Apa Bakat Anak Saya?

Wednesday, November 18, 2015

Ketika awal-awal punya anak dan melihat banyak anak-anak berprestasi di umurnya yang baru 5 tahun, 7 tahun, saya sempat terobsesi ingin membuat Abiy berprestasi di umur segitu. Ketika Abiy berumur 6 tahun, saya sempat memasukkan dia ke taekwondo, berharap dia bisa ikut turnamen-turnamen, lalu mengajari dia menulis dengan harapan dia mau nulis dan berprestasi di usia dini. Tapi melihat dia sepertinya tak nyaman dan tertekan, saya pun jadi mengurungkan niat.

Saya ngga mau ngotot. Apalagi ada keinginan juga mau memasukkan dia les musik, kali aja bisa jadi musisi muda. Di umur dia yang ke - 7 Abiy belum memperlihatkan bakat istimewa atau prestasi yang wah. Yang dia lakukan nyaris sepanjang hari hanyalah membaca-membaca dan membaca.

Mr & Mrs. Writer part #2 : Anak Pertama Kami

Monday, October 26, 2015


Tahun 2007 akhir.

Setelah suami memutuskan berhenti bekerja dan ikut nulis stripping TV -saat itu menulis Si Entong abunawas Betawi. Kami pun memulai kisah sebagai suami istri yang sama-sama menulis, berprofesi sebagai penulis. Well... Mungkin di luar sana banyak kisah suami istri penulis yang lain, cerita saya bukan cerita super heboh or sedih lho.

Buat yang belum tahu ceritanya awalnya bisa lihat status part #1-nya smile emotikonsaya dan suami menikah dengan serba pas-pasan, kedua orang tua kami juga bukan orang berada.

Mr & Mrs.Writer #1 : Nikah Modal Cinta?

Thursday, October 8, 2015

Saya berencana mau menuliskan kisah perjalanan pernikahan saya. Mungkin bukan kisah romantis atau dramatis. Ini kisah biasa-biasa saja. Sama seperti kisah ratusan, ribuan, milyaran orang di dunia. Hanya saja, saya mau berbagi. Bagaimana saya dan suami saya menjalani kehidupan sebagai seorang freelancer. Kami berdua hidup dari menulis. Semoga menginspirasi.
...

Saya menikah umur 22 tahun, baru lulus D3, belum sempat lanjutin ke S1. Suami saya lulusan STM, asli Bantul, Jogjakarta. Sementara saya dibesarkan di Tangerang, kota penyangga Ibukota. Suami saya anak petani biasa, bahkan bisa dibilang kurang mampu. Saya anak seorang guru biasa, bisa dibilang juga hidup pas-pasan.

Curhat Seorang Mama Yang Tak Sempurna

Sunday, August 9, 2015

Saya termasuk korban parenting hehehe. Dalam artian begini :

Ketika saya punya anak pertama, saya melahap banyak buku parenting, mengikuti berbagai pelatihan parenting dll dll. Lalu saya terapkan pada anak saya. Untuk usia 1-4 tahun, menerapkan parenting ngga susah susah amat. Nah, kesulitan saya alami ketika anak saya berumur 5 tahun dan saya hamil anak kedua.

Dalam benak saya dulu, ilmu parenting yang bertebaran disajikan oleh orang terkenal adalah wajib dijalankan jika mau mendapat kehidupan yang sempurna. Mendidik anak sempurna : makanan sehat non msg, tidak membentak, lemah lembut, penyabar tingkat dewa, selalu bisa menjawab pertanyaan anak dengan baik, dan yang lebih hebat adalah bisa home schooling-in anak sampai anak masuk Universitas di luar Negeri. Kalau perlu kegiatan HS ini jadi inspirasi banyak orang. Terus anakku bisa dapat prestasi melejit di usia SD kelas 1 or kelas 2, misal juara menulis tingkat nasional, juara karate tingkat nasional or apalah.

Sempurna. Sempurna sekali. Dalam bayanganku.

Semua musnah ketika anak kedua lahir.

Laporan Hati : Launching Novel Insya Allah, Sah! Gramedia Central Park. Sah? Saaah....!!!

Friday, June 12, 2015


Entah udah kebiasaan atau memang begitu takdirnya -setiap mau launching aku pasti sakit-. 
Dan aku selalu sakit kalau aku kepikiran mau cantik. 
Seperti yang sudah-sudah, sebulan sebelum launching, aku mau wajahku lebih bersinar ngalahin matahari  maka mulailah aku pakai perawatan. Kali ini bukan semprot2an wajah yang bikin masuk angin, ini perawatan biasa saja, pakai susu pembersih, toner, cuci muka dan moisturizer. Udah gitu doang, tapi cukup capek ternyata, ya. Pagi-malem-pagi-malem sampai tidur gak nyenyak karena berharap besok pagi wajahku udah berubah seperti cinderella... jreng-jreng ternyata beneran ngga!

Nah, masih soal penampilan, aku kemudian membeli baju bongkar celengan  baru, secara gamis-gamis yang lama udah pada kekecilan. Oh sumpah sepertinya aku harus diet. Ceritanya aku beli baju bahan tipis (ehm bahannya ceruti apa shifon ya? Kagak bisa bedain) nah, kalau pake gamis tipis kan harus ada dalemannya. Alhasil beli, deh, dalemannya. Klop jadi deh. Tiba-tiba aku baru inget kalau tante ulang tahun dan ada arisan keluarga juga. Karena ngga keburu beli kado, akhirnya daleman gamis tipis yang aku beli seharga 165 ribu itu harus aku bungkus dan kasih ke tante... hahaha tante ga baca blog, kan? jadi lanjuut. Tapi untungnya masih ada gamis yang lamaa... jadi bisa didobel. Dan akhirnya pake gaun ini, deh.

PROLOG Novel INSYA ALLAH, SAH! Part 1 (plus Give Away)


Hosh… hosh....

Rambutku terurai tidak karuan, keringat membasahi sekujur tubuh dan wajahku. Aku akan menetapkan hari ini sebagai hari tersial dalam sejarah hidupku. Aku berlari begitu cepat, melintasi halaman perkantoran Sudirman hingga akhirnya tiba di gedung kantor Dion. Rusak semua dandananku! Angin siang ini bertiup kencang sekali bercampur dengan asap knalpot kendaraan yang terjebak macet di beberapa ruas jalanan Ibu Kota. Beberapa daun yang jatuh dari rantingnya mendarat di atas rambutku, aku menepis satu dua daun dan merapikan sedikit anak rambutku. Tinggal naik ke jembatan penyebrangan maka tibalah aku di depan kantor Dion. Kutiti anak tangga satu per satu, melintasi dua cewek SMA yang sedang cekikikan menuruni tangga. Aku berdecak kesal : apa mereka menertawakanku?

Keep positive Silviana.

Dengan langkah lebar-lebar, aku menyebrangi jembatan penyebrangan. Melintasi seorang kakek tua berbau minyak angin yang menyengat, berjalan pelan dengan tongkatnya. Nyaris saja aku menabraknya jika tidak segera melangkah ke samping dan mencari celah jalan lain. Udara ekstreem membuat angin berhenti mendadak dan segera menjebak semua manusia di Jakarta ini dengan udara panas lagi.

YAKIN BUKU KAMU LAKU DI TOKO BUKU? (Cara ngecek penjualan buku kamu di Toko Buku)

Wednesday, May 13, 2015


Pasti akrab dengan dialog maya ini :

"Eh, say, kemarin aku lihat di toko buku, novel kamu stoknya tinggal 10, lho."

"Ah masa, sih? Alhamdulillah deh... berarti tinggal sedikit."

Atau

"Mas, kemarin aku cek di komputer Gramedia, novel kamu stoknya habis! Yeay tinggal nol! Hebat laris manis."

"Wah iya, ya? Syukurlah... girang banget, nih!"

Atau

"Kasihan banget si penulis A, masa bukunya di komputer masih ada 50 aja. Dari bulan kemaren gue cek masih 50 aja. Ngga laku kali ye."

"Iye kali ye, kasihan."

Nah... Tahukah Anda?

Yaaaa... mungkin banyak juga yang tahu, cuma saya ngasih tahu info ini buat teman-teman yang ngga tahu aja. Bagaimana cara mengecek penjualan buku kamu?
 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati