Showing posts with label Cerita Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Cerita Inspiratif. Show all posts

Di Balik Kesulitan Kita Ada Rejeki Orang Lain

Saturday, June 18, 2016

Hari ini adalah hari pembagian rapot Abiy, anak pertamaku yang guantengnya ngalahin Dude Herlino - ampun mas Dude- ya abis pas hamil dia aku lagi ngidam sama Dude, sih, sampe bela-belai nelepon Dude yang lagi syuting. Eh... udah udah bahas dudenya, sekarang bahas tentang bagi rapot.

foto ambil di sini : https://m.tempo.co/read/news/2015/05/20/219667933/jadi-hot-daddy-dude-herlino-belajar-memandikan-anak
Seperti ibu-ibu normal lainnya, saat bagi rapot saya juga dandan dong, ya pakai gamis cakep, jilbab cakep, sepatu cakep minus lipstik n make up, karena emang ga punya make up (kasian amat). Karena sejak shubuh hujan ngga berhenti-henti, aku merengek sama si Papa buat anterin aku dan ABiy ke sekolah pake mobil. Dengan sadisnya dia nyuruh kita naik motor aja, langsung dong aku ngeluarin jurus seribu satu ngambek. Seperti biasa jurus itu selalu sukses kena sasaran, singkat cerita, tanpa mandi-si papa langsung cus anterin kita ke sekolah naik mobil.
Benar saja, sampai di gang masuk sekolah saja sudah macet cet luar biasa. Mobil sudah diparkir di sana sini, jalan pun kayak siput, lama banget. Itu pun ngga bisa berhenti pas di depan gerbang, bisa berhentinya agak jauh kira-kira 50 meter dari gerbang. Ujung-ujungnya gerimisan juga sama Abiy sampai ke depan kelasnya, ya, setidaknya Abiy masih ganteng meski kena gerimis.
Singkat cerita lagi -ketauan males nulis- setelah nunggu cantik bareng ibu-ibu lainnya, akhirnya bagi rapot pun dimulai. Karena bu gurunya abis dua hari full nemenin anak-anak ikut pesantren kilat, bu guru kelihatan lelah banget. Jadi cuma kasih kata pengantar sedikit terus mulai bagi-bagi rapot dan dikasih marchandise handuk dengan nama siswa : Abiy. Seneng, dong, si Abiy apalagi emaknya seneng banget, kan, mayan ga perlu beli handuk baru ‪#‎eh‬.
Si Papa pun nelepon, dia bilang udah ngejemput, nungguin di taman perapatan kantor. Terus aku dan Abiy disuruh jalan ke sana? Hello papaaa... di luar masih gerimiiis... mana tahan basah-basahan gitu kan. Papa bilang, gang bisa masuk ke gang menuju sekolah, dilarang satpam karena udah penuuuh banget mobil yang ngantri. Akhirnya aku nyuruh papa pulang, tapi beberapa menit kemudian berubah pikiran dong, gapapa deh jalan bentaran lalu kirim WA yang apesnya tuh WA nyampe satu jam kemudian. Nyuruh si papa jangan pulang.
Terus aku dan Abiy niat mau nebeng sama mama Nayaka, salah satu CS abiy di sekolah, tapi ternyata mobil mama nayaka diparkir di lapangan yang notabene deket taman, ah nanggung bleeh sekalian aja basah. Aku dan Abiy pun jalan kira-kira 100 meter lagi, gerimis gerimisisan, Abiy nutupin kepala pakai rapot dan didobel dengan handuk marchandise. Aku cukup nutupin kepala pake telapak tangan - yaaa sebenarnya keujanan juga, nutup kepala biar action aja. Tibalah kita di taman dan tadaaa... mobil merah si papa udah gak ada. Huhuhu... rasanya mau nangis meraung-raung, gegulingan tapi malu sama pak pulisi. Akhirnya aku celingukan dan melihat ada ibuu-ibu naik becak.
Kucek-kucek mata sebentar, ratusan kali lewat sini naik mobil dan motor kenapa ya kok ngga ngeh kalau di sini ada tukang becak mangkal? Akhirnya aku melihat satu tukang becak yang nganggur. Karena udah lelah dikeroyok sama gerimis, aku pun mengajak Abiy naik becak, Abiy pun naik becak dan mukanya kelihatan pucat banget.

pict boleh copy dari link ini : http://www.leladies.com/2015/09/09/kisah-nyata-shodaqoh-jumat-seorang-tukang-becak-renta/


Jarak dari kami naik becak ke rumah itu kira-kira 300 meterlah, jalannya pun luruuus aja ngga pake naik turun. Aku memeluk Abiy dan terjadi percakapan menyenangkan.
Aku : Jarang-jarang, kan, Biy, naik becak?
ABIY : Iya, Ma, asik ya ma, pemandangannya indah (padahal yang dia liat tiap hari itu-itu juga hik)
Aku : Nyanyi yuk, saya mau tamasya keliling kota, saya panggilkan becak kereta tak berkuda, becak-becak... coba bawa saya.
ABIY : .... (meneng bae)
Jadi aku heboh sendiri naik becak, hmmm kalau dipikir-pikir udah lima tahun lebih gak naik becak, ya. Lambaaat lajunya tapi kok bikin tenang. Bisa lebih melihat kanan kiri jalan. Mendekati rumah Abiy nyeletuk.
ABIY : Mah, abangnya kuat, ya, bawa mama 95 kilo, Abiy 30 kilo, 125 kilo, mah.
AKU : (ya gak usah bawa-bawa kiloan napa biiy). Iya, abangnya hebat! Kuat!
Begitu tiba di depan rumah aku dan Abiy turun, saat mau bayar aku agak kaget karena abang becak yang sedari tadi mengayuh beban 125 kilo gram itu sudah tua, rambutnya putih semua, kerutannya banyak dan badannya kurus. Ngek... pas naik tadi sama sekali ngga merhatiin abangnya, cuma mikir gimana caranya gak keujanan. Akhirnya yang tadi mau ngasih dikit, diganti jadi ganti agak banyakan. Soalnya abang becak bapak tua ini ngga ngeluh sepanjang jalan, disuruh belok kanan kiri juga diem aja, saat dia nerima uang dengan mata berbinar, semua keluhanku soal hujan hilang sudah.
Papa dan Arkan keluar menyambut aku dan Abiy, hujan belum juga berhenti. Aku buru-buru masuk sambil cerita dengan cepat kenapa akhirnya bisa naik becak.
PAPA : Beginilah cara Allah ngasih rejeki ke tukang becak tua itu.
Ah... aku baru kehujanan dikit ngeluh, jalan hujan-hujanan dikit ngerasa tersiksa, padahal bapak itu menunggu penumpang hujan-hujanan dengan sabar, mengayuh becak dengan penumpang 125 kg dengan sabar... rasanya malu.
AKU : Apa yang menjadi kesulitan bagi kita boleh jadi adalah rejeki buat orang lain, ya, Pa.
Masya Allah... begitu indah Allah mengatur rejeki hamba-Nya.

Hijrahlah....

Friday, November 16, 2012

Sebuah catatan kecil yang saya tulis di pagi yang agak sendu : 
Teruntukmu... kamu, kawanku, atau bukan kawanku atau kamu yang hanya membaca ini sambil lalu.



***
Kalau kamu mau menangis, menangislah. Kalau tak ada bahu yang cukup lebar dan ikhlas menerima air matamu, menangislah kepada Allah. Bacakan surat-surat cinta dari Allah untukmu. Niscaya hatimu akan tenang.

Kalau kamu mau menyerah, menyerahlah pada hidup. Kalau tak ada lagi tangan yang cukup kekar untuk menopang dan menyayangimu, menyerahlah pada keputusan Allah. Karena Dia yang paling tahu apa yang te
rbaik untuk-Mu.

Kalau kamu tak mampu bertahan, bersiaplah. Kalau tak ada lagi kelembutan, kehangatan dan kesabaran yang mau menerimamu. Bertahanlah karena Allah... kalau pun kau tak bisa bertahan, memohonlah kepada Allah... memohon agar diberikan kekuatan. Apabila kau tetap tak kuat ... pergilah.

TINGGALKAN TEMPAT YANG MEMBUATMU DUKA DAN LARA
HIJRAHLAH....





Usah kamu mengeluh begini dan begitu, usah terlampau banyak mengeluh.


HIJRAHLAH...


Pergilah mencari tempat yang lebih baik, hati yang lebih baik, teman yang lebih baik.


Jangan terperangkap pada hidup yang membuatmu sedih, terkungkung dan tak berdaya.





HIJRAHLAH!





Selamat Tahun Baru Hijriah


Belajar Keadilan Allah Lewat Kisah Sederhana

Friday, August 17, 2012

Kadang kita merasa Allah itu ngga adil sama kita. Tapi melalui kehidupan ketiga Ibu ini, perlahan-lahan aku semakin yakin bahwa Allah itu Maha Adil. Hanya kita, manusialah yang harus lebih peka dan banyak mengasah hati serta pikiran dalam mencari keadilan Allah.

Ini hanya kisah yang amat sederhana, mungkin tak bisa mengundang air mata atau membuat hatimu tersentuh. Ini hanya realita kecil yang meminta isi kepala kita untuk berpikir.

***

Sebut saja di sebuah gang komplek ada 3 orang ibu. Ibu A punya 4 anak, Ibu B punya 3 anak dan Ibu C punya 6 anak. Rumah mereka sama, satu tipe dan luasnya pun rata hanya 60 meter persegi. Penghasilan suaminya pun nyaris tak jauh beda. Hidup mereka sederhana, seperti kebanyakan orang-orang awam lainnya. Sampai kemudian anak-anak mereka tumbuh besar dan menikah.

Yang pertama kali menikah adalah anak Ibu C. Anak Ibu C menikah dengan lelaki biasa saja, berasal dari kampung di daerah Jawa Tengah, tidak punya rumah, harta bahkan motor sekali pun. Tapi lelaki itu luar biasa tulus, setia dan mau bekerja keras. Belum setahun menikah, mereka sudah dikaruniai seorang anak yang sehat dan cerdas. Anak Ibu C dan suaminya lalu ngontrak di dekat rumah Ibu C. Sang anak merawat sendiri anaknya tanpa merepotkan sang Ibu C. Ibu C pun bisa menikmati masa tuanya dengan berbakti pada masyarakat dan menjadikan cucunya sebagai penghibur tanpa direpotkan.

Yang kedua menikah adalah anak Ibu B. Anak Ibu B menikah dengan lelaki yang kaya raya. Belum setahun menikah sudah bisa beli rumah mewah dan mobil. Dalam dua tahun sudah bisa punya 2 anak. Rasanya hidup si Ibu B terlihat begitu bahagia dengan menantu kaya, bermobil serta 2 cucu yang lucu-lucu. Tapi ternyata sang anak Ibu B tidak mau merawat anak mereka dengan alasan sibuk kerja dll. 2 Anak lucu itu dititipkan kepada Ibu B dari hari Senin sampai Jumat. Sang anak hanya dijenguk di hari Sabtu dan Minggu saja. Awalnya mungkin tidak masalah bagi Ibu B. Tapi kondisi badannya yang sudah renta membuat ia mulai terlihat capek, apalagi suaminya mulai sakit-sakitan. Ia sempat mengeluh sedikit kepadaku, tanpa berpanjang kata, dari matanya pun aku bisa melihat dia lelah.

Aku pun berpikir. Sejak dulu bukankah Ibu B merawat anak-anaknya dari kecil sampai besar? Merawat anak adalah pekerjaan yang berat. Membutuhkan banyak tenaga dan energi. Sungguh luar biasa, Ibu B merawat 2 balita sekaligus. Tapi bukankah cucu adalah penghibur hati? Mengapa malah menjadi beban?

Lalu Yang ketiga menikah adalah anak Ibu A. Anaknya lelaki, kerja di perusahaan bonafit. Gajinya besar, mendapat istri anak orang kaya. Ia semakin sukses, sudah punya rumah dan mobil sendiri. Tapi dua tahun menikah belum juga punya cucu.

Kadang si Ibu C mengeluh ingin anak dan menantunya bisa punya rumah dan mobil. Si Ibu B lelah merawat cucu setiap hari. Si Ibu A mendambakan kehadiran bayi mungil dari menantunya.

Bisakah kita jeli melihat di mana keadilan Allah?
Ya ... Allah Maha Adil. Sangat Adil. Ketika kita memandang orang lain dan 'iri' dengan keberhasilan seseorang di bidang tertentu, bisa jadi orang itu juga 'iri' sama kita. Di luar sana banyak orang-orang kaya yang harus mengeluarkan ratusan juta rupiah hanya demi ingin punya seorang anak. Sementara di kawasan lain, orang miskin bisa hamil setahun sekali dan anaknya enam.

Seperti kasus 3 Ibu di atas. Mereka, dengan kasih sayang Allah, sudah mendapatkan porsi dan kebahagiaan masing-masing. Maka kita, sebagai manusia, mulailah belajar untuk bersyukur. Mensyukuri apa yang diberikan Allah saat ini. Mengapa kita harus iri?

Maka beryukurlah saat ini kita disampaikan kepada hari Raya Idul Fitri. Disucikan kembali, Insya Allah bersih dan menjalani hidup baru selama 11 bulan ke depan. Semoga Allah kembali mempertemukan kita dengan bulan Suci Ramadhan tahun 1434 di tahun depan. Umur siapa yang tahu? Yang kita tahu adalah kita harus memperbaiki diri. Bersyukur dan bersyukur.

Alhamdulillah Ya Allah.
Harta dan anak hanya titipan.

***
Salam
Achi TM
Rumah Pena, 18 Agustus 2012
Ingin belajar kursus menulis cerpen, skenario dan novel? Mau memanggil pelatih nulis yang berpengalaman? Silakan kontek ke 085643376193

Siapkah Kita Diberikan Sebuah Titipan?

Tuesday, July 31, 2012

Menjadi seorang penulis best seller bukanlah sebuah langkah mudah bagi seorang penulis. Dari sekian ratus penulis yang berlomba-lomba membuat buku, paling hanya lima sampai sepuluh persen yang bukunya best seller. Saya sendiri belum berani mengatakan bahwa saya penulis best seller toh memang belum ada buku saya yang sampai cetak ulang (kalau buku keroyokan seperti Love Asset) saya berani mengatakannya. Karena memang buku rame-rame dan kenyataannya sejauh ini penjualannya bagus.

Meski begitu, setidaknya penjualan buku saya rata-rata di atas 4000 eks dalam jangka 1-2 tahun. Nah ngomong-ngomong soal buku dan best seller, saya mau bahas sedikit soal alasan kenapa tahun ini saya sangat ngoyo membuat novel kembali. Fyi, novel remaja terakhir saya terbit tahun 2010, sedangkan novel anak terakhir saya terbit Februari tahun 2012 bersamaan dengan buku non fiksi kedua saya berjudul No More Galau - Dear Bunda Cuwiy.

Saya kembali giat menulis novel di akhir tahun 2011, saat itu saya seperti disadarkan oleh sebuah pengalaman pahit. Bahwa kebanyakan orang Indonesia masih menganggap penulis itu adalah orang yang punya buku. Padahal sejak tahun 2007, karya-karya skenario saya sudah wara-wiri di TV nasional dengan atau tanpa nama saya.

"Eh emang kamu penulis?" ini pertanyaan yang muncul karena secara tidak sengaja, nama FB saya : Achi TM Penulis tidak bisa lagi diganggu gugat. Sampai sekarang pun belum bisa diganti. Duh efbiih efbiih...
Biasanya kalau ada yang nanya seperti itu pasti saya jawab dengan sopan sambil bertanya dalam hati, kenapa juga lo nge-add gue kalo lo gak tahu gue siapa? *jiiih somboong... gak boleh tauuu...*

Ada lagi yang lebih parah... "Emang si Achi bisa nulis apa? Cuma nulis lucu-lucuan doang." Deziiig...
Oke oke... lebih banyak lagi sebenarnya cibiran, memandang sebelah mata bahkan ngga yakin kalau saya penulis karena karya-karya saya ngga nongol di tahun 2011! Nerbitin buku pun hanya setahun sekali. *nangis di pojokan.

Tak apalah... orang mencibir seperti apa, itu hak mereka. Dan mereka benar. Saya belum mahir dalam menulis. Kata-kata saya masih kacau. Tidak efektif membuat kalimat, ngga efisien bahkan saya perlu search di KBBI soal kata 'spekulasi' 'tendensi' 'indikasi' dan si si lainnya. Saya bukan orang cerdas, saya akui. Nilai Bahasa saya juga jelek. Saya lulus SMA jurusan IPA dan kuliah di Manajemen, ilmu nulis saya cuma seupriiit... terus ketika saya membuka kursus menulis untuk pemula orang-orang mulai bertanya : elo siapah?

Ya saya adalah saya....
Dan hal-hal seperti itu memacu saya untuk bisa menulis lebih baik. Hal itu saya syukuri. Tanpa adanya cibiran dan kritik pedas kadang kita tidak tahu bahwa kita berada dalam jalan yang salah. Saya membaca lebih banyak jenis buku, belajar menulis cerita serius dan di sela-sela saya menulis skenario, saya kembali menulis buku. Novel dan non fiksi. Subhanallah... ternyata saya bisa! Terima kasih buat yang sudah menguatkan saya.

Kembali kepada judul tulisan ini, soal siap atau tidak siap kita diberi titipan. Ketika sahabat semua sudah mulai belajar menulis, berguru ke berbagai padepokan menulis, sudah menguasai jurus-jurus jitu menulis tapi saat berhadapan dengan media dan penerbit, sahabat malah keok alias ditolak. Kira-kira apakah penyebabnya harus selalu karena tulisan kita jelek? Tidak. Bisa jadi karena menurut Allah ternyata kita belum siap buat dapat titipan berupa : dimuat di media, diterbitkan penerbit, atau jadi penulis best seller.

Kalau kita ingin punya mobil apakah Allah akan memberikan kita mobil begitu saja? Sedangkan kita tidak mengerti sama sekali bagaimana merawat mobil bahkan tidak bisa menyetir. Logikanya, kalau kita mau menitipkan laptop kita untuk dipakai orang lain pasti orang tersebut harus bisa menggunakan laptop bukan? Ngga mungkin, dong, kita ngasih laptop kita ke orang yang ternyata berpikir bahwa laptop adalah alat untuk mengulek cabe!

Jadi begitulah Allah menitipkan sesuatu sama kita. Dia, Yang Maha Tahu segalanya, melihat apakah kita sudah siap untuk dititipkan sesuatu? Buat yang ingin punya anak, sudahkah siap untuk merawat anak? Bagi yang ingin punya mobil (gue) sudahkah siap untuk bisa merawat mobil? Nah, yang paling paling paling tahu kesiapan kita adalah Allah! Jadi jangan sampai kita bilang kita siap berlari sementara kaki kita ternyata diikat dan kita tidak mengetahuinya.

Terus gimana sama anak-anak terlantar yang dibuat ibunya? Bukankah itu tandanya si ibu ngga siap? Mungkin si ibu ngga siap merawat sang anak, tapi dia siap buat melepaskan anak itu untuk orang lain yang lebih siap darinya. Allah, kan, Maha Tahu segalanya. Semua misteri kehidupan ada di tangannya kita ngga bisa mengklaim segala sesuatu dari kasat mata saja.

Kembali lagi soal menjadi penulis. Siapkah kita saat tulisan kita akhirnya dimuat di media nasional setelah 70 kali kegagalan? Seumpamanya si fulan sudah 70 kali mengirim tulisan dan ditolak, pada tulisan ke 71 ternyata tulisannya dimuat! Setelah itu, si fulan mendadak sombong, merasa sudah jadi penulis hebat sehingga ia mematikan kesempatan untuk berkembang karena kesombongan itu. Bagaimana kalau sebenarnya Allah mempersiapkan si fulan harus 99 kali gagal dulu baru yang ke 100-nya diterima, si fulan ternyata tidak sombong, malah ia semakin berkobar untuk berkarya lebih baik. Nah, dari ilustrasi di atas, kita ambil kesimpulan kalau apa yang menurut kita sudah maksimal dan sudah baik, belum tentu menurut Allah.

Boleh jadi kalau naskah kita dimuat sekarang, ternyata kita belum siap lihat honornya yang kecil terus mutung nulis. Atau kita ngga siap nama kita dipampang di majalah beken terus tiba-tiba punya fans cowok aneh dan terus meneror kita tiap malam. Boleh jadi kita tidak siap untuk setiap hari ditelpon redaksi majalah lain yang ngeliat cerpen kita dan minta dibikinin majalah serupa.

Bagaimana dengan jadi penulis best seller? Selama ini saya selalu yakin, boleh jadi, Allah tahu bahwa saya belum siap untuk terkenal. Efek pasti dari menjadi penulis best seller adalah kita akan lebih dikenal. Kita akan mendapatkan pujian sekaligus cacian. Jangan salah, buku-buku yang mega best seller pun belum tentu terlepas dari kritik. Nah... waktu dan segala kehidupan pahit di dalamnya sudah membuat saya sedikit kebal dengan segala 'penyakitan' hidup. Dicaci, diomongin, dicibir, dipatahkan semangatnya, ditinggalkan, dimanfaatin, kesepian, penyakit, penolakan, bisnis macet, keguguran, dan lain sebagainya saya terima setelah saya menulis buku NO MORE GALAU! Tuuuh... Allah ngasih saya bukti langsung, siap ngga saya nulis buku NO MORE GALAU, memberikan spirit ke setiap orang, sedangkan saya dibombardir sama banyak kejadian pahit yang harus bergulir sampai pada titik saya SIAP!

Saya SIAP Ya ALLAH... saya siap jadi orang yang KUAT, TEGAR, TANGGUH dan gak melow-melow. Cukup saya melow masmaslow sama Allah saja, sama orang-orang terdekat aja. Saya memasang pagar besi dan pagar kawat di sekeliling hati saya supaya saya bisa kuat. Pagar-pagar itu adalah Ayat-Ayat Abadi Allah. Al-Qur'an.

Maka, sekarang saya sedang mempersiapkan diri untuk kelahiran 2 novel saya yang saya yakin bisa BEST SELLER. Karena itu, supaya Allah titipkan best seller itu ke saya, saya harus siap. Belajar lebih baik, diet lebih banyak, rajin nge blog, ngetweet, nge-efbi... dan lain-lain.

Ya, kalau pun ngga best seller, mungkin persiapan saya kurang. Setidaknya saya bisa belajar apalagi yang harus saya siapkan. Sama seperti ketika saya akan mendaki sebuah gunung, di tengah jalan ternyata saya kehausan, setelah saya cek persiapan saya, ternyata saya kurang bawa air. Aaah... lain kali kalau naik gunung saya akan bawa air yang banyak.

Lalu kenapa semua itu disebut titipan? Karena hidup kita ini saja adalah sebuah titipan bukan? Pada waktunya nanti, kita semua akan kembali sama Allah. Semua hanyalah titipan termasuk titel penulis yang kita sandang. Karena pada akhirnya nanti, titel itu akan hilang, berganti dengan almarhum.

Salam
Achi TM

Akibat Ikhlas

Sunday, June 24, 2012


~ IKHLAS ~
  Achi TM

            Apa hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup kita selain sabar dan menahan amarah? Ya, jawabannya adalah ikhlas. Sekitar 3 bulan yang lalu aku ditinggal pergi oleh seorang karyawan. Rasanya saat itu aku marah sekali. Awal aku menerima dia kerja adalah karena rasa kasihan. Karena rasa kasihan itu pula aku memberi izin kepadanya untuk kembali melanjutkan sekolahnya ke SMA. Ya, ia adalah lulusan SMP yang putus sekolah.
            Singkat cerita, setelah membantu dia untuk mencari tempat kos bersama teman dekatku. Dia pun akhirnya sekolah. Dengan sedikit bantuan dariku yang nilainya tak seberapa. Sebulan pertama sekolah semua baik-baik saja. Pulang sekolah dia masih rajin bekerja sampai malam. Bahkan bila sudah jam 7 malam, ia aku beri izin untuk belajar. Gaji tak pernah aku potong.
            Sampai tiba di bulan kedua, mendadak ia minta berhenti kerja karena alasan capek. Sontak saat itu aku menahan amarah padanya. Aku memberi dia pesangon dan enggan untuk menemuinya lagi. Padahal sekolahnya tepat berada di depan rumah kantorku. Bayangkan, nyaris setiap minggu aku melihatnya dari kejauhan. Begitu juga dirinya, aku menunggu itikad baik dirinya untuk datang dan minta maaf tapi nyatanya hari itu tak pernah tiba. Lama-lama amarah demi amarah menumpuk di dadaku. Sesak. Hingga suatu hari aku merasakan hidupku menjadi sangat susah.
            Honor-honor menulis yang seharusnya turun menjadi tertunda. Kemudian job-job mengajar yang sudah ada di depan mata tiba-tiba lenyap. Kenapa rejeki menjadi susah kudapat? Bahkan perlahan-lahan penyakit menggerogoti badanku. Kepala yang sering pusing dan badan yang sangat lemas. Akhirnya aku pun pergi ke terapis langgananku. Di sana, selain diurut aku aku juga diberikan wejangan-wejangan.
            Di sanalah aku disadarkan kalau selama ini aku tidak ikhlas melepas seseorang yang sudah aku bantu lalu dia pergi. Jika kita mau membantu orang, ikhlaskan saja. Kalau dia pergi biarkan saja, akan ada orang lain yang datang silih berganti. Ketika kita ikhlas dan mau memaafkan, maka rejeki akan datang mengalir dengan cepat.
            Sepulang dari terapis aku segera merenung sendirian di kamar. Menghela napas panjang, mengosongkan pikiran dan mengatakan bahwa aku harus ikhlas. Maka dengan sigap aku mengirim sms kepada mantan karyawanku itu. Aku meminta maaf kalau aku masih sempat marah padanya. Aku mencoba melupakan semua kebaikan yang pernah aku berikan. Ikhlaskan, kosongkan!
            Malamnya, tepat jam 12 dini hari. Salah satu produser sebuah PH meneleponku. Dia memberikan kabar baik bahwa beberapa program yang akan aku tulis segera jalan. Kemudian ia menawarkan pekerjaan pada suamiku. Ini benar-benar keajaiban semua rasa ikhlas! Jam 12 dini hari dia menelpon dan memberikan kabar baik. Tak berhenti sampai di situ, esoknya honor menulis yang ditunggu-tunggu pun turun. Kemudian ada orderan mengajar di suatu tempat dengan nilai jutaan. Aaah… betapa bersyukurnya diriku.
            Hal ini meyakinkan aku bahwa ketika kita ikhlas maka alam semesta akan mendukung semua karier dan impian-impian kita. Aku segera pergi ke kamar dan merenung. Apalagi yang harus aku lepaskan? Sesuatu yang harus aku ikhlaskan….

***
Rumah Pena, 24 Desember 2011

renungan : perempuan bekerja di luar

Sunday, June 17, 2012


Saya tahu setiap pemikiran perempuan itu berbeda. Tapi saya mau sharing pemikiran saya saja :) saya dibesarkan oleh mama yang sempat bekerja jadi guru sampai saya kelas 4 SD. Setelah adik kedua saya lahir, mama saya jadi full mother di rumah. Memang, sih, mengurus 6 orang anak bukan perkara mudah *ini kusadari setelah jadi mama* jadi aku bisa maklum kenapa dulu mamaku suka marah sama aku, suka ngomel, banyak aturan dan lain sebagainya. Ayahku hanya PNS, guru di STM 12, skrang SMK 56 Jakarta. Selama hidupnya, seperti PNS kebanyakan, ayah mau kerja banting tulang apa saja selepas mengajar-dengan cara jujur. Mulai dari jualan nata de koko (aku kerja di sini jadi pengemas dan dikasih upah sama ortu), jualan koran (aku kerja jadi loper koran umur 9 thn), jualan air mineral (SMP aku angkat2 galon dan ngedorong pake gerobak ke pembeli), jualan ikan, ternak cacing, jualan parfum, tas, sampai kemudian beliau jadi konsultan pendidikan dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Bahkan alm pernah jadi asisten menteri di awal 2000-an, 4 thn sebelum akhir hayatnya beliau jadi konsultan untuk INS Kayu Tanam.

Ya, jadi cerita ayah terus hehehe*kangen sih*
Intinya, aku dibesarkan dengan kehidupan yang pas-pasan aja. Sederhana. Itu mengapa yang membuat aku pernah bercita-cita jadi orang kaya raya dan punya segalanya. Tapi setelah menikah dan punya anak sepertinya cukup jadi kaya saja tidak perlu raya-raya atau punya segalanya.

Sejak SMA aku sudah berniat ingin jadi penulis. Waktu kuliah sempat juga pengen jadi wanita karir, kerja kantoran, melejit dan punya banyak relasi. Tapi niat itu tak didukung oleh Allah. Akhirnya aku kembali pada niatku semula : Aku ingin jadi PENULIS dan Ibu Rumah Tangga, buka usaha di rumah saja.

Well itu niatku. Tapi barusan baca thread di sebuah forum, kebanyakan perempuan yang komentar justru merasa terkekang apabila tidak bisa kerja di luar rumah. Ada pula beberapa orang yang dibesarkan dari keluarga yang ibu bapaknya kerja, rumah tangga harmonis aja menurutnya tapi menomorduakan soal agama. Ada juga yang anak-anaknya ternyata lebih dekat sama baby sitter. Tapi ada juga pandangan yang mengatakan : kalau kerja di rumah tapi ibu ngga bener-bener ngasuh anak ya sama aja bohong (ini betul). Apa pun itu pandangan mereka...

Aku ingin sekali -kita sebagai perempuan- merubah mind set berpikir kita, bahwa kerja di rumah adalah aib. Bahwa kerja di luar adalah sesuatu yang keren. Apa pun itu, kerja di rumah atau di luar tetap harus menjadikan anak dan suami sebagai prioritas utama. Kalau kerja di rumah juga mengabaikan suami dan anak ya sama juga bohong (merenung sendiri).

Kerja di luar juga bukanlah aib. Ada banyak faktor yang menuntut seorang istri harus kerja di luar. Setiap keluarga punya alasan beda-beda. Apa pun itu, semoga niat kita tetap diluruskan oleh Allah. Sambil terus berdoa, semoga niat kita kerja di luar pun karena Allah ta'ala, bukan hanya karena mau keren-kerenan semata apalagi bila penghasilan yang kita punya hanya digunakan buat mempercantik penampilan semata, berlebih-lebihan supaya bisa dianggap high class.

*hanya renungan malam*
 ·  · 

[Cerita Inspiratif] Bendera Baru

Tuesday, March 6, 2012

Ini cerita lama, kejadiannya tepat tanggal 16 Agustus 2011 silam.
Sebenarnya sudah lama ingin ditulis tapi baru sempat menuliskannya sekarang.
Sudah menjadi tradisi di negara kita, setiap tanggal 17 Agustus 2011 kita selalu memasang bendera merah putih dengan bambu kayu di depan rumah kita. Karena sudah 3 kali pindah rumah kontrakan, banyak baju dan kain-kain yang tercecer, termasuk bendera merah putih.

Sehari sebelum hari kemerdekaan pun, suamiku akhirnya memilih untuk membeli bendera merah putih yang baru.  Lebih tepatnya, sih, ngga enak hati karena sudah ditegur Pak RT : "Yang lain sudah pasang bendera, kok, Bapak belum?"

Ya sudah, akhirnya daripada tidak pasang dan rasa nasionalisme berkurang, akhirnya suami saya memutuskan beli bendera baru. Kalau dipikir-pikir sebenarnya agak mepet, karena suamiku mulai mencarinya sore-sore sekali, tepatnya selepas shalat ashar. Tukang bendera yang biasa mangkal di dekat pasar terdekat juga sudah tidak ada. Alhasil suamiku harus pergi ke pasar lain yang agak jauh dari rumah. Di sepanjang jalan, ia juga melihat ke sekeliling, siapa tahu saja ada tukang bendera yang sedang mendorong gerobak untuk menjajakan dagangannya. Tapi sia-sia, tukang bendera malah susah dicari kalau sedang dibutuhkan.

Setelah muter-muter beberapa menit, akhirnya suami saya menemukan dagangan bendera yang membawa dagangannya dengan sepeda. Senyum sumringah pun mengembang di pipinya. Akhirnya....
Sayang, setelah ditunggu dan tanya sana-sini, ternyata tukang benderanya tidak ada di tempat. Tukang di sekitar juga tidak tahu pergi kemanakah tukang bendera itu. Suami saya menunggu beberapa menit tapi tukang bendera tidak kunjung tiba. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi lagi ke tempat yang lebih jauh demi mencari bendera merah putih tercinta.

Setelah mencari di beberapa pasar dan perumahan yang ramai, nyaris 1 jam muter-muter dengan motor, akhirnya suami saya menyerah dan kembali ke tukang bendera semula. Syukurnya si tukang bendera sudah mangkal di tempatnya dan dengan senang hati melayani suami saya. Iseng-iseng suami saya nanya :
"Saya tadi ke sini si abangnya ngga ada. Saya cari muter-muter eh ngga ada tukang bendera lagi, ya, emang udah rejeki abang, ya." kata suami saya sambil menyerahkan uang kepada tukang bendera.
"Alhamdulillah, Mas. Tadi saya sholat dulu. Dagangan saya belum laku dari tadi pagi. Alhamdulillah... rejeki saya."

Deg!
Subhanallah. Suami saya langsung berdecak kagum. Si tukang bendera, meninggalkan dagangannya untuk shalat dan Allah langsung memberikan rezeki kepadanya. Bandingkan dengan kebanyakan dari kita yang berlomba-lomba mengejar rezeki dunia dan seringkali lupa untuk shalat. Suami saya pulang dengan hati penuh keriangan. Riang karena ia diingatkan oleh Tukang Bendera bahwa kalau Allah sudah menetapkan rezeki tidak akan pernah salah alamat.

Salam
Achi TM

KATA HATI - KEAJAIBAN PERNIKAHAN

Saturday, December 31, 2011

KEAJAIBAN PERNIKAHAN
~ Achi TM ~

Saya menikah di usia 22 tahun, saat menikah saya hanya menjadi penulis cerpen yang baru merintis karier. Tidak sedang bekerja di instansi mana pun. Saya pun belum mempunyai ijazah D3. Suami saya juga hanya seorang buruh pabrik, dia belum lulus kuliah dan penghasilannya pas-pasan. Saat itu….
            Karena saya percaya bahwa dalam setiap pernikahan yang suci pasti akan ada yang namanya keajaiban. Oleh karena itu saya tidak ragu dan takut untuk melangkah menuju pelaminan. Meskipun orang tua sempat sangsi, teman-teman dan saudara sedikit mencibir, saya tetap pada pendirian saya. Benar saja, menjelang pernikahan saya ditawari seorang teman untuk menulis skenario untuk sebuah program TV swasta. Meskipun tidak punya pengalaman sama sekali di bidang itu tapi saya berani mengiyakan. Saya mau belajar dan mau bekerja keras. Penuh rasa syukur saya ucapkan, hanya dalam waktu dua bulan saya berhasil menulis 10 episode skenario stripping meskipun dengan revisi bolak-balik.
            Saya sudah beranjak menjadi seorang penulis script tapi suami saya hanya menjadi buruh? Saya tidak peduli, meskipun terdapat perbedaan pendapatan yang besar di antara kami. Walau sesekali sempat cekcok mengenai hal ini tapi tidak membuat hubungan kami goyah. Setelah 2 bulan menikah, saya baru tahu kalau saya sudah hamil 2 minggu. Skenario stripping tetap harus disetor jam 5 pagi, untuk persiapan syuting sutradara. Saya pun tetap bergadang hingga jam 2 pagi dengan kondisi perut yang keram. Karena sudah tak kuat, saya berbaring. Saya bingung bukan main karena pimpro terus menerus menelepon. Bagaimana saya bisa mengetik sambil tidur? Sedangkan saya belum punya laptop saat itu.
            Maka dengan sigap, suami saya mengajukan diri untuk melanjutkan skenario yang baru setengah jalan. Saya sempat sangsi tapi dia meyakinkan saya. Demi kesehatan saya dan bayi saya, ujar suami saya. Akhirnya saya bicara dan ia mengetik. Hal itu kami lakukan selama seminggu dan tanpa diduga ternyata suami saya bisa menulis satu naskah full tanpa bantuan dari saya. Saya dan semua keluarga takjub, karena suami saya tidak punya basic belajar menulis. Bahkan menulis puisi pun tidak bisa! Itu adalah keajaiban pernikahan yang sangat indah. Membuat roda perekonomian kami melaju ke atas dengan begitu cepat.
            Saya terharu saat itu, ketika suami saya keluar dari pabrik dan memutuskan untuk menjadi penulis skenario. Ya… saya dan suami menulis skenario hingga saat ini. Hingga anak kami sudah berumur 3 tahun 3 bulan. Percayalah akan selalu ada keajaiban dalam sebuah pernikahan.

*dimuat di majalah Sekar, minggu pertama bulan November. 
 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati