Pendidikan Kreatif Menyebar Melalui TIK

Tuesday, November 11, 2014

Pendidikan Kreatif Menyebar Melalui TIK
oleh : Achi TM

Dibesarkan oleh Ayah yang seorang guru membuat jiwa mengajar saya pun tumbuh. Meski nasib tak mengizinkan saya untuk kuliah S1 keguruan, saya tetap masih bisa mengajar. Sejak tahun 2007 saya sudah kerap dipanggil untuk mengisi pelatihan menulis di sekolah-sekolah menengah atas. Dari sanalah saya mulai merasakan nikmatnya mengajar. Membagi ilmu dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu kota ke kota lain membuat saya berkeinginan membentuk lembaga menulis sendiri. Beruntung ide ini disambut hangat oleh Alm. Ayah saya. Bersama diknas pendidikan Banten, beliau dan beberapa kawannya sesama guru membidani kelahiran Lembaga Pendidikan dan Talenta Rumah Pena. Saya pun didapuk untuk menjadi ketua harian sekaligus salah satu guru menulis di sana. Di samping guru menulis, ada juga guru bidang komputer, bidang desain dan gambar, dan guru bahasa Inggris.


Sebisa mungkin, saya meminta semua murid yang belajar menulis di Rumah Pena untuk mempunyai laptop. 
Karena di Rumah Pena ada wifi, maka semua tugas penulisan dan catatan materi bisa langsung disampaikan ke email masing-masing peserta. 


Saya punya cita-cita tinggi ingin menjadikan ‘menulis’ sebagai salah satu bidang yang dipedulikan oleh orang tua. Banyak orang tua yang ingin anaknya jago Matematika atau Bahasa Inggris tapi sedikit sekali orang tua yang tertarik menyekolahkan anaknya untuk kursus menulis. Seringkali mereka yang datang untuk mendaftar kursus kemudian batal, adalah mereka yang tidak disetujui oleh orang tuanya. Cap ‘profesi penulis’ akan hidup miskin, sudah melekat pada banyak benak orang tua dan susah sekali mendobrak paradigma tersebut.
Akhirnya karena mengalami ‘minim’ siswa menulis di daerah sekitar Rumah Pena berdiri. Saya mulai melebarkan sayap ke dunia jejaring social. Pada tahun 2010, facebook mulai menjadi primadona banyak orang. Berbondong-bondong remaja membuat akun facebook. Maka saya pun berinisiatif membuka grup facebook RUMAH PENA, yang berisi materi-materi umum menulis gratis, saling berbagi semangat dan sharing karya menulis bersama orang-orang yang berminat menulis di seluruh Indonesia. Ya, facebook berhasil menjangkau banyak peminat kursus, mulai dari dalam negeri sampai luar negeri.






Beberapa screenshoot grup pelatihan rumah pena. Saya memakai akun Rumah Pena. 

Berbagai pelatihan menulis pun kembali bergerak jalan. Muridnya tak lagi dari sekitar Rumah Pena, tapi ada juga yang berasal dari luar kota Tangerang seperti Jakarta, Bogor dan Bekasi. Dalam seminggu saya bisa membuka dua kelas tatap muka dan dua kelas menulis secara online. Kelas menulis secara online ini saya gagas karena banyaknya permintaan dari luar daerah Jawa yang ingin ikut kursus namun tak sanggup pergi ke Tangerang. Mulailah saya membuka grup-grup rahasia di facebook untuk mengajar kelas online. Bila ingin privat, maka kelas dilakukan di ranah chatting Yahoo Messenger. Kelebihan dari chatting di fb dan YM adalah, hasil belajar mengajar bisa langsung disave. Ini memudahkan murid dan saya selaku guru untuk membaca ulang apa yang sudah dipelajari. Dalam FB, mudah juga untuk mengirim file berisi naskah-naskah karena ada fitur yang mendukungnya. Bagaimana dengan mereka yang tak punya FB atau YM? Mereka bisa menggunakan BBM. Ya, saya punya 3 murid dalam BBM saya.

Saya tak pernah menyangka bahwa facebook bisa memberikan perubahan besar bagi banyak orang. Khususnya dalam dunia literasi ini. Ada sebuah kejadian yang mengharukan buat saya. Berawal dari sebuah status anggota grup Rumah Pena yang kecewa karena jarang sekali diadakan pelatihan menulis di daerahnya Bireun, DI. Aceh. Saya memberikan komentar singkat : kalau tidak ada, kenapa tidak buat?
Dari saling berkomentar itulah, Vie Rynov, sang pembuat status menjalin komunikasi dengan saya via chatting FB. Tak diduga, ia tertarik mengikuti kursus membuat novel yang saya adakan di Jakarta. Bersama suami dan satu rekannya, ia terbang ke Jakarta selama dua malam untuk mengikuti kursus singkat membuat novel. Pertemuan kami tak berakhir di sana. Dua bulan kemudian dia membentuk Lembaga Talenta yang dinamakan Rangkang Sastra, dan mengundang 4 staff pengajar Rumah Pena untuk terbang mengisi pelatihan menulis perdana. Termasuk saya salah satunya. Dari teknologi internet yang tanpa batas, berhasil membawa saya menjejakkan kaki ke tanah leluhur Alm. Ayah saya.


Pelatihan menulis di Bireun Aceh, bermula dari jejaring sosial facebook.

Di sana pulalah, Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (AGUPENA) Bireun diresmikan oleh ketua umum AGUPENA, Naijan Lengkong. Satu yang membuat saya terharu adalah, ketua umum pertama AGUPENA adalah alm. Ayah saya, Achjar Chalil. Ini seperti menyambungkan benang merah. Karena Vie Rynov tidak tahu bahwa ayah saya adalah ketum AGUPENA yang pertama. Sebuah kebetulan yang indah Rumah Pena yang dibidani ayah saya bisa bersanding dengan AGUPENA. Semua hal luar biasa ini terjadi karena sebuah jembatan penghubung jejaring social bernama : Facebook!
Merasa terbantu oleh keberadaan internet, saya pun mulai membuat blog dengan serius pada awal tahun 2011. Dalam blog ini saya menuliskan banyak motivasi menulis untuk mereka yang membutuhkan semangat menulis. Memberikan beberapa ilmu kepenulisan. Khususnya ilmu kepenulisan naskah scenario. Saya menunjukkan synopsis FTV untuk dipelajari kemudian memperlihatkan video FTV yang sudah jadi sebagai bahan pembelajaran. Saya yakin, dunia menulis semakin dinamis.


Salah satu video FTV yang saya posting di blog saya untuk bahan belajar bersama.

Semakin hari semakin bermunculan calon-calon penulis yang membutuhkan guru untuk bisa mengantarkan mereka pada industri penulisan kreatif. Karena dari kegiatan nge-blog saya, saya bisa menjangkau banyak pembaca. Bahkan saya kedatangan 2 murid dari Makassar, yang terbang ke Tangerang dan memilih homestay di Jakarta agar bisa belajar menulis novel dan scenario bersama saya.
Teknologi juga yang membantu saya untuk mengakomodir naskah murid-murid saya. Setiap mereka mengirimkan naskah ke email saya biasa menyimpan di folder khusus. Kemudian memberikan masukan lewat email atau chatting. Youtube telah membantu saya menunjukkan hasil syuting naskah skenario yang kami pelajari dan buat bersama, meski jarak kami berjauhan satu sama lain. Karena dalam mengajarkan menulis saya tak semata memberikan teori tetapi langsung praktek dan terjun ke dunia industri kreatif.

Saya senang karena banyak murid saya yang akhirnya menjadi penulis buku islami, penulis scenario di berbagai PH, menjadi penulis cerpen, penulis novel bahkan ada yang akhirnya menjadi guru ekskul menulis di sebuah SMPIT. Besar harapan saya, kelak kegiatan menulis tak lagi dipandang sebelah mata. Karena profesi penulis adalah profesi yang menjadi tonggak dari industri kreatif.

Sebuah film butuh penulis naskah, sebuah lagu butuh penulis lagu, sebuah iklan butuh penulis, industri buku dan media butuh penulis, apalagi industri internet, berbisnis lewat blog dan lain sebagainya tetap butuh penulis. Sebagai guru menulis, cita-cita besar saya tak pernah padam. Membuka gerbang kesuksesan bagi mereka yang membawa impian ingin menjadi penulis. Saya akan antar… sampai mereka bisa berjalan dengan pena mereka sendiri.












 Beberapa foto aktifitas saya menggunakan TIK dalam mengajar penulisan kreatif.

Yuk ikutan ini 

Tulisan ini saya ikut sertakan dalam lomba Guru Blogger Inspiratif 2014


***



Anak Nongkrong Otaknya Kosong?

Wednesday, November 5, 2014

Saya udah lama banget ngga nulis blog, padahal sebenarnya banyak yang mau saya tulis mulai dari motivasi menulis sampai pengalaman nulis tapi ya... untuk pemanasan saya mau curhat dulu di blog saya sendiri. Mudah-mudahan ada yang mau baca dan mau ninggalin jejek hehehe.

Malam ini saya kepikiran soal anak nongkrong. Bukannya mau sok suci dengan bilang waktu remajaa dulu saya gak pernah nongkrong. Bukan pernah lagi, saya bahkan kalau sehari ngga nongkrong ga keren rasanya. Well... nongkrong di wc maksudnya? Ya nggalah! Tapi nongkrong di pinggir jalan gitu deh.

Secara nih ya, dulu saya tomboy banget dan pernah pengen jadi cowok. Ih amit amit kalo inget keinginan itu mah. Jadinya saya suka bergaya macho, pakai celana terus, pakai topi, kalau lagi pake jilbab pun suka ditutupin sama tudung jaket yang gede. Waktu saya kecil, saya suka memerhatikan kok sepertinya jadi anak nongkrong itu enak.

Dari sejak kecil, saya ngga pernah boleh main lewat dari jam 9 malam dan itu membuat saya kesal. Waktu kelas 3 SMP saya akhirnya memberontak. Saya nongkrong... di teras rumah temen hehehe. Biasa nongkrongnya sesama anak cewek gimana, sih? Kalau ngga ngobrolin orang, ngobrolin fashion ya makan bakso. Saya paling males ngomongin orang kecuali orang yang saya sebelin... jiah sama ajah. Itu duluu jaman Kuch Kuch Ho hai masih hot hotnya. Lalu saya pengen merasakan nongkrong sama teman-teman cowok, awalnya cuma lucu-lucuan, jongkok di pinggir jalan ngobrolin hal gak perlu tapi waktu itu rasanya kok keren. Aneh!

Nah, setelah tahu nongkrong itu ga berguna, cieee... abis males aja nongkrong terus-terusan. Yang diobrolin duniawii terus. Baju baru lah, sepatu baru, pacar baru, dan nyebelinnya cowok-cowok itu suka ngerokok. Akhirnya saya menjauh. Lebih tepatnya nyesek sih karena saya jomblo. Soalnyaa kalau cewek ama cowok pada nongkrong pasti ada aja yang jadian, akhirnya yang jomblo kayak saya bakalan jadi obat nyamuk bakar. Tau kan obat nyamuk bakar? Cuma diam sambil ngebul-ngebul.

Tapi emang dasar suka bergaul, akhirnya saya pilih nongkrong di masjid heheh. Kalo ini bukan nongkrong tapi duduk-duduk. Jadi panitia masjid, terus lanjut jadi panitia karang taruna. Nah waktu jadi ketua Karang taruna saya merasa bebas banget. Jam terbang saya bisa sampai jam 2 malam. Bayangin aja sehari bisa rapat sama Pak Lurah dan staffnya, malam rapat sama RT dan RW, terus ada rapat-rapat lagi dengan Karang Taruna RW lain yang mana mengakibatkan saya harus 'nongkrong' lama.

Paling bete kalau lagi rapat sama staff RW, saya jadi perawan sendirian di sarang bapak-bapak. Untungnya Bu RW mau nemenin saya dan bawain kue, kalau ngga saya mengundurkan diri aja deh jadi ketua karang taruna. Nah, setelah 4 tahun masa jabatan saya, akhirnya saya mangkat dan pergi nikah. Setelah kepergian saya, Karang Taruna RW sempat jalan setahun dan aktif tapi setelah itu ketuanya entah ke mana. Sedih deh karena regenarasinya gatot.

Nah, jiwa-jiwa membangun pemuda ini masih nempel sampai sekarang. Mirisnya Karang Taruna tidak lagi dilanjutkan di daerah saya seiring dengan bergantinya Pak RW. Akibatnya, buanyaak anak-anak ABG yang kehilangan arah dan jadi butiran debu.

Well, akhirnya mereka nongkrong-nongkrong tak tentu arah. Kalau dulu saya melihat yang nongkrong itu adalah remaja tua yang udah SMA ke atas, sekarang saya sering melihat anak SD udah nongkrong! Wow... SD kan harusnya main gobak sodor, petak umpat atau apalah ini kenapa nongkrong sambil main kartu, judi, ngerokok dan pacaran? Rasanya saya mau ngamuk-ngamuk aja melihat lingkungan saya seperti ini. Tapi apa daya saya tak memegang jabatan apa-apa. Inilah sebenarnya salah satu keuntungan punya jabatan, kita bisa punya bekingan.

Waktu saya jadi ketua RW Karang Taruna saya dikasih petugas keamanan cowok-cowok keren (bukan ganteng-ganteng serigala sih) meski tak ada satu pun cowok itu yang naksir saya, yaiyalah saya kan galak. Nah, saat punya bekingan begitu saya biasa 'grebekin' anak-anak nanggung yang nongkrong gak jelas. Banyak yang bukan anak RW saya nongkrong di sudut RW sambil bawa cewek, ngerokok dan mereka saya usir-usirin. Pergi! Saya punya keamanan, satpam pun saya libatkan. Sampai saya grebek sebuah rumah kosong yang isinya anak-anak SMA yang berdua-duaan pacaran entah ngapan. T_T aah mau nangiss deh karena pergaulan udah kacau banget.

Lebih kacau sekarang, anak SD udah melakukan hal-hal seperti itu. SMP awal juga mulai begitu. Anak-anak yang dulu saya lihat masih bayi tumbuh jadi anak-anak tukang nongkrong yang kegiatannya main gadget, ngerokok, pacaran dan ngomong kata-kata kotor. Saya sedih, berusaha melakukan pendekatan dengan berbagai cara tapi tetap saja tidak digubris. Bahkan saya beberapa kali protes ke RT untuk mengusir anak-anak nongkrong itu, si RT-nya langsung lemes bilang : Udah capek, Mbak, susah dibilangin/

Padahal mereka cuma anak-anak, apa susahnya tegas sedikit? Saya pun mengumpulkan banyak pasal-pasal tentang bahaya merokok bagi anak dan larangan membiarkan anak menghisap nikotin. Saya bahkan pada titik capek nasihatin baik-baik, mengancam akan membawa anak-anak itu ke kantor polisi jika masih merokok.

Mereka lumayan syok juga meski saya gak tau apakah baik hal begitu T_T abis udah parah banget. Saya juga ngga tahu polisi mau peduli atau tidak dengan kasus anak-anak yang merokok. Lantas semakin sering saya melihat anak-anak SMP merokok sambil nongkrong, anak-anak SMA nongkrong. Saya kepikiran, apakah otak mereka kosong karena kebanyakan nongkrong? Saya ingat-ingat diri saya dulu, otak saya baik-baik saja karena saya bukan nongkrong addicted... tapi banyak teman saya yang suka nongkrong saban malam sambil ngerokok sejak SMP yang akhirnya cuma jadi maaf : buruh kasar, pekerja kasar, marketing yang karirnya mandeg, pemadat, pekerja serabutan, kuli bangunan, tukang sampah atau banyak yang dapat kerja bagus tapi hasil titipan orang tua. Parahnya lagi banyak yang hamil di luar nikah.

Seandainya saja dulu mereka ngga banyak nongkrong saya yakin kehidupan mereka akan lebih baik dan karir mereka akan melesat jauh. Seandainya dulu saya ngga sempat nongkrong negatif mungkin saya bisa menghasilkan banyak karya tulis yang bermanfaat, macam anak-anak SMP jaman sekarang yang sudah nelurin banyak buku.

Memang tak semua anak nongkrong otaknya kosong, banyak yang dari nongkrong meluaskan pergaulan tapi nongkrong yang mana dulu? Nongkrong produktiflah. Kalau hanya nongkrong bengong, godain cewek dan ngerokok gak jelas... saya gak jamin mereka bisa sukses JIKA mereka tidak segera sadar dengan kesalahan mereka.

Jadi kesimpulannya nongkrong itu ngga apa-apa dalam hukum indonesia asal tidak menganggu orang, tapiii sia-sia banget kalau nongkrongnya tidak produktif. Nah, Menteri Pemuda dan Olahraga nih plus Menteri Sosial harus turun tangan untuk merubah pola nongkrong negatif ini yang udah mendaraaah daging ini. Daripada nongkrong enaknya kan ngumpul sambil main ping pong, bulu tangkis, dan catur. Tapiii nongkrong juga ada batasnya. Jangan kebablasan apalagi kalau sampai jadi bapak-bapak masih hobi nongkrong sampai pagii... ngga manfaat banget. Karena banyak bapak-bapak di lingkungan saya begitu, nongkrong sampai pagi main kartu dan entah ngapain semalaman, paginya udah malas kerja.

Nongkrong negatif menciptakan kemalasan...

aaah jadi ngalor ngidul hehehe. Maap kalau tulisannya ngaco, karena memang hanya mengeluarkan uneg-uneg dan curhat semata ^^ mending nongkrong di depan laptop yaa, jadi tulisan :p atau nongkrong di blog hehehe

Salam
Achi TM
Penulis novel HATI KEDUA
mau belajar nulis? Call me 085643376193


Ternyata Saya Tetap Hidup dari Menulis

Sunday, June 29, 2014

Ada masanya ketika kehidupan rumah tangga berada dalam tingkat ekonomi rendah. Tahun ini saya mengalaminya. Awal tahun ini semua aliran rejeki-Nya mendadak macet. Mulai dari honor nulis buku senilai 10 juta yang mandeg, honor nulis skenario 20 jutaan yang juga mandeg sampai royalti novel yang ternyata di luar ekspektasi.

Fyi, saya dan suami full bekerja sebagai penulis di rumah. Apa saja kami tulis asalkan halal dan membawa kebaikan. Tapi apa daya semua janji honor macet, tentu di luar dari rencana kami. Sementara uang tabungan terus terkuras seiring kebutuhan rumah tangga dan bisnis kursus Rumah Pena.

Well akhirnya di Bulan April sampailah pada satu titik tabungan kami habis. Sebenarnya hal spt ini sudah sering dan biasanya pula selalu ada honor masuk atau royalti buku dari 15 buku yang saya tulis dengan sistem royalti. Tapi april kemarin semuanya benar benar tersumbat. Akhirnya mengandalkan gadai emas.

Sampai sisa uang di saku hanya 100 ribu, anak bungsu yang baru 10 bulan sakit dan harus berobat. Awalnya kita sangsi, ngga ada duit nih buat berobat. Tapi saya dan suami akhirnya selalu ingat bahwa pertolongan Allah itu dekaat banget. Udah deh yakin aja Allah pasti kasih pertolongan. Then, dengan mobil hasil menulis selama bertahun-tahun kami pun meluncur ke klinik anak.

Sempat kepikiran untuk menjual mobil saja, atau papa kembali kerja di kantoran. Kebetulan banyak PH yang minta papa kembali ngantor tapi papa memilih freelance. Saya bahkan kepikiran ngelamar kerja aja. Aahh padahal orderan nulis dari penerbit masih numpuk. Sempat terbersit mungkinkah rejeki dari menulis sudah habis?

Saat sedang bimbang sambil menunggu anak dipanggil masuk ke ruang dokter, saya melihat teman lama sma sedang berbincang di depan klinik si dokter. Saya ijin ke suami untuk menyapa teman saya sementara suami pegang anak-anak. Ternyata teman saya itu lagi ngobrol sama pengusaha muda di Tangerang. Dilalah... Pengusaha itu nanya apa profesi saya. Spontan saya jawab saya ini penulis paligada, apa lu mau gua ada hahha... Sungguh kekuasaan Allah, orang yang baru sya kenal itu langsung minta no rekening saya. Katanya mau order bikin buku. Dia punya naskah mau mau menerbitkan sendiri. Saya yang rapihin tulisannya, urus editing, ilustrasi sampai cetak. Saya melongo setelah kita nego harga dalam waktu 1 menit dia langsung transfer ke

Ini adalah Lele Bule yang berdiri di bulan Mei di bawah asuhan si "dukun' UKM. Gambar di bawah adalah buku Pendekar UKM yang saya urus. 


rekening saya 50% dari jumlah kesepakatan biaya menulis.

Saya bengong. Dia baru kenal saya. Kok dia percya aja sama saya? Dia ngasih liat bukti transfer e banking di hpnya. Saya manggut2 kaku. Kebetulan anak saya dipanggil dan giliran masuk periksa. Saya pun pamitan dan janji untuk ketemuan lagi 2 hari kemudian. Si pengusaha memberikan tulisannya untuk saya rapihkan dan saya urus proses terbitnya di Rumah Pena Publishing.

Setelah periksa ke dokter, saya ajak suami sya ke atm dan cek saldo. Allahu akbar memang ada jumlah uang seperti yang tadi ditransfer pengusaha itu! Jumlahnya pas untuk biaya hidup layak di kota Tangerang selama satu bulan. Saya nangis haru, Allah ternyata mau saya tetap menulis. Saya dikasih rejeki durian runtuh dari menulis.

Siapa yang menggerakkan hati pengusaha muda itu? Allah! Siapa yang mempertemukan kami? Allah. Maka janganlah takut tak ada rejeki. Ketika kita pasrah dan yakin, Allah pasti kasih.

Setelah buku si pengusaha itu rampung dia langsung pesan diurusi 1 buku lagi kemudian dia membiayai saya dan suami ikutan seminar bisnis. Dari seminar itulah, suami saya lantas membuka usaha Lele Bule. Saya bersyukur karena Allah mempertemukan saya dengan orang hebat seperti sang pengsaha muda itu. Dia adalah Azmi Ramadhan si Dukun UKM.

Ternyata saya tetap hidup dari menulis. Jadi kalau ada yang tanya : emang bisa hidup dari nulis aja? Saya tegas jawab YA! Karena yang kasih rejeki itu Allah bukan penerbit bukan PH bukan bos kita tapi Allah. Dia memberi rejeki lewat perantara siapa saja. Alhamdulillah masa masa ekonomi sulit berhasil kami lewati dan kini saatnya terus berubah memperbaiki kualitas hidup.

Salam pena!
Achi TM 

Antara Anne Shirley dan Sebuah Novel Islami Yang (menurut saya) biasa banget.

Monday, March 10, 2014

Antara Anne Shirley dan Sebuah Novel Islami Yang (menurut saya) biasa banget.

            Saya bukan pembaca buku yang pandai. Dulu waktu kecil, cita-cita saya ada 2, ingin menjadi komikus dan sastrawan. Akan tetapi referensi bacaan saya sedikit sekali, maklum Alm. Ayah saya guru SMK yang Insya Allah jujur, dengan 5 anak kecil yang harus dibesarkan, membeli buku termasuk hal mewah. Bahkan untuk berlangganan majalah Bobo saja hanya tahan beberapa edisi, sisanya saya harus nabung mati-matian untuk bisa punya buku dan majalah. Sejak SD, saya dan saudara-saudara saya sudah disuruh nyari uang sendiri. Kami akan dikasih uang saku kalau kami bekerja –dari sinilah saya belajar arti kerja keras-. Kalau mau membeli buku saya harus jadi loper Koran yang setiap jam 5 shubuh keliling 1 RW untuk memberikan Koran ke pelanggan. Kebetulan Ayah saya nyambi bikin agen Koran untuk menambah-nambah penghasilan. Jadi guru SMK di tahun 1990-an belumlah sesejahtera jaman sekarang.
            Saya pernah juga membantu Mama yang jualan air mineral gallon, mengantar gallon ke sana kemari, meski menepikan rasa malu sebagai ABG cewek yang baru tumbuh. Di saat anak-anak lain sibuk ke Mall, saya sibuk nabung dan kerja Cuma buat beli buku. Ayah saya sering bilang ke anak-anaknya. Urusan sekolah dan makan, semua ditanggung Ayah. Urusan senang-senang kayak beli Diary, buku, ke Mall dan lain-lain harus kerja dulu. Digaji dulu….
            Nah, dari sanalah, akhirnya saya condong untuk lebih banyak baca majalah Bobo bekas, di dekat SD saya ada tukang loak. Sesekali beli Bobo baru. Tapi setiap hari saya wajib baca Koran karena selama beberapa tahun Ayah jadi agen Koran, otomatis baca Koran jadi bacaan rutin. Dari uang yang saya punya, saya bisa beli komik-komik murah, donal bebek, petruk, mister Q, Pansy dan lain sebagainya. Sisanya hanya bisa beli novel-novel remaja dan novel anak yang murah. Sampai kuliah pun begitu, koleksi buku saya minim sekali. Koleksi perpustakaan sekolah saya pun minim banget. Gak kerenlah. Akhirnya saya sering nebeng baca komik sama tetangga yang kaya raya, sisanya saya jadi kerja jadi “tukang nagih denda buku” di sebuah rental komik langganan saya. Lumayan sekali dapat denda, saya bisa dapat puluhan ribu. Si pemilik rental sih santai aja, dia Cuma minta sedikit bagian yang penting koleksi bukunya balik.
            So’ jadi wajar (saya mewajarkan diri sendiri hehehe) kalau saya bukan pembaca buku yang pandai khususnya ngga pernah baca buku-buku klasik. Buku-buku terkenal seperti Life of pi, Old Man (apa ya lupa), terus Romeo Juliet, Mockingbird, dan lain-lain saya ngga bisa tuh bacanya. Bahkan buku-buku detektif terkenal penulis cewek luar negeri, saya ngga pernah baca. Karena saya memang ternyata lebih suka dengan komik, visualisasi, audio dan agak ngga ngerti baca buku terjemahan. Belakangan saya paham, bahwa ternyata bukan saya yang OON, ternyata ngga semua buku terjemahan diterjemahkan dengan baik dan bagus. Buktinya, setelah saya punya uang dan agak mapan, saya beli buku terjemahan banyak-banyak dan saya bisa ambil kesimpulan. Ada buku yang diterjemahkan dengan baik ada yang tidak.
            Saya tipe orang yang Cuma mampu baca buku terjemahan yang diterjemahkan dengan baik hehehe. Jangan suruh saya baca buku versi asli, karena bahasa inggris saya jongkok banget. Ngga bego-bego amat, sih, Cuma ngga punya motivasi kuat aja buat memelajarinya dengan semangat.
            Nah! Akhirnya, setelah agak mafan, pada suatu waktu saya memborong banyak novel klasik. Salah satunya adalah novel Anne Shirley before Green Gables. Kayaknya sih dia ngga klasik karena ditulis sama penulis masa kini, prekuel Anne Shirley begitulah. Singkat kata, setelah saya beli buku itu 2 tahun lalu, saya hanya membaca halaman awalnya dan udah pusing. Hadeh, kalimatnya membosankan, model-model buku klasik. Akhirnya saya tutup.
            2 Tahun pun berlalu, sungguh, saya sudah kehabisan bahan bacaan dan ngga sempat-sempat ke Gramedia. Akhirnya iseng ambil kembali buku Anne Shirley, awalnya say abaca sesekali saja, tapi semakin ke dalam ceritanya semakin asyik. Kenapa?
            Karena saya ingat masa kecil saya. Duluuuuuuuuuuuuu waktu kecil, saya kira orang tua saya jahat karena saya dipekerjakan hehehe, tapi sejak saya nikah saya paham bahwa orang tua saya sengaja memperlakukan anak-anaknya begitu supaya ngga manja. Duluuuu saya kira saya anak kecil yang menderita, sampai kemudian saya pernah baca komik Pansy tentang anak kecil yang hidup sendiri di hutan karena ortunya meninggal. Si Pansy yang sudah anak-anak ini pun hidup menderita saat dibawa pergi ke kota. Perjuangannya untuk menjadi Lady, benar-benar memecut semangat masa kecil saya untuk jadi Lady juga, eh, ternyata sampe sekarang ngga pernah jadi Lady L yang ada juga Lady gembrot.
            Nah, kembali ke novel Anne Shirley. Ternyata novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang ditinggal meninggal kedua orang tuanya sejak masih bayi, sungguh tragis emang dan sedih banget. Dia diambil/adopsi oleh pembantu rumah tangga ibunya, si pengadopsi ini berharap bisa mendapatkan barang-barang mewah orang tua Anne Shirley karena sudah mengadopsi si Anne tapi ternyata tidak. Apalagi si pengadopsi yang bernama Mrs. Thomas ini punya suami yang suka mabuk-mabukan yaitu Mr.Thomas.
            Entah apes atau apalah namanya, setelah mengadopsi si Anne Shirley, Mrs. Thomas yang sudah punya 3 anak gadis ini malah hamil. Hamilnya pun berturut-turut, setahun 1 anak. Sampai Anne berusia 5 tahun, Mrs. Thomas punya 4 bayi laki-laki. Walah walah… sampai di sini saya sudah berpikir bahwa si Anne pasti akan melewati masa sulit. Benar saja, ia kehilangan masa kanak-kanaknya, bayangkan di umurnya yang baru menginjak 4 tahun ia sudah disuruh merawat bayi, disuruh nyuci popok dan mengupas kentang.
            Saya jadi ingat masa kecil saya, umur segitu saya sih masih pake kutang dan lari-larian dengan rambut kepang. Saya jadi merasa masa kecil saya lebih indah ketimbang si Anne Shirley ini. Uniknya, dia punya segudang imajinasi. Banyak imajinasi. Saya pun jadi ingat memori masa kecil saya, saat saya lagi mencuci piring saya juga suka berimajinasi bahwa saya ada di negeri busa, saya punya pasukan bernama piring, gelas dan sendok. Eh, Si Anne gitu juga ternyata.
            Kalau sedang mengantar Koran, saya selalu berimajinasi sedang balapan naik motor di pagi hari atau naik kuda Pegasus sambil melempar Koran ke rumah pelanggan. Si Anne pun begitu, saat dia lagi mencuci popok, dia berimajinasi jadi puteri.
            Ah, dari segi cerita memang agak membosankan, terlalu detail, nyaris konfliknya ngga terlalu menukik. Tapi dari segi gaya bahasa, penceritaan, diksi dan karakter Anne, saya jatuh cinta. Saya jatuh cinta dengan deskripsinya, narasinya, dialognya. Indah banget. Saya jadi menyesal kenapa ngga baca novel ini 2 tahun yang lalu. Setelah menyelesaikan Anne Shirley itu saya bahkan terbawa-bawa dengan gaya bahasanya, saya mendapatkan mood nulis yang bagus dan belajar beberapa gaya menulis yang baru dan indah.
Saya pun buka –buka internet dan melihat ternyata novel Anne Shirley-nya yang ditulis Lucy M Montgomery, katanya lebih bagus. Gaya bahasanya lebih indah. Waaah saya jadi penasaran dan langsung berburu ke gramedia, sayang ngga ada. Ujung-ujungnya saya pun memesan online.
            Sambil menunggu kiriman, saya lalu kehabisan bacaan. Kebetulan saya sedang di rumah mertua di Jogja dan hanya membawa sedikit novel. Saya menuntaskan Anne Shirley di rumah mertua saya, komplit banget, bahasa yang indah dan suasana kampung yang syahdu. Lalu saya melihat ada novel karya penulis fenomenal. Penulis Indonesia yang novelnya laris ratusan ribu eksemplar, dijadikan film dan buku-bukunya juga dijadikan sinetron. Saya pikir untuk novel yang megabestseller itu karyanya bagus, gaya bahasanya indah, dan saya pikir novelnya yang lain, saya sedang say abaca pun juga akan bagus.
            Tapi ternyata saya menemukan kekecewaan mendalam. Novel ini, novel yang sudah difilmkan dan laris ratusan ribu eks ternyata gaya bahasanya jelek banget. Deskripsinya jelek, narasinya jelek. Aduh saya sok tahu banget ya mengatai seorang penulis besar dengan tulisan jelek hehehe. Kebetulan saja mungkin say abaca bukunya yang memang kurang bagus. Saya pun akhirnya menyadari satu hal : ternyata bukan tulisannya yang jelek, tapi karena saya baru saja menyelesaikan novel Anne Shirley, saya terbawa euphoria keindahan novel itu.
            Sehingga saat say abaca novel penulis Indonesia itu saya syok karena secara kualitas jauh panggang dari api, kayak langit dan bumi. Padahal itu adalah novel islami. Ya, yang saya suka dan saya kagumi, novel itu punya nilai lebih ketimbang Anne Shirley, tentu saja mengajarkan pemahaman-pemahaman islam dengan baik. Tapi gaya berceritanya lebih bagus novel Anne Shirley. Akhirnya saya membaca novel yang saya tulis sendiri dan manggut-manggut. Ternyata novel saya juga punya gaya bahasa yang jelek! Jelek!
            Ternyata saya juga harus banyak belajar menulis, tulisan saya juga masih kalah bagus dari Anne Shirley. Saya jadi yakin dan paham kenapa cerita Anne Shirley bisa bertahan sampai 100 tahun dan punya banyak penggemar. Jujur saya memaksakan diri membaca novel islami yang menurut saya biasa banget itu karena ada cover actor idola saya sebagai tokoh utama di novel itu. Saya kan penggemar dia juga hehehe….
            Tapi dibandingkan sama novelnya yang MegaBestseller yang filmnya pun laris di mana-mana, novel yang say abaca ini jauh berbeda kualitasnya. Kalau boleh jujur, bagusan novel yang MegaBestseller itu. Dari segi bahasa maupun cerita. Yaaa…. Dari sini saya belajar satu hal.
            Belajar untuk lebih membuka wawasan membaca saya. Mungkin selama ini saya cupet (istilah saya ya kurang update gitu) kurang buka wawasan sehingga bacaan yang say abaca Cuma novel-novel islami yang  kualitas bahasanya biasa aja. Pantes tulisan saya jadi biasa-biasa aja. Banyak novel islami yang keren, punya gaya bahasa bagus dan wajib saya pelajari. Saya bahkan belum baca novel klasiknya Buya Hamka, novel klasik islami lainnya juga belum say abaca. Jadi saya kemana ajaaaa? Plaaak!
            Jadi ceritanya, isi blog yang saya tulis ini hanyalah sebuah curahan hati atas kegelisahan saya mengenai kualitas penulis-penulis dalam negeri. Termasuk saya sendiri. Well… jadi penulis memang tidak bisa cepat berpuas diri. Harus terus menggali dan menggali bahan bacaan lain. Lebih banyak lagi dan lagi supaya kita tahu diri. Tahu bahwa tulisan kita masih cupet, masih picik, masih biasa banget. (SUMPAH INI NASIHAT BUAT SAYA SENDIRI)
            Saya tidak menyalahkan masa kecil saya yang kurang fasilitas. Toh banyak di luar sana penulis yang tumbuh dari kekurangan juga tapi bisa mendapat akses bacaan yang banyak. Saya murni menyalahkan diri saya sendiri yang terlalu “bodoh” untuk mau memahami bacaan-bacaan terjemahan atau sastra klasik Indonesia.
            Lalu saya pun memahami, mengapa seorang penulis wajib banyak membaca. Agar dia bisa berkata-kata dengan indah dan menghanyutkan pembacanya. Cita-cita saya, ingin novel-novel saya bisa bertahun 100 tahun atau lebih.

***
Bantul, 25 Januari 2014

Di teras rumah mertua, jam 5:47 WIB.

Ketika Saya Memutuskan Untuk Berhenti Menulis

Friday, January 3, 2014

Setelah saya menyelesaikan novel Sun(ny) saya merasa ingin langsung mengerjakan novel lainnya. Saya terbiasa untuk terus berkarya dan jarang sekali berhenti. Tetapi saya tahu, saya harus berhenti sejenak agar jiwa novel Sun(ny) hilang dari saya dan saya menjadi netral. Setelah saya netral saya bisa memasukkan jiwa novel lainnya.

Seperti yang biasa saya lakukan saat saya selesai menulis scenario lalu beralih ke novel, saya selalu berhenti menulis selama 1 minggu. Sebenarnya tidak benar-benar berhenti, saya hanya tidak menulis scenario dan tidak menulis novel. Saya harus menetralkan isi kepala saya, maka saya menulis puisi atau curahan hati yang tidak dipublish kemana-mana.

Menulis curahan hati sambil menangis-nangis di depan laptop itu lebih lega, apalagi bila disimpan sendiri ketimbang harus dipublish di blog. Kembali lagi ke soal menetralkan jiwa menulis saya, saat menulis satu novel ke novel lainnya saya memutuskan untuk membaca. Novel selanjutnya apa yang mau saya tulis? Saya mau menulis dengan gaya penceritaan bagaimana? Kalau di SUN(NY) saya memakai kata ganti orang pertama, maka yang selalu saya baca adalah novel-novel yang menggunakan kata ganti orang pertama. Saya menghindari novel dengan kata ganti orang ketiga. Begitu sebaliknya, setelah menulis SUN(NY) saya sudah tahu mau menulis apalagi.

Karena saya terbiasa (sejak 3 tahun lalu) membuat konsep-konsep untuk naskah novel saya. Saya belajar membuat konsep cerita setelah saya menulis naskah scenario, saat nulis scenario segala sesuatunya harus dikonsep, dari awal cerita, konflik, hambatan, penyelesaian masalah sampai surprise ending. Dari awal sampai akhir sudah jelas dan terang, sehingga membantu produser dan stasiun TV untuk melihat sejauh apa kualitas naskah atau film yang akan dibuat.

Nah, terbiasa menulis konsep scenario lalu menular ke konsep novel. Saat menulis SUN(NY) ide-ide berterbangan di kepala dan saya langsung tuliskan dalam konsep. Alhasil ada 3 konsep novel yang sudah selesai dibuat selama saya menulis SUN(NY).

Setelah menetralkan jiwa dan aura menulis saya, saya memutuskan untuk mengambil 1 konsep novel yang saya “Kepengen banget nulisinnya” rasa kepengen banget ini biasanya akan menempel terus menerus sehingga membuat saya masuk ke dalam cerita, merasuk jadi si tokoh sehingga cerita saya terasa hidup.

Ya, biasanya akan seperti itu. Akan tetapi kali ini menjadi sesuatu yang tidak biasanya. Setelah saya menulis SUN(NY) dan menetralkan jiwa selama satu minggu, saya langsung mulai menulis draft novel berjudul : a Couple Of Writer yang belakangan saya ganti judulnya menjadi Sepasang Penulis dan Kisah Cinta Yang Manis. Awalnya memang penuh semangat, sampai kemudian saya mengalami pendarahan dan harus melahirkan pada bulan Mei.

Proses melahirkan yang cepat dengan operasi sesar ternyata menyisakan luka yang sangat menyakitkan. Luka di perut luar, luka di perut dalam, yang lebih terluka tentu saja dompet saya. Luka-luka itu tidak lantas membuat saya beristirahat. Karena sudah janji akan menerbitkan buku anak kursus pada bulan Juli, dikarenakan acara launching dan sebagainya sudah ditetapkan. Maka belum sampai luka-luka itu sembuh saya sudah harus mengedit, mengurus isbn, mengurus cover dan lain sebagainya. Tentu saja semua itu dilakukan by online.

Oke, sebelum saya sibuk mengurus itu, sepulan dari rumah sakit saya dikejutkan oleh email dari bank Mandiri bahwa saya menerima hibah dana modal UKM dari kementrian UMKM (nama lengkap kementriannya saya lupa) sebesar sekian puluh juta yang nominalnya nyaris sama dengan angka biaya operasi sesar saya. Dan harus diurus hari itu juga! Hari di mana saya baru pulang dari rumah sakit. Alhasil saya langsung mengurus ini dan itu, pergi ke sana ke sini dengan perut masih nyeri tersayat-sayat plus harus memerah ASI untuk bayi saya. Esoknya saya pergi lagi untuk mengantri mengurus dokumen dana hibah. Saya anggap ini rejeki bayi dan memang modal itu saya gunakan untuk memulai bisnis baru saya : Rumah Pena Publishing.

Kembali lagi soal akhirnya mengurus naskah anak kursus. Novel itulah yang akan jadi pilot project untuk Rumah Pena Publishing, maka saya tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Mengedit ternyata memakan waktu lama, terlebih saya harus menyelaraskan isinya juga. Setelah punya baby, otomatis saya mengurus 2 anak. Saya memang punya Asisten Rumah Tangga tapi hanya mengurus urusan domestic dan siang hari dia sudah pulang. Menyusui setiap 2 jam sekali, dengan badan pegal-pegal nyeri luar biasa, lalu menemani si sulung bermain sangat menyita waktu saya. Agar naskah ini selesai tepat waktu, saya pun mengorbankan waktu tidur saya.

Hingga selesailah bukunya, dilaunching dan dalam sehari terjual 100 eks di sekolah sang penulis. Keasyikan untuk mengedit, mengurus isbn, mengurus percetakan, lay out, cover dan lain sebagainya tanpa sadar menendang jauh-jauh kenikmatan menulis saya. Di sela saya mengedit, pada awalnya saya masih konsisten menulis. Akan tetapi perjanjian dengan distributor membuat saya harus mencetak sedikitnya 1 buku tiap per 2 bulan. Saya belum punya modal besar untuk menyewa editor, membayar penulis ternama dan lain sebagainya. Maka saya putuskan untuk membuat naskah saya sendiri, minimal saya bayar editornya saja. Penulisnya saya sendiri. Namun ternyata naskah saya tak kunjung selesai.

Kesibukan mempunyai bayi baru serta kondisi badan yang belum fit benar membuat saya baby blues. Saya jadi enggan menulis. Terlebih suami saya harus bolak-balik pergi ke Trans TV untuk meeting tiap hari (saat itu sedang menulis salah satu sitcom di Trans). Ditinggal sendirian dengan 2 anak membuat saya enggan menulis, meski saya berusaha sekuat tenaga. Akhirnya sehari saya bisa dapat 2 paragraf sampai 5 paragraf. Sampai di satu titik. Saya tidak menulis dalam satu hari, sama sekali tidak. Tak juga dengan puisi atau curhatan, tidak sama sekali. Lalu hari bergulir dan saya juga belum menulis.

Akhirnya saya memutuskan untuk menerbitkan naskah autobiografi alm ayah saya. Secara beliau mempunyai banyak teman dan benar saja, setelah naskahnya menjadi buku, buku berjudul BUKAN SARJANA MUDA itu terjual 300 eks dalam 2 bulan. Sebuah pencapaian yang baik bagi penerbitan yang baru lahir seperti Rumah Pena Publishing. Dan saya membidani semua itu, selama kurang lebih satu bulan.

Dan satu bulan itu, saya mendapati diri saya tidak menulis. Oh… dimana Achi TM yang selalu konsisten menulis sehari sehalaman? Di mana? Saya mulai bertambah stress, mulai mencoba menulis dan akhirnya berhasil menyelesaikan 5 halaman novel saya, berlanjut jadi 8 halaman, terus dan terus. Saya kira saya bisa melakukannya akan tetapi saya menemukan bahwa tulisan saya hambar. Tulisan saya tidak bernyawa.

Saya nyaris memutuskan untuk berhenti menulis. Saya merenung dan merenung, saya mencoba segala hal untuk mengembalikan mood dan jiwa menulis saya. Tapi jangankan mau menulis lagi, membaca buku pun saya muak. Tak pernah selesai. Tapi saya mencoba lagi, sampai akhirnya berhasil membaca Pintu Harmonika dan Unfriend U karya Dyah Rinni. Semangat menulis saya membara kembali, saya kembali rutin menulis sehari sehalaman.

Tapi hambar! Saya tak menemukan kenikmatan menulis. Saya belum kemana-mana pasca melahirkan. Kemana-mana dalam arti bersenang-senang, berkumpul, memberikan talkshow dan lain sebagainya. Saya merasa tak berharga. Ini sungguh Baby Blues tingkat internasional.
Beruntung, Allah menolong saya. Novel terbaru saya berjudul Eva-Ustadzah Cinta Ketiban Cinta terbit di penerbit Erlangga setelah 1 tahun masa penantian. Bersamaan dengan novel Mata Kedua dan Hati Kedua yang terbit di Penerbit Andi. Saya pikir hanya akan sekedar terbit saja, tetapi 2 novel itu dijadikan novel unggulan oleh mereka.

Penerbit Erlangga mengadakan talkshow di mana-mana untuk novel saya. Setelah sebelumnya penerbit Andi mengadakan launching besar-besaran di Gramedia Matraman-Jakarta. Seolah Allah ingin saya kembali menemukan jiwa menulis saya, saya pun mengisi talkshow novel EVA seminggu sekali. Dimulai dari mengisi pelatihan menulis di SUBANG, lalu talkshow novel EVA di Bandung, kemudian minggu depannya lagi langsung di Cibubur, dan minggu depannya lagi di Depok. Tak tanggung-tanggung, manajer Erlangga cab Medan langsung menghubungi saya dan minta saya ke Medan selama 4 hari untuk mengisi pelatihan menulis dan talkshow di 4 Universitas di Medan.

Sungguh, saya menyambut hal itu dengan antusias. Saya baru menyadari kalau ini yang saya butuhkan. Saya butuh berbagi dengan orang lain, saya butuh bertemu langsung dengan pembaca saya dan mendengar langsung dari mereka kalau mereka menyukai novel saya. Inilah sisi jiwa saya yang kosong. Ketika saya berbagi semangat menulis, bak boomerang, semangat itu kembali kepada saya. Ketika saya bilang : saat kita jenuh, kita harus melawan jenuh itu dengan berbagai cara, fokus dan mau bangkit saat jatuh. Kalimat itu seperti mencacah kehampaan saya sendiri.

Saya belum akan menuliskan perjalanan-perjalanan talkshow yang begitu menyenangkan kemarin, khususnya perjalanan ke Medan dan terkesan dengan hangatnya sambutan Sakinah Mariz, Embart Nugroho, Vie Rynov dan Bang Ferry yang sudah datang dari Aceh untuk menemani saya dan segenap teman-teman di 4 kampus yang memberikan energynya untuk saya. Nanti saya akan menuliskannya.

Saya hanya ingin memberikan satu kesimpulan. Bahwa ketika kita sedang jenuh dalam menulis, maka salah satu cara ampuh membangkitkan semangat menulis itu adalah dengan berbagi. Banyak berbagi ilmu menulis dan berbagi semangat menulis. Percayalah hal itu karena saya membuktikannya.

Jadi apakah saat ini Anda sedang jenuh menulis? Carilah orang lain yang punya keinginan menulis, tularkan kepada mereka. Sebanyak-banyaknya J.


Sekarang saya sudah kembali stabil, menulis sehari satu halaman. Saya sangat berterima kasih kepada Allah karena ternyata Allah tak ingin saya berhenti menulis. Saya yakin Allah masih mau menitipkan banyak imajinasi dan inspirasi di kepala saya untuk saya tuliskan menjadi naskah. 

***
Baca novel-novel terbaru saya SUN(NY), HATI KEDUA, KEKASIH CAHAYA, EVA-Ustadzah Cinta dan HIMITSU. Follow me @AchiTM 

Antara Wajah Cantik dan Hati Kedua Saya

Friday, November 1, 2013



Kenapa Saya Ingin Cantik?


Teringat dulu saat kuliah, seorang dosen manajemen sumber daya manusia, meminta saya menulis tanda tangan di papan tulis. Semua anak sekelas, termasuk dosen, ingin membaca diri saya lewat tanda tangan saya. Lantas apa kata sang dosen?

Dosen saya berkata : kamu ini punya rasa tidak percaya diri yang akut.
Ucapan dosen saya mengundang tawa anak-anak sekelas.
Kata mereka : Ngga mungkin orang kaya Achi gak pede.

Ya, anak-anak di kelas benar. Saya orang paling 'gila' di kelas. Suka telat tanpa rasa malu, suka ngem-Ci di kampus, doyan baca puisi di depan umum, pandai presentasi kala itu. Masa, sih, saya pemalu?

Tapi saya membenarkan ucapan sang dosen. Sangat membenarkan. Sejak kecil saya sudah kehilangan rasa percaya diri saya. Gigi saya yang rusak karena pengaruh antibiotika yang diminum mama saya sejak saya di kandungan dan bayi, kemudian penyakit sinusitis yang selalu membuat saya ingusan. Lalu mata saya yang jereng dan minus, serta kulit saya yang hitam. Dan keluarga saya yang berasal dari keluarga pas-pasan. Rasa tidak PD itu semakin menggila saat saya masuk SMP. Tapi saya selalu menutupinya dengan bercanda, tertawa, namun gagal. Saya seringkali sendirian, akhirnya menumpahkan rasa tidak PD itu lewat gambar dan tulisan.

Saya pernah dijauhi karena saya 'miskin' gak punya duit buat ke mall. Saya dikucilkan karena ingusan terus, pernah dihina-hina karena mata jereng. Saya terus berusaha menutupinya dengan tertawa, berusaha meraih prestasi. Tapi ternyata, saya selalu kalah lomba. Tak ada prestasi kemenangan lomba yang berhasil saya ukir. Kecuali menjadi juara 2 lomba pidato karang taruna nasional dari 2 peserta, lomba menyanyi se-RT dan yang agak bergengsi jadi juara 1 lomba membuat komik di majalah Annida.

Maka di balik sikap saya yang sok pede, sok hebat, sok kece dan lain lainnya, sebenarnya saya sedang menyembunyikan rasa tidak PD itu. Stress, kesal dengan tubuh sendiri, apalagi setelah SMA saya jadi bongsor dan gemuk, tambah tidak pedelah saya. Saya pun mencari prestasi lain : menjadi penulis hebat. Fokus menuju cita-cita itu membuat saya melupakan hal-hal yang membuat saya tidak PD.

Menghebat-hebatkan diri sendiri meski belum hebat. Sampai detik ini, kadang-kadang saya suka gak PD lagi sama badan saya. Kambuh istilahnya. Saya benci lihat mata jereng saya, saya benci lihat tubuh saya, saya benci lihat wajah saya, saya benci lihat hidung bengkok saya, saya benci lihat gigi saya yang jelek dan sering disangka orang sebagai perokok atau pecandu

Namun mulai detik ini, saya mau membuang sisa-sisa kebencian itu. Saya harus bersyukur dan menerima diri saya apa adanya. Terlebih setelah saya berteman dengan Ramaditya Adikara dia tidak jereng, lebih parah dari itu... dia tuna netra. Lalu kemarin di Subang saya bertemu Chrysanova Dewi yang secara fisik tidak sempurna tapi semangat mereka berdua sungguh luar biasa. Saya seperti ditampar oleh Chrysanova, di tengah ketidaksempurnaan fisik dia tetap percaya diri menulis, membuat kue, bergaul... dan mungkin masih banyak orang-orang yang tak seberuntung kita. Seperti Putri Herlina misalnya yang kemarin sempat jadi Hot Issiue di FB.

Sebelum menulis status panjang ini, saya bercermin. Memerhatikan bagian-bagian wajah yang saya benci. Lalu istigfar berkali-kali untuk kesekian kalinya. Beryukur adalah kunci utama menerima diri. Khususnya menerima kondisi tubuh diri sendiri. Masih banyak kelebihan lain yang Allah beri pada kita. Jadi janganlah fokus pada kekurangan fisik.

Ya, saya memang tidak seksi, tidak cantik, kulit kasar karena sering alergi, tidak putih, tak punya gigi rata dan bersih tapi saya tetap bisa berkarya. Tetap bisa beribadah...

Buat Pak Dosen, hari ini saya buang sisa tidak percaya diri di dalam diri saya. Tapi soal tanda tangan ngga bisa saya rubah. Sudah masuk KTP, Rekening Bank dan tentu saja, saya penulis yang kelak TTD saya dicari banyak pembaca hmm....

Sebelum Saya Menerima... Ada Kejadian Yang Membuat Saya Merenung

Entah mulainya darimana, saya merasa menjadi penulis perempuan itu harus cantik dan berwajah kinclong supaya karya-karyanya laku. Entah saya dapat pemikiran darimana. Mungkin setelah seringkali saya melihat penulis-penulis perempuan berparas cantik, fashionable, bertubuh kurus, berwajah tirus, jilbab modis dan muka kinclong. Ya... saya tahu banyak sekali krim-krim wajah di luar sana yang bisa membuat wajah saya bisa kinclong dalam sekejap, obat dokter pun bertaburan. Sebenarnya saya bisa seperti mereka. Tapi saya ingin cantik alami.

Maka sekali lagi untuk kesekian kalinya saya memandang cermin dan melihat tubuh saya yang mekar pasca melahirkan dan sedang menyusui. Susah sekali turun berat badan ini. Sedihnya... 2 minggu lagi saya launching novel HATI KEDUA bersama teman duet saya Ramaditya Adikara menulis novel MATA KEDUA. Saya tahu launching itu akan jadi salah satu launching besar dalam novel-novel saya. Akan diliput banyak media dan sekonyong-konyong saya ingin kurus. Baiklah... ini gara-gara propaganda media yang menyebutkan bahwa cantik haruslah kurus, menyebalkan bukan? Karena tahu saya tak mungkin jadi kurus dalam waktu 2 minggu, maka saya memilih ingin wajah saya cantik. Saya trauma dengan krim-krim instan, krim korealah, krim kesehatanlah atau krim dokterlah... saya ingin menemukan ramuan cantik alami.

Maka saya mencoba beberapa herbal. Saya sibuk mencoba herbal ini dan itu, beberapa hari tak menemukan perubahan, saya mulai mencari pencuci muka baru. Mengganti merk sabun muka, dan walhasil saya malah jerawatan! Stress bukan main karena acara launching semakin dekat. Saya pun semakin ingin terobsesi cantik. Pikiran tolol saya, bila saya tampil cantik maka novel saya akan best seller. Toh Andrea Hirata saja tak pernah menjadi cantik tapi novelnya bisa go internasional.

Jerawat yang bermunculan itu membuat saya panik, lalu saya coba obat herbal jenis lain. Beberapa cara tradisional termasuk terapi air oksigen, eh, saya malah masuk angin. Ya ampun... bermula dari masuk angin itulah saya kemudian demam. Benar-benar demam dan kena flu berat. 

Saat demam, saya tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk menyusui pun saya kelelahan. Karena hati-hati mengkonsumsi obat saat menyusui, saya pun minum obat herbal yang proses penyembuhannya lama sekali. Minum parasetamol pun yang takarannya rendah. Alhasil saya sehari sembuh, besoknya kambuh. Saya merasa kalah dan terkapar di tempat tidur. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah : bagaimana saya bisa sembuh? Bagaimana saya bisa tampil maksimal saat launching kalau saya sakit begini? Maka sekonyong-konyong pikiran soal wajah saya terlupakan. Saya mengabaikan si jerawat kecil-kecil yang mulai nakal tumbuh karena efek ganti pembersih muka dan tidak cocok di muka saya. Saya ngga peduli sama jerawat itu, saya mendadak lebih peduli sama kesehatan saya. 

Maka sehari sebelum hari_H saya merenung. Ya Allah, apakah ini teguran darimu? Hamba terobsesi ingin cantik sampai tidak khusuk saat shalat, sampai mengurangi jatah membaca Al-Quran untuk perawatan wajah, sampai susah tidur karena pikiran selalu kepada : bagaimana jadi cantik dan cantik? Engkau menegur hamba Ya Allah... Engkau ingin hamba sadar bahwa kecantikan di dunia hanyalah sementara. Kecantikan tak lebih penting dari kesehatan!

Ya! Kamu masih bisa launching dan bekerja bila kamu sehat! Sedangkan secantik apa pun dirimu, selangsing apa pun tubuhmu jika kamu sakit dan terkapar di tempat tidur tak ada gunanya bukan? Maka malam itu aku menangis, memohon kepada Allah agar mengampuni dosaku. Sungguh obsesi cantik membuat aku terlena. Lupa bahwa banyak hal yang lebih penting dari sekedar cantik. Kecantikan fisik adalah obsesi dunia semata.

Esok paginya, dengan badan yang masih sakit dan letih aku memberanikan diri untuk tetap berangkat ke acara launching. Aku tak mau mengecewakan mas Rama, tak mau mengecewakan penerbit, tak mau mengecewakan pembaca yang sudah hadir untuk bisa berjumpa denganku. Sungguh... meski dengan suara yang parau dan napas yang agak tersengal, aku akhirnya bisa hadir di atas panggung launching. Sharing soal suka duka membuat Hati Kedua. Bahkan aku tetap membacakan surat cinta Rara kepada Rama dengan mengerahkan seluruh kekuatanku. Setelah launching selesai, rasanya semua urat sendiku mau putus *agak lebay ini hehehe* Tapi kelelahan itu berganti dengan kepuasan. Launchingnya sukses besar dan Insya Allah, novelnya pun akan jadi novel Best Seller Nasional! Aamiin....

Untungnya selama launching dan sesi foto plus TTD, ngga ada satu pembaca pun yang komen : mbak achi kok jerawatan? Kalau ada yang komen gitu mungkin udah aku lipet-lipet dijadiin perahu kertas... hehehe *canda ding. 

Kesimpulannya : Jika tubuh SEHAT maka kita pun akan CANTIK!











Belum baca HATI KEDUA? MATA KEDUA? 

Ini dia penampakan buku kembar tersebut.



Belum punya novelnya? Segera aja ke Gramedia. Satunya Rp. 69.000,- kalau beli dua ya Rp.69.000 dikali dua hehehe. Kalau mau paket murah meriah bisa langsung inbox ke 085643376193 : pesan Mata Kedua dan Hati Kedua, hanya 100 ribu saja (belum ongkir).

Penasaran mau mengenal jauh soal novel kembar ini? Silakan klik http://matahatikedua.com/
Ada Lomba menulis juga dari penerbitnya lho, berhadiah total 20 juta! Nih klik penerbitnya di : 
http://andipublisher.com/sub-16-lomba-menulis-cerita.html

Suka sama postingan ini? Silakan share ya, siapa tahu bermanfaat :)
Boleh tinggalkan jejak komen, siapa tahu menjalin silahturahim baru.

Salam
Achi TM








SUN(NY) - BAB 1

Sunday, July 14, 2013

                 Stasiun Tugu.
            Gelembung-gelembung sabun berterbangan di pintu masuk. Penjual gelembung berhasil menarik perhatian anak-anak. Satu gelembung mengenai pipiku dan pecah. Aku tergelak kecil, teringat masa saat aku bermain gelembung bersama adikku di Monas.
            Ke Jakarta… aku akan pergi. Disertai raut wajah sedih Pak’e yang semakin menua dan air mata Simbok yang mengendap-endap turun di sudut matanya. Setelah pembicaraan alot selama berhari-hari, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Jakarta.
            “Kamu yakin bisa jadi penulis?” tanya Pak’e di malam aku memutuskan untuk hijrah. Ia menyesap rokoknya perlahan, mengalihkan gundah pada asap-asap tembakau.
            Aku mengangguk penuh semangat. Meski di dalam hati aku sendiri bingung : benarkah aku ingin jadi penulis? Aku hanya suka menulis puisi tapi tak pernah berpikir ingin menjadi seorang penulis. Tapi hanya itu profesi yang terpikirkan olehku. Menjadi sekretaris, administrasi kantor, marketing? Itu sudah masuk dalam balik bantal lusuhku, hanya berkawan dengan mimpi-mimpi di malam hari. Kantor mana yang mau menerimaku kerja?
            Pernah aku bekerja di sebuah warnet, sebagai admin. Hanya karena salah mengambil uang lima puluh ribuan yang aku kira sebagai uang ribuan, aku dimarahi habis-habisan. Aku hanya kurang konsentrasi saja.
            Aku juga pernah bekerja di taman bacaan. Hanya sebagai sukarelawan, di sanalah aku mengenal novel-novel milik Samudera Hujan. Seorang penulis perempuan yang diam-diam aku berikan titel sebagai idolaku. Bekerja di taman bacaan tidak membuat aku merasa hidup. Mungkin aku akan bertahan di kota ini kalau saja teman-temanku tidak banyak usil bertanya.
            Setiap ada reunian SMA atau hang out bareng teman-teman kampus dulu, selalu saja ditanya : kerja di mana? Atau pernah kerja di mana? Ini lebih menyakitkan daripada pertanyaan : sudah menikah atau belum? Kalau belum menikah mungkin hanya akan disangkutpautkan dengan jawaban : belum ketemu jodohnya.
            Tapi kalau belum pernah bekerja meski sudah 2 tahun lulus kuliah manajemen, pasti akan disangkut pautkan dengan : kepribadian aku yang kurang memenuhi syarat psikolog, atau cibiran kecil yang menunjukkan kalau aku bodoh.
            Lebih menyakitkan lagi jika harus bertemu dengan teman-teman SMA yang pernah mengejek aku. Waktu itu sedang pelajaran Kimia dan kami harus memasukkan cairan berwarna biru –entah apa- ke dalam sebuah wadah. Ada tiga cairan dengan warna hijau, kuning dan biru saat itu. Ketika giliranku untuk mencampur cairan, aku memasukkan cairan warna biru ke dalam wadah cairan hijau. Seorang teman yang agak menyebalkan saat itu malah menertawaiku.
            “Cerah ndak lulus TK yo… ndak bisa bedain warna!” celetuknya mengundang tawa. Mungkin lucu. Aku pun ikut tertawa.
            Tapi siapakah yang tahu kalau saat itu aku melipat sedih?
            “Kenapa ndak cari guru menulis di Yogya saja, tho, nduk? Di Yogya, kan, banyak akademi penulis. Banyak penulis-penulis cakep juga.” Kata Simbok yang sedang mengupas bawang malam itu. “Malah Mas Anton bilang, sekarang di Yogya sudah banyak penerbit… opo itu, yang suka bikin-bikin buku.”
            “Buat apa ke Jakarta kalau begitu?” sambung Pak’e.
            “Saya mengidolakan penulis yang bernama Samudera Hujan, Bu. Kemarin saya lihat di internet, dia sedang ada di Jakarta selama dua bulan.”
            “Jadi ke Jakarta dua bulan saja, tho?” selidik Pak’e.
            Aku menunduk, mengangguk, memainkan ujung tikar. Maunya, tidak usah balik lagi ke sini sebelum aku jadi orang sukses. Sebelum aku punya pekerjaan. Kerja apa saja di Jakarta asal aku tidak pengangguran dan diremehkan di sini. Aku menghela napas, tak sanggup meluncurkan keluhan itu.
            “Kamu itu… padahal kalau menyerah cari kerja di Yogya, kan, bisa pergi ke Solo, Semarang, Klaten. Ndak mesti pergi ke Kota itu. Bikin tambah sesak saja kamu.” Pak’e mematikan rokoknya lalu bangkit.
            “Ya… ndak apa-apa, tho… Mas Agung, Mas Timo dan Mbak Yas aja bisa berhasil di sana.” Aku menyebut nama tiga sepupuku.
            “Mereka di Bekasi, bukan Jakarta.” Ralat Simbok.
            “Dekat-dekatlah, Mbok.”
            “Ya… terserah kamu saja.”
            Setelah janji kalau dua bulan lagi aku akan pulang ke Yogya, Simbok dan Pak’e pun mengizinkan. Mereka mengantarku sampai di stasiun Tugu. Mutiara sudah membelikan aku tiket kereta kemarin, jadi hari ini aku tak perlu capek-capek mengantri tiket.
            Tangan kananku mencangklong ransel besar sedangkan tangan kiriku menarik koper.
Simbok membawakan satu kardus oleh-oleh dari Yogya. Ada bakpia, kerak nasi, geplak, dan yangko. Kata Simbok, aku wajib mampir ke rumah budeku, mampir juga ke rumah Mas Agung, Mas Timo dan Mbak Yas untuk memberikan oleh-oleh dan salam dari Simbok serta Pak’e. Pak’e membawakan satu kardus oleh-oleh lagi. Katanya untuk penulis idolaku itu. Samudera Hujan.
            Aku tergelak kecil. Apa mau orang seperti dia makan makanan kampung begini? Tapi aku tak kuasa menolak kehendak Pak’e. Kereta belum datang. Peron terlihat cukup sepi, karena memang bukan musim liburan mahasiswa. Aku sengaja pergi di hari dan bulan-bulan sunyi. Penjual roti cane melintas, seorang ibu-ibu menawarkan blangkon dan batik, seorang bapak-bapak yang lain menjual kaos dagadu murah. Berkali-kali aku menolak dengan sopan sampai kemudian terdengar pengumuman Senja Utama Yogyakarta menuju Jakarta sudah tiba.
            Aku, Mutiara, Pak’e dan Simbok berdiri. Siap dengan barang bawaan, menunggu kereta datang.
            “Ceraaah!” suara beberapa perempuan yang tak asing di telingaku, membuat langkahku tertunda. Masih berdiri di kursi peron, teman-temanku itu berlari berhamburan ke arahku.
            Teman-teman geng waktu kuliah. Ada 7 orang, empat di antaranya sudah menikah dan yang pasti mereka bertujuh sudah bekerja. Aku menyambut mereka dengan sapaan hangat. Asih mencubit pipiku kencang.
            “Kenapa pergi di hari kerja? Kami jadi harus kabur dari kantor buat ngejar kamu.”
            “Iya… kirain ndak jadi ke Jakarta.” Timpal Wuri.
            “Mau apa tho ke Jakarta? Ngoyo bener… mau cari jodoh, yo?” Sari nyeletuk dan langsung disikut oleh Dewi. Aku pura-pura meninju bahu Sari.
            “Mau nyari berondong….” Jawabku kalem. Ketujuh temanku tertawa kencang.
            Kami pun ngobrol singkat, masing-masing memberikan wejangan. Suara deru kereta api yang datang membuat suara mereka hilang pelan-pelan, berganti bising. Tapi kami tetap saling tertawa sampai kemudian aku melihat sosok lelaki itu di belakang tubuh Dewi. Ia berjalan pelan sambil memasukkan tangannya ke saku, sebuah gaya jalan yang dulu pernah aku cintai. Semua kebisingan dan suara tawa sahabatku berubah menjadi sebuah suara baret yang menyayat-nyayat luka. Asih sepertinya sadar kalau aku berhenti melengkungkan bibirku. Ia menoleh ke belakang, tepat saat lelaki itu menghentikan langkahnya sekitar 70 meter dari arah kami.
            “Rah, katanya dia sudah mau bercerai sama istrinya.” Wuri langsung bicara di dekat telingaku. Membuat bulu halusku meremang.
            “Benarkah?” tanyaku dengan bibir nyaris beku.
            Asih langsung menghalangi pandanganku dari bayangannya. “Wis kamu di Jakarta hati-hati, ya.” Dia memelukku erat. Asih paling tahu apa yang aku rasakan. “Aku sudah ancam dia supaya ngga datang, tapi dia ngotot mau ketemu kamu.”
            Kudengar suara Pak’e memanggilku. Kereta sudah lama berhenti, orang-orang mulai sibuk menaikkan barang bawaan mereka. Aku menoleh ke Pak’e dan meminta waktu sebentar dengan isyarat mata dan bibir. Pak’e tersenyum kecil dan mengangkut koper yang aku pegang, ia naik ke atas kereta bersama Simbok dan Mutiara. Setelah mengucap terima kasih dengan setengah mendesis, aku kembali pada teman-temanku. Aku peluk mereka satu per satu. Pelukan yang kaku.
            Bukan karena mereka terasa jauh dariku. Tapi pandangan lelaki itu membuat aku tak nyaman. Sampai akhirnya lelaki itu menyeruak ke belakang tubuh Dian yang aku peluk paling akhir. Dia menyerobot masuk pada jarak antara tubuhku dengan tubuh Dian.
            “Cerah. Kalau kamu sudah sampai Jakarta jangan lupa pulang, ya. Kalau kamu pulang, aku siap menyambut kamu.”
            “Terima kasih.” Aku meringis kecil, tersenyum kikuk, memperbaiki anak rambutku yang masih rapih. Suara dari speaker stasiun menandakan bahwa kereta akan segera berangkat. Pak’e sudah berteriak dari jendela kereta.
            Aku berbalik badan dan berlari cepat, setengah melompat aku masuk ke dalam gerbong kereta dan berjalan mencari tempat dudukku yang sudah ditempati oleh Pak’e. Barang-barangku sudah dikemas rapih di atas bagasi kereta, di samping Pak’e duduk ada seorang perempuan berbadan mungil dan kecil, perempuan berambut lurus dan hitam lebat itu tersenyum padaku.
            Pak’e menghampiriku, memeluk dan memberikan wejangan. Simbok eman-eman soal oleh-oleh sedangkan Mutiara minta foto Donny Alamsyah dan tanda tangannya. Walah… memangnya aku bisa bertemu artis semudah itu? Tapi Mutiara ngotot dan merengek. Sampai kemudian Pak’e menariknya turun dari kereta.
            Aku melambai pada mereka hingga ke luar jendela. Pak’e, Simbok dan Mutiara berbaur dengan ketujuh temanku. Mereka bertujuh ribut bukan main.
            “Awas kecantol cowok ganteng, ya!” teriak Asih yang sepertinya sengaja memanas-manasi lelaki di belakangnya.
            “Oleh-oleh, yo… emasnya monas!” seru Wuri.
            “Awas kalo ndak pulang pas reuni… putus hubungan!” teriak yang lain dan disambut gelak tawa.
            Aku hanya terbahak sambil terus melambai dan melambai. Kurasakan kereta perlahan bergerak maju, bayangan tubuh mereka semakin jauh. Bagaikan layar film yang berganti adegan. Sosok lelaki itu yang terakhir aku lihat, ia melambai penuh arti dan segera kutarik tanganku agar tak membalas lambaiannya. Tubuhku seperti kaget, terkejut dan tak tahu bagaimana harus bereaksi, terduduk lemas. Menyandar di jendela.

            Bayangan-bayangan masa lalu berkelebatan datang. Sesuatu yang sudah lama aku kubur dan menjadi salah satu alasan mengapa aku ingin pergi dari kota kelahiranku. Dia… dia dan dia! Lelaki itu. Mengeja namanya saja di hatiku sudah menyesakkan. Seperti ada sebuah tangan gaib yang menyumpal seluruh rongga tubuhku dengan daun-daun kering dan memaksaku untuk ikut menguning.

.........

(baca lanjutannya di novel terbaru saya berjudul SUN(NY) sekuel dari novel CLOUD(Y)

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati