karena berat badan anak saya kurang, padahal di luar sana, banyak bayi yang kurus karena kurang gizi, banyak balita yang turun ke jalan untuk minta-minta. Duh Gustii... kurang bersyukur banget saya nih.

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQaUCkGeDi1oTzcyh5aLfNVw0glPvg-klt0Pqj2e7rXFmhZMwDr6w

3. Saya sering mengeluh belum punya rumah. Duluuu waktu belum punya mobil, saya sering mengeluh capek naik motor. Rahim suka keram dan sakit. Kalau ngangkot pasti sinusitis kambuh dan lain sebagainya. Sudah ada mobil, ngeluh belum kebeli rumah karena ini dan itu. Ah... dasar manusia ngga pernah puas. Ya, setidaknya saya masih manusia berarti ya, belum jadi serigala hehehe....

4. Saya mengeluh kalau suami lagi ngga sensitif dan bikin sebal. Padahaalll suami saya baik, sholeh, ganteng, ngga pernah main fisik dan mau turun tangan ngurus anak dan rumah. Pinter masak pula. Kurang apa cobaaah kurang apaah? Ya... saya kurang bersyukur :(

https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQpO0j-mfp7pH4hQLpFFmENY61Bh9zBkGQHariNwPyAL3jKmRO3

EFEK seriusnya adalah :
Kehilangan semangat meraih mimpi.
Ngeluh dan ngeluh! Nah ini yang bahaya. Kehilangan semangat dan impian adalah EFEK bahaya dari sikap mengeluh saya. Rasanya saya mau tampar mulut ini bolak-balik, ups... karena sering ngeluh itu. Kesandung masalah dikit udah merasa menderita seantero alam semesta. Padahal ada banyak teman-teman saya yang punya masalah lebih pelik. Banyak orang di luar sana yang lebih rumit kisah hidupnya.

Jadi malam ini, saya mendapat sebuah lagu yang menyentak-nyentak kesadaran saya. Lagu J-Rocks, Meraih Mimpi...


https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQIEghP3x1wSx_CEJ4vmDQKRokhgq8zw5RczOlkeOt9ju6ly0wy

Mari berlari
Meraih mimpi
Menggapai langit yang tinggi
Jalani hari dengan berani
Tegaskan suara hati
Kuatkan diri dan janganlah kau ragu
Tak kan ada yang hentikan langkahmu
Yaya... kita kan terus berlari
Takkan berhenti di sini
Marilah meraih mimpi
Hingga nafas tlah berhenti

Kita kan bertahan
hadapi rintangan, perlahan-lahan dan benar
jalani hari dengan dengan berani....

Catat besar-besar di hati : KUATKAN DIRI DAN JANGANLAH KAU RAGU. TAK KAN ADA YANG HENTIKAN LANGKAHMU... kecuali kematian tentunya.

Ayo terus berlari.
Tapi bukan lari ke hutan, terus belok ke pantai ya....

Achi TM
coming soon novel : My Yellow Letter.




Mending Ngga Usah Jadi Penulis, Deh... Rugi....

Wednesday, November 19, 2014

Iya, rugi waktu banget kalau tiba-tiba diserang sama yang namanya monster mentok. Tuh monster nakutin banget, deh, apalagi kalau besok udah deadline. Si mentok tau-tahu nongol dan masa bodoh dengan waktu yang terus berputar cepat.

Tenang, kalau deadline yang menyeramkan itu hanya ada di deadline menulis skenario stripping kok. Yang pagi disuruh nulis, malam sudah harus kelar buat syuting. Kalau deadline novel, ya, masih bisa laah dikedipin editornya... nambah sehari, ya, nambah dua hari, ya, nambah satu tahun ya? Nah lo... keburu basi itu mah. Kalau deadline skenario, nih, telat sejam aja udah krang kring krang kring, pang ping pang ping.

Oke, jadi kalau sedang menulis naskah skenario harom hukumnya MENTOK ide... kalau nulis novel, bolehlah diturutin sedikit si buntu ide ini. Apa saja yang saya lakukan kalau Mentok ide?
Uhuk
Jadi penulis itu kelihatannya banyak membuang waktu ngga bermanfaat di mata orang-orang. Nih, ya, kegiatan yang kelihatannya membuang waktu :

- Baca buku buat nyari IDE dikiranya malas. Soalnya bacanya sambil tidur-tiduran, dengerin musik dan ngemil momogi.

- Kalau sudah pusing ngga bisa nerusin naskah novel, saya biasanya nyungsep ke atas kasur. Tidur buat nyari ide. Adegan selanjutnya apa, ya? Dialog yang keren apalagi ya? Eh... ujung-ujungnya ketiduran. Biasanya tidur siang bisa sampai 2 jam dan malam-malamnya ngga bisa tidur karena ide makin liar di kepala. Nah, yang suka tidur siang biasanya di cap pemalas. Uhuuy....

- Jalan-jalan keliling komplek buat nyari ide dikira pengangguran. Apalagi kalau jalan-jalannya cuma pake daster, jilbab lusuh, sendal jepit dan sisa belek yang bekas tidur siang. Ini yang suka saya lakukan saat menulis novel HATI KEDUA nih. Karena nih novel susaah banget buat saya.

                                     Hasilnya ciamik dong. Bisa pesan di saya atau dicari di Gramedia. 
                                                                Udah cetakan kedua looh ^^ 


- Suka dikira ngga gaul karena kalau lagi ngumpul sama tetangga kebanyakan diem. Lha wong tetangganya pada gosip aje kerjanya. Nah kita ambil aja tuh karakter mereka... kali-kali aja ada kata atau kalimat yang nyangkut di kepala. Abis itu pergi.

- Lari ke hutan atau belok ke pantai? Nah ini saya juga bingung jawabnya. Boleh, deh, tanya sama Rangga.

Kalau sudah lari ke hutan belok ke pantai belum ketemu juga sama idenya, nih, saya kasih tips khusus dan ciamik dari teman penulis saya yang keren. Namanya Lulu El Maknun. Begini tips nulis Lulu.

Kalau elo bingung mau mau lanjutin paragraf apa, elo ambil aja KATA dari paragraf terakhir terus elo buat kalimat dari KATA itu. Disambung-sambungin deh.

Contoh :

               Gina terdiam di pinggir kali. Ia sungguh tak menyangka bahwa Danu tidak menyukai jengkol. Padahal bagi Gina, jengkol adalah bagian hidup yang sulit terpisahkan. Apalah hidup tanpa jengkol. Tapi apalah hidup juga tanpa Danu? Ini adalah pilihan yang sulit untuk Gina. 
               
               Apa kata terakhirnya? GINA kan? Nah buat kalimat dan paragraf yang dimulai dari GINA!

              Gina terdiam di pinggir kali. Ia sungguh tak menyangka bahwa Danu tidak menyukai jengkol. Padahal bagi Gina, jengkol adalah bagian hidup yang sulit terpisahkan. Apalah hidup tanpa jengkol. Tapi apalah hidup juga tanpa Danu? Ini adalah pilihan yang sulit untuk Gina. 
               
             Apa kata terakhirnya? GINA? Apaaa GINA LAGII? Masa diulang teruus sih? Apa harus nunggu 12 tahun baru bisa nyelesain nih novel? Ugh...

            Oke... kita revisi paragrafnya.

            Gina terdiam di pinggir kali. Ia sungguh tak menyangka bahwa Danu tidak menyukai jengkol. Padahal bagi Gina, jengkol adalah bagian hidup yang sulit terpisahkan. Apalah hidup tanpa jengkol. Tapi apalah hidup juga tanpa Danu? Ini adalah pilihan yang sulit untuk Gina. Andaikan saja Danu bisa menerima kebiasannya makan jengkol.

            Apa kata terakhirnya? JENGKOL... nah, buatlah kalimat baru dari kata Jengkol.

            JENGKOL yang lezat, jengkol yang bulat, jengkol yang selalu menenangkan buat Gina. Ah... ini sungguh menyebalkan. Gina menghela napas berkali-kali. Sampai kemudian adiknya datang dan meminta Gina pulang ke rumah. 
  
           Apa kata terakhirnya? RUMAH
           Rumah yang selama ini bagaikan neraka bagi Gina. Ia tak suka dengan Abah yang memaksanya menikahi Januar. Padahal Abah tahu bahwa Gina sangat mencintai Danu. Alasan Abah memilih Januar hanya satu, karena Januar juga suka dengan JENGKOL.

           JENGKOL yang lezat, jengkol yang bulat, jengkol yang selalu menenangkan buat Gina. Ah... ini sungguh menyebalkan. Gina menghela napas berkali-kali. Sampai kemudian adiknya datang dan meminta Gina pulang ke rumah. 

            Udah ah lanjutin sendiri. Hehehe.... pokoknya ini salah satu cara yang keren menurut saya. Bisa diaplikasikan jika sudah mentoook banget. Sehingga tulisan tetap berjalan. Nanti setelah si Mentok hilang, pasti proses nulis akan lancar sendirinya. Setelah itu ngga perlu pakai metode ini lagi.

           Selamat menulis. Tetaplah semangat dan senyuuum yang lebar sambil selfie. Chiizz....


Salam
Achi TM
Mau kursus menulis?
Sms saja ke : 0855643376193
             

Aku Benci Sama Penerbit Itu!

Saturday, November 15, 2014

Naskahku ditolaaak... huhuhu... Jungkir Baliik!


Siapa bilang kalau sudah menerbitkan 20 buku lebih dan menulis ratusan naskah skenario SEMUA tulisannya pasti di acc sama penerbit? Siapa yang bilang? Sini saya ceplokin telor, kasih mesis dan gulung-gulung pake saos... ah jadi laper.

Ya, pernah ada yang bilang begitu. Beberapa kali di komentar status facebook. Padahal mah ya, saya ini tetap saja sering ditolak sama penerbit. Dua tahun yang lalu naskah saya ditolak mentah-mentah sama sebuah penerbit dan mereka review naskahnya sadis banget. Mulai dari kurang taste, kurang konflik, karakter ngga kuat dan lain sebagainya yang detail sekali. Masukannya sampai satu halaman lebih tapi tidak ada kesempatan revisi. DITOLAK blas!

Akhirnya aku benci sama penerbit itu! Huh! Huh! begitu sih reaksi awalnya, lebay banget. Hayoo ngaku yang naskahnya pernah ditolak pernah ngga lebay begitu? Hehe... masa aku sendiri, sih? Temenin dong.

Nah, setelah berbete bete sama penerbit itu sampai seminggu, akhirnya kubuka kembali masukan dari sang penerbit. DETAIL banget itu. Akhirnya aku revisi naskahku yang ditolak itu sesuai dengan kritik pedas si penerbit. Oh iya, sekedar catatan, aku tidak kirim sinopsis lho ke penerbit ini. Aku langsung kirim naskah dan satu hikmahnya adalah : MEREKA MEMBACA NASKAH! Ini yang aku apresiasi banget. Akhirnya aku jadi ngga benci lagi, deh.

Apalagi berkat review sadis mereka, novel itu jadi ciamik setelah aku rapihkan sana sini, tambal, bongkar, poles-poles. Kemudian aku lempar ke penerbit lain dan alhamdulillah di penerbit lain itu malah jadi novel unggulan! Dalam enam bulan sudah terjual lebih dari 3000-an eks buku, cetak ulang sampai 10 ribu eks dan masuk rak-rak best seller. Uwow... jungkir balik.

Ya, meski bukan mega best seller sih tapi udah alhamdulillah bingitzlah dengan royaltinya yang sampai sekarang -setelah dua tahun berlalu- masih ngalir aja kayak air mancur.

Oke, setelah 2 tahun terakhir itu aku tak menerima penolakan. Bulan ini aku menerima 2 penolakan naskah bertubi-tubi! Satu naskah tentang kematian, di luar trend banget dan ngga populer. 3 Editornya bilang sih naskah OKE dan ACC, pas dikasih ke BIG BOSS, ternyata BIG BOSS ngga suka. Yaa... batal terbit, deh, alias DITOLAK. Hix... aku tanya jeleknya di mana, biar kurapihkan, jawab si editor : ga jelek, kok, cuma big bos ga suka. Masalah selera aja.

JADI KALAU NASKAHMU DITOLAK... Itu terkadang hanya masalah selera saja hehehe.... catet bo.

Oke, sakit sih ditolak. Meski udah sering ditolak. Akhirnya aku menggarap satu novel penerbit lain saja supaya ngga sakit berkepanjangan. Toh, di depan mata sudah ada 3 penerbit besar yang menunggu naskah novelku. Bahkan satu penerbit khususon mengirim WA setiap minggu untuk bertanya sudah sampai di mana perjalanan kitah... eh penulisannya. Ya, semakin ditanya semakin garanglah aku menulis.

Udah reda sakit di hate... eh aku keingetan sama naskah novel Bisikan Sahabat yang dulu pernah dipublish di penerbit CUPID. Rencana aku menawarkan republish ke sebuah penerbit lain di Jakarta. Apalagi editornya sudah kontek-kontek aku minta endorsment novel mereka sampai 2 novel. Kukirimlah draft novel itu.

Dua bulan berlalu, baru kemarin aku inbox lagi penerbitnya dan nanya pukul 13.00 WIB. Gimana dengan naskah saya berjudul Bisikan Sahabat? Sudah dua bulan saya kirim. Katanya : Masih di antrian. Oh oke.

Jam 13.20 ada email masuk ke HP. Ternyata dari penerbit yang tadi. Email pernyataan bahwa NASKAH SAYA DITOLAK.... sekarang saya mau guling-guling di kasur. Buseeet barusan eike nanya jam 1, 20 menit kemudian udah ditolak. Saya inbox aja : naskah saya dibaca full ngga?

Ngga katanya, hanya baca sinopsis saya. Well... setelah saya ingat-ingat, di naskah saya itu memang ada sinopsis, tapi itu BLURB buat di belakang novel. Oh ya ampun.

Iya, sih, saya sudah tahu kalau penerbit itu sibuk banget, biasanya penerbit baca sinopsis aja baru naskah. Beberapa novel saya juga hasil orderan penerbit, biasanya yang order ke kita juga minta dibuatkan sinopsis dulu yang detail sampai ending. Seharusnya saya paham, saya ngga teledor dan harusnya tahu kalau penerbit yang saya sambangi ini HANYA BACA SINOPSIS! (cuma tetep aja gagal paham, saya kirim 2 bulan lalu napa dibahasnya cuma 20 menit langsung TOLAAk... tak bisakah baca barang sebab dua bab dulu? Hix- plaak... penerbit itu sibuk Achi--- guncang-guncang bahu sendiri)

Ngga seperti penerbit yang 2 tahun lalu menolak saya, well... saya jadi angkat topi deh buat penerbit yang dua tahun lalu nolak saya... keren banget karena baca keseluruhan cerita.

Jadi yang baca sinopsis itu bukan hanya penerbit yang order naskah ke kita. Tapi almost semua penerbit itu juga baca sinopsis. Nih, ada bocoran dari Chief Editor senior di Mizan, Benny Rhamdani soal dapur editor :

Ini biasanya urutan yang dibaca editor akuisisi:

1. Sinopsis plot (bukan blurb) jangan sekali-kali mengirim blurb.
2. Bab 1. Jika menarik akan lompat
3. Bab random. Jika menarik akan lompat
4. Ending

Jika 4 hal itu menarik maka dia akan membaca seluruhnya.



CATEET yaa semuanyaa :)





Oh iya, ngomong-ngomong soal Mizan, saya sudah bekerja sama menerbitkan satu novel di Dar! Mizan berbekal sinopsis yang ciamik. Novel pertama : Berburu Bintang, itu novel remaja yang keren banget. Ini nih penampakan covernya : 








Cakep kan cakep kan? Hehehe... beli yaa... *ups keceplosan promo. Dan novel kedua nanti akan terbit berjudul MY YELLOW LETTER. Catet dulu judulnya, cover coming soon. 




Nah, Finally, ini jadi PELAJARAN BERHARGA bangeeet buat saya. JANGAN CEROBOH kasih blurb ke penerbit. HAROM hukumnya.



Fyuuh... akhirnya lega sudah saya menuliskan ini di blog saya. Malam ini saya bisa bekerja dengan tenang. Semoga sharing ini bermanfaat ya. 




Intinya adalah JANGAN KIRIM BLURB, kirimlah sinopsis utuh, konflik utuh, karakterisasi utuh, penyelesaian masalah utuh dan ending yang utuh. 



Oke... lanjuut bikin novelnya. 



Jangan patah semangat ya buat yang naskahnya ditolak. Biarlah naskah itu ngeJOMBLO itu sampai nanti takdir yang akan mempertemukan dia dengan jodoh penerbit yang tepat. Ahay....



Akhir kata jangan terpengaruh sama judul yang agak propokatip. Saya gak benci sama penerbit mana pun. Semua penerbit yang pernah nolak naskah kita gak boleh kita benci. Bete sedikit gapapa, abis itu kirimin naskah lagi. Gempur terus. Bagaimana pun juga penerbit dan penulis harus selalu harmonis manis kismis klimis klimis. 



Salam Pena

Achi TM
Mau kursus menulis? SMS ke : 0855643376193


Tanya - Jawab Kepenulisan ( Tips Nyari Ide #1)

Thursday, November 13, 2014

Tanya :

Mbak, kok bisa, sih, nulis banyak cerita? Dapet ide dari mana aja?

(noname)

Jawab :

Ehem, saya sudah menulis ratusan naskah skenario stripping, puluhan FTV, belasan novel serta puluhan naskah cerpen. Bagaimana saya mencari ide? Saya paparkan secara singkat padat dan jelas saja ya sesuai dengan apa yang saya lakukan. Catatan : Ini bukan teori sebenarnya, jadi kalau mau teori sesungguhnya yang lebih ilmiah (cieeh) silakan kontek Rumah Pena di : 0855643376193.

Lanjut.

Begini caranya saya mencari ide buat menulis!



Sumber foto : http://4.bp.blogspot.com/-oU3zC7lmDe4/UmMQY8Ddv3I/AAAAAAAABuk/30ydPwOEgB8/s1600/ide-ok1.jpg

1. Nongkrong di WC.  (Kalo lagi makan skip ajee)
    Sudah kebiasaan kali ya, kalau saya di toilet sedang memenuhi panggilan alam, saya selalu bawa koran atau buku atau komik buat dibaca-baca. Ini kebiasaan dari kecil. Nah, biasanya baca cuma beberapa paragraf, sisanya melamun hehehe....

2. Ngobrol sendiri
    Sebut saya gila. Tapi ini memang yang terjadi. Saya suka membayangkan adegan apa yang tiba-tiba melintas. Ngga tahu alurnya bagaimana, pokoknya adegan aja. Saya suka berakting sendiri. Saya bisa jadi dua atau tiga orang yang berbeda.

"Kamu jahat! Selama ini kamu menduakan aku!" kata saya dengan eksyen perempuan.
"Aku mau jelasin ke kamu, tapi selama ini kamu sibuk." Jawab saya yang lain dengan eksyen lelaki.
"Udah-udah, lagian ngapain pacaran terus sampai sembilan tahun, dosa kok ditimbun." sahut suara saya sendiri yang bereksyen bijak.

Nah, dapet konflik, kan? Setelah itu baru deh dipikirin. Siapa tokohnya, kenapa mereka berantem, masalah sebenarnya apa, sih? Dan lain sebagainya. Kadang-kadang saya juga ngobrol sama tembok.

3. Bercermin
    Yakinkan bahwa kamu sudah cukup ganteng dan cantik buat bercermin. Lihat dirimu di sana, lalu lakukan poin nomor 2. (eaaah capek deh)

4. Nonton film India.
    Saya ngga begitu addicted nonton film tertentu, tapi saya suka sama film India. Karena dalam satu film semua ide cerita dia borong. Dari sedih, lucu sampai tragis. Gimana ngeramunya, tuh? Nah, dengan banyak nonton jadi dapat banyak ide. Film india tapinya yaak...

5. Patah Hati
    Saya pernah menulis puluhan cerpen dengan nama tokoh yang sama/. Yaitu laki-laki yang membuat saya patah hati berkeping-keping. Jadi kalau mau produktif, pecahkan saja gelasnya... biar patah... eh... jangan dong. Intinya, sih, sensitif dan peka aja dengan perasaan kita. Menuliskan apa yang kita rasakan bisa jadi awal buat sebuah cerita.

6. Yang agak serius

Nanti ya dibahas di part 2... mau lanjut nulis buku dulu. Baaay....


Achi TM
Rumah Pena/ trainer menulis
Call me : 085643376193 (kursus menulis berbayar di Rumah Pena.)
Mau undang saya isi pelatihan menulis? Langsung kontak saja.

Pendidikan Kreatif Menyebar Melalui TIK

Tuesday, November 11, 2014

Pendidikan Kreatif Menyebar Melalui TIK
oleh : Achi TM

Dibesarkan oleh Ayah yang seorang guru membuat jiwa mengajar saya pun tumbuh. Meski nasib tak mengizinkan saya untuk kuliah S1 keguruan, saya tetap masih bisa mengajar. Sejak tahun 2007 saya sudah kerap dipanggil untuk mengisi pelatihan menulis di sekolah-sekolah menengah atas. Dari sanalah saya mulai merasakan nikmatnya mengajar. Membagi ilmu dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu kota ke kota lain membuat saya berkeinginan membentuk lembaga menulis sendiri. Beruntung ide ini disambut hangat oleh Alm. Ayah saya. Bersama diknas pendidikan Banten, beliau dan beberapa kawannya sesama guru membidani kelahiran Lembaga Pendidikan dan Talenta Rumah Pena. Saya pun didapuk untuk menjadi ketua harian sekaligus salah satu guru menulis di sana. Di samping guru menulis, ada juga guru bidang komputer, bidang desain dan gambar, dan guru bahasa Inggris.


Sebisa mungkin, saya meminta semua murid yang belajar menulis di Rumah Pena untuk mempunyai laptop. 
Karena di Rumah Pena ada wifi, maka semua tugas penulisan dan catatan materi bisa langsung disampaikan ke email masing-masing peserta. 


Saya punya cita-cita tinggi ingin menjadikan ‘menulis’ sebagai salah satu bidang yang dipedulikan oleh orang tua. Banyak orang tua yang ingin anaknya jago Matematika atau Bahasa Inggris tapi sedikit sekali orang tua yang tertarik menyekolahkan anaknya untuk kursus menulis. Seringkali mereka yang datang untuk mendaftar kursus kemudian batal, adalah mereka yang tidak disetujui oleh orang tuanya. Cap ‘profesi penulis’ akan hidup miskin, sudah melekat pada banyak benak orang tua dan susah sekali mendobrak paradigma tersebut.
Akhirnya karena mengalami ‘minim’ siswa menulis di daerah sekitar Rumah Pena berdiri. Saya mulai melebarkan sayap ke dunia jejaring social. Pada tahun 2010, facebook mulai menjadi primadona banyak orang. Berbondong-bondong remaja membuat akun facebook. Maka saya pun berinisiatif membuka grup facebook RUMAH PENA, yang berisi materi-materi umum menulis gratis, saling berbagi semangat dan sharing karya menulis bersama orang-orang yang berminat menulis di seluruh Indonesia. Ya, facebook berhasil menjangkau banyak peminat kursus, mulai dari dalam negeri sampai luar negeri.






Beberapa screenshoot grup pelatihan rumah pena. Saya memakai akun Rumah Pena. 

Berbagai pelatihan menulis pun kembali bergerak jalan. Muridnya tak lagi dari sekitar Rumah Pena, tapi ada juga yang berasal dari luar kota Tangerang seperti Jakarta, Bogor dan Bekasi. Dalam seminggu saya bisa membuka dua kelas tatap muka dan dua kelas menulis secara online. Kelas menulis secara online ini saya gagas karena banyaknya permintaan dari luar daerah Jawa yang ingin ikut kursus namun tak sanggup pergi ke Tangerang. Mulailah saya membuka grup-grup rahasia di facebook untuk mengajar kelas online. Bila ingin privat, maka kelas dilakukan di ranah chatting Yahoo Messenger. Kelebihan dari chatting di fb dan YM adalah, hasil belajar mengajar bisa langsung disave. Ini memudahkan murid dan saya selaku guru untuk membaca ulang apa yang sudah dipelajari. Dalam FB, mudah juga untuk mengirim file berisi naskah-naskah karena ada fitur yang mendukungnya. Bagaimana dengan mereka yang tak punya FB atau YM? Mereka bisa menggunakan BBM. Ya, saya punya 3 murid dalam BBM saya.

Saya tak pernah menyangka bahwa facebook bisa memberikan perubahan besar bagi banyak orang. Khususnya dalam dunia literasi ini. Ada sebuah kejadian yang mengharukan buat saya. Berawal dari sebuah status anggota grup Rumah Pena yang kecewa karena jarang sekali diadakan pelatihan menulis di daerahnya Bireun, DI. Aceh. Saya memberikan komentar singkat : kalau tidak ada, kenapa tidak buat?
Dari saling berkomentar itulah, Vie Rynov, sang pembuat status menjalin komunikasi dengan saya via chatting FB. Tak diduga, ia tertarik mengikuti kursus membuat novel yang saya adakan di Jakarta. Bersama suami dan satu rekannya, ia terbang ke Jakarta selama dua malam untuk mengikuti kursus singkat membuat novel. Pertemuan kami tak berakhir di sana. Dua bulan kemudian dia membentuk Lembaga Talenta yang dinamakan Rangkang Sastra, dan mengundang 4 staff pengajar Rumah Pena untuk terbang mengisi pelatihan menulis perdana. Termasuk saya salah satunya. Dari teknologi internet yang tanpa batas, berhasil membawa saya menjejakkan kaki ke tanah leluhur Alm. Ayah saya.


Pelatihan menulis di Bireun Aceh, bermula dari jejaring sosial facebook.

Di sana pulalah, Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (AGUPENA) Bireun diresmikan oleh ketua umum AGUPENA, Naijan Lengkong. Satu yang membuat saya terharu adalah, ketua umum pertama AGUPENA adalah alm. Ayah saya, Achjar Chalil. Ini seperti menyambungkan benang merah. Karena Vie Rynov tidak tahu bahwa ayah saya adalah ketum AGUPENA yang pertama. Sebuah kebetulan yang indah Rumah Pena yang dibidani ayah saya bisa bersanding dengan AGUPENA. Semua hal luar biasa ini terjadi karena sebuah jembatan penghubung jejaring social bernama : Facebook!
Merasa terbantu oleh keberadaan internet, saya pun mulai membuat blog dengan serius pada awal tahun 2011. Dalam blog ini saya menuliskan banyak motivasi menulis untuk mereka yang membutuhkan semangat menulis. Memberikan beberapa ilmu kepenulisan. Khususnya ilmu kepenulisan naskah scenario. Saya menunjukkan synopsis FTV untuk dipelajari kemudian memperlihatkan video FTV yang sudah jadi sebagai bahan pembelajaran. Saya yakin, dunia menulis semakin dinamis.


Salah satu video FTV yang saya posting di blog saya untuk bahan belajar bersama.

Semakin hari semakin bermunculan calon-calon penulis yang membutuhkan guru untuk bisa mengantarkan mereka pada industri penulisan kreatif. Karena dari kegiatan nge-blog saya, saya bisa menjangkau banyak pembaca. Bahkan saya kedatangan 2 murid dari Makassar, yang terbang ke Tangerang dan memilih homestay di Jakarta agar bisa belajar menulis novel dan scenario bersama saya.
Teknologi juga yang membantu saya untuk mengakomodir naskah murid-murid saya. Setiap mereka mengirimkan naskah ke email saya biasa menyimpan di folder khusus. Kemudian memberikan masukan lewat email atau chatting. Youtube telah membantu saya menunjukkan hasil syuting naskah skenario yang kami pelajari dan buat bersama, meski jarak kami berjauhan satu sama lain. Karena dalam mengajarkan menulis saya tak semata memberikan teori tetapi langsung praktek dan terjun ke dunia industri kreatif.

Saya senang karena banyak murid saya yang akhirnya menjadi penulis buku islami, penulis scenario di berbagai PH, menjadi penulis cerpen, penulis novel bahkan ada yang akhirnya menjadi guru ekskul menulis di sebuah SMPIT. Besar harapan saya, kelak kegiatan menulis tak lagi dipandang sebelah mata. Karena profesi penulis adalah profesi yang menjadi tonggak dari industri kreatif.

Sebuah film butuh penulis naskah, sebuah lagu butuh penulis lagu, sebuah iklan butuh penulis, industri buku dan media butuh penulis, apalagi industri internet, berbisnis lewat blog dan lain sebagainya tetap butuh penulis. Sebagai guru menulis, cita-cita besar saya tak pernah padam. Membuka gerbang kesuksesan bagi mereka yang membawa impian ingin menjadi penulis. Saya akan antar… sampai mereka bisa berjalan dengan pena mereka sendiri.












 Beberapa foto aktifitas saya menggunakan TIK dalam mengajar penulisan kreatif.

Yuk ikutan ini 

Tulisan ini saya ikut sertakan dalam lomba Guru Blogger Inspiratif 2014


***



Anak Nongkrong Otaknya Kosong?

Wednesday, November 5, 2014

Saya udah lama banget ngga nulis blog, padahal sebenarnya banyak yang mau saya tulis mulai dari motivasi menulis sampai pengalaman nulis tapi ya... untuk pemanasan saya mau curhat dulu di blog saya sendiri. Mudah-mudahan ada yang mau baca dan mau ninggalin jejek hehehe.

Malam ini saya kepikiran soal anak nongkrong. Bukannya mau sok suci dengan bilang waktu remajaa dulu saya gak pernah nongkrong. Bukan pernah lagi, saya bahkan kalau sehari ngga nongkrong ga keren rasanya. Well... nongkrong di wc maksudnya? Ya nggalah! Tapi nongkrong di pinggir jalan gitu deh.

Secara nih ya, dulu saya tomboy banget dan pernah pengen jadi cowok. Ih amit amit kalo inget keinginan itu mah. Jadinya saya suka bergaya macho, pakai celana terus, pakai topi, kalau lagi pake jilbab pun suka ditutupin sama tudung jaket yang gede. Waktu saya kecil, saya suka memerhatikan kok sepertinya jadi anak nongkrong itu enak.

Dari sejak kecil, saya ngga pernah boleh main lewat dari jam 9 malam dan itu membuat saya kesal. Waktu kelas 3 SMP saya akhirnya memberontak. Saya nongkrong... di teras rumah temen hehehe. Biasa nongkrongnya sesama anak cewek gimana, sih? Kalau ngga ngobrolin orang, ngobrolin fashion ya makan bakso. Saya paling males ngomongin orang kecuali orang yang saya sebelin... jiah sama ajah. Itu duluu jaman Kuch Kuch Ho hai masih hot hotnya. Lalu saya pengen merasakan nongkrong sama teman-teman cowok, awalnya cuma lucu-lucuan, jongkok di pinggir jalan ngobrolin hal gak perlu tapi waktu itu rasanya kok keren. Aneh!

Nah, setelah tahu nongkrong itu ga berguna, cieee... abis males aja nongkrong terus-terusan. Yang diobrolin duniawii terus. Baju baru lah, sepatu baru, pacar baru, dan nyebelinnya cowok-cowok itu suka ngerokok. Akhirnya saya menjauh. Lebih tepatnya nyesek sih karena saya jomblo. Soalnyaa kalau cewek ama cowok pada nongkrong pasti ada aja yang jadian, akhirnya yang jomblo kayak saya bakalan jadi obat nyamuk bakar. Tau kan obat nyamuk bakar? Cuma diam sambil ngebul-ngebul.

Tapi emang dasar suka bergaul, akhirnya saya pilih nongkrong di masjid heheh. Kalo ini bukan nongkrong tapi duduk-duduk. Jadi panitia masjid, terus lanjut jadi panitia karang taruna. Nah waktu jadi ketua Karang taruna saya merasa bebas banget. Jam terbang saya bisa sampai jam 2 malam. Bayangin aja sehari bisa rapat sama Pak Lurah dan staffnya, malam rapat sama RT dan RW, terus ada rapat-rapat lagi dengan Karang Taruna RW lain yang mana mengakibatkan saya harus 'nongkrong' lama.

Paling bete kalau lagi rapat sama staff RW, saya jadi perawan sendirian di sarang bapak-bapak. Untungnya Bu RW mau nemenin saya dan bawain kue, kalau ngga saya mengundurkan diri aja deh jadi ketua karang taruna. Nah, setelah 4 tahun masa jabatan saya, akhirnya saya mangkat dan pergi nikah. Setelah kepergian saya, Karang Taruna RW sempat jalan setahun dan aktif tapi setelah itu ketuanya entah ke mana. Sedih deh karena regenarasinya gatot.

Nah, jiwa-jiwa membangun pemuda ini masih nempel sampai sekarang. Mirisnya Karang Taruna tidak lagi dilanjutkan di daerah saya seiring dengan bergantinya Pak RW. Akibatnya, buanyaak anak-anak ABG yang kehilangan arah dan jadi butiran debu.

Well, akhirnya mereka nongkrong-nongkrong tak tentu arah. Kalau dulu saya melihat yang nongkrong itu adalah remaja tua yang udah SMA ke atas, sekarang saya sering melihat anak SD udah nongkrong! Wow... SD kan harusnya main gobak sodor, petak umpat atau apalah ini kenapa nongkrong sambil main kartu, judi, ngerokok dan pacaran? Rasanya saya mau ngamuk-ngamuk aja melihat lingkungan saya seperti ini. Tapi apa daya saya tak memegang jabatan apa-apa. Inilah sebenarnya salah satu keuntungan punya jabatan, kita bisa punya bekingan.

Waktu saya jadi ketua RW Karang Taruna saya dikasih petugas keamanan cowok-cowok keren (bukan ganteng-ganteng serigala sih) meski tak ada satu pun cowok itu yang naksir saya, yaiyalah saya kan galak. Nah, saat punya bekingan begitu saya biasa 'grebekin' anak-anak nanggung yang nongkrong gak jelas. Banyak yang bukan anak RW saya nongkrong di sudut RW sambil bawa cewek, ngerokok dan mereka saya usir-usirin. Pergi! Saya punya keamanan, satpam pun saya libatkan. Sampai saya grebek sebuah rumah kosong yang isinya anak-anak SMA yang berdua-duaan pacaran entah ngapan. T_T aah mau nangiss deh karena pergaulan udah kacau banget.

Lebih kacau sekarang, anak SD udah melakukan hal-hal seperti itu. SMP awal juga mulai begitu. Anak-anak yang dulu saya lihat masih bayi tumbuh jadi anak-anak tukang nongkrong yang kegiatannya main gadget, ngerokok, pacaran dan ngomong kata-kata kotor. Saya sedih, berusaha melakukan pendekatan dengan berbagai cara tapi tetap saja tidak digubris. Bahkan saya beberapa kali protes ke RT untuk mengusir anak-anak nongkrong itu, si RT-nya langsung lemes bilang : Udah capek, Mbak, susah dibilangin/

Padahal mereka cuma anak-anak, apa susahnya tegas sedikit? Saya pun mengumpulkan banyak pasal-pasal tentang bahaya merokok bagi anak dan larangan membiarkan anak menghisap nikotin. Saya bahkan pada titik capek nasihatin baik-baik, mengancam akan membawa anak-anak itu ke kantor polisi jika masih merokok.

Mereka lumayan syok juga meski saya gak tau apakah baik hal begitu T_T abis udah parah banget. Saya juga ngga tahu polisi mau peduli atau tidak dengan kasus anak-anak yang merokok. Lantas semakin sering saya melihat anak-anak SMP merokok sambil nongkrong, anak-anak SMA nongkrong. Saya kepikiran, apakah otak mereka kosong karena kebanyakan nongkrong? Saya ingat-ingat diri saya dulu, otak saya baik-baik saja karena saya bukan nongkrong addicted... tapi banyak teman saya yang suka nongkrong saban malam sambil ngerokok sejak SMP yang akhirnya cuma jadi maaf : buruh kasar, pekerja kasar, marketing yang karirnya mandeg, pemadat, pekerja serabutan, kuli bangunan, tukang sampah atau banyak yang dapat kerja bagus tapi hasil titipan orang tua. Parahnya lagi banyak yang hamil di luar nikah.

Seandainya saja dulu mereka ngga banyak nongkrong saya yakin kehidupan mereka akan lebih baik dan karir mereka akan melesat jauh. Seandainya dulu saya ngga sempat nongkrong negatif mungkin saya bisa menghasilkan banyak karya tulis yang bermanfaat, macam anak-anak SMP jaman sekarang yang sudah nelurin banyak buku.

Memang tak semua anak nongkrong otaknya kosong, banyak yang dari nongkrong meluaskan pergaulan tapi nongkrong yang mana dulu? Nongkrong produktiflah. Kalau hanya nongkrong bengong, godain cewek dan ngerokok gak jelas... saya gak jamin mereka bisa sukses JIKA mereka tidak segera sadar dengan kesalahan mereka.

Jadi kesimpulannya nongkrong itu ngga apa-apa dalam hukum indonesia asal tidak menganggu orang, tapiii sia-sia banget kalau nongkrongnya tidak produktif. Nah, Menteri Pemuda dan Olahraga nih plus Menteri Sosial harus turun tangan untuk merubah pola nongkrong negatif ini yang udah mendaraaah daging ini. Daripada nongkrong enaknya kan ngumpul sambil main ping pong, bulu tangkis, dan catur. Tapiii nongkrong juga ada batasnya. Jangan kebablasan apalagi kalau sampai jadi bapak-bapak masih hobi nongkrong sampai pagii... ngga manfaat banget. Karena banyak bapak-bapak di lingkungan saya begitu, nongkrong sampai pagi main kartu dan entah ngapain semalaman, paginya udah malas kerja.

Nongkrong negatif menciptakan kemalasan...

aaah jadi ngalor ngidul hehehe. Maap kalau tulisannya ngaco, karena memang hanya mengeluarkan uneg-uneg dan curhat semata ^^ mending nongkrong di depan laptop yaa, jadi tulisan :p atau nongkrong di blog hehehe

Salam
Achi TM
Penulis novel HATI KEDUA
mau belajar nulis? Call me 085643376193


Ternyata Saya Tetap Hidup dari Menulis

Sunday, June 29, 2014

Ada masanya ketika kehidupan rumah tangga berada dalam tingkat ekonomi rendah. Tahun ini saya mengalaminya. Awal tahun ini semua aliran rejeki-Nya mendadak macet. Mulai dari honor nulis buku senilai 10 juta yang mandeg, honor nulis skenario 20 jutaan yang juga mandeg sampai royalti novel yang ternyata di luar ekspektasi.

Fyi, saya dan suami full bekerja sebagai penulis di rumah. Apa saja kami tulis asalkan halal dan membawa kebaikan. Tapi apa daya semua janji honor macet, tentu di luar dari rencana kami. Sementara uang tabungan terus terkuras seiring kebutuhan rumah tangga dan bisnis kursus Rumah Pena.

Well akhirnya di Bulan April sampailah pada satu titik tabungan kami habis. Sebenarnya hal spt ini sudah sering dan biasanya pula selalu ada honor masuk atau royalti buku dari 15 buku yang saya tulis dengan sistem royalti. Tapi april kemarin semuanya benar benar tersumbat. Akhirnya mengandalkan gadai emas.

Sampai sisa uang di saku hanya 100 ribu, anak bungsu yang baru 10 bulan sakit dan harus berobat. Awalnya kita sangsi, ngga ada duit nih buat berobat. Tapi saya dan suami akhirnya selalu ingat bahwa pertolongan Allah itu dekaat banget. Udah deh yakin aja Allah pasti kasih pertolongan. Then, dengan mobil hasil menulis selama bertahun-tahun kami pun meluncur ke klinik anak.

Sempat kepikiran untuk menjual mobil saja, atau papa kembali kerja di kantoran. Kebetulan banyak PH yang minta papa kembali ngantor tapi papa memilih freelance. Saya bahkan kepikiran ngelamar kerja aja. Aahh padahal orderan nulis dari penerbit masih numpuk. Sempat terbersit mungkinkah rejeki dari menulis sudah habis?

Saat sedang bimbang sambil menunggu anak dipanggil masuk ke ruang dokter, saya melihat teman lama sma sedang berbincang di depan klinik si dokter. Saya ijin ke suami untuk menyapa teman saya sementara suami pegang anak-anak. Ternyata teman saya itu lagi ngobrol sama pengusaha muda di Tangerang. Dilalah... Pengusaha itu nanya apa profesi saya. Spontan saya jawab saya ini penulis paligada, apa lu mau gua ada hahha... Sungguh kekuasaan Allah, orang yang baru sya kenal itu langsung minta no rekening saya. Katanya mau order bikin buku. Dia punya naskah mau mau menerbitkan sendiri. Saya yang rapihin tulisannya, urus editing, ilustrasi sampai cetak. Saya melongo setelah kita nego harga dalam waktu 1 menit dia langsung transfer ke

Ini adalah Lele Bule yang berdiri di bulan Mei di bawah asuhan si "dukun' UKM. Gambar di bawah adalah buku Pendekar UKM yang saya urus. 


rekening saya 50% dari jumlah kesepakatan biaya menulis.

Saya bengong. Dia baru kenal saya. Kok dia percya aja sama saya? Dia ngasih liat bukti transfer e banking di hpnya. Saya manggut2 kaku. Kebetulan anak saya dipanggil dan giliran masuk periksa. Saya pun pamitan dan janji untuk ketemuan lagi 2 hari kemudian. Si pengusaha memberikan tulisannya untuk saya rapihkan dan saya urus proses terbitnya di Rumah Pena Publishing.

Setelah periksa ke dokter, saya ajak suami sya ke atm dan cek saldo. Allahu akbar memang ada jumlah uang seperti yang tadi ditransfer pengusaha itu! Jumlahnya pas untuk biaya hidup layak di kota Tangerang selama satu bulan. Saya nangis haru, Allah ternyata mau saya tetap menulis. Saya dikasih rejeki durian runtuh dari menulis.

Siapa yang menggerakkan hati pengusaha muda itu? Allah! Siapa yang mempertemukan kami? Allah. Maka janganlah takut tak ada rejeki. Ketika kita pasrah dan yakin, Allah pasti kasih.

Setelah buku si pengusaha itu rampung dia langsung pesan diurusi 1 buku lagi kemudian dia membiayai saya dan suami ikutan seminar bisnis. Dari seminar itulah, suami saya lantas membuka usaha Lele Bule. Saya bersyukur karena Allah mempertemukan saya dengan orang hebat seperti sang pengsaha muda itu. Dia adalah Azmi Ramadhan si Dukun UKM.

Ternyata saya tetap hidup dari menulis. Jadi kalau ada yang tanya : emang bisa hidup dari nulis aja? Saya tegas jawab YA! Karena yang kasih rejeki itu Allah bukan penerbit bukan PH bukan bos kita tapi Allah. Dia memberi rejeki lewat perantara siapa saja. Alhamdulillah masa masa ekonomi sulit berhasil kami lewati dan kini saatnya terus berubah memperbaiki kualitas hidup.

Salam pena!
Achi TM 
 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati