Akibat Ikhlas

Sunday, June 24, 2012


~ IKHLAS ~
  Achi TM

            Apa hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup kita selain sabar dan menahan amarah? Ya, jawabannya adalah ikhlas. Sekitar 3 bulan yang lalu aku ditinggal pergi oleh seorang karyawan. Rasanya saat itu aku marah sekali. Awal aku menerima dia kerja adalah karena rasa kasihan. Karena rasa kasihan itu pula aku memberi izin kepadanya untuk kembali melanjutkan sekolahnya ke SMA. Ya, ia adalah lulusan SMP yang putus sekolah.
            Singkat cerita, setelah membantu dia untuk mencari tempat kos bersama teman dekatku. Dia pun akhirnya sekolah. Dengan sedikit bantuan dariku yang nilainya tak seberapa. Sebulan pertama sekolah semua baik-baik saja. Pulang sekolah dia masih rajin bekerja sampai malam. Bahkan bila sudah jam 7 malam, ia aku beri izin untuk belajar. Gaji tak pernah aku potong.
            Sampai tiba di bulan kedua, mendadak ia minta berhenti kerja karena alasan capek. Sontak saat itu aku menahan amarah padanya. Aku memberi dia pesangon dan enggan untuk menemuinya lagi. Padahal sekolahnya tepat berada di depan rumah kantorku. Bayangkan, nyaris setiap minggu aku melihatnya dari kejauhan. Begitu juga dirinya, aku menunggu itikad baik dirinya untuk datang dan minta maaf tapi nyatanya hari itu tak pernah tiba. Lama-lama amarah demi amarah menumpuk di dadaku. Sesak. Hingga suatu hari aku merasakan hidupku menjadi sangat susah.
            Honor-honor menulis yang seharusnya turun menjadi tertunda. Kemudian job-job mengajar yang sudah ada di depan mata tiba-tiba lenyap. Kenapa rejeki menjadi susah kudapat? Bahkan perlahan-lahan penyakit menggerogoti badanku. Kepala yang sering pusing dan badan yang sangat lemas. Akhirnya aku pun pergi ke terapis langgananku. Di sana, selain diurut aku aku juga diberikan wejangan-wejangan.
            Di sanalah aku disadarkan kalau selama ini aku tidak ikhlas melepas seseorang yang sudah aku bantu lalu dia pergi. Jika kita mau membantu orang, ikhlaskan saja. Kalau dia pergi biarkan saja, akan ada orang lain yang datang silih berganti. Ketika kita ikhlas dan mau memaafkan, maka rejeki akan datang mengalir dengan cepat.
            Sepulang dari terapis aku segera merenung sendirian di kamar. Menghela napas panjang, mengosongkan pikiran dan mengatakan bahwa aku harus ikhlas. Maka dengan sigap aku mengirim sms kepada mantan karyawanku itu. Aku meminta maaf kalau aku masih sempat marah padanya. Aku mencoba melupakan semua kebaikan yang pernah aku berikan. Ikhlaskan, kosongkan!
            Malamnya, tepat jam 12 dini hari. Salah satu produser sebuah PH meneleponku. Dia memberikan kabar baik bahwa beberapa program yang akan aku tulis segera jalan. Kemudian ia menawarkan pekerjaan pada suamiku. Ini benar-benar keajaiban semua rasa ikhlas! Jam 12 dini hari dia menelpon dan memberikan kabar baik. Tak berhenti sampai di situ, esoknya honor menulis yang ditunggu-tunggu pun turun. Kemudian ada orderan mengajar di suatu tempat dengan nilai jutaan. Aaah… betapa bersyukurnya diriku.
            Hal ini meyakinkan aku bahwa ketika kita ikhlas maka alam semesta akan mendukung semua karier dan impian-impian kita. Aku segera pergi ke kamar dan merenung. Apalagi yang harus aku lepaskan? Sesuatu yang harus aku ikhlaskan….

***
Rumah Pena, 24 Desember 2011

3 comments:

  1. jadi banyak belajar dari postingan ini

    ReplyDelete
  2. terima kasih Indah :) semoga bermanfaat. Silakan dishare dengan mencantumkan sumbernya.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, mba jadi makin faham dengan ilmu yang bernama "ikhlas" setelah membaca artikel inspiratif di atas. Semoga rasa ikhlas itu selalu tertanam oleh saya, penulis dan pembacanya. Aamiin
    tetap semangat berkarya untuk anak negeri.

    ReplyDelete

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati