12 Agustus 2012, Gedung Community Center, Bandara Soekarno Hatta
Di depan 30 pelajar SMP dan SMA dalam pelatihan
Saya memegang sebuah tip-X berwarna merah dengan tutup warna putih. Saya angkat tip-x itu ke atas dan berkata, "Ayo... pikirkan dari berbagai sisi. Apa yang bisa teman-teman gali dari tip-x ini?"
Semua kasak-kusuk bingung tapi satu per satu lalu mulai angkat bicara.
"Kenapa tip-x itu warnanya harus putih?"
"Bagaimana cara membuat tip-x itu?"
"Mengapa tip-x itu harus dipegang?"
"Siapa yang pertama kali menciptakan tip-x?"
Dan segudang pertanyaan-pertanyaan lainnya yang memungkinkan kita untuk berpikir dari berbagai sisi. Berpikir bukan hanya tip-x adalah tip-x yang hanya berguna menghapus tulisan pena yang salah. Tapi juga menggali informasi dari berbagai sudut dari tip-x yang ternyata banyak sekali yang bisa digali. Lalu ada yang nyeletuk.
"Kak! Kenapa soal tip-x itu harus dipertanyakan?"
Nah! Ini dia pertanyaan yang ingin saya dengar. Maka dengan cepat saya menjawab.
"Pernah memegang sekotak tusuk gigi?"
"Pernaaah!" jawab mereka kompak.
"Biasanya tusuk gigi yang kalian lihat made in mana?"
"Made In Chinaaa!!!"
"Nah! Itu dia. Kenapa untuk tusuk gigi yang remeh saja kita harus import ke Cina? Karena orang kita kebanyakan malas mikir dari berbagai sisi. Tusuk gigi hanya dipandang sebagai tusuk gigi saja. Tidak berpikir bagaimana cara buatnya, kenapa bentuknya begitu? Bisakah dibuat tusuk gigi dari bahan lain dan sebagainya. Berpikir kreatif dibutuhkan oleh orang-orang yang mau berkarya. Berpikir dari berbagai sisi akan memunculkan kebiasaan berpikir kreatif. Bukan hanya kreatif dalam tulisan tapi juga bisa kreatif dalam membuat lagu, membuat film, produk dan lain sebagainya."
Peserta manggut-manggut. Insya allah semuanya paham. Aamiin.
Sebelum menulis dengan emosi, peserta saya minta untuk berdiri.
Memejamkan mata dan mengenang hal-hal yang membangkitkan emosi mereka.
Dalam pelatihan ini kita membuat brainstorming kata-kata
Dari kata yang ada, yaitu HATI, anak ini berhasil membuat paragraf yang menyentuh
dan mendapatkan buku kumcer Kolase Season 2 dari RUMAH PENA.
Games selanjutnya, semua peserta mencari pasangan.
Kemudian satu sama lain saling bercerita dan menggali informasi dari pasangan masing-
masing. Hasil galian informasi itu kemudian dituliskan dalam 2 paragraf yang menyentuh.
Good Job!
Rumah Pena, 12 Agustus 2012.
Achi TM
Butuh trainer menulis di sekolah atau kampus kamu?
Silakan kontak ke nomor Rumah Pena di 085643376193
Untuk pelatihan menulis cerpen, novel, non fiksi, cerita inspiratif, skenario FTV, serta pelatihan editing naskah.
Showing posts with label PELATIHAN MENULIS. Show all posts
Showing posts with label PELATIHAN MENULIS. Show all posts
(Mengisi Pelatihan Menulis di LKIP) Berpikir Dari Berbagai Sisi
Monday, May 21, 2012
Jalan-jalan dulu sebelum ke Bireun.
Ternyata, waktu tempuh dari Banda Aceh ke Bireun itu 5 jam! Oalaah... sama kayak waktu tempuh dari Tangerang ke Garut, ya, kira-kira. Jauh juga. Tapi tentu jaraknya pasti beda. Secara kalau mau ke Garut harus lewat Jakarta yang super macet dulu. Kalau dari Banda Aceh ke Bireun, jalan tol semua. Bebas hambatan. Bablas. Kanan kiri sawah, rumah, pegunungan.
Banda Aceh sendiri ternyata tidak seramai kota-kota besar yang biasa aku sambangi. Mungkin juga karena kita datang pas hari Jumat. Katanya kalau Jumat di sana, banyak toko yang tutup. Bisa jadi juga, Aceh yang kulihat sekarang, kan, Aceh pasca tsunami. Kulihat banyak rumah bantuan tsunami yang kadang belum selesai. Bangunan-bangunan baru. Ini membuktikan, mungkin banyak sarana prasarana di Banda Aceh yang hilang dihantam gelombang. Sedih rasanya apabila mengingat hal tersebut.
Tempat pertama yang kami kunjungi setelah dari Bandara adalah masjid Baiturrahman. Niatnya, sih buat shalat dzuhur, tapi apa daya, virus narsis udah akut terjangkit. Inilah hasilnya :
Dalam masjid baiturrahman
Depan Masjid Baitur-Rahman
Ini dia my prince, Abiy Arsena Dimyathi (4th)
Nah, dari sana kita pergi ke Lhok Nga, memutari daerah Ule Le dulu *kalau salah nyebut tolong koreksi ya :) di Ule le katanya ada masjid yang tidak terkena hantaman tsunami, jadi air tsunami seperti membelah saat melintasi masjid itu. Subhanallah ya. Daerah sekitar Ule le ini sekarang dibuat menjadi tempat wisata, ada semacam karang buatan atau tumpukan batu yang memisahkan pinggir pantai dengan laut lepas. *duh susah deskripsiinnya hehehe... soalnya gak mampir, sih, cuma melintas aja. Meskipun begitu, indah banget ke sini. Ada mainan bebek gowes, ada penjual jagung bakar di sepanjang pantai, pohon-pohon mirip pinus dan pegunungan di kejauhan serta pulau sabang yang terlihat kebiru-biruan. Duh... berasa liat pemandangan di new zealand. Indaaah banget! Sayang gak mampir buat moto-moto cuma kejepret ini aja.
Salah satu sudut Ule Le, cakep kaan? :)
Dari sana, Bang Ferry (teman dari Rangkang Sastra yang menjemput kami) mengajak kami ke pantai Lhok Nga, yang ada di dekat pabrik semen satu-satunya yang ada di Aceh. Sebenarnya banyak yang kami susuri tapi waktu jualah yang harus membuat kami harus bersyukur sekedar mencicipi pemandangan yang ada. Tapi indahnya luaar biasaaa... ini foto-foto kami di sekitaran Lhok Nga.
My little Family
Bersama tim Rangkang Sastra, dan Pemateri Rumah Pena
pemandangan yang indah.
Makan di seberang pantai Lhok Nga.
Oke, setelah kenyang makan. Akhirnya kita diajak muter-muter Banda sebentar. Melihat perahu PLN yang besarnya minta ampun. Perahu itu dihempaskan oleh tsunami hingga ke tengah kota. Kira-kira kalau lihat sendiri, besarnya seperti Mall. Subhanallah, ya, perahu sebesar itu diangkat oleh air. Maha Besar Allah.
Ini dia penampakan perahunya, awalnya kita mau turun tapi pas bang Ferry cerita kalau di bawah perahu itu dulu banyak mayat bergelimpangan yang kegencet di bawah perahu, aku jadi ngeri sendiri. Auranya dah gak enak hehehe... akhirnya minta tolong Arul buat motoin perahu itu. Kita cuma berani duduk di mobil sambil nyobain bakso goreng ala Aceh. Nyammy... baksonya ikan, bok. Pake dibungkus putih telur pula, harganya cuma seribu setusuk. Satu tusuk isi 4 biji. Glek...
Nah, next destination kita pergi ke Museum Tsunami. Bentuk bangunannya subhanallah unik banget. Sayang gak keambil foto secara keseluruhan bangunan. Cuma seuprit-seuprit aje. Sayangnya lagi, karena hari Jumat maka museum ditutup. Hanya bisa menikmati bagian lantai dasar museum aja. Padahal penasaran banget sama air yang kata bang Ferry mengalir di sekitar dinding, jadi kalau kita masuk ke sana seolah-olah berada dalam tsunami. Pray for mereka yang menjadi korban tsunami 2004. Perjalanan pun dimulai! Kami menuju Bireun!
Bagian depan museum tsunami
Lantai bawah, museum tsunami
--- Bersambung ke artikel NGISI PELATIHAN MENULIS DI BIREUN ----
Ternyata, waktu tempuh dari Banda Aceh ke Bireun itu 5 jam! Oalaah... sama kayak waktu tempuh dari Tangerang ke Garut, ya, kira-kira. Jauh juga. Tapi tentu jaraknya pasti beda. Secara kalau mau ke Garut harus lewat Jakarta yang super macet dulu. Kalau dari Banda Aceh ke Bireun, jalan tol semua. Bebas hambatan. Bablas. Kanan kiri sawah, rumah, pegunungan.
Banda Aceh sendiri ternyata tidak seramai kota-kota besar yang biasa aku sambangi. Mungkin juga karena kita datang pas hari Jumat. Katanya kalau Jumat di sana, banyak toko yang tutup. Bisa jadi juga, Aceh yang kulihat sekarang, kan, Aceh pasca tsunami. Kulihat banyak rumah bantuan tsunami yang kadang belum selesai. Bangunan-bangunan baru. Ini membuktikan, mungkin banyak sarana prasarana di Banda Aceh yang hilang dihantam gelombang. Sedih rasanya apabila mengingat hal tersebut.
Tempat pertama yang kami kunjungi setelah dari Bandara adalah masjid Baiturrahman. Niatnya, sih buat shalat dzuhur, tapi apa daya, virus narsis udah akut terjangkit. Inilah hasilnya :
Dalam masjid baiturrahman
Depan Masjid Baitur-Rahman
Ini dia my prince, Abiy Arsena Dimyathi (4th)
Nah, dari sana kita pergi ke Lhok Nga, memutari daerah Ule Le dulu *kalau salah nyebut tolong koreksi ya :) di Ule le katanya ada masjid yang tidak terkena hantaman tsunami, jadi air tsunami seperti membelah saat melintasi masjid itu. Subhanallah ya. Daerah sekitar Ule le ini sekarang dibuat menjadi tempat wisata, ada semacam karang buatan atau tumpukan batu yang memisahkan pinggir pantai dengan laut lepas. *duh susah deskripsiinnya hehehe... soalnya gak mampir, sih, cuma melintas aja. Meskipun begitu, indah banget ke sini. Ada mainan bebek gowes, ada penjual jagung bakar di sepanjang pantai, pohon-pohon mirip pinus dan pegunungan di kejauhan serta pulau sabang yang terlihat kebiru-biruan. Duh... berasa liat pemandangan di new zealand. Indaaah banget! Sayang gak mampir buat moto-moto cuma kejepret ini aja.
Salah satu sudut Ule Le, cakep kaan? :)
Dari sana, Bang Ferry (teman dari Rangkang Sastra yang menjemput kami) mengajak kami ke pantai Lhok Nga, yang ada di dekat pabrik semen satu-satunya yang ada di Aceh. Sebenarnya banyak yang kami susuri tapi waktu jualah yang harus membuat kami harus bersyukur sekedar mencicipi pemandangan yang ada. Tapi indahnya luaar biasaaa... ini foto-foto kami di sekitaran Lhok Nga.
My little Family
Bersama tim Rangkang Sastra, dan Pemateri Rumah Pena
pemandangan yang indah.
Makan di seberang pantai Lhok Nga.
Oke, setelah kenyang makan. Akhirnya kita diajak muter-muter Banda sebentar. Melihat perahu PLN yang besarnya minta ampun. Perahu itu dihempaskan oleh tsunami hingga ke tengah kota. Kira-kira kalau lihat sendiri, besarnya seperti Mall. Subhanallah, ya, perahu sebesar itu diangkat oleh air. Maha Besar Allah.
Ini dia penampakan perahunya, awalnya kita mau turun tapi pas bang Ferry cerita kalau di bawah perahu itu dulu banyak mayat bergelimpangan yang kegencet di bawah perahu, aku jadi ngeri sendiri. Auranya dah gak enak hehehe... akhirnya minta tolong Arul buat motoin perahu itu. Kita cuma berani duduk di mobil sambil nyobain bakso goreng ala Aceh. Nyammy... baksonya ikan, bok. Pake dibungkus putih telur pula, harganya cuma seribu setusuk. Satu tusuk isi 4 biji. Glek...
Nah, next destination kita pergi ke Museum Tsunami. Bentuk bangunannya subhanallah unik banget. Sayang gak keambil foto secara keseluruhan bangunan. Cuma seuprit-seuprit aje. Sayangnya lagi, karena hari Jumat maka museum ditutup. Hanya bisa menikmati bagian lantai dasar museum aja. Padahal penasaran banget sama air yang kata bang Ferry mengalir di sekitar dinding, jadi kalau kita masuk ke sana seolah-olah berada dalam tsunami. Pray for mereka yang menjadi korban tsunami 2004. Perjalanan pun dimulai! Kami menuju Bireun!
Bagian depan museum tsunami
Lantai bawah, museum tsunami
--- Bersambung ke artikel NGISI PELATIHAN MENULIS DI BIREUN ----
Walking-Walking di Aceh (Part 2)
Hari Pertama ke Aceh.
Whoaa... saya sebenarnya ngga mau terlalu kelihatan banget noraknya naik pesawat hehehe. Tapi emang, sekedar sharing pengalaman aja. Selama ini saya selalu menghindari undangan-undangan pelatihan di luar pulau JAWA! Alasannya cuma satu, gak berani naik pesawat dan gak berani naik kapal laut. Hadeeeh... beraninya naik kereta dowang ama bus kota. Jadi pengalaman naik pesawat untuk pertama kalinya ini bener-bener bikin saya bangga sama diri saya sendiri. Bangga karena akhirnya saya mau mengalahkan rasa takut saya yang berlebihan itu.
Kalau bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, udah ngga asing lagi buat saya. Beberapa kali saya ke sini buat nganterin sodara naik haji atau sekedar melintasi gerbang belakangnya aja hehehe. Maklum alm ayah saya dimakamkan di daerah sekitar bandara. Sejak lima hari sebelum berangkat naik pesawat, beberapa teman ngasih saya tutorial step by step naik pesawat. Sumpah lebih ribed daripada naik andong. Harus beginilah begitulah. Pakai periksa inilah, itulah. Hehehe.... saya udah parno aja waktu diperiksa-periksa nih, jangan-jangan direpotin. Eh, tapi ternyata alhamdulillah semuanya lancar jaya. Ngurus bagasi oke, tiket oke, boarding pass okey, ah... semuanya juga berkat bantuan manajer sekaligus ayangnya mas Ramaditya yaitu mba Isye. Kalau ngga dibantuin, mah, gue juga bete sendiri ama prosesnya yang luamaa.
Nunggu di ruang apa namanya yaaa? *auh ah... pokoknya itu* lamaa banget. Udah siap mau naik tapi makin lama kaki makin gemeteran. Pas penumpang Sriwijaya Air alias kita, dipanggil buat siap-siap naik ke pesawat, badan gue langsung lemes. Dari ujung kaki sampe ujung kepala. Dzikir tak henti-henti. Bahkan untuk berjalan ke arah pesawatnya pun harus dipegangin terus sama my darling.
Duduk di tengah, Abiy duduk di dekat jendela, sedangkan papa di pinggir. Mas Rama, mba Isye dan mba Widuri ada di seberang. Aku nunduuuk aja, belom apa-apa udah makan permen. Nunggu lamaa banget. Kok belom take off-take off? Ternyata masih lamaaa!!! Pramugari ngasi arahan dulu. Terus pesawat mulai jalan. Permen pertama abis, maklum makannya MENTOS, cepet plontos dah tuh permen. Setelah permen yang kelima akhirnya Take Off juga! Whoaaa... mana gue lagi sakit gigi. Makin cenat-cenut aja, nih. Si permen pake acara nyempil di gigi yang sakit pula. Hadeeeh. Gue ngga mau ngeliat ke arah kanan, alias jendela, jadi gue nengok ke sebelah kiri. Jiaaah ada jendela juga. Awan bergelimpangan.
Akhirnya gue nunduk. Doa terus. Eh si Abiy narik-narik tangan gue.
"Mama lihat! Pemandangannya indah sekalii!"
"Iya, sayang... indaaah..." sambil ngeliatin jempol kaki gue.
Si Papa ngerangkul gue terus, ngelus-ngelus dada tapi gue tahu dia juga ketakutan hahaha. Mukanya gak bisa dibohongin, cyiin.
Di atas pesawat, setiap goyang-goyang dikit, gradak-gredek, gue makin kenceng megang lengan misua gue. Mba Isye berusaha menenangkan gue. Gue inget kata temen-temen di Efbi, anggap aja lagi naik Bis. Akhirnya gue membayangkan lagi naik bis. Lumayan nyaman. Pas udah persiapan landing, wah gue girang banget. Akhirnya selesai penerbangan iniiii! Tapi ternyata cuma transit di Medan :(
Hikz.... berarti ngalamin take off sekali lagi! Oh My God!
Meski pun begitu, karena dikasih snack dua kali sama Sriwijaya Air, gue sih girang-girang aja. Apalagi kuenya yaaa enaklaaah. Lumayan daripada lumanyun.
Sampe di bandara iskandar muda, Aceh. Akhirnya gue bisa lega. Alhamdulillah! Seakan lupa ketakutan naik pesawat, gue dan tim pemateri pun moto-moto. Oh iya, ada Pak Naijan juga dari ketua Agupena Pusat ^_^
Whoaa... saya sebenarnya ngga mau terlalu kelihatan banget noraknya naik pesawat hehehe. Tapi emang, sekedar sharing pengalaman aja. Selama ini saya selalu menghindari undangan-undangan pelatihan di luar pulau JAWA! Alasannya cuma satu, gak berani naik pesawat dan gak berani naik kapal laut. Hadeeeh... beraninya naik kereta dowang ama bus kota. Jadi pengalaman naik pesawat untuk pertama kalinya ini bener-bener bikin saya bangga sama diri saya sendiri. Bangga karena akhirnya saya mau mengalahkan rasa takut saya yang berlebihan itu.
Kalau bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, udah ngga asing lagi buat saya. Beberapa kali saya ke sini buat nganterin sodara naik haji atau sekedar melintasi gerbang belakangnya aja hehehe. Maklum alm ayah saya dimakamkan di daerah sekitar bandara. Sejak lima hari sebelum berangkat naik pesawat, beberapa teman ngasih saya tutorial step by step naik pesawat. Sumpah lebih ribed daripada naik andong. Harus beginilah begitulah. Pakai periksa inilah, itulah. Hehehe.... saya udah parno aja waktu diperiksa-periksa nih, jangan-jangan direpotin. Eh, tapi ternyata alhamdulillah semuanya lancar jaya. Ngurus bagasi oke, tiket oke, boarding pass okey, ah... semuanya juga berkat bantuan manajer sekaligus ayangnya mas Ramaditya yaitu mba Isye. Kalau ngga dibantuin, mah, gue juga bete sendiri ama prosesnya yang luamaa.
Nunggu di ruang apa namanya yaaa? *auh ah... pokoknya itu* lamaa banget. Udah siap mau naik tapi makin lama kaki makin gemeteran. Pas penumpang Sriwijaya Air alias kita, dipanggil buat siap-siap naik ke pesawat, badan gue langsung lemes. Dari ujung kaki sampe ujung kepala. Dzikir tak henti-henti. Bahkan untuk berjalan ke arah pesawatnya pun harus dipegangin terus sama my darling.
Duduk di tengah, Abiy duduk di dekat jendela, sedangkan papa di pinggir. Mas Rama, mba Isye dan mba Widuri ada di seberang. Aku nunduuuk aja, belom apa-apa udah makan permen. Nunggu lamaa banget. Kok belom take off-take off? Ternyata masih lamaaa!!! Pramugari ngasi arahan dulu. Terus pesawat mulai jalan. Permen pertama abis, maklum makannya MENTOS, cepet plontos dah tuh permen. Setelah permen yang kelima akhirnya Take Off juga! Whoaaa... mana gue lagi sakit gigi. Makin cenat-cenut aja, nih. Si permen pake acara nyempil di gigi yang sakit pula. Hadeeeh. Gue ngga mau ngeliat ke arah kanan, alias jendela, jadi gue nengok ke sebelah kiri. Jiaaah ada jendela juga. Awan bergelimpangan.
Akhirnya gue nunduk. Doa terus. Eh si Abiy narik-narik tangan gue.
"Mama lihat! Pemandangannya indah sekalii!"
"Iya, sayang... indaaah..." sambil ngeliatin jempol kaki gue.
Si Papa ngerangkul gue terus, ngelus-ngelus dada tapi gue tahu dia juga ketakutan hahaha. Mukanya gak bisa dibohongin, cyiin.
Di atas pesawat, setiap goyang-goyang dikit, gradak-gredek, gue makin kenceng megang lengan misua gue. Mba Isye berusaha menenangkan gue. Gue inget kata temen-temen di Efbi, anggap aja lagi naik Bis. Akhirnya gue membayangkan lagi naik bis. Lumayan nyaman. Pas udah persiapan landing, wah gue girang banget. Akhirnya selesai penerbangan iniiii! Tapi ternyata cuma transit di Medan :(
Hikz.... berarti ngalamin take off sekali lagi! Oh My God!
Meski pun begitu, karena dikasih snack dua kali sama Sriwijaya Air, gue sih girang-girang aja. Apalagi kuenya yaaa enaklaaah. Lumayan daripada lumanyun.
Sampe di bandara iskandar muda, Aceh. Akhirnya gue bisa lega. Alhamdulillah! Seakan lupa ketakutan naik pesawat, gue dan tim pemateri pun moto-moto. Oh iya, ada Pak Naijan juga dari ketua Agupena Pusat ^_^
Walking-Walking di Aceh (Part 1)
Walking-Walking di Aceh (Part 1)
Kata Pengantar :
Sejak
kecil, kalau aku sekolah dan ditanya data orang tuaku. Ayah selalu
bilang, lahir di Lhoksumawe, Aceh. Jadilah nama Aceh melekat-lekat dalam
hatiku. Selama bertahun-tahun. Teman-temanku bangga jadi orang Sunda,
ada yang orang Jawa, ada yang orang Padang. Tiap pulang kampung selalu
komplek rumah sepi. Kalau ditanya : kamu orang apa? Aku bingung. Mamaku
orang Betawi-Jawa, katanya ayahku dari Aceh. Apalagi di rumah ada
rencong yang dipajang ukuran besar. Kata ayah juga rencongnya
berpenghuni. Aku yang kecil akhirnya dengan bangga bilang : Aku orang
Aceh.
Kata Pengantar :
Sejak
kecil, kalau aku sekolah dan ditanya data orang tuaku. Ayah selalu
bilang, lahir di Lhoksumawe, Aceh. Jadilah nama Aceh melekat-lekat dalam
hatiku. Selama bertahun-tahun. Teman-temanku bangga jadi orang Sunda,
ada yang orang Jawa, ada yang orang Padang. Tiap pulang kampung selalu
komplek rumah sepi. Kalau ditanya : kamu orang apa? Aku bingung. Mamaku
orang Betawi-Jawa, katanya ayahku dari Aceh. Apalagi di rumah ada
rencong yang dipajang ukuran besar. Kata ayah juga rencongnya
berpenghuni. Aku yang kecil akhirnya dengan bangga bilang : Aku orang
Aceh.
Meski tak paham, bahasa Aceh kayak gimana. Kalau dengar
ayah bicara dengan saudara-saudaranya memang bahasa melayu. Tapi semakin
besar aku makin tahu kalau itu adalah logat Medan. Bahasa Aceh ngga
seperti itu. Meski ayahku bisa sedikit-sedikit bahasa Aceh dia lebih fasih berbahasa Jawa, maklum lahir dan masa kecil di kampung jawa yang ada di Aceh.
Kalau hari Kartini, anak-anak memakai baju adat daerah masing-masing.
Aku bingung lalu tanya ke Ayah : aku pakai baju adat apa? Ayah jawab
pakai baju adat aceh aja. Aku pun selalu memakai baju adat aceh. Kalau
ada tugas : nyanyikan lagu daerah di sekolah, Ayah selalu ngajarin aku
lagu Bungong Jeumpa yang sampai sekarang liriknya suka ketukar-tukar.
Aaah... Ayaaah... dia dan Mama pernah ke Aceh. Saudara-saudara juga
banyak yang di Aceh. Atok dan Andung dikubur di Aceh. Tapi sampai detik
ini aku belum pernah ke Aceh. Sebelum meninggal, keinginan ayah cuma
satu. Mau mengajak seluruh keluarganya ke Aceh. Aku pun... yang sejak
kecil sudah merasa bagian dari Aceh... bangga ada ikatan batin dengan
Aceh. Meski setelah 50 tahun, ayahku menyusuri silsilah keluarga,
diketahuilah bahwa alm. Andungku sebenarnya keturunan Malaysia dan
berdarah Arab. Alm. Atokku ternyata adalah perantau dari Padang. Walaaah
ternyata buyutku juga dari Padang. Aaah... ke Padang? Aku pun belum
pernah.
Jadi... terima kasih Vie Rynov, Ch Munar Attambury Ferry Nomara dan kawan-kawan Rangkang Sastra. Bismillah... untuk pertama kalinya dan semoga bukan yang terakhir, aku akan ke Aceh.
***
Kata Pengantar kedua
Karena pernah jatuh dari tangga lantai dua waktu kelas tiga SMA, aku jadi phobia sama yang namanya ketinggian. Naik jembatan penyebrangan saja harus dipegangi orang lain, ngga berani liat ke bawah atau kepala langsung pusing dan mual. Apalagi kalau harus naik pesawat!? Nah, masalah naik pesawat ini sempet bikin heboh orang sejagat. Karena membayangkan hal-hal yang aneh, bayangin sejak kecil kalo nonton sinetron pasti ada kalimat : "Orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat." ajigileee... brapa banyak kecelkaan pesawat coba sampe banyak orang tua meninggal gara-gara naik itu? Dezig! Makin parno! Tapi mba Widuri dan Mas Ramaditya, dua pemateri lain yang diundang oleh EO di Aceh yaitu Rangkang Sastra, mencoba untuk menenangkan aku.
Masih ngeri, aku sampe bikin status : naik pesawat serem gak? Dan gak nyangka komennya membludak. Ada yang menenangkan, ada juga yang sengaja nakutin, ada juga yang bilang : kalo gerah, jendelanya dibuka aja. Deziig!
Naaah... selama dua minggu aku menenangkan diri. Saat udah tenang-tenangnya, udah siap lahir batin dah buat naik pesawat, Sukhoi jatuh! Masya Allah! *garuk-garuk tanah! Alhasil sehari sebelum hari-H saya ngga bisa tidur. Jam 12 teng bisa merem tapi sejam sekali melek, Ya Allah... izinkan hamba naik pesawat dengan selamat setiap saat! Aamiin!
Apakah akhirnya aku berani naik pesawat? Gak mungkin dibatalin doong! Koper dah siap! Materi dah siap! Abiy juga siap dibawa. Tiket udah ditangan. Glek... liat efbi, berita Sukhoi makin merajalela....
.... bersambung ....
Saturday, January 7, 2012
Alhamdulillah baru 4 hari buka pengumuman beasiswa menulis skenario bersama RUMAH PENA dan KELAS KECIL sudah ada 90 naskah dan peminat yang masuk ke email rumah_pena@yahoo.com.
Selama 1 hari akhirnya saya dan Sokat Rachman berembuk mengenai siapa yang berhak untuk bisa mendapatkan beasiswa ini. Penilaian didasarkan oleh : kemampuan calon peserta menulis cerita, seberapa besarkeseriusan peserta ingin jadi penulis skenario dan jam terbang. Tentu saja karena ini beasiswa untuk pemula jadi kami memilih peserta yang memang benar-benar masih awam dalam dunia skenario.
Siapa sajakah 10 orang yang beruntung mendapatkan beasiswa dari kami? Berikut ke-10 orang itu : Silakan cek, siapa tahu ada nama Anda.
1. Lingga S
2. Dhi Diera
3. Siti Cholifah
4. Kamilludin Azis
5. Siti Anisah
6. Reno Puti Bulan
7. Rizki Septina
8. Nenny Makmun
9 Adit Mulyana
10. Putri Nurbaiti
Selamat, ya, buat yang terpilih. Silakan konfirmasi alamat FB ke saya. Bisa langsung inbox dan akan dimasukkan dalam grup Rahasia Kelas Pemula Skenario.
Untuk yang lolos silakan inbox saya di FB untuk konfirmasi mengikuti workshop paling lambat Minggu 8 Januari 2012 lewat hari ini dianggap tak bersedia ikut dan tempatnya digantikan dengan peserta lain.
Untuk yang lolos silakan inbox saya di FB untuk konfirmasi mengikuti workshop paling lambat Minggu 8 Januari 2012 lewat hari ini dianggap tak bersedia ikut dan tempatnya digantikan dengan peserta lain.
Buat yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Terus semangat dan nantikan kabar pelatihan-pelatihan selanjutnya dari kami.
Salam
Achi TM (RUMAH PENA)
Sokat Rachman (KELAS KECIL)
Sunday, January 1, 2012
Berita gembira buat kamu yang suka menulis skenario!
Rumah Pena dan Kelas Kecil bekerja sama mengadakan Kelas Online Kursus Skenario Gratis!
Selama 1 Bulan!
Peserta terbatas! Hanya 10 orang saja.
Apakah Anda yang berhak mengikuti kursus skenario gratis ini?
Coba dulu tantangan kami!
Buatlah sebuah sinopsis cerita 1/2 halaman lalu tulis alasan kenapa kamu harus menerima beasiswa kursus menulis skenario?
Kirim jawaban kamu ke email rumah_pena@yahoo.com
Paling lambat tanggal 5 Januari jam 23.59 WIB. 10 Pemenang yang beruntung akan diumumkan tanggal 7 Januari dan langsung dimasukkan dalam GRUP RAHASIA.
Siapa pengajarnya?
Inilah dia...
Achi TM dan Sokat Rachman
Achi TM adalah penulis serial anak-anak dan puluhan FTV. Sokat Rachman, penulis puluhan naskah skenario sitkom seperti Coffe Bean, Cagur Naik Bajaj, Kejar Tayang dan lain-lain.
Tertarik?
Ayo tunggu apalagi! Buat sinopsis mini-nya lalu kirim!
Kapan lagii??????
Rumah Pena dan Kelas Kecil bekerja sama mengadakan Kelas Online Kursus Skenario Gratis!
Selama 1 Bulan!
Peserta terbatas! Hanya 10 orang saja.
Apakah Anda yang berhak mengikuti kursus skenario gratis ini?
Coba dulu tantangan kami!
Buatlah sebuah sinopsis cerita 1/2 halaman lalu tulis alasan kenapa kamu harus menerima beasiswa kursus menulis skenario?
Kirim jawaban kamu ke email rumah_pena@yahoo.com
Paling lambat tanggal 5 Januari jam 23.59 WIB. 10 Pemenang yang beruntung akan diumumkan tanggal 7 Januari dan langsung dimasukkan dalam GRUP RAHASIA.
Siapa pengajarnya?
Inilah dia...
Achi TM dan Sokat Rachman
Achi TM adalah penulis serial anak-anak dan puluhan FTV. Sokat Rachman, penulis puluhan naskah skenario sitkom seperti Coffe Bean, Cagur Naik Bajaj, Kejar Tayang dan lain-lain.
Tertarik?
Ayo tunggu apalagi! Buat sinopsis mini-nya lalu kirim!
Kapan lagii??????
Subscribe to:
Posts (Atom)




