Pendidikan Kreatif Menyebar Melalui TIK

Tuesday, November 11, 2014

Pendidikan Kreatif Menyebar Melalui TIK
oleh : Achi TM

Dibesarkan oleh Ayah yang seorang guru membuat jiwa mengajar saya pun tumbuh. Meski nasib tak mengizinkan saya untuk kuliah S1 keguruan, saya tetap masih bisa mengajar. Sejak tahun 2007 saya sudah kerap dipanggil untuk mengisi pelatihan menulis di sekolah-sekolah menengah atas. Dari sanalah saya mulai merasakan nikmatnya mengajar. Membagi ilmu dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu kota ke kota lain membuat saya berkeinginan membentuk lembaga menulis sendiri. Beruntung ide ini disambut hangat oleh Alm. Ayah saya. Bersama diknas pendidikan Banten, beliau dan beberapa kawannya sesama guru membidani kelahiran Lembaga Pendidikan dan Talenta Rumah Pena. Saya pun didapuk untuk menjadi ketua harian sekaligus salah satu guru menulis di sana. Di samping guru menulis, ada juga guru bidang komputer, bidang desain dan gambar, dan guru bahasa Inggris.


Sebisa mungkin, saya meminta semua murid yang belajar menulis di Rumah Pena untuk mempunyai laptop. 
Karena di Rumah Pena ada wifi, maka semua tugas penulisan dan catatan materi bisa langsung disampaikan ke email masing-masing peserta. 


Saya punya cita-cita tinggi ingin menjadikan ‘menulis’ sebagai salah satu bidang yang dipedulikan oleh orang tua. Banyak orang tua yang ingin anaknya jago Matematika atau Bahasa Inggris tapi sedikit sekali orang tua yang tertarik menyekolahkan anaknya untuk kursus menulis. Seringkali mereka yang datang untuk mendaftar kursus kemudian batal, adalah mereka yang tidak disetujui oleh orang tuanya. Cap ‘profesi penulis’ akan hidup miskin, sudah melekat pada banyak benak orang tua dan susah sekali mendobrak paradigma tersebut.
Akhirnya karena mengalami ‘minim’ siswa menulis di daerah sekitar Rumah Pena berdiri. Saya mulai melebarkan sayap ke dunia jejaring social. Pada tahun 2010, facebook mulai menjadi primadona banyak orang. Berbondong-bondong remaja membuat akun facebook. Maka saya pun berinisiatif membuka grup facebook RUMAH PENA, yang berisi materi-materi umum menulis gratis, saling berbagi semangat dan sharing karya menulis bersama orang-orang yang berminat menulis di seluruh Indonesia. Ya, facebook berhasil menjangkau banyak peminat kursus, mulai dari dalam negeri sampai luar negeri.






Beberapa screenshoot grup pelatihan rumah pena. Saya memakai akun Rumah Pena. 

Berbagai pelatihan menulis pun kembali bergerak jalan. Muridnya tak lagi dari sekitar Rumah Pena, tapi ada juga yang berasal dari luar kota Tangerang seperti Jakarta, Bogor dan Bekasi. Dalam seminggu saya bisa membuka dua kelas tatap muka dan dua kelas menulis secara online. Kelas menulis secara online ini saya gagas karena banyaknya permintaan dari luar daerah Jawa yang ingin ikut kursus namun tak sanggup pergi ke Tangerang. Mulailah saya membuka grup-grup rahasia di facebook untuk mengajar kelas online. Bila ingin privat, maka kelas dilakukan di ranah chatting Yahoo Messenger. Kelebihan dari chatting di fb dan YM adalah, hasil belajar mengajar bisa langsung disave. Ini memudahkan murid dan saya selaku guru untuk membaca ulang apa yang sudah dipelajari. Dalam FB, mudah juga untuk mengirim file berisi naskah-naskah karena ada fitur yang mendukungnya. Bagaimana dengan mereka yang tak punya FB atau YM? Mereka bisa menggunakan BBM. Ya, saya punya 3 murid dalam BBM saya.

Saya tak pernah menyangka bahwa facebook bisa memberikan perubahan besar bagi banyak orang. Khususnya dalam dunia literasi ini. Ada sebuah kejadian yang mengharukan buat saya. Berawal dari sebuah status anggota grup Rumah Pena yang kecewa karena jarang sekali diadakan pelatihan menulis di daerahnya Bireun, DI. Aceh. Saya memberikan komentar singkat : kalau tidak ada, kenapa tidak buat?
Dari saling berkomentar itulah, Vie Rynov, sang pembuat status menjalin komunikasi dengan saya via chatting FB. Tak diduga, ia tertarik mengikuti kursus membuat novel yang saya adakan di Jakarta. Bersama suami dan satu rekannya, ia terbang ke Jakarta selama dua malam untuk mengikuti kursus singkat membuat novel. Pertemuan kami tak berakhir di sana. Dua bulan kemudian dia membentuk Lembaga Talenta yang dinamakan Rangkang Sastra, dan mengundang 4 staff pengajar Rumah Pena untuk terbang mengisi pelatihan menulis perdana. Termasuk saya salah satunya. Dari teknologi internet yang tanpa batas, berhasil membawa saya menjejakkan kaki ke tanah leluhur Alm. Ayah saya.


Pelatihan menulis di Bireun Aceh, bermula dari jejaring sosial facebook.

Di sana pulalah, Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (AGUPENA) Bireun diresmikan oleh ketua umum AGUPENA, Naijan Lengkong. Satu yang membuat saya terharu adalah, ketua umum pertama AGUPENA adalah alm. Ayah saya, Achjar Chalil. Ini seperti menyambungkan benang merah. Karena Vie Rynov tidak tahu bahwa ayah saya adalah ketum AGUPENA yang pertama. Sebuah kebetulan yang indah Rumah Pena yang dibidani ayah saya bisa bersanding dengan AGUPENA. Semua hal luar biasa ini terjadi karena sebuah jembatan penghubung jejaring social bernama : Facebook!
Merasa terbantu oleh keberadaan internet, saya pun mulai membuat blog dengan serius pada awal tahun 2011. Dalam blog ini saya menuliskan banyak motivasi menulis untuk mereka yang membutuhkan semangat menulis. Memberikan beberapa ilmu kepenulisan. Khususnya ilmu kepenulisan naskah scenario. Saya menunjukkan synopsis FTV untuk dipelajari kemudian memperlihatkan video FTV yang sudah jadi sebagai bahan pembelajaran. Saya yakin, dunia menulis semakin dinamis.


Salah satu video FTV yang saya posting di blog saya untuk bahan belajar bersama.

Semakin hari semakin bermunculan calon-calon penulis yang membutuhkan guru untuk bisa mengantarkan mereka pada industri penulisan kreatif. Karena dari kegiatan nge-blog saya, saya bisa menjangkau banyak pembaca. Bahkan saya kedatangan 2 murid dari Makassar, yang terbang ke Tangerang dan memilih homestay di Jakarta agar bisa belajar menulis novel dan scenario bersama saya.
Teknologi juga yang membantu saya untuk mengakomodir naskah murid-murid saya. Setiap mereka mengirimkan naskah ke email saya biasa menyimpan di folder khusus. Kemudian memberikan masukan lewat email atau chatting. Youtube telah membantu saya menunjukkan hasil syuting naskah skenario yang kami pelajari dan buat bersama, meski jarak kami berjauhan satu sama lain. Karena dalam mengajarkan menulis saya tak semata memberikan teori tetapi langsung praktek dan terjun ke dunia industri kreatif.

Saya senang karena banyak murid saya yang akhirnya menjadi penulis buku islami, penulis scenario di berbagai PH, menjadi penulis cerpen, penulis novel bahkan ada yang akhirnya menjadi guru ekskul menulis di sebuah SMPIT. Besar harapan saya, kelak kegiatan menulis tak lagi dipandang sebelah mata. Karena profesi penulis adalah profesi yang menjadi tonggak dari industri kreatif.

Sebuah film butuh penulis naskah, sebuah lagu butuh penulis lagu, sebuah iklan butuh penulis, industri buku dan media butuh penulis, apalagi industri internet, berbisnis lewat blog dan lain sebagainya tetap butuh penulis. Sebagai guru menulis, cita-cita besar saya tak pernah padam. Membuka gerbang kesuksesan bagi mereka yang membawa impian ingin menjadi penulis. Saya akan antar… sampai mereka bisa berjalan dengan pena mereka sendiri.












 Beberapa foto aktifitas saya menggunakan TIK dalam mengajar penulisan kreatif.

Yuk ikutan ini 

Tulisan ini saya ikut sertakan dalam lomba Guru Blogger Inspiratif 2014


***



No comments:

Post a Comment

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati