Showing posts with label Cerpen Ciamik. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Ciamik. Show all posts

[Cerpen] CINTA AKAN MENEMUKAN TEMPATNYA SENDIRI

Wednesday, September 12, 2012


CINTA AKAN MENEMUKAN TEMPATNYA SENDIRI
~ Achi TM ~
                        

                Seperti semerbak harum hujan menyusup ke dalam bulu halus hidung, seperti itulah napas yang pecah-pecah datang pada Silvia. Napas yang selalu membacakan pesan cinta, pesan rindu angin pada titisan embun pagi. Pesan dari tanah untuk titik pasukan langit yang terus menghujam bumi. Suara camar yang hilang di cakrawala lautan lepas, Silvia tiba-tiba merindukan napas itu pada malam ini. Ia tersentak pada suatu kesadaran bahwa ia sudah melampaui batas perasaan.
            Ping!
            Sebuah pesan singkat masuk ke Facebooknya. Silvia sedang chating dengan seorang pria di ujung sana, namun bukan pria yang biasa memberikan ia napas cinta. Pria ini memberikan lebih dari sebuah napas. Ia menjulurkan sebuah nyawa bernama ‘selingkuh’.
            Dani : Sil… gimana? Besok bisa ketemu di kantin kampus?
            Silvia menghela napas. Ragu-ragu ia menjawab, mengetik tuts keyboard pelan-pelan.
            Silvi : Tapi aku ngga bisa meninggalkan Rangga. Dia masih di rumah sakit.
            Dani : Ini terakhir kalinya, Sil. Ijinin gue buat buktiin kalau cinta gue lebih besar dari Rangga.
            Silvi : Aku ngga bisa, Dan… ngga bisa … di saat Rangga sedang sakit. Maaf.
            Suara napas pecah-pecah itu datang kembali menerobos gendang telinga halus Silvia. Suara Rangga bertalu-talu, memaksa tangannya menutup layar laptop. Membiarkan Dani dalam ketidakpastian.
            Hujan masih mengguyur Jakarta malam ini. Silvia terkejut saat sebuah tangan menarik bahunya halus. Tergeragap ia memasukkan laptop kecilnya ke dalam tas laptop. Silvia tersenyum pias pada wajah Bu Azizah, calon mertua yang kini ada di hadapannya.
            “Silvia, Rangga sudah sadar. Ia terus memanggil nama kamu. Masuklah….”
            “I… iya, Bu….”
            Silvia mencangklong tas laptopnya lalu dengan takzim memohon diri. Berjalan memasuki kamar rawat inap Rangga. Koridor rumah sakit nampak senyap, menikmati nyanyian air bumi.
***
            Di ujung langit paling dalam yang terletak di hati Silvia sesungguhnya ada sedikit rongga yang membuat napasnya lega. Rongga menguap bersama rayu-rayuan seorang Dani. Ketika kekosongan mencabik-cabik hubungannya dengan Rangga, Dani datang menutupi rongga hampa di dalam jiwanya. Dani membawakan sekuntum tawa dan sebingkai mimpi-mimpi indah tentang sebuah hubungan.
            Bukan Rangga yang selalu memberikan kepastian dengan tergesa-gesa termasuk meminang Silvia di umurnya yang masih 20 tahun. Hanya tinggal menunggu Rangga mendapatkan pekerjaan, ia akan segera menikahi Silvia. Cinta lelaki itu pada Silvia melebihi cintanya pada diri sendiri. Tidak terlalu overprotektif namun cukup membuat Silvia merasa terkekang. Ia tak kuasa menolak segala kebaikan Rangga. Perhatian lelaki tampan, kebaikan Rangga yang terus membuncah-buncah, memanjakan Silvia seperti Putri Tidur yang baru terjaga dari mimpinya. Silvia terbuai… nyaman dalam ‘rahim’ ciptaan lelaki itu. Terkurung dalam selaput beningnya yang membuat napas Rangga selalu pecah-pecah di hati Silvia. Napasnya seolah ada menempel dalam setiap langkah gadis itu. Rangga sudah beranjak 25 tahun. Tepat di hari ulang tahunnya, ia sakit.
            Bukan sebuah sakit yang parah, hanya tipes biasa.
            Namun cinta kasih Bu Azizah yang luar biasa, membuat seolah Rangga sakit begitu keras. Rupanya segala curahan kasih Rangga mengucur dari keran cinta sang Bunda.
            Pagi ini Silvia menyuapi Rangga.
            “Dokter bilang, sore ini udah bisa pulang, say….”
            Rangga menerima suapan cinta dari Silvia. Ia mengunyah begitu bersemangat. Nafsu makannya sudah bertambah sejak dirawat seminggu yang lalu.
            “Bunda ngga percaya sama obat cina, sih….” Rangga bertahak di tengah kunyahannya, matanya menatap Silvia lekat-lekat. “Padahal kalau pakai obat tradisional itu, ngga perlu sampai selama ini di rumah sakit. Kalau gini terus, pernikahan kita bisa ketunda melulu…” jemari telunjuknya menghentikan sendok yang disuapkan ke arah mulutnya. Rangga menyadari sesuatu, mata Silvia menerawang jauh menembus jendela. Rangga menjentikkan jari. Silvia tergeragap dan berpura-pura batuk. Tanpa sengaja ia menjatuhkan sendok, suara dentingannya beradu dengan lantai. Silvia gugup, ia membenahi sisa-sisa bubur yang jatuh ke kasur.
            “Maaf, Rangga… aku ngelamun….”
            Segaris kekecewaaan mengerucut dalam mata Rangga. “Yes I know….”
            “Rangga… aku….”
            “Ya sayang?” suara Rangga kembali lembut. Menghentikan protes yang meledak-ledak dalam diri Silvia.
            Wanita itu menunduk, mengenggam asa yang pedih.
            Rangga aku… mencintai lelaki lain. Aku mencintainya….
***
            Dani berlari menyusuri koridor kampusnya, ia menerabas beberapa mahasiswa yang sedang bermain bola di koridor atau mengabaikan sapaan hangat mahasiswi cantik yang memuja ketampanannya. Dani bergegas, memanjangkan langkahnya demi menggamit lengan seorang Silvia. Gadis itu tersentak, ia takjub melihat lelaki berdada bidang, berambut cepak, dengan gingsul lucu di taringnya, tengah tersenyum padanya seraya menjulurkan sebuah kalung perak dengan bandul tiga tangkai bunga mawar.
            “Apaan, nih, Dan?” Silvia tergelak. “Pagi-pagi udah bikin rusuh aja….”
            “Aku, kan, udah janji… setiap pagi aku bakalan kasih kamu kejutan. Apapun itu. Besok kamu mau apa?”
            Jemari Dani menarik kelingking Silvia. Mata gadis itu nampak jenaka, sengaja diputar-putarkan seolah sedang berpikir keras.”Ngga tahu, ya, mau apa… coba dong sekali-sekali kamu yang bilang mau apa…. Nanti gantian aku kasih. Kamu, kan, udah ngasih banyak barang ke aku… tapi jangan mahal-mahal, ya.” Jawab Silvia setengah manja.
            “Ngga mahal, kok…” Dani memakaikan kalung perak ke leher Silvia. Gadis itu menyibakkan rambutnya. Dani menepuk kepala Silvia lembut. Ditatapnya gadis penuh senyum yang mempesona itu. “Aku cuma ingin kamu putus dari Rangga dan nikah sama aku….”
            Silvia menggeleng spontan. “Ngga bisa, Dan… ngga bisa. Rangga udah baik banget sama aku. Dia tunangan aku dan… dan kita….”
            “Dia baru jadi tunangan kamu Silvia… kita masih punya kesempatan buat bersama. Aku tahu kamu ngga bahagia sama dia….”
            “Aku bahagia!”
            “Lantas sama aku?”
            “Aku juga bahagia….” Silvia tercekat pada pernyataannya. Ya… ia memang bahagia bila berada di antara dua lelaki itu. Silvia berbalik badan dan hendak berlari ke dalam kelas. Memunggungi Dani begitu keras. Namun tangan Dani dengan cekat menariknya hingga tubuhnya terhempas jatuh, kepalanya membentur tiang tembok kampus. Dani spontan mengangkat Silvia. Gadis itu mendorong tubuh Dani menjauh. Dani memeluknya erat, Silvia terengah. Dani segera mengeluarkan sapu tangan putihnya dan menyeka darah di dahi Silvia. Silvia merebut sapu tangan putih itu.
            “Aku ngga apa-apa… minggir… malu dilihatin orang-orang tauk!” Silvia mendorong tubuh Dani. Beberapa orang sudah mengerubungi mereka untuk melihat apa yang terjadi. Dani mengejar Silvia.
            “Silvia maaf sayang… aku ngga sengaja….”
            “Oke… oke… oke… ugh….” Silvia mengerang kesakitan, ia menutupi lukanya dengan sapu tangan. Dani menarik Silvia ke arah ruang kesehatan. Pagi itu, mereka kembali tidak kuliah.
***
            “Sudah berapa lama kita pacaran?” tanya Rangga di teras rumah Silvia malam itu.
            “Tujuh tahun… sejak aku masih SMP dan kamu sudah SMA,” Silvia tersenyum kecil mengingat masa pertama perjumpaan mereka. Rangga merenggangkan tubuhnya lalu mengambil helm di stang motor Pulsar kebanggaannya.
            “Apa tujuh tahun belum cukup meyakinkan dirimu? Bahwa… pernikahan kita ini memang sebuah keniscayaan. Karena nasib sudah menjodohkan kita lewat benang-benang hening yang kita nikmati berdua.”
            “Bukan nasib yang menjodohkan kita tapi Tuhan…. Tuhan juga yang menentukan apakah nanti kita akan menikah atau tidak. Jadi pernikahan kita bukan keniscayaan.”
            “Udah ah… jangan beretorika terus… sekarang jujur sama aku. Siap ngga kamu buat nikah sama aku?”
            Silvia mengatupkan bibirnya sejenak. Bayangan-bayangan tentang Dani seperti berkelebat jauh di atas kepalanya, menumbuk-numbuk kepastian jiwa Silvia. Namun genggaman lembut Rangga mematutkannya pada sebuah anggukan kecil. Sebuah anggukan yang memaksanya untuk memilih. Mencintai Rangga seumur hidup dan meninggalkan nyawa kecil yang bernapas dalam rongga kesetiaannya.
            “Aku harus pulang secepatnya, ada janji sama pemilik percetakan. Besok kamu lihat hasil undangannya, ya… pasti kamu suka.”
            “Ya…” jawab Silvia kecil. Ia menahan urat-urat matanya mengguyurkan curahan tangis. Sebelum akhirnya Rangga menggas motornya kencang-kencang, keluar dari halaman rumah mungil orang tuanya.
            Silvia bersandar pada tiang kayu teras, mengelus bahunya yang digelitiki oleh desau angin malam. Dingin mengiris kesadarannya yang tipis.
            Bolehkah? Bolehkah jika aku memilih Dani?
            Silvia terisak.
            Tapi aku tak mampu kehilanganmu, Rangga… tak sanggup sendiri berjalan…. Selama ini langkah kita begitu nyata.
            Napas Rangga pecah-pecah pada kenangan cinta mereka.
***
            “Tulislah keluhanmu dengan ini….” Dani menyodorkan sebuah pulpen emas yang berharga mahal. Tinta pulpen itu awet dan tak mudah dihapuskan. Silvia meraih pulpen itu dengan sumringah lebar. Ia memekik girang. Hanya dengan Danilah ia bisa lepas, membebaskan segala gejolak jiwa mudanya. Meskipun Dani baru 22 tahun namun ia bisa mengimbangi Silvia. Ialah yang paling mengerti Silvia.
            “Ayo… katanya pengen banget punya tinta emas… ini mahal, lho.”
            “Mentang-mentang orang kaya, sombong… biar mobil kamu aja aku tulisin! Dani gombal! Dani gombal! Hahaha….”
            “Enak aja… baru di cat nih mobil… sini jidat kamu aku tulisin….”
            “Ngga mau!”
            Silvia terbahak-bahak. Tawanya menyeruak. Pecah dibawa oleh kepakan sayap burung gereja. Dani dan Silvia saling berebutan pulpen, berlarian mengelilingi mobil Honda Jazz Dani. Akhirnya pulpen emas itu hanya didekap di dada. Napasnya terengah. Ia masih dalam nuansa tawa.
            “Pulpennya aku simpan aja, ya… siapa tahu berguna….”
            Dani mengangguk. Membiarkan Silvia melakukan apa yang ia suka.
***
            Rangga menyematkan bros melati di kerah kemeja pink yang dikenakan Silvia. Gadis itu tersenyum manis. Ia menatap undangan pernikahan mereka penuh dengan rekahan bibir. Indah sekali undangan itu, membuat siapapun akan berdecak kagum menantikan mewahnya pesta pernikahan mereka.
            “Bagus banget Rangga… tapi ini foto kita dua tahun yang lalu, kan? Kenapa ngga pakai foto yang sekarang?”
            “Soalnya, di foto itu aku hanya melihat diriku di matamu… entah mengapa. Akhir-akhir ini aku tak menemukan bayanganku di matamu.”
            Jantung Silvia berdegup. Ya… tepatnya satu tahun yang lalu. Pancaran cinta itu meredup. Sejak Dani bertemu dengannya di Mall dekat kampus. Sejak Dani menolongnya dari tangan jahil om-om hidung belang. Sejak Dani mengajaknya berkeliling Jakarta dengan bus kota. Sejak Dani membiarkannya bebas, mendengarkan segala keluh kesahnya tentang Rangga dan sejak itulah sejumput rongga setia telah direnggut oleh Dani. Silvia tersenyum ringkih. Rangga menatap mata Silvia dengan pedih.
            Meski diam-diam, Silvia paham bahwa Rangga bukan lelaki bodoh. Ia tahu bahwa Silvia menduakan cintanya dan ia diam. Diam menunggu cintanya kembali penuh kepangkuannya. Rangga tak marah. Silvia terguncang dalam senyumnya.
***
            Ia tuliskan kalimat itu di sapu tangan putih milik Dani. Sapu tangan yang masih menyisakan seberkas darah di keningnya. Ia tuliskan kalimat itu dengan air mata.
            CINTA AKAN MENEMUKAN TEMPATNYA SENDIRI…..
            Cinta akan menemukan tempatnya sendiri….
            “Cinta akan menemukan tempatnya sendiri, Dan….”
            “Tapi cintaku sudah menemukan tempatnya, di hatimu, Silvia!”
            “Tapi hatiku telah diisi oleh Rangga. Begitu lama terisi sampai sesak rasanya membiarkan ia pergi. Aku tak bisa meletakkan dua cinta pada satu tempat, Dan. Maafkan aku… maafkan.”
            “Aku tak bisa menemukan tempat lain untuk cintaku kecuali hati kamu!”
            “Maaf, Dani! Maaf!”
            Silvia menyelipkan sapu tangan itu ke genggaman tangan Dani. Ia lambaikan satu salam perpisahan tanpa kesan. Ia biarkan air mata bebas mengumbar-ngumbar tariannya di udara. Ia sudah cukup tertekan mengambil keputusan ini. Biarlah kini Rangga yang bersarang di jiwanya. Menyuburkan kesetiaannya sebagai wanita. Menjadikannya perempuan yang memegang teguh pada komitmen. Silvia tak mau dimabuk cinta sementara. Ia yakin bahwa Rangga adalah terakhir dan terbaik. Melebihi segala kebaikan yang pernah Dani berikan.
            Dan ternyata….
            Malam itu kembali langit memecahkan mendung. Rintik pasukan langit menghujam jalanan setapak yang dilalui Silvia. Gadis itu beringsut di pinggir sebuah ruko. Ia menekan nomor HP Rangga. Saat ini yang ia butuhkan adalah Rangga.
            “Rangga… Rangga cepet ke sini, ya… aku butuh kamu.”
            “Kamu kenapa, Silvia?” suara Rangga terdesak di ujung saluran. “Kamu dimana?”
“Di depan ruko-ruko deket kampus….”
Silvia mengigil. Rangga bergegas mematikan HP. Ia keluar dari nyamannya balik selimut kamarnya lalu pergi ke garasi dan menyalakan motor Pulsar besarnya. Disambarnya jaket tebal, jas hujan dan helm. Rangga menyalakan mesin, meraung-raung melintasi suara halilintar. Ia gelisah, pandangannya kacau. Mengkhawatirkan cintanya yang terisak.
 Dani menghampiri Silvia dalam derasnya hujan. Tubuhnya basah kuyup.
“Jadi kamu udah milih dia?”
“Iya… maafin aku, Dan….”
“Oke! Oke! Terserah kamu SAYANG! Terserah! Aku emang cowok bodoh yang cuma mengharapkan cinta dari seorang Silvia!”
“Maafin aku, Dan!”
Dani berteriak keras. Memekakkan telinga Silvia. Ia menendang body mobilnya lalu membuka pintu mobil dengan kesal.
“Pulang, Sil… aku anterin kamu pulang.”
“Ngga… aku ngga bisa bikin Rangga terus sedih. Aku udah banyak nyakitin dia. Aku mau malam ini Rangga yang jemput aku pulang!” Silvia setengah berteriak dalam isaknya.
Dani menahan geram, dengan sedikit menyesal ia masuk ke dalam mobil. Memutar kemudi dengan kencangnya. Mobilnya melesat kencang, melaju gelap malam. Silvia memejamkan mata. Ia berharap ketika mata itu terbuka. Ia bisa melihat Rangga datang menghampiri dan memeluknya. Menenangkan ia bahwa semua baik-baik saja. Namun Rangga tak kunjung tiba. Meski mata itu telah lelah oleh air mata.
***
Suara tabrakan yang keras terdengar di sudut kota Jakarta. Sebuah mobil Honda Jazz yang melaju kencang menabrak Pulsar hitam seorang pemuda.
Silvia terhenyak dalam penantiannya. Hatinya berdebar. Ia berlari.
“Silvia! Rangga! Rangga kecelakaan!” suara panik suara di HP membuatnya tak ingin berhenti berlari.
***
“Rangga! Rangga bangun! Rangga bangun!” teriakan pilu Bu Azizah mengguncang nurani terdalam Silvia. Tubuh itu kini beku, berlumuran darah, basah oleh hujan yang mendera. Tubuh Silvia seolah terpasung sebelum akhirnya yang menghamburkan dirinya dalam kubangan darah. Perawat membawa tubuh Rangga ke ruang ICU namun terlambat. Tak ada lagi nyawa bersarang di sana.
Kini napasnya telah pecah-pecah. Benar-benar pecah. Napasnya pecah-pecah di pelipis Silvia. Napasnya terhenti pada emosi Dani yang menghantam Pulsarnya sedemikian hebat. Dan kini lelaki itu harus membujur bisu. Membiarkan cintanya luluh oleh maut.
Silvia menatap Dani, lelaki itu berjalan terseok dengan luka ringan di dahi dan tangannya. Ia meremas sapu tangan putih yang bertuliskan tinta emas ‘Cinta Akan Menemukan Tempatnya Sendiri.’
Dani menitikkan air matanya. “Aku menabraknya, Silvia… sumpah… aku tidak tahu bahwa yang aku tabrak adalah Rangga! Aku tidak tahu! Demi Tuhan aku tak bermaksud membunuhnyaaaa….!!!” Dani mulai histeris.
Silvia tak mengacuhkan jerit penyesalan Dani. Ia melewati tubuh itu tanpa rasa.
Kenapa Tuhan? Kenapa di saat aku letakkan cinta itu… kau merengutnya?
Dua orang berseragam polisi menahan tangan Dani dan menggiringnya menjauhi rumah sakit. Dani berteriak keras, menjelaga hingga ke dasar koridor rumah sakit.
“Silvia! Aku tidak akan mencintaimu lagi… Aku tidak akan mencintaimu lagi! Tapi aku akan menunggumu! Menunggu cintamu di tempatnya! Di hatiku!”
Bahu Silvia naik turun. Napasnya pecah-pecah. Sembilu oleh desakan waktu.
***
Rumah Pena
26 Januari 2010


Pesan penulis :
Nantikan novel terbaru Achi TM berjudul CLOUD(Y)
Diterbitkan oleh Sheila Book, imprint Penerbit Andi. Launching bulan OKTOBER tahun 2012

APEL YANG TERCECER

Tuesday, January 3, 2012

Ini tulisanku saat masih belajar membuat cernak tahun 2006 wah sudah 6 tahun yang lalu ^_^

APEL YANG TERCECER
~ Achi TM ~

            Di suatu desa yang sangat subur hiduplah seorang pemuda miskin bernama Alen. Dia malas bekerja. Setiap hari Alen hanya berjalan santai mengelilingi jalan setapak perkebunan warga sambil melihat-lihat ke bawah. Berharap ada uang jatuh dari langit atau hasil kebun yang tercecer. Ia selalu membawa keranjang kosong untuk diisi.
            Hampir setiap hari Alen menemukan ada beberapa tomat, cabai segar, buah apel, gandum, dan ketimun yang jatuh dari keranjang petani. Terkadang Alen juga menemukan beberapa keping uang emas yang sudah kotor. Hasil buah dan sayuran temuannya itu sering Alen jual ke pasar dengan harga yang sangat murah dan tentu saja membuat petani lainnya menjadi kesal karena dagangan mereka menjadi tidak laris.
            Alen juga tidak pernah membantu warga yang sedang kesusahan. Bila ada tetangganya yang meminta bantuan, Alen selalu meminta imbalan. Bila tidak diberikan maka Alen tidak mau membantu.
Suatu hari Alen mendapatkan banyak buah apel yang tercecer di jalan. Alen bersiul senang menuju pasar untuk menjual apel-apel itu ketika berjalan di sekitar perkebunan, Alen mendengar ada orang berteriak meminta tolong. Suara itu berasal dari pinggir parit. Alen berlari menghampirinya dan melihat ada seorang kakek tua yang terjatuh ke dalam parit.
            “Anak muda... tolong... tolong aku,” ujar kakek tua itu merintih kesakitan.
            Alen berpikir sejenak sambil mengusap dagunya kemudian dia bertanya. “Kalau aku menolong kakek? Kakek akan memberikan aku apa? Uang, buah, atau sayur?”
            “Aduh... kaki kakek sakit,” ringis kakek itu. Dia menatap Alen dengan iba. “Maafkan kakek anak muda. Kakek tidak punya apa-apa untuk diberikan pada kamu. Tetapi bila kamu mengeluarkan aku dari dalam parit ini, aku akan selalu mendoakanmu selalu sehat dan murah rejeki. Tolonglah anak muda... tolong aku....”
            Alen menggeleng cepat lalu melangkah pergi meninggalkan kakek tua itu yang masih kesakitan di dalam parit. “Enak saja! Memangnya doa bisa membuat aku kaya! Suruh saja orang lain menolong kakek!” ketus Alen.
            Kakek tua itu menangis dalam hati dan berdoa pada Tuhan agar Alen diberikan kesadaran. Keesokan harinya, Alen berjalan lagi di sekitar perkebunan. Di tengah jalan dia bertemu seorang anak kecil yang jatuh dari kuda. Kaki anak kecil itu berdarah dan kudanya juga terluka.
            “Kakak... kakak! Tolong kami! Tolong aku dan kudaku...” ujar anak kecil itu sambil tersedu, “aku dari desa sebelah, kak! Tolong kakiku berdarah sangat banyak.”
            Alen melihat kuda anak kecil lalu menjentikkan jari. “Baik, aku akan menolongmu, tapi kudamu harus diberikan padaku.”
            “Jangan!” bantah anak kecil itu, “kuda itu bukan milikku. Itu punya majikanku. Aku hanya ditugaskan untuk mengantarkan surat pada seseorang yang ada di desa ini.”
            “Wah... kalau begitu maaf. Aku tidak bisa membantumu,” jawab Alen angkuh, “lebih baik aku habiskan waktuku untuk mencari buah dan sayur di sekitar kebun ini daripada membantumu! Huh... rugi! Cuma bikin capek saja!” Alen pun pergi meninggalkan anak kecil itu.
Beberapa minggu kemudian desa Alen dilanda kekeringan. Pohon-pohon tidak lagi berbuah banyak dan sayuran banyak yang layu. Alen tidak menemukan sebutir pun buah dan sayuran yang tercecer di jalanan. Ia pun tidak menemukan sekeping uang pun. Padahal perut Alen sudah sangat lapar dan perlu diisi. Alen berjalan dengan sangat lemah ke arah pasar. Saat melewati balai desa Alen melihat banyak sekali warga berkerumun. Setiap orang yang keluar dari balai desa pasti membawa sekarung gandum dan sayuran. Alen bertanya pada salah seorang warga.
            “Siapa yang membagi-bagikan makanan di balai desa?” tanya Alen.
            “Seorang saudagar kaya raya dari desa sebelah, cepat ikut antri sebelum kehabisan,” jawab warga tersebut.
            Karena begitu laparnya, Alen berlari menuju balai desa dan menyerobot antrian. Dia tidak peduli banyak warga yang protes. Alen berlari menuju saudagar kaya yang sedang membagikan makanan. Namun betapa terkejutnya dia ketika melihat bahwa ternyata saudagar kaya itu adalah seorang kakek tua yang dahulu pernah jatuh ke dalam parit. Di samping kakek tua itu ada seorang anak kecil yang dahulu pernah jatuh dari kudanya. Keduanya pernah meminta tolong pada Alen namun Alen menolak.
            “Ke... kenapa kalian di sini?” tanya Alen gugup.
            “Oh... kamu anak muda yang waktu itu,” jawab si kakek, “maaf kamu tidak kebagian jatah makanan untuk saya bagikan.”
            “Iya, Alen! Kamu, kan, bukan petani. Jatah makanan ini hanya dibagikan untuk petani saja. Kerjamu, kan, hanya memungut hasil kebun yang jatuh!” celetuk seorang warga.
            “Kak,” anak kecil di samping kakek tua angkat bicara kepada Alen, “kakek ini adalah majikanku. Beliau adalah saudagar kain kaya raya di desa sebelah. Waktu mampir kemari beliau pernah dirampok dan dijatuhkan ke dalam parit. Dia kemudian ditolong oleh Kepala Desa. Waktu aku jatuh dari kuda, aku disuruh mengantarkan surat ucapan terima kasih kepada Kepala Desa.” Anak kecil itu menjelaskan. “Sekarang desa ini kelaparan dan Kepala Desa meminta tolong pada Tuanku untuk membagikan separuh rizkinya.”  
Alen menunduk malu. Ia teringat akan sikap malasnya dalam bekerja. Dan betapa kikirnya dia dalam menolong orang lain. Karena tidak kebagian jatah makanan, Alen keluar dari balai desa dengan tangan hampa dan menangis penuh penyesalan. Namun tiba-tiba kakek tua menghampirinya dan menyerahkan sekarung gandum dan seikat sayur.
            “Anak muda,” ujar kakek itu, “ketahuilah. Setelah kamu pergi, beberapa buah apel yang ada dalam keranjangmu jatuh ke dalam parit. Selama menunggu ada orang lain yang mau menolongku, aku sangat kelaparan di dalam parit. Dan berkat buah-buah apel yang jatuh dari dalam keranjangmu itu aku masih bisa bertahan.”
            Alen semakin malu untuk menatap wajah kakek tua itu. “Ta... tapi, kek, buah-buah itu sebenarnya bukan milikku. Itu adalah milik warga yang tercecer di jalan.”
            “Tapi kalau buah itu tidak kamu ambil maka aku tidak bisa memakan buahmu. Bila aku tidak makan maka aku tidak akan punya tenaga untuk bisa berteriak minta tolong. Kalau aku tidak teriak, Kepala Desa tidak akan bisa tahu kalau ada aku di dalam parit. Seandainya saat itu aku mati di dalam parit maka aku tidak bisa membagikan bantuan makanan kepada warga di sini.” Papar kakek tua itu bijak. “Meskipun sebenarnya perbuatanmu itu tidak terpuji tetapi aku harus tetap berterima kasih kepadamu.”
            Dengan hati yang sangat malu, Alen mengangguk dan memahami kesalahannya. Bagaimana seseorang yang pernah ia jahati ternyata menyimpan sisi baik dari dalam diri Alen dan tidak menyimpan dendam. Sejak saat itu Alen berjanji untuk bercocok tanam sendiri dan tidak mengandalkan buah-buah yang tercecer di jalanan. Dia pun menjadi lebih rajin menolong sesama tanpa meminta imbalan. Sampai kemudian Alen menjadi seorang pemilik perkebunan terbesar di negaranya dan menjadi orang yang sangat dermawan.

[Cerpen] Menjelma Matahari - dimuat di Story Magazine bulan Juli/2011

Friday, December 30, 2011

MENJELMA MATAHARI
~ Achi TM ~

      Aku berlari menyusuri udara shubuh yang menusuk tulang rusuk, kakiku masih nyeri, bekas tabrakan motor kemarin. Tapi luka dan nyeri ini tak seberapa besar ketimbang kesedihan hati  Narti. Dia sahabat terbaikku. Kami sudah bersahabat sejak kecil, ia adalah sosok pemimpi dan perempuan paling pejuang yang pernah aku kenal. Yang aku kenal, bukan yang kalian kenal. Ia hidup dalam kesendirian tanpa orang tua sejak usia 12 tahun, tanpa sanak saudara dan ia enggan tinggal dengan sepupu, tante, uwak atau Pak De-nya.
            “Aku tak ingin menjadi beban pun tak ingin berhutang budi. Takut tak mampu aku membalas budi mereka.” Jawab Narti ketika suatu waktu aku mengantarkan makanan untuknya.
            Ia lebih memilih sendiri, menempati rumah sepi di depan sawah luas membentang, yang ditemani pohon-pohon cemara yang setengah meranggas dan pohon kelapa yang tak begitu tinggi. Rumah tinggal kami memang dekat pantai, sejauh mata memandang terhampar perbukitan luas. Bila pagi disibak, perbukitan itu berwarna biru, bagaikan ombak lautan yang menggulung tinggi. Namun bila siang terang, perbukitan itu nampaklah hijaunya. Bila kabut-kabut telah disibak maka keindahan pun dapat disimak.
            Rumah kami berdua dipisahkan oleh lima petak kandang sapi. Bau tai sapi selalu meruar setiap petang, sampai malam menemani dan meringkus hidung kami dengan bau kotoran mereka. Nyengat namun memberikan sensasi. Ah, bila orang kota tiba di sini, mereka mungkin hanya bersungut-sungut dan lekas kabur. Siapa tahan dengan bau kotoran sapi? Kami tahan, karena sejak kecil kami hidup berdampingan.
            Sapi-sapi itu milik orang tuaku, karena tak ingin menjadi budi, Narti memilih menjadi pemerah sapi. Ia bekerja setelah shubuh berkumandang dan selesai sebelum jingga bertaburan di perbukitan. Dibawanya susu perahan itu ke pasar, berjalan kaki dengan semangat penuh. Menemani matahari yang menyongsong menyambut pagi dan dengan senyum merekah Narti selalu berteriak.
            “Selamat pagi matahari!” sambil menenteng termos-termos besar berisi susu-susu segar. Setelah menempuh sepuluh kilometer perjalanan barulah ia bertemu pasar.
            Tak usai ia bekerja, pulang dari pasar Narti memilih turun ke sawah. Ke sawah petak orang tuanya yang hanya terdiri dari 200 meter. Ah, tak seberapa beras yang dihasilkan oleh padi-padi yang tumbuh di atas tanah sekecil itu. Paling hanya mampu digunakan untuk dirinya sendiri. Sesekali ia memburuh, menempelkan pelepah-pelepah pisang kering untuk dijadikan hiasan kerajinan tangan. Peluh, lelah, letih tak ia hiraukan.
            Bila sudah malam dan sendirian, seringkali kudapati Narti tengah membersihkan bandul besar kalung peninggalan kedua orang tuanya. Bila sedang iseng, ingin rasanya kubuka bandul besar itu dan mengintip isinya tapi Narti selalu marah.
            “Mungkin saja isinya emas, Nar! Bisa dijual!”
            “Orang tuaku tidak pernah menyuruhku membuka kalung ini kecuali bila bandul ini terbuka sendiri!” begitu tegasnya.
            Ya sudah, aku biarkan saja ia menjaga dan merawat kalung itu baik-baik untuk kemudian ia pakai lagi. Nampaknya kalung peninggalan almarhum orang tuanya mampu membuat ia terjaga dari mimpi buruk.
            Sekolahnya hanya Paket B, setelah lulus persamaan SMP, ia pun masuk Paket C.
            “Tak peduli aku dengan sekolah bergengsi, yang penting aku punya ilmulah. Tak bodoh-bodoh amat!” jelasnya saat orang tua kami mengajak Narti untuk sekolah di sekolah negeri.
            Sekali lagi, Narti tak ingin berbalas budi. Ah, Narti… keras sekali pendirianmu itu? Bukankah tak baik menolak bantuan orang lain? Tapi sepertinya keputusan Narti benar, setahun setelah aku sekolah SMA, sapi-sapi Ayahku terkena Antraks, tak semua memang tapi cukuplah kami merugi. Menyekolahkan aku dan kedua adikku saja sudah membuat Ayah kami harus banting tulang tiga kali lipat. Baguslah dulu Narti menolak disekolahkan….
            Setelah tak lagi memerah susu, Narti memilih menghabiskan sisa shubuhnya dengan duduk di pinggir aliran sungai kecil irigasi. Menantikan matahari terbit. Tapi ia buta akan arah angin, ia tunggu matahari di ufuk Barat.
            “Narti… matahari tak akan terbit dari arah barat.” Jelasku.
            “Taklah… matahari terbit dari sini! Dulu sekali, waktu aku kecil, Ayahku pernah mengajakku melihat matahari di sini!” tegasnya.
            “Narti… ingatan kamu itu, kan, tak kuat. Lagipula kamu tak pandai benar menentukan mata angin. Percayalah padaku. Ini arah barat! Kalau matahari terbit di barat, kiamatlah kita!” jawabku kesal.
            Tapi Narti bergeming, ia memunggungiku, tetap memandang hamparan Langit yang membentang seolah kubah besar yang menaungi bumi yang bulat. Ya sudahlah, aku putuskan untuk meninggalkannya, berangkat ke sekolah. Tapi diam-diam kudapati air mata Narti menetes ke bawah. Ah… ia pasti teringat dengan almarhum kedua orang tuanya. Apa lagi yang bisa kuperbuat selain memeluknya?
            Benar saja, Narti tak mendapati apa-apa, ia hanya mendapati bulan bulat penuh keemasan yang tegak diiringi bintang gemintang. Langit biru tua yang kekar perlahan-lahan tersibak, seperti robek dan memancarkan langit biru mudah keputih-putihan.
            Bintang kembali ke peraduan sementara bulan menari-nari, bergoyang-goyang kecil seraya mindik-mindik di balik awan. Mengucapkan perpisahan pada malam.
            “Lihat! Lihat! Setelah bulan itu tenggelam matahari pasti terbit!” Narti sumringah.
            “Tapi berapa lamapun kau menunggu, matahari tak pernah muncul dari Barat. Kecuali kiamat! Titik!”
            Narti tetap bergeming.

***
            “Ka, kamu lihat Narti tidak?” Tanya Pak De Mul.
Lelaki yang sudah lama berimigrasi ke tanah Sumatra ini. Narti sendiri bukanlah orang Sumatra asli. Ibunya yang perempuan Jawa menikah dengan Ayahnya yang orang Medan.  
            “Tak tahu, Pak De… memang Narti kemana? Sudah dua hari ini aku belum bertemu dengannya.”
            “Tak tahulah… rumahnya gelap terus….”
            Lantas aku dan Pak De Mul pergi ke rumah Narti. Benar saja, rumahnya gelap terus. Lantas aku mengetuki rumah Narti, tak ada sahutan. Pak De Mul berharap cemas menunggu. Tiba-tiba Narti muncul dari belakang rumah sambil membawa setumpuk pakaian.
            Wajahnya pucat melihat Pak De Mul. Ia menunduk.
            “Narti… kamu!” sekonyong-konyong Pak De Mul memukul Narti. Sebelum ada pukulan kedua, aku segera melindungi Narti.
            “Pak De apa ini!? Tahu begini tak kuajak Pak De ke rumah Narti!”
            “Pantas saja kamu aku panggil tak menjawab! Rupanya kamu mau ingkar!”
            “Apa pula Pak De! Apa Narti? Kenapa? Ada apa!?” aku mulai kesal.
Kurasakan Narti menangis di punggungku.
            “Rika, sahabatmu ini sudah mengkhianati kepercayaan Pak De! Dia bilang mau pinjam sapi Pak De untuk bajak sawah! Tapi nyatanya sapi itu sekarang mati digorok orang!”
            “Pak De tak mau dengarkan penjelasanku! Sapi itu dicuri… dicuri saat aku sedang tertidur!”
            “Makanya kerjamu tak becus! Hilang sapiku! Ganti sapiku! Tujuh juta aku rugi!” Pak De Mul menjulurkan tangan kekarnya ke sampingku, tepat mengenai wajah Narti.
Sekuat tenaga aku menahan lengannya yang besar penuh otot. Apalah tanganku? Tak mampu menahan laju tenaganya yang besar. Jadilah aku didorongnya habis-habisan. Tersungkur di tanah, wajahku terjerembab, tersuruk ke dalam lumpur basah.
            Di sela-sela mataku yang kotor oleh lumpur, kulihat Narti tengah dipukuli oleh Pak De Mul. Kaki lelaki itu menendangi tubuh Narti yang kurus. Kalung bandul Narti terjatuh, susah payah Narti melindungi kalung itu agar tidak diinjak-injak oleh Pak De Mul. Maka aku bangkit dan mendorong Pak De Mul kencang-kencang. Benar kata orang, emosi mampu menjadi manusia lebih kuat. Sekarang aku emosi, tak terima sahabatku dipukuli oleh Pak Denya sendiri!
            “Pak De! Narti itu keponakan kandung Pak De! Dia tak sengaja pula menghilangkan sapi itu, hah! Jangan kejam kau, Pak De!”
            “Aaaa…. Aku ngga peduli! Uang dan saudara tak ada hubungannya! Kalau bulan depan tak kau kembalikan uang sapiku, kuambil rumahmu!” teriak Pak De Mul seraya berbalik badan dan pergi meninggalkan Narti yang menangis sesegukan.
            Berkali-kali Narti menghapus air matanya.
            “Aku tak bohong, Rika! Demi Allah… orang tuaku tak pernah mengajarkan aku berbohong!”
            “Ya… aku mengerti!” aku memeluk Narti lirih.
            Mencuri sepotong roti saja kau tak sanggup apalagi seekor sapi? Batinku perih. Pahamlah aku kini mengapa Narti tak ingin berbalas budi pada Pak De Mul.

***  
            Narti berhenti sekolah, ia memilih bekerja banting tulang untuk menggantikan sapi Pak De Mul yang hilang. Tapi sekuat apapun ia bekerja, pagi, siang, sore, malam. Uang tujuh juta tak mampu terkumpul dalam waktu satu bulan. Maka tanpa ada belas kasihan Pak De Mul merampas rumah Narti. Merebut akte rumah itu dan mengungkit-ungkit masa lalu.
            “Dulu! Aku yang membelikan rumah ini untuk Ibumu! Jadi jangan kau minta lagi! Beruntung aku tidak menagih lagi uang sapiku!”
            Luntang-lantunglah kini gadis itu.
            “Narti, kau, kan sudah besar. Menikah sajalah kau… nanti kukenali dengan anak juragan. Cantik pula kau, tak perlu segan!” timpal Uwaknya Narti, istri dari Pak De.
            “Umur saya baru tujuh belas tahu Uwak, saya masih mau mencari ilmu…. Barat dan Timur saja saya belum paham….” Jawab Narti lalu pergi sambil menenteng tasnya yang penuh dengan baju.
            Uwaknya sendiri tak mau membantu Narti. Suami istri sama saja, menganggap Narti sudah besar. Sudah bisa mandiri! Sudah bisa cari uang sendiri! Ah… Ya Allah… ampuni dosa mereka. Kukira saudara yang kejam hanya ada di sinetron, tapi ternyata banyak yang tak tahu bahwa sinetron dibuat karena terinspirasi oleh kejamnya kehidupan nyata.
            Tak pahamkah mereka tentang kasih sayang sesama manusia? Narti baru 17 tahun! Baru 17 tahun! Sebatang kara dan sendiri. Ia hanya dibekali uang seratus ribu saja.
            “Narti, kau gunakan saja uang itu untuk membeli bilik. Untuk tempat kau bernaung.”
            “Tak usahlah… uang ini akan kugunakan untuk sesuatu….”
            “Narti, kalau saja bisnis Ayahku sudah membaik, aku pasti mengajak kau tinggal di rumahku.”
            “Tak apalah, Ka… hidupku sekarang menjelma malam. Gelap, gulita dan mendung….”
            “Tapi masih ada bulan dan bintang, Narti.”
            “Mana pula ada bulan dan bintang di malam yang mendung?”
            Dan tangisnya pun pecah.
***
            Narti tinggal di gubuk reyot dekat sawah, bila mandi ia pergi berkilo-kilo meter ke sungai, mencari tempat yang agak tersembunyi untuk membersihkan badan. Ia memilih untuk berpuasa dan buka puasa dengan makan umbi-umbian goreng serta air minum gratis dari pemilik warung gorengan.
            Panennya gagal. Padi di sawah milik orangnya habis dilalap hama tikus. Runduklah sudah hidupnya. Ia mencoba tegar seperti perempuan-perempuan perkasa yang sering diliput oleh televisi atau diceritakan dengan mahir oleh penulis novel. Tapi Narti bukanlah tokoh fiksi, ia bisa menangis meleburkan dukanya pada malam hari dan kembali menyekanya ketika menanti matahari.
            Tapi ia tak juga bergerak dari duduk di tepi sungai irigasi. Menghadap ke barat, menantikan bulan hilang dan berganti matahari.
            “Kenapa kau tak mau mendengarkanku, sih? Matahari itu terbit dari Timur! Dan kau sedang menghadap ke Barat sekarang! Cobalah tengok ke belakang!”
            Narti menoleh ke belakang. Semburat jingga menghambur dari balik pepohonan yang tinggi-tinggi dan rimbun yang menutupi kampung kami. Matahari pagi tertutup oleh pepohonan itu, maka Narti tak dapat melihat kemilaunya.
            “Aku tahu matahari dari arah Timur. Dan dulu di sinilah Ayah pernah mengajak aku melihat matahari terbit.”
            “Kau hanya terjebak pada kenangan masa lalumu, Narti! Aku ingat betul! Dulu Ayahmu mengajakmu kesini untuk melihat matahari terbenam! Jangan lagi kau bolak-balik fakta dengan bilang Ayahmu mengajak kau melihat matahari terbit! Aku ada bersamamu saat itu!” aku terengah. Gemas melihat semangat Narti luluh lantak perlahan-lahan.
            “Dulu… dulu Ayah pernah bilang! Kalau Matahari terbit dari Barat maka usailah hidup kita!”
            “Astagfirullah Al-Azim! Narti! Inget Tuhan! Inget Tuhan!”
            Ah… miris hati ini. Jadi selama ini Narti memang berharap matahari akan muncul dari Barat.
            “Mari kita ke arah Timur kampung, kita lihat matahari Narti….” Ajakku tak kuasa menahan pilu.
            Narti hanya menggeleng.

***
            Sudah hampir dua minggu aku tak melihat Narti, aku terlalu sibuk mengikuti bimbingan belajar di sekolah. Sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional. Berdebar rasanya bila menerka-nerka apakah aku bisa Lulus UN? Apakah bisa melanjutkan kuliah? Ah, kusimpan dulu pikiran itu. Baiknya aku menengok Narti. Lama tak kulihat ia pergi ke sungai.
            Benar saja dugaanku, Narti sudah tak ada di sawah, bahkan gubuk kecil yang ada di sawahnya sudah musnah. Lahannya pun kini berganti pohon jagung yang masih kecil-kecil dan seorang lelaki tua, sesepuh kampung kami tengah menyiangi rumput-rumput di pinggiran tanaman jagung itu.
            “Narti kemana, Pak?”
            “Sawah ini sudah dijual kepada saya…. Tak tahulah aku Narti ada dimana.”
            Cemas di tubuhku pun mulai menjalar-jalar. Narti? Kamu dimana? Kemana? Ya Tuhan… lalai sekali aku menjaga sahabat kecilku satu-satunya. Aku terduduk lemas di dekat sungai irigasi. Matahari terbenam dari ujung perbukitan. Ah… iya, kutunggu saja besok shubuh di sini. Bukankah setiap pagi Narti selalu menunggu matahari terbit dari Barat? Ia pasti ke sini.
            Namun lama kutunggu-tunggu, Narti tak juga muncul. Padahal bulan sudah mulai dilalap awan. Kemana Narti? Ah… aku tak boleh menyerah. Maka esok harinya, selepas shubuh bergegas aku mengendarai motor. Agar lebih cepat sampai namun naas, aku menabrak gerobak milik seorang petani. Memang motornya tak begitu rusak tapi kakinya nyeri dan sakit. Tak apalah, kuangkat motor itu dan kudorong menuju sungai irigasi. Nyeri di kaki ini tak seberapa dibandingkan luka hati Narti. Tapi yang kutemui hanyalah kosong. Tak ada Narti di sana. Tak sosok perempuan yang menunggu matahari dari arah Barat.
            Berhari-hari aku mencari sampai sepi mengigit sumsum. Aku rindu akan sosok Narti. Aku rindu bercanda dengannya meski matanya penuh hujan. Aku rindu memberinya nasehat, atau mungkin Narti jengah dengan segala nasehatku? Ujian Nasional yang semakin dekat pun tak kuhiraukan. Hidup tanpa gairah bila menjalani hari tanpa teman bukan?
            Bulan sudah tenggelam, semburat jingga berpendar. Tak ada matahari terbit di hadapanku. Ya, matahari sudah tak bersahabat lagi, ia membiarkan Narti pergi entah kemana. Kulalui pagi itu dengan tercenung menatapi aliran sungai irigasi.
            “Rika….”
            Suara itu!
            Aku bergegas menoleh dan mendapati Narti di depanku. Ya, seharusnya memang begitu bila menjadi kenyataan tapi itu hanya imajinasiku saja. Bukan Narti yang berdiri di depanku tapi adikku. Aku mengernyitkan dahi, ia memegang bunga Matahari yang masih merunduk.
            “Sedang apa kakak di sini? Tak sekolahkah?”
            “Sedang malas… kau sendiri kenapa sekolah bawa-bawa bunga Matahari?”
            “Ada tugas dari sekolah untuk membawa bunga… untung saja ada yang menjual bunga Matahari ini.”
            “Siapa?”
            “Tak tahulah aku… temanku yang membelikan. Katanya penjualnya ada di sebelah timur kampung. Ia hanya ada di situ bila matahari terbit. Selepasnya ia pergi….”
            Rasa penasaranku menggelitik. Kutatap bunga matahari di tangan adikku, bunganya kini mulai merekah menghadap ke matahari. Ah… di sini rupanya kau matahari. Matahari masih bersahabat dengan pagi. Aku tak boleh menyerah…. Besok shubuh, aku akan pergi ke Timur Kampung.
           
***
Langit masih gelap, bintang-bintang masih bertaburan. Penat sudah aku mencari-cari dimana kiranya ada ladang bunga matahari? Setahuku di kampung ini belum ada orang yang berladang bunga matahari. Nampaknya bunga itu bukan komoditas yang dapat dijual cepat dan sepertinya tak terlalu menguntungkan. Tapi aku penasaran, siapa orang yang hanya datang merawat bunganya di shubuh hari dan pergi saat matahari terbit?
Setelah melewati beberapa petak sawah, aku mampu melihat sebuah ladang berukuran kecil, sekitar seratus meter dengan gubuk kecil yang berada tepat di samping ladang itu. Hatiku berdegup. Aku menoleh ke belakang, ke arah barat, Nampak bulan mulai tertutup awan. Ya! Bila bulan sudah tertutup awan maka matahari akan segera terbit, bukan?
Akhirnya aku melihat sosok itu, sosok yang sudah lama kurindukan. Narti berdiri menghadap ke timur, di depan ladang bunga mataharinya yang sepetak. Aku membiarkannya menikmati pagi. Semburat Jingga membelah awan, Langit biru cerah membentang dan perlahan-lahan matahari mengeluarkan kuncupnya dari ujung perbukitan. Lantas menggeliat menampakkan wajahnya lalu seluruh tubuhnya yang cemerlang. Cahaya disambut kicauan burung-burung pagi dan gemerisik dedaunan yang bernyanyi diterpa angin pagi yang lembut. Matahari yang indah… matahari yang megah! Mengepakkan sayap sinarnya ke segala penjuru dunia dan menerbitkan harapan seorang gadis yang hampir dicucuk oleh putus asa.
“Narti!” aku memanggilnya.
Narti langsung berbalik badan. Ia membentangkan tangannya, memunggungi sang matahari. Sinar matahari seolah menembus dari tubuhnya, menciptakan sinar-sinar yang membias pencar ke sana kemari.
“Rika! Lihat! Aku menemukan matahari!”
Air mataku meleleh. Sosoknya begitu ceria kini.
“Uang seratus ribu yang kumiliki. Aku gunakan untuk membeli matahari! Matahari yang bisa menghasilkan minyak yang sangat bagus mutunya. Minyak tersebut bisa digunakan dalam masakan, saus salad, dan margarin. Matahari yang dapat menghasilkan biji! Biji bunga matahari memiliki nilai gizi yang tinggi!”
“Bukankah kau berharap matahari terbit dari barat, Narti?” tanyaku.
“Tak! Tak lagi! Karena aku melihat bunga matahari ini selalu menghadap timur!  Bunga matahari….”
Narti menangis, membuka bungkusan kecil peninggalan almarhum Ayah dan Ibunya. Bungkusan kecil yang selalu dijadikan bandul kalung yang selalu ia pakai. Bungkusan kecil yang berisi bunga matahari. Biji bunga matahari yang tersimpan erat selama lima tahun dan kini ditanam oleh Narti. Ternyata bandul kalung Narti terjatuh saat gadis itu mencoba untuk bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari atas bedeng tapi ia beruntung, jatuh di bawah tumpukan rumput dan jerami. Narti menangis karena tak mati-mati, sementara kalungnya jatuh dan bantulnya pecah. Dari balik bandul itulah muncul bungkusan kecil yang terlipat rapih dan berisi biji bunga matahari. Narti menangis. Aku menangis demi mendengar ceritanya.
“Lihat… selama belum kiamat, kan, Narti! Matahari selalu datang dari arah Timur!”
“Aku akan mengubur malam mendungku dan menjelma matahari….” Tutur Narti sebelum tubuhnya merengkuh diriku.

***

Fresh From Oven* baru euy.
Belum pernah dimuat di media apapun termasuk fesbuk J
Bantul, 27 Agustus 2010
 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati