Showing posts with label Motivasi Menulis. Show all posts
Showing posts with label Motivasi Menulis. Show all posts

Ngga Ada Waktu Buat Belajar Nulis? Berhentilah Mimpi Jadi Penulis

Thursday, December 18, 2014

"Mbak saya mau jadi penulis tapi saya sibuk kuliah dan mengurus organisasi."
Maka saya kehilangan kata-kata untuk menjawab. Jadi saya harus jawab apa dong? Kalau mau jadi penulis tapi karena alasan 'sibuk' sehingga tidak menulis lalu apa yang mau saya ajari?
Saya juga pernah kuliah dan jadi mahasiswa. Saya mulai fokus belajar menulis secara profesional itu kuliah semester 2. Umur waktu itu 19 tahun. Saya mulai ikut kelas menulis di Dewan Kesenian Tangerang, belajar dengan KSI Tangerang. Setiap sabtu saya bolak-balik ke sana untuk belajar, dari sore jam 3 sampai malam jam 9. Di sanalah saya jadi kenal banyak sastrawan dari lokal sampai tingkat nasional.
Lalu tugas-tugas kuliah? Tetap saya kerjakan. Tugas-tugas menulis? Saya kerjakan juga. Main? Tetap dong. Tugas domestik rumah? Kerjain juga. Tapi kan ngga organisasi, mbak.
Umur 20 tahun, saat masih belajar nulis, saya sudah didapuk jadi ketua Karang Taruna tingkat RW. Yang membawahi 7 RT. Yang sibuknya naudzubillah karena saya tidak menyangka jadi ketua karang taruna itu harus urus ke tingkat Kota, koordinasi dengan lurah, dengan camat, rapat sama bapak-bapak pejabat, dicemplungi jadi panitia acara Karang Taruna tingkat nasional. Memimpin seabrek rapat sama pengurus, setiap bulan selalu ada acara bakti sosial. Harus jadi pengurus remaja masjid juga.
Sampai-sampai pernah ada cowok yang naksir saya terus mundur. Gara-gara, setelah dia nganterin saya dan teman saya dari meeting Karang Taruna Nasional, dia ngajak saya jalan. Dengan polosnya saya ngga bisa : "Setiap sabtu saya belajar nulis. Minggu saya belajar nulis juga." Mundurlah dia... batal ngegebet saya.
Di umur 20 tahun itu juga, jelang 21, saya gabung dengan FLP DKI. Nyaris ngga pernah absen ikut pelatihannya setiap hari minggu. Dari beberapa belas orang anggota pra muda, hanya 3 orang saja yang dilantik karena sisanya hilang entah ke mana.
Terus kapan nulisnyaaa???
Ya, saat malam hari, satu jam sebelum tidur, saya biasa menulis. Hari sabtu atau minggu pulang dari pelatihan menulis, saya langsung ngetik. Saya menulis di buku agenda tebal karena tidak punya laptop. Komputer pun punya ayah dan sering tidak diizinkan make. Saya sekuat tenaga punya target 1 minggu 1 cerpen. Lalu mulailah naskah saya dimuat di berbagai media.
Jadi, kalau ada orang mau belajar menulis tapi bilangnya TIDAK PUNYA WAKTU BUAT MENULIS KARENA SIBUK! Maaf... saya tidak respek lagi mau mengajari. Setiap orang punya waktu yang sama. Tinggal bagaimana niatnya aja.
Saya belajar nulis harus merelakan waktu masa muda saya. Banyak teman-teman kuliah bilang saya ngga asik. Diajak nongkrong sabtu minggu sibuk melulu. Kadang di kampus, waktu luang saya pakai buat nulis. Makanya saya jadi jomblo lumutan sampai akhirnya mas Agung datang menyerang halah....
Terus setelah menikah saya dan berhenti berorganisasi saya jadi punya banyak waktu luang gitu? Upss... cuma ibu-ibu yang ngerti gimana repotnya mengurus dua anak dan rumah. Masih lebih mudah mengurus remaja satu RW cyiin....
Selalu ada waktu buat menulis.
Harus ada waktu buat menulis.
Apalagi kalau kamu mau menjadikan menulis itu sebagai ladang dakwah. Selelah apa pun. Seletih apa pun harus bisa.

Apakah Penulis WAJIB Punya Laptop?

Monday, February 4, 2013

Saya baru saja selesai memberikan sharing tentang perjalanan menulis saya di sebuah grup.
Rencananya saya mau copas sharing itu ke dalam blog ini, tapi sebelum saya mulai merapihkan isi sharing itu saya teringat pada sebuah pengalaman.



Impian terbesar seorang penulis adalah ingin sekali bisa menulis di mana saja, kapan saja. Tentu saja untuk mewujudkan keinginan itu setiap penulis harus punya gadget, minimal laptop yang bisa dibawa ke mana saja. Tahun 2005, ketika saya menekuni dunia menulis, laptop itu masih merupakan barang yang sangat mahal. (khususnya untuk saya yang berasal dari keluarga pas-pasan). Maka untuk mengganti peran laptop, saya pun membawa buku agenda berukuran besar kemana-mana. Tentu saja setiap ada inspirasi yang nyangkut di otak, saya langsung mencari tempat duduk dan menuliskan ide-ide di mana saja dan kapan saja. Dengan modal buku agenda dan pulpen.

Saya yakin, selain saya, banyak sekali penulis-penulis lain yang juga bawa notes ke mana-mana. Sekarang setelah ada BB dan harga laptop yang murah meriah, kemana-mana penulis selalu bawa laptop dan BB :D atau minimal HP yang punya fitur word/note.

Tahun 2005, keinginan untuk punya laptop sangat menggebu-gebu. Terlebih komputer di rumah saya hanya ada satu, sudah tua pula! Dan menjadi rebutan Ayah saya yang seorang guru serta adik saya yang sejak SMA sudah jadi pembuat website untuk sekolah-sekolah negeri. Jadilah saya selalu dapat urutan menggunakan komputer paling akhir. Bahkan tidak dapat jatah sama sekali. Ujung-ujungnya saya harus ke rental komputer, ngetik berjam-jam, ngeluarin uang berpuluh ribu, belum kalau harus ngeprint atau ke warnet untuk kirim naskah. Akses internet di rumah pun saat itu belum familiar. Keperluan internet masih mengandalkan warnet.

Kondisi menyebalkan seperti itu membuat saya sering mengeluh, andaikan saya punya laptop! Dan laptop menjadi prioritas utama saya, saya mulai menabung dari uang jajan kuliah untuk bisa beli laptop. Tapi Oooh... laptop mahal sekali saat itu T_T minimal harganya 6 juta. Belum familiar notebook murah meriah seperti sekarang. Bertahun-tahun Laptop menjadi obsesi saya, membuat saya semangat untuk terus menulis. MEMBARA!

Sampai akhirnya tahun 2007, saya mendapat kesempatan menulis skenario serial Si ENTONG. Menulis serial pertama kali -meski masih jadi co writer dan honornya kecil sekali- saya akhirnya bisa punya akses menulis yang menghasilkan uang cepat dan sering. Namanya serial stripping jadi sehari saya menulis satu episode. Saat itulah saya nekat sama boss saya untuk minta dibelikan laptop. Alias nyicil laptop! Senangnya permintaan saya dikabulkan.

Saya punya laptop tahun 2007, Acer (lupa lengkapnya Acer berapa) ukurannya besar, kerenlah pokoknya. Harganya 6,5 juta. Setiap satu episode honor nulis saya dipotong Rp. 300 ribu sampai akhirnya bisa lunas. Waaaw benar-benar sesuatu deh, butuh berbulan-bulan untuk bisa melunasi laptop pertama saya.

Karena merasakan bagaimana susahnya punya laptop, saya pun sangat menghargai fungsi laptop yang saya beli yaitu : UNTUK BEKERJA (MENULIS DAN MENULIS) saya ingin dengan menggunakan laptop saya bisa lebih produktif menulis. Itu janji saya pada diri sendiri, alhamdulillah terkabulkan. Saya semakin banyak menulis.

Perihal laptop ini tak berhenti di sini, setelah dua tahun punya laptop saya bertemu dengan beberapa teman (yang baru mulai karir sebagai penulis) belum menembus media mana pun mereka sudah mengeluh "Ini karena saya ngga punya laptop makanya saya ngga bisa nembus media. Kamu enak, chi, punya laptop jadi bisa produktif" maka tak bosan-bosan saya ceritakan perihal kondisi saya sebelum punya laptop.

Dan pernyataan itu bukan hanya dari satu dua orang. Sampai-sampai saya bosan menjelaskan dan akhirnya hanya bisa bilang ya sudah beli saja laptop kalau memang mampu. Tapi apa yang terjadi? Setelah sang teman mempunyai laptop dia malah lebih sibuk fesbukan daripada menulis, dia malah lebih sering main game daripada menulis, lebih sering nonton film di laptopnya daripada menulis. Lalu di mana semangat dan janji menggebu-gebu dirinya dulu yang mengatakan : kalau saya punya laptop saya pasti lebih produktif menulis.

Nah, sekarang buat kamu yang suka nulis, apakah kamu punya laptop?
Apakah laptop kamu sudah dipergunakan dengan maksimal? Apa tujuan kamu punya laptop?
Sudah berapa cerpen dan novel kamu hasilkan dari laptop kamu?

Mari kita merenung sama-sama... benarkah semua fasilitas yang sudah kita miliki : laptop, internet, kemudahan informasi, penerbit yang semakin banyak dan lain sebagainya, sudah menjadikan kita lebih produktif dalam menulis?

Salam
Achi TM

[Motivasi Menulis] Penulis Tidak Berkualitas Dilarang Menulis!

Saturday, October 13, 2012

Penulis Tidak Berkualitas Dilarang Menulis?
Siapa bilang?


Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan teman mengenai : bahwa banyak sekali tulisan yang tidak berkualitas bertebaran di toko buku *boleh jadi salah satunya adalah buku kita*. Bahkan ada yang bilang, lebih baik menulis satu buku tapi berkualitas daripada menulis 10 buku tapi kualitasnya kurang bahkan NOL.

Baiklah, karena saya juga penulis dan merasakan bagaimana 'susahnya' jadi penulis. Jadi saya mau memaparkan sedikit pemikiran saya yang mungkin basi dan ngga berkualitas :p

Kualitas itu relatif. Sama seperti istilah tampan, cantik, baik, jahat, kaya, miskin. Semuanya relatif. Sebuah buku yang dinilai berkualitas oleh pembaca A belum tentu berkualitas menurut pembaca B. Meskipun dalam kenyataannya akan selalu ada yang namanya standar. Seperti apa, sih, standar seseorang supaya bisa disebut tampan, cantik, kaya atau miskin? Begitu juga dengan kualitas sebuah tulisan. Karena tulisan adalah sebuah karya seni juga maka sebuah standar pun bisa menjadi berbeda-beda dalam setiap kelompok, setiap negara bahkan setiap orang.(sekali lagi ini menurut saya).

Soal tulisan, pengalaman membaca seseorang juga memengaruhi bagaimana ia memandang kualitas sebuah buku. Untuk orang yang baru pertama kali membaca sebuah novel, meski pun novel itu jelek dia pasti akan bilang bagus kalau ceritanya menyentuh kehidupan yang ia alami. Berbeda dengan seorang kritikus novel, pasti akan punya penilaian yang berbeda.

Lantas, seperti apakah kualitas yang paling berkualitas dari sebuah tulisan? Ada tulisan yang isinya tentang pelacuran melulu, tentang seks melulu, tentang hidup bebas melulu, dalam mata kelompok tertentu tulisan itu disebut berkualitas apalagi cara penyampaian dan tata bahasanya juga bagus. Tapi dalam kelompok lain yang lebih religius misalnya tulisan itu jelas dianggap tidak berkualitas dan tidak bermanfaat. Kalau bagi Anda sendiri? Apa standar kualitas bacaan bermutu menurut Anda?

Buat saya pribadi. Saya selalu menganggap diri saya adalah orang yang tidak terlalu cerdas. Saya cukup bodoh untuk bisa merangkai kata-kata menjadi sedemikian ajaib. Boleh dibilang mungkin dari sekian buku yang satu tulis hanya 1-2 yang berkualitas menurut kebanyakan orang. Tapi bisa jadi banyak orang juga bilang kalau semua buku saya tidak berkualitas. Sedih? Pasti... jatuh? Pasti. Tapi saya ngga mau meraung-raung berkepanjangan. Karena dari sekian banyak orang yang bilang tulisan saya buruk ada sekian banyak lagi orang yang bilang tulisan saya baik. Enak dibaca. Ceritanya bagus dan keren!

Kembali lagi ke persoalan kualitas dan produktifitas menulis. Setiap penulis adalah unik. Orang yang sering menerbitkan buku tapi bukunya kurang bagus, janganlah dibilang tidak berkualitas. Karena saya selalu ingat pesan dari guru menulis saya : Dari seribu sampah tulisan yang kita buat pasti akan ada satu tulisan berlian. Artinya, dari sekian banyak tulisan jelek yang kita ciptakan pasti suatu saat kita bisa menciptakan tulisan yang baik dan mendekati kualitas sempurna. Boleh jadi kalau ada orang yang produktif menulis buku tapi tulisannya belum bagus-bagus, mungkin dia akan bagus pada buku yang keseratus atau yang keseribu? Karena itu adalah proses baginya. Meski pun begitu, melakukan perbaikan-perbaikan dalam meningkatkan kualitas dan mutu tulisan kita adalah penting adanya. Minimal tulisan di buku kedua akan lebih baik dari tulisan di buku pertama. Begitu seterusnya.

Karena keunikan penulis itulah, mungkin ada penulis lain di belahan bumi sana yang sangat perfeksionis. Yang hanya menulis jika benar-benar sudah yakin bahwa kata yang ia rangkai sangat berkualitas. Yang mungkin lima tahun sekali menelurkan buku tapi sangat berkualitas. Tapi jangan juga sebut ia orang yang tidak produktif. Karena boleh jadi, di rumahnya ada banyak tumpukan tulisannya yang jelek dan tidak mau ia publish.

Kualitas dan kuantitas memang sebaiknya seimbang. Tapi dalam sebuah kehidupan, manusia harus selalu memulai dengan banyak kegagalan sebelum akhirnya bertemu kesuksesan. Mungkin sudah dengar kalimat ini tapi saya tak bosan mengulanginya : seorang koki pasti pernah menciptakan kue-kue yang gosong, sayuran yang pahit, ikan yang hambar dan segala jenis makanan yang berkualitas. Tapi bukan berarti dia sia-sia.

Seperti yang pernah saya utarakan : tak ada yang sia-sia dalam menulis.
Saya pun berharap, suatu hari saya akan mencapai titik kualitas yang bisa diakui oleh hampir banyak orang. Saya masih belajar dan terus belajar. Tulisan ini adalah cambuk bagi diri saya sendiri dan semoga jadi cambuk bagi diri Anda semua. Kita memang harus bisa menulis sesuatu yang berkualitas tapi jangan sampai keharusan untuk berkualitas itu membuat kita proses kreatif kita tersumbat. Tidak usah takut naskah kita akan jelek, karena dari yang jelek kita akan belajar untuk menjadi bagus.

Jadi penulis! Ayo kita tingkatkan kualitas dan kuantitas kita! ^_^

Salam
Achi TM
Dapatkan novel Cloud(y) di gramedia dan togamas.

[Motivasi Menulis] Tak Ada Tulisan Yang Sia-Sia

Tuesday, September 25, 2012

Jumat minggu kemarin saya berencana nonton film, ngedate sama suami tercinta. Tapi saat masuk studio, mood menonton kami musnah, karena belum ada film yang memikat hati. Sedang ingin menonton film romance tapi yang banyak dipampang adalah film poconglah, kuntilanaklah. Akhirnya kami sepakat untuk pergi saja ke Gramedia. Uang untuk nonton akan kami belikan buku.

Aku belum tahu, buku apa yang mau aku beli. Stok novel-novel romance banyak yang belum dibaca, tertumpuk rapih di pinggir kasur. Niatnya mungkin ingin membeli komik atau buku untuk Abiy. Tapi sampai di sana, jadi semakin bingung mau beli apa. Banyak sekali buku-buku yang ditata rapih, buku baru, best seller, sampai buku-buku lama. Karena sepi pengunjung dan waktu kami masih banyak, kami pun berpencar dan memuaskan diri masing-masing. Mencari buku satu per satu. Mencari buku yang berhasil memikat isi dompetku.

Setelah kurang lebih satu jam berkutat dengan proses memilih buku, akhirnya aku mulai mengubek-ubek bagian bawah lemari. Wah, ternyata di sana tersembunyi buku-buku lama yang bagus. Aku menemukan sebuah judul buku yang promosi dan sinopsisnya pernah aku baca di wall sebuah penerbit. Dulu aku ingin membeli buku itu tapi karena tak punya waktu buat order jadinya aku batalkan.

Aku ambil buku itu dan tanpa basa-basi langsung pergi ke kasir. Finally, setelah nyaris satu tahun melihat promosi buku itu, baru kali ini aku beli. Berarti butuh waktu 1 tahun, bagi aku dan buku itu untuk hidup masing-masing sebelum akhirnya berjodoh untuk bertemu.

Ketika itulah aku jadi teringat pengalamanku saat mempromosikan Lembaga Pendidikan Talenta Rumah Pena yang aku dirikan. Aku promosi ke sana kemari, menyebarkan brosur tak henti-henti. Meski banyak yang membuang brosur itu tapi aku yakin, tak ada yang sia-sia dalam sebuah promosi.

Terbukti, berbulan-bulan kemudian, ada dua orang yang datang ke RUMAH PENA, mendaftar untuk belajar menulis karena mereka melihat brosur yang aku sebar berbulan-bulan yang lalu. Brosur itu mereka dapatkan dari temannya teman mereka! Wow!

Kembali aku teringat pada perjuanganku dalam menulis novel. Aku tulis-tulis-tulis... untuk diikutkan dalam lomba. Sayangnya aku selalu kalah dan kalah. Tapi naskah yang mengendap berbulan-bulan itu akhirnya bisa ketemu dengan penerbit juga. Seperti halnya saat menulis sinopsis FTV, aku kirim dan kirim. Bertahun-tahun tak ada kabar, tiba-tiba saja sebuah PH meneleponku dan mengatakan kalau sinopsis itu di acc oleh stasiun TV. Jadi menurutku, setiap perjuangan kita, setiap promosi kita akan sebuah karya, penawaran dan lain sebagainya tidak akan pernah sia-sia.

Ketika saat ini kita menulis hal yang tak menjual atau tidak menarik menurut orang lain. Boleh jadi di suatu hari nanti, tulisan itu malah jadi trendsetter. Bisa jadi nanti akan penerbit yang iseng melirik tulisan-tulisan penulis pemula.

Sama seperti buku yang aku temukan.
Naskah pun mungkin butuh bertualang selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun agar bisa bertemu dengan jodohnya sendiri.

Jadi, jangan merasa menulis A ini sia-sia. Menulis B itu ngga ada gunanya. Menulis C tidak menghasilkan. Tulis saja! Tulis semua hal yang kamu pikirkan. Tulis sesuatu yang mendorong hati dan pikiranmu. Tulis dan yakin, semua tulisan itu tidak akan sia-sia. Suatu hari pasti akan bertemu pasangannya. Entah media atau penerbit.

Salam Menulis ^_^
Achi TM
Penulis novel Cloud(y)

[Motivasi Menulis] Berani Berkarya

Thursday, September 13, 2012

Semalam saya meeting dengan produser perempuan, produser PH dan seorang sutradara yang sudah malang melintang selama dua puluh tahun lebih. Malam itu kami memutuskan bertemu di Bakso Senayan, Mal Cijantung. Saya bertolak dari rumah pukul 4 sore dan kemacetan membuat saya serta suami baru sampai di Pasar Rebo jam 6.45. Kami berusaha mencari masjid untuk shalat tapi apa daya di sana sedang macet luar biasa, manusia, motor, mobil dan bus saling berebutan untuk jalan, adzan isya sudah berkumandang. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke lokasi meeting. Tapi di lokasi ternyata belum ada yang datang. Melihat Toko Buku Gramedia ada di seberang lokasi meeting, saya dan suami pun langsung masuk ke sana. Selama sepuluh menit kami melihat-lihat beberapa buku di rak best seller, sambil di dalam hati terus merapalkan doa semoga novel-novel saya yang akan segera terbit juga bisa masuk ke rak itu. Baru saja mau mencari novel romance untuk saya beli, ponsel saya berbunyi. Produser perempuan saya, Bunda Yeyet sudah sampai di lokasi meeting. Saya dan suami bergegas ke sana.

Malam itu, sebenarnya kami janjian dengan pihak Stasiun TV untuk membicarakan program baru yang saya tulis. Tapi ternyata pihak Stasiun mengabarkan kalau dia tidak bisa datang dikarenakan meeting di kantornya belum selesai. Akhirnya yang meeting malam itu hanya saya, suami, Pak Haji (Sutradara senior) Bunda Yeyet dan Pak Rizki dari PH.

Kami membicarakan tentang isi cerita yang saya dan suami tulis. Setelah memberikan beberapa masukan serta rencana produksi ke depannya, Pak Haji pun cerita tentang kerja keras seorang pemilik PH Genta Buana, yang kini sedang menguasai tayangan program di sebuah stasiun TV.

"Pak Budi itu orangnya tekun. Dulu, pertama kali dia bangun PH, dia bawa kaset ke mana-mana dengan vespa bututnya. Dia tawarkan ke TV-TV. Perjuangannya panjang, sampai rela hutang sana-sini. Tapi lihat sekarang, setelah 12 tahun berlalu, dia sudah punya puluhan hektar studio."

Aku dan suami manggut-manggut. Perkataan Pak Haji seolah menyadarkan aku dan suami, bahwa di balik sebuah kesuksesan selalu ada kerja keras, pengorbanan dan berani maju. Ya! Berani! Kata ini kembali digaungkan oleh Bunda Yeyet. Di usianya yang tak lagi muda, ia masih cekatan, supel dan sehat. Malam itu di sela diskusi kami dia berkata ;

"Kalau terjun di dunia entertainment begini, kita harus berani. Ngga boleh takut ngga dibayar, ngga boleh takut ditipu, ngga boleh takut diplagiat, ngga boleh takut karya kita ngga diproduksi atau ditonton. Yang penting kita berkarya sebaik-baiknya dan berani. Kalau kita berani, pasti ada jalan." (redaksi disesuaikan)

Ya, di dunia menulis, dunia entertain, kita memang tidak boleh menanamkan rasa takut. Hidup ini penuh dengan lika-liku. Ibarat bisnis, menulis pun bukan sesuatu yang nyaman. Yang kamu menulis lantas pasti akan segera diterbitkan. Ketika diterbitkan lantas karya kamu best seller dan kamu jadi kaya raya dalam sekejap. Tidak begitu! Ada banyak proses yang harus kamu lalui. Yang kita harus lalui.

Tidak ada yang bisa memprediksi tulisan kita akan diterima baik dengan masyarakat atau tidak. Bunda Yeyet sempat cerita ada beberapa film karya sutradara terkenal yang secara cerita, visual dan segala macamnya bagus. Kalau masuk festival bisa menang dan mendapat penghargaan. Tapi tidak semua film-film yang menang festival itu bisa laku ditonton dan disukai oleh masyarakat luas. Ada film yang menghabiskan 35 produksi tapi hanya balik modal 5 milyar.

"Berkarya saja terus. Kalau kita rajin berkarya, yakin, deh, suatu hari nanti akan ada satu atau dua karya kita yang meledak!" tandas Bunda Yeyet.

Kesadaran baru kembali tumbuh. Mungkin sering kita mendengar ucapan di atas. Tapi kalau ucapan itu diucapkan dari mulut seseorang yang sudah puluhan tahun berkarya, sudah mempunyai karya bagus, tidak pernah berhenti berkarya, tentu ucapannya akan lebih masuk ke hati.

Maka saya pun memutuskan harus terus berkarya. Anda, saya, kita semua.... teruslah menulis!

Salam
Achi TM

Motivasi Menulis ; Try it! Outline >_< Deadline

Wednesday, August 29, 2012

Mungkin bahasan saya malam ini agak basi.
Ya, emang basi karena bukan hasil pemikiran berhari-hari yang biasanya saya endapkan ketika mau menulis soal Motivasi Menulis. Mungkin tulisan saya malam ini tidak sepower full tulisan motivasi menulis saya sebelumnya. Yap! Yap! Karena saya lagi masuk angin. Hehehe... kenapa saya masuk angin?

Ini semua gara-gara deadline.
Sekitar satu tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang penulis yang lumayan senior, karena dia sudah menulis lebih dari 60 buku. Bagi saya itu adalah prestasi hebat. Karena sejak menulis tahun 2007, saya baru punya 9 buku. Bukan karena saya malas dan tidak produktif menulis, saya justru produktif menulis naskah skenario serial dan FTV di layar kaca. Meskipun begitu, ternyata saya masih penulis normal yang selalu mendambakan bisa selalu menerbitkan buku.

Kendala awal saya untuk bisa produktif menulis buku adalah ; saya berpikir bahwa untuk mengajukan naskah ke penerbit haruslah naskah FULL, yang sudah jadi. Karena beberapa dari penerbit tidak mau menerima outline naskah. Garis bawahi... beberapa! Saya terlampau berpikir jauh, menganggap beberapa adalah semua penerbit. Oleh karena itu, saya tak pernah berhasil mengirimkan naskah ke penerbit sebelum naskah saya selesai.

Saya adalah orang yang mudah menulis fiksi tapi sulit sekali menulis non fiksi. Awalnya saya tak pernah percaya kalau saya bisa menulis non fiksi. Tapi sebagai seorang penulis yang ingin selalu menambah pengetahuan dan kemampuan menulis, saya pun mau belajar menulis non fiksi. Dan bertemulah saya dengan penulis 60 buku itu. Dia memang lebih banyak menulis buku non fiksi. Dari dia juga, melalui beberapa perbincangan, akhirnya saya tahu bahwa sekitar bulan September sd Desember, penerbit biasanya mencari outline naskah.

Waw! Outline? Sesuatu yang menurut saya aneh. Karena sejak awal menulis, saya anti banget sama outline. But, ternyata outline sangat berguna ketika kita mau mengajukan naskah ke penerbit. Karena penasaran maka saya belajar membuat outline. Sungguhkah? Hanya dengan outline saja, naskah kita bisa di acc di penerbit? Maka bulan September sd Desember thn 2011 kemarin saya mengirim outline buku sebanyak-banyaknya. Mulai dari outline naskah non fiksi sampai outline naskah fiksi.

Nah, untuk outline naskah non fiksi ya standar ada pendahuluan, isi per bab bagaimana. Untuk fiksi pun ternyata begitu. Bedanya adalah harus ada sinopsis lengkap yang menceritakan isi novel dari awal sampai akhir! Bukan sinopsis back cover yang selama ini selalu saya tulis kalau mengajukan naskah. Tapi sinopsis full. Ooh... saya juga baru tahu kalau ternyata, yang pertama dilakukan penerbit adalah membaca sinopsis. Apabila tertarik isi sinopsisnya akan membaca Bab 1 Naskah. Nah, kalau mengajukan outline, maka sertakan juga contoh tulisan kita 1 Bab. Keculi kita sudah punya banyak buku dan karya, kayaknya di sini, nama dan portofolio berpengaruh juga.

Maka jreng jreng...
hasil dari perjuangan kiram-kirim outline itu adalah :
- 1 buku non fiksi (yang aku tulis selama 4 bulan! Ajiib susah bener) padahal ini duet. Hehehe... buku ini judul awalnya adalah Balancing Life For Women. Ehem... insya allah akan diterbitkan oleh Stilletto Book. Duet maut sama mba Irni Fatma.
- 1 Novel setebal 400 halaman lebih, yang separuh naskahnya sudah jadi sejak tahun 2010 tapi tidak pernah selesai. Akhirnya aku buat sinopsis utuh dan bab per bab sampai ending. Alhasil di acc dan aku tulis separuh naskahnya lagi dalam waktu 2 bulan. Yummy... naskah ini judulnya belum fix tapi insya allah akan diterbitkan oleh Al-Kautsar.
- 1 Novel anak, Puisi Misterius dan Jejak Kaki Piko yang sudah terbit awal thn 2012 ini dan sudah terjual 5000 eks. Yummy!
- 1 novel anak yang masih dalam proses editing.
- 2 buku non fiksi remaja yang dijual putus ;)
- dan Sebuah serial yang terdiri dari 4 Naskah. Naaah... 1 naskah ini nih, yang sampai berbulan-bulan belum kelar juga. Tepatnya aku mulai nulis serial pertama naskah ini bulan Maret lalu, dan sampai sekarang masih mentok di 183 halaman. Ya ampun... bandooo!

Karena tidak ada deadline khusus dari penerbit, dalam artian, setiap aku tanya ; kapan naskah ini dijadwalkan terbit, jawabnya belum ada. Kapan saya harus menyerahkan naskah ini? Jawabnya secepatnya. Nah, secepatnya itu berapa bulan? Hehehe... akhirnya pertama saya menetapkan jadwal buat saya sendiri. Saya menjanjikan pertengahan Juni naskah ini sudah selesai. Akhirnya tidak selesai juga. Sampai pagi ini... mendadak saya ditelpon oleh penerbit tsb. Hanya 2 menit yang isinya : mengingatkan bahwa naskah saya diberikan deadline sampai tanggal 15 September!

Yummy! Saya langsung jingkrak-jingkrak girang. Akhirnya saya dikasih deadline. Diberikan deadline, saya merasa bahwa naskah saya memang ditunggu-tunggu, dinantikan hehehe... sama seperti saya menulis skenario. Saya selalu diberi tenggat maksimal 1 minggu, karena mereka mau cepat syuting. Lewat dari satu minggu, biasanya membuat syuting molor. Itu untuk FTV kalau naskah stripping wah sehari harus kelar satu naskah. Hmm...

Senangnya dapat deadline dari penerbit serial saya itu ;)
Tapi kok mendadak perut mulas, kepala pusing dan kliyeng-kliyeng... olala ternyata saya baru ingat kalau ada 13 bab yang harus saya selesaikan! Di sisi lain, sinopsis FTV numpuk harus segera saya tulis, di sisi lainnya ada tawaran nulis outline di penerbit besar. Nah loh nah loh! Hari ini saya akhirnya ambruk! Karena bingung sendiri mau ngerjain apa. Hahaha...

Setelah mual-mual lalu muntah dan tepar, saya terbangun. Mulai facebookan, smsan, dan buka file naskah. Eh, mual lagi... jadi mendingan saya nulis blog aja, deh.

Semoga ini jadi motivasi teman-teman untuk terus menulis ;)
Bahwa menembus penerbit itu kelihatannya memang susah, tapi sebenarnya gampang. Dekati penerbitnya, bukan berarti mengemis, tapi kita ngobrol sama editornya. Kita pantau mereka lagi butuh naskah apa. Dekati bukan berarti merongrong dan meneror ya (meski saya sering melakukan hal itu hahahah*plaaak). Minimal kalau kita sering main ke blog penerbit, sering lihat TL twitter si penerbit dan fbnya, kita pasti suka dapat info bahwa penerbit A B dan C butuh naskah anu dan anu. Langsung bikin outline! Kirim!

Bisa lewat jalur pribadi, bisa juga lewat jalur agen naskah. Mana yang membuatmu nyaman saja.
So' terus menulis, masuk angin wis bablas... ^_^

Salam
Achi TM
085643376193

[MOTIVASI MENULIS] - Bukan Masalah Menang Atau Kalah ~

Tuesday, May 1, 2012

[MOTIVASI MENULIS]
- Bukan Masalah Menang Atau Kalah ~


Halo para penulis apa kabar?
Aku mau sedikit share nih, tentang yang namanya prestise.
Apa, sih, kebanggan terbesar seorang penulis? Ada yang bangga ketika cerpennya dimuat di media, ada yang bangga saat naskahnya jadi buku, ada yang bangga ketika berhasil memenangkan lomba di facebook. Bahkan ada prestise tertinggi lagi yaitu berhasil memenangkan lomba menulis tingkat Nasional yang diadakan lemba
ga sastra tertinggi di negeri ini. Plus dapat award atas karyanya.

Semua penulis boleh bangga, boleh jumawa, boleh gembira. Tak ada yang melarang. Tapi ternyata banyak pula yang terjebak oleh kebanggaan itu. Nah yang paling berbahaya adalah karena kebanggaan seorang penulis dikirannya hanya bisa diraih dengan memenangkan lomba, maka penulis-penulis pemula pun berbondong-bondong ikut lomba. Demi mendapatkan kebanggaan.

Tak mengapa, itu bagus. Membuat kita semangat, membuat inspirasi kita meledak-ledak. Yang tidak bagusnya adalah : pandangan kita. Kita yang memandang bahwa memenangi sebuah lomba berarti kita hebat, kita patut bangga, berarti kita sudah jadi penulis nomor wahid.

Syukur-syukur kalau kita diberi 'hoki' selalu memenangkan perlombaan. Diberi kesempatan untuk sekali saja menang lomba dari 100 lomba yang kita ikuti. Tapiii... setiap lomba hanya memilih 3 pemenang, setiap lomba akan membuat ratusan peserta merasa kalah dan tidak pede.

Kalau penulis senior kalah lomba, ya mungkin hanya sedih sesaat lalu bisa berkarya lagi. Tulisannya wara-wiri di mana saja. Kalau yang baru bergiat menulis? Baru meniti karir di kepenulisan bagaimana? Seringkali aku membaca status, anak-anak yang semula rajin nulis tiba-tiba mutung karena sering kalah lomba. Ada yang bilang pula : mungkin gue gak bakat jadi penulis, gue kalah terus. Ada yang benar-benar berhenti mencoba menulis lagi. Ada yang masih tetap semangat namun akhirnya merasa jadi lozer karena kalah lomba.

Well... saudaraku, sesama teman-teman yang suka menulis.
Dalam dunia menulis, selalu jadi pemenang bukan patokan tulisannya selalu baik dan bagus. Bukan jaminan karyanya selalu disukai pembaca. Boleh jadi hanya disukai oleh dewan jurinya. Begitu sebaliknya. Belum tentu naskah yang kalah itu jelek, boleh jadi malah best seller di pasaran. Ngga ada yang salah. Yang salah adalah sikap kita memahami arti dari sebuah kebanggaan.

Mari rubah pola pikir bahwa : Memenangkan sebuah lomba kepenulisan tingkat apa pun adalah sebuah prestise tinggi, sehingga kalau kalah berarti kita bukan penulis baik.

Tetap ikut lomba, sambil terus kirim ke media, jangan terpaku pada penilaian dia si pemenang dan dia selalu si kalah. Thats why... aku tetap menulis sampai sekarang.

Meski ratusan lomba menulis tingkat nasional aku ikuti dan selalu kalah. Aku merubah pola pikirku. Tanpa memenangkan sebuah lomba pun, aku bisa tetap jadi penulis. Bedanya adalah : mereka lebih hebat, karyanya lebih bagus. Dan aku akan belajar untuk terus memperbaiki tulisanku.

Percayalah : Dulu aku suka banget menggambar, pengen jadi desainer, pengen jadi komikus. Aku selalu ikut lomba komik juga dan selalu kalah. Sampai suatu hari, aku dan temanku memenangkan lomba komik di majalah nasional. Juara 1! Naik ke panggung megah, nerima banyak hadiah, jumawa, bangga. Setelah itu? What? Aku kehilangan gairah menggambar. Aku merasa puas dan berminat lagi jadi komikus.

Bayangkan : jika aku menang lomba menulis tahun 2004 itu... ngga bakal ada yang namanya Achi TM si penulis *narsis dan bangga dong sama profesi sendiri*

Ini bukan masalah menang atau kalah. Menulis yang baik dan bermanfaat, nasihat menasihati dalam kebaikan dan kebenaran adalah tugas manusia :)
Buat para pengalah ;p orang-orang yang kalah lomba. Heeeii... itu cuma lomba nulis. Just for fun okey! Mungkin Allah lagi mempersiapkan kita supaya siap jadi pemenang!



Achi TM

[Motivasi Menulis] Sebelum Kita Habis

Friday, March 23, 2012

[Motivasi Menulis] Sebelum Habis

Kita semua sadar kalau kita sedang berjalan menuju masa depan. Dan masa depan setiap makhluk di bumi ini adalah sebuah penghabisan. Habis. Selesai. Usai. Tamat.
Kita tidak sedang berada dalam sebuah permainan video game yang bisa mendapatkan nyawa berkali-kali dan kalau mati bisa dapat kesempatan hidup sekali lagi. Tidak. Kita hanya punya kesempatan hidup satu kali. Tanpa kita bisa memilih waktu yang tepat untuk
habis.

Saya baru saja selesai menamatkan novel Gadis Jeruk. Sekonyong-konyong saya menangis karena cerita ini sedikit banyak mirip dengan apa yang saya alami. Setahun setelah alm. Ayah saya meninggal, seseorang datang di FB dan mengatakan kalau dia adalah anak dari
mantan pacar ayah saya. Perlu saya tegaskan di sini, mantan pacar jauuh sebelum
Alm. menikah dengan ibu saya, ya. Tentu saja mantan pacarnya sudah menikah dengan pria lain dan jadilah anak tersebut. Jadi sepanjang hidupnya ayah saya ngga pernah
mendua, lho :) beliau setia dan monogami.
Yang membuat saya kaget karena anak itu ingin sekali bisa berkenalan dengan alm ayah saya. Saya katakan bahwa ayah saya sudah meninggal satu tahun yang lalu dan dia ikut sedih karenanya. Bagi dia, ayah saya adalah panutan. Kenapa? Karena dia mengenal alm ayah saya lewat surat-surat cinta ayah saya kepada ibunya saat jaman pacaran dulu. Sebelum ayah
menikah dengan Mama saya.

Surat cinta?
Lemas rasanya. Tapi untung dia langsung menambahkan, bahwa surat-surat itu lebih banyak berisi tentang pemikiran-pemikiran tentang kehidupan bukan kata-kata romantis kismis yang berbuncis-buncis. Tapi isinya seputar Apa, sih, hidup itu? Bagaimana kita
hidup? Bagaimana kita bertauhid kepada Allah? Dan lain sebagainya. Anak itu
takjub dengan isi surat yang jumlahnya puluhan. Bahkan ketika alm. Ayah saya
menikah dengan mama, Alm masih mengirimkan surat kepada ibunya. Surat mengapa
akhirnya ia memilih mamaku dan bukan ibunya. Surat berisi bagaimana menjadi
seorang perempuan sholehah, bagaimana menjadi ikhlas dan menerima keadaan.
Aaah… meski sampai saat ini aku belum pernah memegang surat itu, tapi bagiku
itu adalah sebuah keajaiban.

Tentu saja aku langsung melakukan kroscek dengan mamaku. Ia pun bercerita kalau dulu alm. Ayahku juga suka mengirimkan surat cinta untuknya, sayang surat itu sudah hanyut waktu perumahan kami dilanda banjir besar. Sedih rasanya, andaikan aku bisa membaca
surat-surat itu. Tentu saja selain surat, Ayah menulis banyak sekali buku hasil
pemikirannya. Dua kali menang lomba pusbuk, menjadi juara 1 dan juara 2
membuatku bangga kepadanya. Selain naskah lomba, ada beberapa naskah lainnya
yang belum menemukan jodoh penerbit.

Tapi pasti beda rasanya bila mendapatkan tulisan berupa surat yang memang ditujukan untuk orang-orang yang kita kenal dengan baik. Aku selalu ingin merangkumkan pemikiran-pemikiran ayah lewat buku tapi ingatanku tak begitu bagus. Dan surat-surat ayah yang dipegang anak itu bisa menjadi media untuk membantuku mengingat dengan baik. Sayang
sampai sekarang kami belum punya waktu untuk bertemu.

Surat…
Adalah sebuah tulisan yang
ditujukan untuk orang lain. Tiba-tiba aku tersentak, sadar bahwa sudah terlalu
lama aku tidak menulis surat. Padahal surat-surat ini, tulisan-tulisan ini
suatu saat akan bisa bermanfaat untuk orang lain. Untuk orang-orang yang kelak
akan kita tinggalkan di belakang saat kita akan masuk ke dalam masa penghabisan
di dunia. Kemudian bangkit lagi menuju tempat baru bernama alam barzah.
Kita tak pernah tahu kapan napas kita berhenti.

Jadi janganlah berhenti menulis meski hanya satu hari
saja. Kalau memang pikiran kita sedang buntu saat ini. Bingung ingin menulis
apa. Kamu bisa menulis sebuah surat. Surat cinta untuk ibumu, ayahmu, kakakmu,
adik-adikmu, suamimu atau anakmu. Kalau pun tidak jadi sebuah buku kelak
tulisan itu bisa membantu mereka yang ditinggalkan menjadi sedikit lebih
berarti. Sedikit belajar bahwa hakikatnya setiap manusia akan pergi dan tidak
akan pernah kembali lagi.
Salam
Achi TM
Anak Ayah Tercinta

[Motivasi Menulis] Jurus Pena Mabok!

Saturday, March 10, 2012

Alkisah di sebuah negeri panda hiduplah seekor panda yang sangat gemuk. Di perguruan kungfu panda, semua panda mampu menguasai kungfu dalam waktu 1 tahun. Tapi si panda gemuk, sama sekali tidak bisa kungfu. Jangankan menendang dan melompat, untuk berjalan saja ia kelelahan karena tubuhnya sangat gemuk!

Tapi setiap hari, si panda gemuk selalu duduk di pinggir perguruan kungfu. Ia memperhatikan setiap gerakan yang diajarkan oleh gurunya, memperhatikan bagaimana kawan-kawannya melompat, memukul dan menendang. Semua itu direkam dengan baik oleh si Panda Gemuk. Hampir setiap malam, si Panda Gemuk melihat sang guru besar minum arak kemudian mengeluarkan jurus mabok.

Hingga suatu hari, sekawanan gajah hitam menyerang perguruan kungfu panda. Semua murid kungfu turun ke lapangan untuk bertarung. Adegan demi adegan seru terjadi, bahkan tak sedikit ada pertumpahan panda di mana-mana. Karena terdesak, guru besar perguruan pun turun tangan. Sayang kekuatan gajah hitam terlalu besar untuk itu. Karena tak ada lagi yang jago kungfu, perguruan pun mau diambil alih. Tapi si Panda Gemuk langsung mengambil arak milik guru besar dan minum sampai mabok. Dalam kondisi mabok itulah ia mengeluarkan semua jurus-jurus yang selama ini hanya ia rekam dalam kepala. Karena badannya yang besar tenaganya pun kuat. Beberapa gajah hitam jatuh. Hal itu membangkitkan semangat kungfu panda lainnya yang sudah loyo.

Ciaaaat... satu per satu kungfu panda bangun dan mengusir pasukan gajah hitam! Setelah semua damai, sang guru berkata pada Panda Gemuk :

"Hebat sekali kamu panda, kamu adalah pesilat instan! Ngga pernah belajar kungfu tau-tau jadi menonjol!"
Kata si Panda Gemuk : "Pak guru, setiap hari saya ikut belajar kok, saya memperhatikan jurus-jurus yang diberikan pak guru. Tapi sekarang saya baru sadar kalau saya ternyata bisa kungfu."

***

Dalam menulis, seringkali kita mendengar istilah penulis instan. Penulis yang ujug-ujug nerbitin buku, terkenal, dan tidak menulis dari bawah (baca : media). Tapi seringkali kita lupa barangkali para penulis instan itu sama dengan si Panda Gemuk. Setiap hari mempelajari proses menulis, setiap hari mengendapkannya dalam kepala. Setiap hari mencoba untuk menulis meskipun susah. Sampai suatu hari ada kesempatan yang membangunkan 'singa besar' dalam dirinya. Dan ia pun menulis!

Saat tulisannya tiba-tiba best seller, saat tulisannya tiba-tiba masuk media terkemuka, saat tulisannya tiba-tiba jadi buku, tak sedikit yang mencibir ia sebagai penulis instan. Tapi saya yakin, tak pernah ada yang instan di dunia ini. Bahkan girlband yang tiba-tiba menjamur pun ternyata sudah dikarantina selama satu tahun tanpa kita tahu.

Bisa jadi, di benak para penulis instan itu, mereka sudah belajar teori menulis dan mencobanya berkali-kali di kepala dan benak mereka. Mereka mengendapkan ide mereka bertahun-tahun. Mereka harus memutari jalan yang panjang sebelum akhirnya bisa menulis. Yang instan itu adalah penulis yang tak pernah belajar, yang tahu-tahu nyebur ke lautan tanpa ilmu berenang.

Semangat menulis siang ini dan jadilah penulis seumur hidup ^_^
NB : Jangan sekali-sekali nulis sambil mabok nanti bisa nabrak laptop. Penulis minumnya air putih ajah... sehat wal afiat dan halalan toyyiba heuheuehu....

~ Achi TM ~
Bukan Motivator 

[Motivasi Menulis] Ini Tentang Aku dan Rasa Percaya Diri

Sunday, March 4, 2012

Sebagai seorang penulis yang dikasih jatah nyemplung duluan ke dunia tulis menulis, banyak yang bilang saya ini orangnya super pede. Tapi sejujurnya saya juga manusia biasa, bahkan masih tergolong ababil. Jadi untuk urusan tidak pede, saya juaranya. Kok, saya malah bangga? Iya, karena kalau saya over pede, saya ngga mungkin mau belajar terus dan terus belajar ^_^.

Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan saya, hanya mengajak kita berpikir. Pernahkah terlintas di kepala teman-teman semua bahwa seorang artis yang sangat terkenal pernah mengalami rasa tidak percaya diri? Saya rasa bukan rahasia umum lagi kalau banyak artis yang memakai narkoba hanya untuk meningkatkan rasa PD mereka. Wait... wait, saya tidak memakai narkoba, lho. Saya hanya pemakan narkoba, nasi rendang kopi dan bakwan ;p

Saat menulis ini, saya berada dalam sebuah rasa TIDAK PEDE, bagaimana bisa saya menulis Motivasi Menulis sedangkan di sini sudah banyak teman-teman yang terus menerbitkan buku baru mereka. Makin hari jadi makin ciut, sambil melihat naskah buku saya tidak selesai-selesai. Saya juga bukan ahli membuat artikel, saya tidak tahu bagaimana pakemnya. Yang saya tahu adalah saya ingin berbagi semangat :)

Jadi... daripada galau ngga bisa tidur karena mangkir lagi dari tugas, lebih baik saya menulis ini. Dan sebagai penulis buku No More Galau, dillarang galau lah yaw!

Saat teman semua telah kehilangan rasa pede dalam menulis, cari tahu apa sih kira-kira yang bisa membangkitkan rasa percaya diri Anda lagi? Kalau ngga kepikiran apa pun mungkin cara-cara saya di bawah ini bisa dilakukan oleh Anda :

1. Jangan baca cerpen/buku yang bagus! Saya biasanya punya stok buku dengan cerita jelek di rumah saya. Jadi kalau sedang butuh rasa pede, saya selalu baca buku dan meyakinkan diri saya bahwa "Saya bisa menulis lebih baik dari dia."

2. Menjauhlah sejenak dari orang-orang yang suka asal mengkritik. Lebih baik selesaikan naskah Anda dulu baru kasih ke orang lain untuk diberi masukan. Kadang tak sedikit masukan itu bersifat kritik pedas yang malah membuat kita down dan malas melanjutkan naskah kita. Carilah tukang kritik yang berbobot dan berilmu, bukan tukang asal kritik. Tukang kripik boleh, lumayan dapet kripik gratis :D

3. Jangan mengikuti lomba menulis yang tidak berbobot. Ini penting! Karena banyak sekali penulis pemula yang selalu menjadikan ajang lomba sebagai sesuatu yang WAJIB dimenangkan jika kamu ingin jadi penulis. Sudah jadi sesuatu yang tersirat jika Anda memenangi sebuah perlombaan menulis maka Anda sudah dicap penulis! Tahukah Anda, sekarang sudah banyak sekali lomba menulis yang berserakan di dunia maya dan nyata. Lomba-lomba menulis dengan hadiah sebuah buku saja, atau dijanjikan akan diterbitkan tapi oleh penerbit POD. Untuk lomba semacam itu, akan sangat sulit menentukan kualitas tulisan kita. Bisa jadi, tulisan kita yang sebenarnya bagus dan layak menang di lomba DKJ misalnya, harus kalah di lomba dengan hadiah pulsa hanya karena si juri tidak paham sesungguhnya dengan 'bagaimana cerpen/novel yang baik itu".

Parahnya lagi, jika kalah dalam lomba 'ecek-ecek' kita malah semakin down dan down. Beda, kan, kalau kalah lomba di majalah terkenal. Biar kalah yang penting terhormat. Halah ;p

4. Jika mengirimkan naskah ke penerbit, coba buat semedi dulu, timang-timang dulu. Kira-kira penerbit itu cocok ngga, ya, sama karya kita. Chemistrynya ada ngga, ya? Jangan sampai salah lempar penerbit. Kalau ditolak, sakitnya bisa bikin ngedrop 2 kali lipat. Baiknya, melempar naskah ke penerbit yang memang sedang membutuhkan naskah :).

5. Jangan baca tulisan jaman dulu! Udah ketahuan tulisan jadul lebih jelek dari tulisan sekarang, masih juga dibaca. Bisa ngedrop nantinya. Tapi eitttss... kalau kita merasa tulisan kita jaman dulu lebih bagus dari jaman sekarang boleh juga tuh diintip-intip ^_^ sebagai pemacu semangat dan rasa percaya diri kita.

6. Abaikah tanggapan bahwa ada penulis senior dan juga junior. Ini hanya akan membuat Anda semakin ciut berkarya. "Hei kamu penulis junior! Saya penulis senior!" Sama halnya seperti manusia yang menikah duluan dengan yang menikah belakangan. Belum tentu yang duluan anaknya lebih berkualitas dengan yang menikah belakangan ^_^

Kalo kata Pak Ustadz ane, sih, "Kebetulan aja saya lahir duluan dari kamu, jadi saya menyampaikan dakwahnya duluan daripada kamu."

So' Tetap semangat menulis, ya. Buat yang belum pernah menang lomba jangan takut. Jalan menjadi penulis bukan hanya dari menang lomba lalu masuk antologi semata. Tapi dari ketekunan Anda menulis dan menulis! Jadilah penulis yang mampu berdiri sendiri. Mampu mempunyai novel/buku solo. Mampu untuk berbagi dengan penulis pemula lainnya. Dan mampu melawan rasa tidak percaya diri Anda.

Pssst... selama 6 tahun eksis jadi penulis, saya belum pernah menang lomba kepenulisan APA PUN! Padahal dulu saya paling rajin ikut lomba. Pantang menyerah!

Ehm... Pernah, sih, sekali, waktu ikut lomba nulis cerpen tingkat kota. Juara dua tapi dari tiga peserta. Hadeeh... pingsan dulu, deh.

Salam
Achi TM
Penulis No More Galau

[Motivasi Menulis] Apa Energy Terbesarmu?

Tuesday, February 14, 2012

Apa Energy Terbesarmu?



Assalamualaikum. Wr. Wb. Apa kabar teman-teman di Women Script? Maaf selama 2 pekan absen mengisi motivasi menulis :) Sebenarnya senin ini juga saya lagi bingung. Mau ngasih motivasi menulis yang seperti apa lagi? Selama beberapa hari belakangan saya banyak berpikir, apa gunanya ya saya nulis Motivasi Menulis di grup ini? Kira-kira ngena ngga ya di hati dan pikiran teman-teman semuanya? 


Well sampai akhirnya saya memutuskan untuk duduk di depan laptop, dan mulai menuliskan hal ini. Hal yang saya sendiri belum kepikiran mau nulisin apa. Tapi saya tidak mau lantas ingkar lagi dari kewajiban saya memberikan motivasi menulis di setiap hari senin. Maka saya meyakini saja insya allah setiap tulisan yang kita buat pasti bisa membuat sedikit perubahan.


Nah, ketemu idenya!
Saat kita mau menulis, kita harus yakin bahwa kita menulis memang untuk menyebarkan kebaikan. Menyebarkan nilai-nilai yang baik dan bermanfaat untuk umat manusia. Bayangkan bila tulisan Anda mampu menggugah hati seorang preman. Preman itu lalu insyaf dan menjadi seorang ustadz. Ustadz itu kemudian ngasih ceramah ke sana kemari dan berhasil merubah banyak orang. Bayangkan berapa banyak pahala yang akan Anda terima di akhirat sana?


Jadi, mulailah menulis untuk menyebarkan kebaikan sejak dini. Saya punya resep manjur yang diberikan oleh alm. Ayah saya. Karena saya orang islam, maka ayah saya selalu menyuruh saya untuk membaca dua kalimat syahadat dan shalawat nabi sebelum saya menulis. Alhamdulillah setiap saya membaca itu sembari mengangkat kedua tangan saya ke atas, saya merasakan energy luar biasa. Kekuatan dan semangat untuk menulis, kemudian memohon agar Allah terus memberikan saya inspirasi dan inspirasi. Karena kita ngga boleh sombong, bagaimana pun juga Tuhanlah yang memberikan kita izin untuk menulis, menggerakkan hati, tangan dan pikiran kita. 


Itulah kenapa kadang ketika kita baca tulisan kita 2 tahun lalu kita akan nyeletuk : "Kok bisa ya gue nulis ini?" ya bisalah, karena pada dasarnya apa yang kita tulis berasal dari Allah :)


Oke setiap dari teman-teman tentu punya cara sendiri untuk mengumpulkan energy sebelum menulis. Ada yang shalat 2 rakaat dulu, ada yang harus makan bakso 2 mangkok dulu, ada yang membaca buku dulu dan lain sebagainya. Apa pun itu temukan bagaimana Anda mendapatkan energy Anda sebelum menulis. Kemudian lakukan dan biarkan alam semesta mendukung Anda. 


Ehem... jika Anda mentok mau nulis apa. Lakukan seperti yang saya lakukan di sini. Saat mau menulis motivasi ini saya bingung mau nulis apa. Tapi saya tuliskan saja kebingungan itu. Lambat laun inspirasi akan mengalir dengan sendirinya, kok. 


Salam
Achi TM

[Motivasi Menulis] Ngga Mau Rugi

Ngga Mau Rugi 


Apa motivasi Anda menulis? Masing-masing pribadi pasti punya motivasi yang berbeda-beda. Mulai dari motivasi yang idealis seperti ingin memberikan pencerahan kepada orang lain sampai motivasi ingin jadi terkenal dari menulis. Apa pun motivasi awal Anda menulis, sekaranglah waktunya Anda menilik kembali. Sudahkah motivasi yang Anda tanamkan pada diri Anda itu, mampu membawa Anda untuk menciptakan sebuah karya? Sudahkah Anda produktif dalam menulis? 


Baiklah, terlepas dari segala motivasi pribadi Anda. Saya punya resep tersendiri untuk selalu memotivasi diri agar produktif. Resep ini diajarkan oleh guru menulis saya. Begini resepnya, bila Anda membeli sebuah buku. Maka Anda hitung berapa harga Buku Anda. Misalkan harga buku Rp. 50.000,- dan terdiri dari 10 BAB. Berarti setiap Anda membaca 1 BAB, Anda harus menghasilkan 1 ide CERPEN/ ide buku Non Fiksi. Bila Anda membaca 1 buku itu berarti Anda mempunyai 10 IDE.


Bayangkan, ketika Anda membeli buku Anda targetkan dalam hati. "Setelah saya membeli buku ini saya harus menulis dan menghasilkan uang 10 kali lebih banyak dari harga buku ini." Memang kelihatannya tidak idealis tapi ini logis. Karena setiap apa yang kita baca adalah modal bagi karir kepenulisan kita. Setiap VCD yang Anda tonton harus mampu menghasilkan 10 kali lipat dari harga VCD yang Anda beli. Atau 50 x lipat! Atau 100 kali lipat!


Terbukti motivasi ringan ini mampu menggerakkan seluruh pikiran, badan dan waktu saya untuk selalu menulis, menulis dan menulis! Tentu saja selain motivasi 'NGGA MAU RUGI' di atas, kita juga tetap setia pada motivasi idealis kita. Apa pun itu.


Semangat!
Salam Penuh Cinta
Love Asset
Achi TM

[Motivasi Menulis] Belajar Dalam Diam

Belajar Dalam Diam

Apa gaya belajar Anda? Apakah Anda biasa belajar sambil ngobrol? Belajar sambil ngegosip? Belajar sambil sombong di sana-sini mengenai tempat di mana Anda belajar? Belajar sambil menonton TV? Belajar sambil mendengar musik? Apa pun jenis belajar Anda itu adalah hak Anda sebagai manusia. Di sini saya menemukan seseorang yang mengajari saya cara belajar yang lain. Yaitu belajar dalam diam.

Seperti sudah menjadi rahasia umum. FB Telah memunculkan banyak sekali grup-grup kepenulisan. Banyak melahirkan banyak pelatihan-pelatihan menulis. Sehingga muncul banyak sekali orang-orang yang ingin menjadi penulis. Siapa saja yang mau jadi penulis? Kalau kata Joni Ariadinata dalam workshop cerpen di JilFest akhir Desember 2011 kemarin. Jumlah warga Indonesia yang ingin menjadi penulis saat ini sangat membludak. Kalau dikira-kira, dalam satu kota saja bisa ada 3000 orang yang mau jadi penulis. Belum kabupaten, belum propinsi dan ada berapa propinsi di negeri kita? Itu dilihat dari membludaknya peserta pelatihan-pelatihan menulis. Bagaimana dengan mereka yang ingin jadi penulis dan tidak ikut pelatihan?

Oke, daripada pusing mikirin itu mari kita tengok berapa orang yang sekarang tiba-tiba ingin jadi penulis? Cek di ranah FB. Berapa banyak ibu-ibu yang berbondong-bondong mau menulis? Berapa banyak remaja yang tiba-tiba eksis jadi penulis FB? Ada puluhan ribu!

Tapi jangan ciut dulu. Pertanyaan saya selanjutnya adalah, berapa banyak orang yang benar-benar serius ingin menjadi penulis? Sering mendengar ucapan NATO kan? (No Action, Talk Only). Itulah yang kini mewabah dunia kepenulisan kita. Orang-orang yang berbondong ingin jadi penulis terlalu banyak diskusi, bicara, membesarkan diri sendiri. Sedikit-sedikit menulis status : Saya sedang nyari ide nih di timbuktu, Duh baru jadi satu kalimat, hari ini harus selesai tiga cerpen, yes! Dan status-status lainnya yang menunjukkan bahwa kita sedang menulis ^_^ atau status : Saya sedang di pelatihan menulis bersama penulis terkenal Anu. Bulan depan saya harus bisa menyelesaikan novel saya!

Well... menulis status seperti itu bukanlah sesuatu yang tabu. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa kita terlalu banyak mengumbar kata. Terlalu banyak "ribut" dalam proses belajar kita sebagai penulis. Coba dari sekian banyak status yang bertebaran di atas, berapa banyak yang akhirnya benar-benar menelurkan karya? Sejauh pengamatan saya, hanya sedikit sekali. 

Dalam diskusi-diskusi kepenulisan juga kita seringkali ribut. Begini begitu begini begitu tapi nyaris tidak ada karya yang kita munculkan. Saya mengenal beberapa sosok yang saya lihat anteng-anteng aja dalam dunia maya. Tidak ribut sedang belajar di sini, di sana, tidak banyak cakap di diskusi kepenulisan tapi tiba-tiba DUAR! Naskahnya masuk banyak antologi penerbit Major, novelnya diterbitkan, bahkan ada orang terdekat saya yang sangat saya kagumi. Dia selalu ikut pelatihan menulis, selalu memperhatikan cerpen-cerpen orang lain tapi jarang "ribut" di dunia maya. Seumur hidupnya dia baru sekali menulis cerpen. Dan cerpen kedua yang ia tulis langsung ia kirim ke koran Republika. 2 Bulan berselang, cerpennya pun dimuat di Republika. Subhanallah, saya kaget luar biasa. Begitu juga beberapa teman yang dekat dengannya. Karena dia jarang posting status di FB tentang berapa susah dia belajar nulis cerpen, kesusahan apa yang dia dapatkan saat menulis dan dia jarang "banyak bicara"

Dia belajar dalam diam. Dan dari diamnya itu muncul karya yang menghentak semua orang termasuk sastrawan-sastrawan koran yang akhirnya bertanya-tanya, siapa dia? Namanya tak banyak dikenal di dunia maya. Well... ini menjadi sebuah pelajaran berarti bagi saya. Akhirnya saya berpikir, apakah saya termasuk orang-orang yang "ribut" saat sedang menulis dan belajar? Apakah saya sudah menyerap "pelajaran" dengan baik dan mempraktekkannya tanpa ngoceh di sana-sini? Apakah saya sudah bisa menembus koran nasional tanpa banyak bicara? 

Sepertinya saya mulai harus belajar dalam diam. Ketika diam, kita akan lebih banyak memperhatikan, lebih banyak mendengarkan, lebih banyak mengerti dan lebih banyak berpikir. Karena bukankah proses menulis adalah masuk ke dunia sunyi? 

Mulailah kembali menulis dan pelankan sedikit "suara" kita. Pssst... mari menulis dengan lebih hening.

Salam
Achi TM
 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati