Dua Juta Dalam Doa

Thursday, April 30, 2020


Kebaikan Berbagi akan terus mengalir meski kamu dalam masa sulit. 

            Malam itu, pertengahan Ramadhan tahun 2019. Seorang mahasiswa datang bertamu ke rumah saya, membawa proposal pengajuan donasi santunan yatidonasi.dompetdhuafa.orgm dan dhuafa. Sudah dua tahun terakhir, saya dan suami menjadi donator tetap dalam setiap santunan yang diadakan oleh kampusnya. Namun tahun 2019, adalah tahun terburuk kami dalam keuangan. Kontrak novel saya yang seharusnya dibeli oleh PH dan dibayar April 2019 harus dibatalkan sepihak. PH melanggar perjanjian yang sudah tertera di kontrak dan kami tak punya cukup daya dan upaya untuk mempermasalahkannya ke ranah hokum. Naasnya, kami sudah terlanjur membeli 200 novel dari penerbit yang rencananya akan kami bayar dari uang pembelian right film novel dari PH. Rupanya manusia memang hanya berencana, Allah yang berkehendak. Alhasil kami harus menggunakan uang tabungan kami untuk membayar novel yang sudah terlanjur dibeli.
            Tentu saja, menjual novel dalam waktu singkat bagi saya bukan hal mudah. Saya belum menjadi penulis sehebat itu yang membuka PO Novel dalam sekejap 1000 eks terjual. Semua tabungan digunakan untuk membayar novel ke penerbit, maka biaya hidup sehari-hari kami gunakan dari jualan novel yang sudah dibeli. Saya dan suami adalah penulis freelance. Kami menulis skenario dan buku. Maka harus pandai-pandai mengatur keuangan. Rupanya awal tahun 2019, kami harus salah perhitungan juga.
            Mahasiswa itu masih menunggu di sofa ruang tamu. Saya menghela napas panjang lalu mengambil novel terbaru saya dari dalam kardus besar yang diletakkan di sudut ruang tamu  
            “Tahun ini, saya ngga punya uang. Tapi saya mau sedekah, silahkan bawa 10 novel terbaru saya ini. Harga normalnya 80 ribuan. Kamu jual saja 50 ribuan, mudah-mudahan ada yang mau beli.”
            Awalnya, mahasiswa itu ragu-ragu menerima novel yang saya berikan tapi akhirnya dia menerima dengan optimis. Yakin pasti ada yang beli. Saya hanya minta didoakan semoga rejeki saya dilancarkan. Setelah mahasiswa itu pamit dan menghilang di balik pintu gerbang, saya mengelus perut saya yang mulai membuncit. Ya, bertepatan dengan pembatalan kontrak penerbit saya mendapat sebuah kenyataan jika saya hamil 2 bulan. Masya Allah nikmat mana lagi yang mau kamu dustakan? Saya tetap mensyukuri hadirnya janin ini. Anak ketiga saya. Meski dokter mengatakan bahwa saya kena Toksoplasma dan harus melakukan sesi pengobatan yang cukup mahal setiap pertemuannya. Itu pun tak ada jaminan bayi saya lahir dengan sempurna.
            Tak terbayangkan, berapa banyak tangis saya. Bahkan untuk berobat ke dokter pun saya berjualan macam-macam barang. Suami sedang tidak ada pekerjaan menulis skenario. Bukan berarti ia tak berusaha, sudah sangat keras usahanya tapi entah kenapa setiap program TV yang hendak ia ikuti selalu batal atau gagal. Saya mencoba berbaik sangka kepada Allah. Di sinilah ujian berbagi dimulai. Tapi saya yakin kebaikan berbagi selalu ada. Alhamdulillah, novel itu laku dan semua hasil penjualannya disedekahkan. Allah langsung membayar kebaikan berbagi saya. Seorang sutradara, menawarkan saya untuk menulis novel autobiografi ibunya. Meski dengan harga kecil dan baru dibayar setengah dimuka, tapi cukup untuk saya dan suami melewati sisa ramadhan, idul fitri dan tentu saja membayar zakat.
                
          Namun setelahnya, tak ada lagi pekerjaan menulis yang menghasilkn uang untuk saya dan suami saya. Salah satu klien menulis saya menghubungi saya dua bulan setelah ramadhan, ia mengajak saya untuk menulis artikel di bulletin masjid yang sedang dia buat. Bulletinnya gratis untuk umat, ujarnya. Dia bercerita kalau sedang membuat Rumah Tahfidz, dia menggelontorkan banyak uang untuk itu.
“Umur gue udah 38 tahun, rasanya dunia udah cukup gue raih. Gue lagi mau ‘berdagang’ sama Allah, dagang sama Allah ngga bakalan rugi. Udah saatnya lebih banyak ngeluarin duit buat akherat,” katanya membuat jantungku berdegup kencang.
             Dia memang pengusaha muda yang sukses. Sedekahnya kencang, karena dia tahu kebaikan berbagi tak akan pernah pudar selama hayat di kandung badan. Mendengar ceritanya saya mau sekali ikut berbagi.
              “Jadi berapa harga satu artikelnya, Chi?”
            “Mas, saya juga mau coba ‘berdagang’ sama Allah, mas. Saya akan nulis artikel gratis, mas untuk bulletinnya.”
             “Masya Allah, bener, nih?”
           Saya menjawab, saya sedang tak punya uang lebih. Sebenarnya butuh banget uang hari iu. Makan pas-pasan, buat biaya periksa janin, biaya PKBM anak saya yang homeschooling, biaya kursusnya dan lain sebagainya itu kadang masih kurang. Maka saya sedekah pakai kemampuan saya saja. Alhamdulillah, sudah lebih dari 6 artikel bulletin yang tayang.
       Begitu kita berbagi, maka kebaikan berbagi itu akan segera datang kepada kita. Saya ‘hanya’ sanggup sedekah tulisan tapi Allah SWT membalasnya bertubi-tubi. Pertama melalui tangan beberapa orang, Allah memberikan saya pekerjaan sebagai pembicara/narasumber dalam acara-acara pelatihan menulis. Masya Allah meski hanya dibayar 1,5 juta atau 2 juta sekali isi pelatihan, sudah saya dan suami syukuri. Sebulan bisa 2-3 kali pelatihan menulis. Dengan uang 5-6 juta dan hidup di kota Tangerang, bersebelahan dengan DKI Jakarta tentu uang segitu sangat pas-pasan tapi tetap kami syukuri.




        Puncaknya sampai suatu hari, saya dapat surat peringatan dari PKBM tempat anak saya belajar karena belum melakukan pembayaran selama 6 bulan sebesar 2 juta rupiah. Ya Allah uang darimana sebanyak itu? Ketika keadaan begitu sempit, jumlah 2 juta sangatlah besar. Sementara bayi di kandungan saya sudah siap untuk dilahirkan. Saya meminta keringanan kembali dari pihak PKBM tapi hanya bisa melakukan pembayaran dua kali saja. Akhirnya saya sempat sampaikan di grup orang tua murid bahwa kemungkinan anak saya tidak ikut UAS. Semalaman saya menangis dan memohon kepada Allah. Darimana saya bisa dapat uang 1 atau 2 juta dalam waktu singkat? Allah Maha Besar dengan segala kehendak-Nya.
        Esok pagi selepas shalat shubuh, saya mendapat pesan WA dari admin PKBM kalau biaya PKBM anak saya sudah dibayarkan oleh salah satu orang tua murid yang tidak mau disebutkan namanya. Allahu Akbar. Hati saya menghangat. Pagi itu saya menangis. Saya meminta info siapa nama orang tua murid itu, rupanya memang benar-benar dirahasiakan.
       Hati saya bergetar. Belum pernah saya mendapatkan bantuan sebesar itu. Sungguh saya merasakan dipeluk seolah ‘dipeluk’ oleh Allah SWT. Sangat dicintai. Benarlah memang memintalah dan memohon hanya kepada-Nya saja. Maka saya berdoa, Ya Allah jika engkau memberikan hamba kelebihan rejeki. Maka hamba akan sebarkan kebaikan berbagi ini. Kebaikan harus disebar.

        





       Saya tidak menunggu Allah memberikan kelebihan rejeki untuk menyebar kebaikan itu kembali. Tepat sebelum saya melahirkan, seorang teman meminta bantuan cameramen tim film pendek saya untuk proyeknya. Jika saya mau mengambil keuntungan, saya bisa menjadi makelar. Tapi tidak saya lakukan karena saya yakin jika membuka pintu rejeki orang lain, maka pintu rejeki kita akan dibuka oleh Allah. Tahun 2019, proyek film pendek kami juga mandek karena saya sendiri kesulitan keuangan. Terlebih cameramen saya juga orang tak berpunya yang butuh makan. Maka saya sambungkan keduanya. Masya Allah… kasih sayang Allah tak ada duanya.
       Selang beberapa minggu setelah saya lahiran dan cameramen saya mendapat banyak uang dari pekerjaan barunya. Allah memberikan pekerjaan untuk suami saya. Seorang teman yang sudah lama tak berkabar, mengajak menulis bareng. Hanya dalam kurang dari satu bulan, suami saya mendapatkan proyek menulis bernilai lebih dari 50 juta. Masya Allah kami sudah senang dan bersiap untuk segala rencana jalan-jalan dan pulang kampong.
         Qadarullah, covid-19 datang masuk ke Indonesia di awal bulan Maret. Bertepatan dengan seperempat honor suami saya yang cair. Uang yang semula akan digunakan untuk jalan jalan dan pulang kampong pun harus kami simpan baik-baik. Semakin hari, berita covid-19 semakin mengkhawatirkan. Orang orang terdekat kami mulai mengalami masalah masalah keuangan. Saat inilah, saya teringat pada janji kebaikan yang harus disebarkan ketika mendapat bantuan 2 juta rupiah dari hamba Allah. Maka saya dan suami memutuskan untuk membantu teman-teman dekat dan saudara yang terkena dampak covid-19 ini. 
            Termasuk membantu adik saya uyang merupakan salah satu kontributor artikel di donasi.dompetdhuafa.org untuk melancarkan pernikahannya pada  tanggal 23 April 202 kemarin. Tentu saja tidak banyak karena honor suami pun belum sepenuhnya turun. Meski begitu, kami bersyukur di saat kondisi seperti ini Allah SWT limpahkan rejeki dan kecukupan meski kami hanya diam di rumah saja. Dialah sebaik-baiknya pembuat rencana.
               Yakinlah, dalam keadaan lapang atau sempit, kebaikan berbagi tak pernah kehilangan tempat.  Semakin sering kita menyebar kebaikan, semakin banyak kebaikan yang akan datang pada diri kita. 

 "“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”


#MenebarKebaikan
#LombaBlogMenebarKebaikan

Yakin Anakmu Baik-Baik Saja?

Saturday, December 14, 2019

Yakin Anakmu Baik-Baik Saja?

Saat anak pertama usia 1 tahun, saya rajin ikut kegiatan parenting. Bukan hanya seminar tapi juga workshop parenting untuk guru guru paud meski saat itu saya belum jadi guru paud. Semua atas dorongan mama saya, katanya supaya saya paham mendidik anak. Saya jalani berbagai seminar dan workshop Alhamdulillah banyak ilmu yang saya dapat untuk membesarkan anak saya.

Anak pertama saya, Abiy Alhamdulillah anak yang mudah dididik. Bisa diajak main mainan edukatif, mampu main puzzle ukuran kecil usia 3 tahun, mampu main catur lawan orang dewasa usia 4 tahun, bisa diatur, bisa dinasehati, bisa diajak diskusi pokoknya lempeeeng.

Waktu punya anak kedua, Arkan, saya sedang sibuk sibuknya jadi narasumber seminar menulis di berbagai tempat. Waktu dia masih menyusui, saya bawa dia kemana mana karena dia tidak mau susu formula. Tapi ketika ada event event pelatihan/penjurian yang mengharuskan saya menginap selama 3 hari bahkan sampai 6 hari, akhirnya saya tinggalkan Arkan. Saat Arkan usia 3 tahun, hampir sebulan sekali saya tinggalkan dia untuk menginap di hotel. Sampai kemudian saya mendapati anak saya main game dan nonton YouTube terus menerus sampai lebih dari 8 jam.

Saya tahu ini kesalahan saya, saya pun mulai mengatur jam dia main game dan mulai berusaha mengajarkan dia mainan edukatif seperti yang dulu saya ajarkan ke abangnya. Tapi dia sama sekali tidak paham cara bermain mainan edukatif, tidak bisa menyusun puzzle bahkan ngga ngerti memasang Lego ukuran besar. Saya mulai stress dan kesal karena dia ngga seperti abangnya. Sempat khawatir kalau dia teernyata anak bodoh 😭😭 Dia tantrum terus menerus.

Jurus menenangkan tantrum ala abangnya sudah saya lakukan yaitu abaikan saja, keinginannya ngga usah dipenuhi kemudian alihkan dengan kegiatan lain. Mengatur Abiy ya semudah itu, paling 10 menit selesai. Tapi tantrumnya Arkan bisa sampai 2 jam dan semua barang dibanting sama dia. Ngamuk luar biasa, kalau abangnya dipeluk sudah tenang, dia dipeluk tambah meradang.

Masalah hape mudah dikendalikan, tidak perlu kaish dia hp. Beres tapi yang terjadi dia gampang marah, uring2an, tantrum, semua kegiatan edukatif di rumah yang saya berikan tak bisa dia lakukan. Bahkan dia tidak suka saya  bacakan buku. Lagi lagi saya membandingkan dengan abangnya.

Ada apa dengan anak kedua saya? Kalau dari yang saya pelajari, ada yang salah dengan perkembangannya. Seharusnya umur 3 tahun dia sudah bisa menyusun puzzle sederhan, bisa menyusun Lego/balok. Akhirnya saya memutuskan untuk tes sidik jari demi mengetahui seperti apa anak saya (meski banyak yang meragukan metode ini) tapi saya terbantu.

Anak saya ternyata tipe anak kinestetik. Kebutuhan nya adalah berlari dengan kaki, bermain dengan tangan, banyak berbicara dengan mulutnya. Psikolognya berkata, kalau mau dia konsentrasi bermain, ajak dia ke taman. Habiskan energinya dulu. Lalu saya terapkan. Setiap hari ke taman, tapi bukan energi dia yang habis melainkan energi saya.

Pulang dari taman, hatinya Arkan riang, masih sanggup dia bermain lagi. Main air, main lari larian dekat rumah dan sebagainya. Malam harinya baru dia agak redup, mulailah saya ajak main mainan edukatif, saya bacakan buku, pelan pelan. Amazing dia mau dan bisa.

Saya senang, setiap hari begitu. Setelah energinya dihabiskan sepanjang pagi sampai sore, malamnya dia memperlihatkan hal hal amazing buat saya. Ternyata dia cerdas. Tapi dia masih tantrum. Kemudian saya ke psikolog kedua, penjelasan nya sama. Anak saya kinestetik, kebutuhan geraknya tinggi tinggal difasilitasi dan berlatih membuat kesepakatan dengannya supaya dia tidak tantrum.

Saya lakukan semua nasehatnya. Karena psikolog kedua susah ditemui (beda kota) akhirnya saya ketemu psikolog ketiga. Kurang lebih sama penilaian mereka, psikolog ketiga ini banyak support saya dan memberikan saya masukan.

3 tahun terakhir yang lumayan melelahkan buat saya. Karena saya harus punya stok seribu sabar hehee. Yang paling berat adalah menurunkan waktu bermain hp/menontonnya. Dari yang 8 jam sehari sekarang hanya 40 menit sehari. Saya tidak pakai metode games Sabtu Minggu karena buat saya susah saya jaga ritmenya.

Saya tidak masukkan Arkan ke PAUD sampai 3 bulan yang lalu ketika usianya 6,5 tahun. Perkembangan Arkan selama belajar dengan saya juga pesat, sudah bisa konsentrasi main Lego (bikin rancang bangun), bisa menggambar, menggunting, menulis sendiri, menari, bernyanyi, berhitung cepat, bahkan dia sekarang bisa bikin animasi (yang dulu saya berpikir Arkan tak mungkin bisa melakukan nya) oh iya dia gampang belajar berenang karena anak kinestetik, di kolam pun ga bisa diam. Main cemplung aja. Makanya suka was was kalau dia berenang sendirian.

Saya tidak susah2 mengajarinya. Cukup bawa dia ke taman, biarkan dia bermain. Atau kita jalan jalan ke Playground, atau main kemah2an, pokonya habiskan energi dia. Saya pernah memberikan 1 buku latihan anak paud dan dia kerjakan dalam waktu 30 menit saja, semuanya benar. Setelah itu dia bosan dan merengek mau pergi ke suatu tempat.

Pada masanya ketika dia puas main main, 3 bulan yang lalu dia minta sekolah ke paud. Saya fasilitasi.

Ayah bunda, kalau menemukan hal hal janggal seputar perkembangan anak bunda segera teliti apa yang salah. Yang pertama harus dilakukan adalah tarik ponsel dari tangannya. Meski dia hanya mendengar video klip atau lagu lagu saja di hapenya, tapi kalau dilakukan terlalu lama justru menghambat perkembangan nya. Ada 6 aspek perkembangan anak dan semua ada waktu waktunya. Kalau anak tidak berkembang saat waktu yang ditentukan, jangan termakan ucapan orang : setiap anak berbeda perkembangan nya.

Ya memang tiap anak berbeda perkembangan nya, tapi ada batas waktu maksimal yang harus diperhatikan. Apakah anak saya baik baik saja? Normalkah? Turunkan ego bunda, tepiskan rasa malu dan gengsi. Pergilah ke psikolog. Tidak mahal kok, akan lebih mahal rasanya kalau kita telat memfasilitasi tumbuh kembang anak kita. Apalagi langsung menitipkan anak ke sekolah TK tanpa mendampingi proses tumbuh kembangnya.

Setiap anak berbeda dan istimewa'


Saya Tidak Memaksa Anak Saya Untuk Berbagi

Friday, August 16, 2019

Saya Tidak Memaksa Anak Saya Untuk Berbagi

"Ayo, dek mainannya dikasih pinjem temen kamu. Kamu jangan pelit."

Si adek tidak mau tapi tetap dipaksa berbagi oleh orang tuanya. Kasus lain.
"Kaka kan minta makanan kamu, ayo dibagi," lalu tanpa ijin sang adek, ibu langsung membagi dua makanan yang notabene milik si adek.

Saya pikir dulu, mengajarkan anak berbagi harus sejak usia dini. Kalau perlu sejak dia usia 1 tahun. Tapi ternyata setelah belajar parenting di komunitas HS, terkuaklah bahwa anak usia 1-3 tahun tidak perlu diajarkan berbagi. Karena fase umur itu adalah fase mereka egois dengan barang mereka sendiri dan sebaiknya biarkan mereka puas merasa memiliki. Cmiiw ya soal fase ini.

Ketika anak kedua saya berumur 4 tahun saya baru dapat ilmu ini. Cara cara saya mengajarkan anak pertama saya berbagi, ternyata salah. Akhirnya saya terapkan ilmu baru pada anak kedua saya. Apa itu?

Yaitu belajar kepemilikan. Wah bagi saya ini ilmu baru soal kepemilikan. Hal yang disepelekan tapi rupanya punya dampak besar.

Jadi sejak kecil jangan langsung diajarkan harus berbagi tapi ajarkan kepemilikan.

Ini makanan kamu. Ini milik kamu. Kamu boleh membaginya dengan orang lain boleh tidak.

Ini mainan kamu. Ini mainan kakak.
Itu barang ibu. Itu barang kakak.
Kalau kakak minta makanan kamu dan kamu tidak mau kasih, kakak tidak boleh memaksa. Begitu juga sebaliknya. Selama 1-2 tahun pertama dia ogah berbagi sama orang lain. Tidak apa apa batin saya, dia belajar menikmati kepemilikan dia dulu.

Efeknya ternyata luar biasa buat anak kedua saya. Di umur dia ke-5 saya terkaget-kaget melihat dia begitu mudahnya berbagi pada orang lain. Kalau beli susu kotak dia beli 3, untuk dirinya untuk kakak dan untuk sepupunya. Minggu lalu, teman lama datang ke rumah bawa bayinya. Karena gemas dengan si dedek, anak kedua saya langsung ambil boneka kesayangan nya dan dikasih ke si dedek Bayi itu..benar benar dikasih. Syok sekaligus takjub melihatnya. Padahal setahun lalu, minjemin mainan ke teman aja pelit banget.

Lalu esoknya lagi dia jajan dengan uang THR nya dan dia bagi bagi makanan ke temannya. Lalu berbagi mainaan ke teman ke abangnya. Dan saya bahagia mengetahui kenyataan bahwa saya tak perlu memaksa dia untuk berbagi.

Manfaat lain dari belajar kepemilikan. Dia merasa memiliki kamarnya, maka saat kamarnya kotor dia rapihkan sendiri, dia sapu dan dia ganti sprei sendiri tanpa disuruh. Dia juga merapikan mainan sendiri dan menatanya. Karena dia merasa itu miliknya maka secara fitrah dia pasti akan merawat apa yang jadi miliknya.

Kalau dia merusak milik orang lain dia harus ganti rugi sesuai kesepakatan dengan orang yang barangnya dia rusak. Soal belajar ganti rugi ini juga mengajarkan dia buat tanggung jawab dan akan berhati hati sama barang orang.

Manfaat belajar kepemilikan lainnya adalah, jadi mudah mengatur dia main gadget.

Ini, kan ponsel mama. Mama yang punya hak mau berapa lama kasih pinjam kamu. Jadi kalau kita belikan gadget buat anak, wajar kita akan susah kendalikan mereka karena itu, kan milik mereka. Secara naluri mereka akan masa bodo aja, bebas dong punyaku. Kalau kita rampas gadget milik mereka, mereka akan terluka karena merasa hak miliknya dirampok.

Dengan belajar kepemilikan mudah mengatur anak kedua saya untuk tidak lari larian di rumah orang lagi.

Ini rumah orang bukan rumah kamu. Kalau ada barang rusak kamu harus ganti rugi. Meski kadang buat bagian ini dia akan jawab : aku larinya hati hati kok. Hufft masih sulit bagian ini. Tapi setidaknya sudah bisa lebih dikontrol.

Dia juga tidak akan mengambil barang orang lain tanpa ijin. Karena dia tahu nikmat nya memiliki maka dia juga akan paham rasanya kalau milik dia diambil paksa.

Jadi jangan paksa anak anda berbagi dengan orang lain kalau dia belum mau berbagi. Cukup kita iklan kan sifat berbagi itu dari sikap kita, anak pasti akan mencontoh perilaku kita. Biarkan anak berbagi dengan bahagia.

Catatan Homeschooling 2 : SUDAH SETAHUN HOMESCHOOLING, INI GAYA SAYA.

Monday, August 5, 2019

Saya memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak-anak kembali alias Homeschooling tepat 1 tahun yang lalu. Tak terasa ya, satu tahun penuh dengan segala cerita naik turun hehehe. Memutuskan untuk HS itu tidak mudah, galaunya saja bertahun-tahun. Setelah mantap HS pun masih sering diterpa oleh kebimbangan, belum lagi kalau teman bertanya kenapa HS? Terus komentari : sayang banget anaknya berhenti sekolah. Atau orang tua dan mertua yang masih sesekali meminta anak-anak buat sekolah. Tapi apa pun itu saya dapat jawaban dari seorang psikolog.

Kalau ditanya kenapa HS? Jawab saja karena ini pilihan cara belajar saya dan anak-anak.

Sudah, tak perlu dijelaskan karena begini begitu. Dijelaskan seperti apa pun kalau orang tidak menerima konsep HS pasti akan menentang dan hanya akan mencari debat. Saya menghindari perdebatan. Intinya sekolah itu bagus, HS itu bagus. Metode mana yang tepat untuk diterapkan pada keluarga dan anak-anak itu adalah pilihan setiap keluarga. Karena setiap keluarga punya metode mendidik yang berbeda-beda. Saya tidak mau jelek-jelekin orang yang sekolah karena saya tahu, ada anak-anak yang memang cocok dengan konsep sekolah.

Sayang sekali, sejauh ini anak-anak saya belum menemukan sekolah yang cocok dengan karakter mereka. Ya, sebelum HS saya konsultasi ke 3 psikolog dan menemukan karakter-karakter anak saya yang tersembunyi. Yang sebenarnya saya tahu tapi saya baru NGEH setelah diselepet sama psikolog wkwkwkw.

Ada pertanyaan yang nonjok banget dari salah satu psikolog saya : emang kamu HS-in anak buat apa?

Saya jawab : Ya buat mengembangkan bakat anak-anak saya.
Psikolog : Misalkan anak-anakmu bakatnya main piano, kamu asah terus main piano dia sampai dia jadi masternya master piano, terus apa? Gimana kalau 20 tahun lagi ternyata pemain piano ngga diperlukan? Gimana kalau ternyata 20 tahun lagi, penulis, pemusik, tukang masak dll digantikan sama robot atau mesin?

Makjleb banget saya bingung jawabnya. Diskusi-diskusi selama beberapa hari sampailah saya pada sebuah kesimpulan bahwa mendidik anak sesungguhnya adalah membuat anak mampu Akil Baligh dengan sempurna. Anak mempunyai daya juang, ngga baperan, bisa bermasyarakat dengan baik, mandiri, bisa mengelola emosi dll. Nah sikap-sikap begitu yang harus diutamakan. Dengan anak punya daya juang, dia akan berjuang untuk beribadah, belajar, memperbaiki diri dll.

Jadi fokus saya HS selama setahun ini saya tidak membuat jadwal macam-macam. Untuk Abiy (11th) saya masukkan dia ke PKBM, karena tuntutan ortu dan mertua tetap mau dia punya legalitas. Belajar di PKBM online yang hanya seminggu 3 kali @2 jam. Ujian tengah semester ada, ujian akhir semester juga ada.

Selain urusan belajar di PKBM, saya ngga menuntut Abiy belajar keras. Dia lagi suka bikin game sederhana (coding) dan animasi setahun ini, ya, saya biarkan saja dia kembangkan kesukaannya sambil setiap hari melahap buku-buku. Konsentrasi saya adalah di daya juang dia dan adiknya. Abiy jadi bisa masak sendiri, kalau lapar dan mamanya tidak sempat masak, dia masak telur sendiri. Setahun ini inisiatif dia meningkat, rumah berantakan dia rapihkan, ada yang tidak beres dia bereskan, Abiy juga hanya ikut kursus badminton dan tahsin. Tidak ada jadwal khusus yang membuat saya sebagai ibunya pusing wkwkwkw. Makanya ini HS yang santai buat saya.

Karena saya tidak memindahkan sekolah ke rumah tapi menciptakan kebahagiaan belajar di rumah.
Abiy tetap main game dan nonton youtube dengan syarat : harus mandi sebelum jam 8 pagi, sebelum jam 1 siang harus setor resensi buku yang dia baca. Ya saya mewajibkan dia menulis resensi pendek setiap hari dan menerjemahkan 3 kata bahasa inggris dari kamus Inggris-inggris, bukan kamus Indonesia-Inggris. Sejauh ini baru itu saja tugas pribadi dari saya. Tugas-tugas PKBM dikerjakan menjelang UTS dan UAS saja.

Begitu juga dengan adiknya, Arkan. Kalau dia mau sesuatu dia harus berjuang. Misal dia mau mainan A, harga 50 ribu. Saya iyakan dengan syarat kamu harus kumpulkan 20 bintang dari mama, satu bintang harganya 2500. Bintang bisa didapat setelah dia mengerjakan Logico (search aja ya di google apa itu logico wkwkwk). Dia yang kinestetik mau dong mengerjakan logico yang mengharuskan konsentrasi. Wuih awalnya susah bikin dia konsen, 5 bulan pertama treatmentnya adalah diikutkan kelas lego. Karena Arkan ini kinestetik banget. Sampai kemudian bulan 6 HS barulah ketahuan dia suka menggambar dan JAGO meniru gambar. Masya Allah. Jadilah saya fasiitasi dia kertas berim rim dan spidol banyak-banyak.

Awalnya susah membuat syarat-syarat ini karena kita sebagai orang tua harus konsisten dengan ucapan kita dan harus TEGA melihat anak menangis, kecewa, sedih ketika dia tidak bisa memenuhi syarat dari kita. Karena hidup itu kan memang berjuang wkwkwkw. Arkan ini karena kinestetik dan masih 6 tahun, masih suka tantrum awalnya. Saat main game hanya dibatasi 50 menit sehari dia ngamuk-ngamuk, wah butuh 2 bulan buat konsisten dengerin dia ngamuk sampai akhirnya ya... saat kita bilang waktu habis. Semua langsung nutup ponsel/laptop dan berhenti main game.

Duh banyak banget yang mau diceritakan soal HS ini. Perjalanan 1 tahun kayaknya ngga cukup hanya dijabarkan di satu post wkwkw. Tapi saya malas ngisi blogspot sih. Ini aja maksain pengen nulis nulis biar ngga lupa huhuhu.

Dari hasil finger print, Arkan ini ternyata mudah sekali meniru dan kinestetikm jadi kalau mau mengajarkan dia suatu hal, buat energinya habis dulu (kata salah satu psikolognya). Akhirnya ya kami lebih sering jalan-jalan hampir setiap hari minimal ke taman-taman kota Tangerang, thanks pak Walikota udah bikin banyak taman di Tangerang. Memfasilitasi Arkan. Sehari 1-2 jam buat main-main sampai capek, lalu main lagi di rumah, main pasirlah, minta diajarin masak telurlah, minta masak donatlah, pokoknya dia harus capek. Malamnya baru bacain Arkan buku.

Arkan ini kalau dibacain buku selalu kabur-kaburan, ngga kayak abangnya, jadi saya harus sabar habisin energi dia. Alhamdulillah dengan metode habiskan energi dia di pagi-sore, maka malam harinya dia bisa konsentrasi buat dengerin buku meskipun yaa awalnya dia bosan. Lambat laun, dia ngga bisa tidur kalau belum dibacakan buku. Membacakan buku membuat dia penasaran sama huruf, dan dia pun mulai menanyakan huruf huruf namanya. Saya hanya menuliskan nama ARKAN di atas kertas dan dia meniru hanya dengan sekali goresan, saya saja melongo melihatnya.

Padahal ABC-Z dia belum hapal wkwkw cuma modal meniru. Nah modal inilah yang saya nikmati, dia beljar banyak dari jalan-jalan. Belajar huruf, angka, warna dari jalan-jalan. Belajar mneghitung duit dari uang ampao lebaran dan semalam saya syok saat dia mengerjakan soal penambahan dan pengurangan matematik dengan cepat dan jawabannya BENAR. Wkwkwkw... jadi 2 tahun lalu saya membeli buku tambah2an dan pengurangan tapi Arkan ga tertarik sama sekali. Tiba-tiba sekarang dia tertarik sama hitung-hitungan. WOWWW.... terima kasih ampao lebaran.

Jadi semakin percayalah saya bahwa setiap anak sudah ada fitrah belajarnya masing-masing. Fitrah belajar baca-tulis dan matematika Arkan muncul saat usianya 6,5 tahun. Kalau di TK sudah TK B itu, wkwkwkw... tapi saya tidak mengajarkan. Saya hanya menyediakan fasilitas, seperti Logico itu permainan logika dan dasar menulis membaca adalah bermain logika bukan? Thanks Logico (bukan ngiklan karena ngga jualan hahahaha)

Intinya, saya mencoba memahami karakter belajar anak-anak saya. kalau Abiy lebih konsentrasi belajar dalam ketenangan dan kenyamanan, dia tipe anak rumahan. Beda sama Arkan yang hobinya main keluyuran di komplek dan pengen selalu main ke taman karena butuh menghabiskan energinya. Pernah berminggu-minggu Arkan setiap hari hanya menari ratoe jaroe dari meniru gerakan Asean Games dan saya biarin aja, sih. Asal dia capek wakakakaka.... dan dia belajar hal-hal lain dalam setiap kegiatannya.

Sekarang dia bilang mau belajar baca Al-Qur'an wah saya sambut dong langsung deh ajakin hapalan, belajar Iqro. Sejak 2 tahun lalu saya coba ajarin dia tapi dia kabur-kaburan terus, ya sudah saya hanya memberikan contoh nikmatnya baca Al-Qur'an. Lama-lama dia merasa itu nikmat dan kepengen belajar. Kalau soal shalat, dia peniru ulung, jadi rajinlah ke masjid meski banyakan mainnya. Toh belum 7 tahun. Tapi beberapa bulan lalu, abangnya sudah mulai mengajarkan dia berwudhu dan gerakan shalat dengan benar, beberapa kali juga saya melhat mereka shalat berjamaah. Duh... emak santai beud deh. Karena Abang Abiy sudah bisa mengajarkan adik.

Abang Abiy juga yang mengajarkan adik bikin telur dadar enak, ngajarin adik main badminton, ngajarin adik shalat, ngajarin adik bikin animasi wkwkwkw... asyiknya :D

Ya, baru segini perjalanan HS saya. Masih panjaaang euy. Saya termasuk mama yang susah bikin worksheet  atau program program apalah. Kalau ada buku aktifitas yang bisa dibeli ya beli. Karena pekerjaan menulis saja sudah menyita waktu dan tenaga, belum lagi kegiatan menjadi narasumber di sana sini, kegiatan bikin proposal dll. Alhamdulillah sih semua bisa dilakukan di rumah, kalau lagi jadi narasumber di beberapa tempat ya saya ajak anak-anak, karena mereka juga HS. Pekerjaan suami juga menulis naskah, jadi fleksibel deh kemana-mana. Alhamdulillah setelah 4 tahun menolak HS, suami tahun kemarin akhirnya juga mantap buat HS-in anak-anak.

Satu hal yang saya rasakan luar biasanya HS. Saya dan suami juga dituntut buat belajar, dituntut untuk menjadi lebih baik lagi, belajar parenting lagi lebih giat, belajar sabar, dan yang terpenting adalah belajar menciptakan suasana BAHAGIA di rumah. Kalau nanti Abiy SMP/SMA mau HS jugakah?

Wah itu belum tahu... tergantung Abiy-nya dan perkembangan dia selanjutnya bagaimana. Kalau ada sekolah yang cocok buat karakternya dengan harga terjangkau ya bolehlah. Kebanyakan sekolah bagus sedikit kan biaya masuknya aja 30 juta wkwkwkw....

Ternyata nulis 1 blog ini 30 menit. Seharusnya saya bisa lebih rajin ngeblog, nanti kalau ada momen momen lain yang saya ingat, saya akan share. Terima kasih sudah baca blog saya ^^ 

CATATAN HOMESCHOOLING : First Time

Wednesday, September 26, 2018

Catatan Pertama, 27 September 2018

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, lapangan basket, anak dan luar ruangan

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, lapangan basket, anak dan luar ruangan
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, lapangan basket, anak dan luar ruangan


                                                   Foto : Ikut kegiatan JANGKAR OASE 2018


Saya menulis catatan HS ini semata-mata untuk menjadikan ini portofolio dan pengingat diri sendiri yang pelupa. Anak-anak saya kelak harus tahu bahwa inilah yang menjalankan semasa mereka kecil. Semoga saya bisa konsisten memulai menulis ini.

Saya bukan ahli parenting, hanya orang tua yang ingin belajar sampai akhir hayat, meski tertatih-tatih. Ingin membersamai anak semaksimal mungkin. Kalau ada manfaat dari catatan ini silahkan dikonsumsi, kalau ngga enak boleh dilepeh hehehe.

Saya mulai HS tahun ini, memutuskan untuk mengeluarkan anak pertama saya dari sekolah. Abiy sudah naik kelas 4 SD tapi saya putuskan untuk HS. Kenapa? Panjang alasannya. Intinya, sekolah tidak cocok untuk Abiy. Saya tidak mau bilang sekolah itu jelek, nanti malah jadi pro dan kontra. Sekolah itu bagus, HS itu bagus, hanya masalah kecocokan dan kenyamanan saja. Ada anak yang nyaman sekolah dari pagi sampai sore lalu setelahnya kursus lagi sampai malam dan tidak merasa tertekan karena dia enjoy, ada yang merasa tertekan tapi diam saja, ada yang santai-santai saja, dan Abiy tipe anak yang tertekan tapi diam saja. Diamnya cukup lama, sampai kemudian dia meledak dan mengeluarkan keluh kesahnya.

Jadi sekolah itu bagus, HS itu juga bagus, adalah sesuai kebutuhan masing-masing anak ya. Please gak ada pro dan kontra hahaha....

Atas usul beberapa teman akhirnya saya membawa Abiy ke psikolog, buat mengenali diri Abiy lebih jauh seperti apa. Sampai pergi ke 3 psikolog berbeda dan memang ternyata dia bukan tipe anak yang tahan dibully, perasa sekali, halus dan bisa belajar dalam kondisi nyaman. Kalau suasana udah ngga nyaman, dia ngga maksimal dalam belajar.

Mungkin ada beberapa orang tua yang beranggapan, anak dibully harus kuat karena di kehidupan sebenarnya banyak bullyan. Tapi mohon maaf, saya berpijak pada teori : masa kecil anak yang bahagia akan membuat anak menjadi kuat saat dewasa.

Saya tidak mau memaksa anak saya sekolah dan tidak bahagia. Saya melahirkan anak saya, membesarkannya, bekerja keras untuk dia hidup adalah agar dia bahagia.

Tentu memutuskan HS bukan tanpa kesiapan. Saya belajar tentang ruasdito dan bagaiman mempersiapkan akil baliq untuk Abiy. Saya memperbaiki konsep yang ada di kepala saya, bahwa mandiri bukan berarti anak ditinggal di sekolah artinya mandiri. Justru banyak anak yang sekolah tapi dimanja, dianterin sampai pintu gerbang, makanan selalu tersedia, dijemput, semua PR diurus orang tua dan lain sebagainya.

Ketika saya memutuskan untuk HS adalah ketika libur panjang bulan Juni-Juli. Selama  1 bulan itu saya masih dalam pergulatan batin, stress, mau beneran HS-in anak atau batal aja? Mampukah saya? Bisakah saya? Sampai akhirnya saya bertemu dengan Kemah JANGKAR-nya Club OASE (bisa googling). Kemah yang isinya adalah para pegiat HS atau orang-orang yang memang berminat HS.

Sejujurnya saat mau kemah JANGKAR itu, keuangan saya lagi seret karena banyak honor menulis yang mampet. Tapi hati kecil saya berkata saya harus ikut ini. Saya mau belajar dan saya mau menguatkan hati saya. Karena memutuskan HS tentu saja akan banyak pertentangan dari keluarga maupun masyarakat.




Alhasil dengan kerja rodi yang sangat keras, akhirnya saya bisa bayar biaya kemah yang lebih dari 2 juta itu hehehehe. Alhamdulillah go berangkat ke Kaki gunung gede! Banyak cerita di sana, yang seharusnya saya catat. Tapi nantilah saya tulis dalam catatan sendiri. Intinya di sana saya bahagia, anak-anak bahagia, Abiy pun semakin yakin buat HS saat ketemu dengan teman-teman seumurannya yang HS. Arkan apalagi... dia umur 5 tahun dan memang ngga pernah mau masuk ke TK meski drayu jungkir balik. Btw, Arkan ini ternyata adalah anak kinestetik.

Ibaratnya, Jangkar ini adalah pintu gerbang kami sekeluarga untuk memulai HS. Suami saya saat kemping tidak bisa ikut kegiatan JANGKAR, dia hanya ada di kemah saja karena ada pekerjaan menulis skenario. Tapi bersyukur, sound system yang disediakan panitia suaranya kenceng banget. Jadi sambil ngetik, dia masih bisa menangkap beberapa materi. Dan ini semakin menguatkan dia untuk membersamai saya membimbing anak-anak saat HS.

Salah satu kegalauan terbesar saya saat memutuskan mau HS adalah : mama saya mau ke ICU, karena kena serangan darah tinggi sampai 222/180 dan terkena resiko stroke serta gagal ginjal. Kurang lebih 1 bulan saya dan saudara-saudara bergantian untuk menjaga mama sakit. Karena saya kerja di rumah, saya sering kebagian menjadi dari pagi sampai maghrib sehingga anak-anak yang tidak sekolah itu, baru mulai HS itu tidak bisa pergi kemana-mana. Di rumah neneknya terus sehingga mereka terlihat bosan.

Tapi alhamdulillah awal agustus mama bisa sembuh, sehingga kita bisa pergi ke Jangkar, dapat semangat baru dan pulang pun mulai HS dengan sesungguhnya. Hal pertama yang kami lakukan adalah melakukan Deschooling (bisa googling) yang intinya sih detox atas pikiran-pikiran sekolah. Jadi HS itu bukan memindahkan sekolah ke rumah. Jadi karena Abiy baru berhenti sekolah, saya harus berhenti berpikir bagaimana memindahkan kegiatan sekolah di rumah. Sehingga setelah deschooling selama 3 bulan (hanya jalan-jalan, baca buku, ikut kegiatan ini itu, kursus dll) akhirnya kami lebih santai untuk HS. Saya yang lebih santai sih dan ngga stress anak harus kursus ini itu. Ngga usah manggil guru privat dan bikin jadwal kayak sekolahan.




Yang saya lakukan di Bulan Agustus dan September saat anak anak HS adalah :

1. Abiy dan Arkan ikut kelas robotik seminggu dua kali. Selama 1,5 jam di RUMAH PENA (lembaga yang saya kelola sendiri).
2. Seminggu sekali, Abiy ikut kelas belajar menulis kreatif bersama saya dan 4 murid lainnya yang seusia Abiy. So' dia tetap bersosialisikan dengan kursus-kursus itu.
3. Setiap Senen dan Selasa, Abiy ikut kelas Tahsin. Di rumah juga hapalan Qur'an bareng-bareng saya yaaa meski banyak bolongnya hahaha.
4. Saya belajar bikin catatan, hari ini anak-anak ngapain aja, meski banyak bolongnya. Yaaa maklum cyin baru belajar HS.
5. Seminggu 2 kali Abiy saya kasih tugas menerjemahkan buku picture book bahasa inggris adiknya, buku-buku import yang saya beli di Big Bad Wolf, emang sengaja nyetok banyak buat belajar bahasa inggris dia. Insya Allah Oktober baru ikut kelas Bahasa Inggris lagi di RUMAH PENA (Lemabaga yang saya pimpin sendiri)
6. Per September ini Abiy ikut kelas badminton seminggu 2 kali yaitu setiap Rabu dan Jumat sore.
7. Oktober ini Abiy dan Arkan baru mau ikut kelas Bahasa Inggris di Rumah Pena. Tuh siapa mau ikutan juga kuy yaaak langsung follow IG @rumahpenatalenta
8. Oktober ini dia juga bergabung di PKBM Generasi Juara, insya allah ikut kelas online aja biar bisa banyak jalan-jalannya.

Sementara baru itu saja sih kegiatan rutin mereka. Kenapa kayaknya lebih banyak Abiy yang aktifitas kursus? Karena dia sudah kelas 4 SD dan butuh banyak kegiatan, sudah bisa memilih juga apa yang mau dia pelajari. Sementara Arkan kelasnya masih jalan-jalan aja, main di taman, belanja ke pasar, ikut mama ke pengajian, dll.

Di luar waktu kursus mereka ngapain? Abiy tentu membaca buku nyaris sepanjang hari. Bermain lego. Bermain Fun Thinker, main catur, Main Logico Grolier, Membuat animasi atau baru-baru ini dia dan Arkan sedang senang mengukir batu. Ya biarkan sajalah... siapa tahu batu jadi berlian hehehe.

Selain itu juga mereka beberapa kali ikut saya meeting, 2 kali menemani saya jadi juri di Festival Al-Adzom, jalan-jalan ke Asian Games, ikut pelatihan KKPK di Mizan, berenang tidak rutin lebih sering renang dadakan aja, jalan-jalan ke perpustakaan kota Tangerang sudah 2 kali, lebih sering eksplorasi ke taman, jalan-jalan bersama komunitas HS Tangerang (meramban taman kota Srengseng, jalan-jalan ke area Bandara), jalan-jalan ke mall, dll hahaha. Banyak kegiatan jalan-jlan yang belum kesampaian seperti kegiatan ke Museum, TMII, Ancol, Taman Bunga dan lain sebagainya.

Mau ngajarin Abiy bikin jurnal perjalanan. Tapi Oktober ini mau beli PC baru buat dia dan printer dulu, peralatan bundling dll. Intinya sih, emaknya ini nyantai banget hahaha. Pelan-pelan gitu. Alhamdulilllah hampir 3 bulan deschooling Abiy sudah lebih mandiri dan inisiatif. Arkan juga kinestetiknya lebih terarah.

Itu aja dulu, saya mau cus ke kelas privat menulis novel. Murid sudah menanti. Nanti kalau sengang mau cerita-cerita lagi yang lebih terarah hahaha... berasa banget ini nulis lompat-lompat.

See you. Kalau mau sharing soal HS biar saya tambah pinter, boleh dong di kolom komentar.
Jangan dibully karena saya newbie :p

Salam
Achi TM
Penulis 29 Novel dan lebih dari 200 naskah skenario TV
Penulis novel Insya Allah SAH dan Before I Met You.




BISAKAH HIDUP DARI MENULIS? BISA... INI CARA SAYA.

Sunday, September 10, 2017

Sebagai penulis full time, saya dan suami tidak punya gaji bulanan. Tidak punya tunjangan sertifikasi atau apa pun. Oleh karena itu kalau mau hidup layak, kami harus bekerja keras dua kali lipat daripada mereka yang mendapatkan gaji. Karena apa? Karena dunia menulis itu pasang surut.
Pernah dalam satu tahun kami mengalami surut sekali pekerjaan menulis skenario. Sampai kami rela menulis artikel yang dihargai 20 ribu rupiah hanya demi bisa makan. Agar bisa hidup layak, kami harus kerja keras menulis masing-masing 10 artikel dalam satu hari. Karena apa? Karena job nulis artikelnya tiba-tiba saja berhenti di bulan ke-4 kami bergabung. Job dihentikan maka berhenti juga rejeki yang ngalir dari artikel itu.
Di waktu yang lain, dapat panggilan menulis stripping lagi. Gembira. Kami menulis stripping tapi baru 13 episode, tayangannya berhenti. Maka berhenti juga aliran dana ke kami.
Ya, dunia menulis ini dinamis banget. Kalau lagi banyak proyek, banyaaaak sekali yang kami dapatkan. Kalau tidak ada sama sekali ya sama sekali kami ga dapat uang. Di 3 tahun pertama kami memutuskan jadi penulis full time (saya dan suami), kami belum tahu polanya dan tidak tahu bagaimana mengatur ritmenya. Sehingga ketika tidak ada job, uang tabungan pun terus kepakai lalu habis, lalu hidup serba ngepas meski kadang harus ngutang sama adik atau kakak yang kerja gajian.
Sampai kemudian kami belajar tentang prioritas. Maka di tahun 2011, saya mulai fokus lagi menulis novel. Setelah terakhir novel saya terbit tahun 2009. Fakum 2 tahun kemudian bergerak lagi untuk nulis novel. Karena apabila tidak ada pekerjaan di dunia skenario, maka saya menulis novel. Itu strategi saya. Bahwa novel adalah pendapatan jangka panjang. Selain uang royalti bisa menjadi uang tambahan untuk keluarga, nama saya juga bisa naik lagi.
Percaya atau tidak. Rentang tahun 2008-2011 ketika saya fokus nulis ratusan naskah skenario. Nama saya mandeg. Ngga ada yang kenal saya. Apalagi kalau ikut tim nulis, boro-boro masuk TV. Kalaupun nama ditulis di FTV, berapa banyak penonton yang memerhatikan?
Oleh karena itu dengan rajin menulis novel, saya punya bukti fisik bahwa saya penulis.Alhamdulillah setelah digeber, sejak 2011-sekarang, dalam satu tahun rata-rata saya menelurkan 3 novel. Tahun 2011 buku saya hanya ada 6 buah saja. Tahun 2017 sekarang sudah ada 24 novel.
Sejak saat itu, royalti buku bisa membuat kehidupan keuangan rumah tangga kami agak sedikit stabil. Tabungan pun tidak diutak-atik terus saat tidak ada job menulis skenario. Meski tidak ada job stripping tapi kami terus menulis sinopsis buat FTV, ada masa ketika sinopsis kami ditolakin terus, kami masih bisa hidup dengan royalti buku sampai kemudian ada sinopsis yang nembus. dan seterusnya dan seterusnya.
Apa semua novel saya laku di pasaran? Tidak.
Tidak semuanya laku di pasaran. Ada perasaan lelah dan jengah ngga mau nulis novel lagi tapi selalu saja Allah memberikan semangat lewat cara yang berbeda-beda. Salah satu penyemangat saya tetap menulis adalah : ketika saya mendapatkan email dari salah seorang pembaca novel saya. Yang mengatakan bahwa dia menyukai novel saya dan menunggu karya-karya saya yang lain.
Seperti setruman semangat yang mengalir ke seluruh darah saya. Di suatu tempat, ada orang asing yang menantikan karya saya. Ada orang asing yang terinspirasi dengan novel yang saya tulis. Itulah yang membuat saya terus semangat menulis novel. Meski royalti kadang hanya dapat 200 ribu dipotong pajak 15% *halah tapi saya yakin dengan seyakin yakinnya kalau Allah selalu membayar setiap kerja keras kita.
Pernah pula, selama 2 minggu saya ngga nulis apa-apa dan ini stressnya luar biasa. Setelah saya menulis, meski hanya sekedar puisi, saya merasa bahagia dan lega.
Novel Insya Allah SAH yang terbit tahun 2015, adalah momentum luar biasa dalam hidup saya. Hasil kerja keras dan kesabaran saya seperti dibayar sama Allah bertubi-tubi. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa novel Insya Allah SAH bisa difilmkan? For Your Info, novel Insya Allah SAH dipinang oleh PH MD Entertainment saat satu bulan terbit.
Saya hanya mampu menjawab : ini adalah hadiah dari Allah.
Maka ketika saat ini ada PH yang rela bikin kontrak dengan saya untuk memfilmkan novel saya yang belum terbit, saya semakin yakin bahwa kasih sayang Allah begitu sangat besar.
Pernahkah saya dan suami berpikiran mencari rejeki dari tempat lain? Pernah. 5 Bulan kami ngga nulis (untuk industri) sama sekali. Saya hanya nulis puisi, nulis curhatan galau di blog dan nulis status.
Uang tabungan kami, 30 juta, kami pakai untuk bikin usaha makanan selama 4,5 bulan dan hasilnya makanannya kami makan sendiri. Alias gagal total. Nelongso. Babak belur. Ngap-ngapan dan ya udahlah akhirnya seseorang bilang ke kami : selama ini periuk nasi kalian dari mana? Ya dari menulis.
Akhirnya kami balik menulis dan voila... langsung dapat pekerjaan yang terus mengalir sampai jauh. Allah kasih saya talenta menulis. Kasih suami saya talenta menulis. Kalau tidak bakat dagang barang fisik, yang jualan kata-kata saja.
Jadi kalau ada pertanyaan bisakah kita hidup layak dari menulis? Jawabnya : iya. Bisa. Asal menulis terus. Dan harus menulis lebih banyak dari orang lain. Bekerja lebih keras dari orang lain. Berpikir lebih banyak dari orang lain.
Selamat menulis, selamat bersenang-senang.

RUMAH PENA DIGANDENG OLEH SEKOLAH INOVASI

Friday, July 14, 2017

Sekitar dua bulan yang lalu, mbak Ade Ufi - teman lama di Love Asset- mengajak saya untuk mengisi pelatihan menulis di Sekolah  CITA Buana. Lama ngga jumpa, rupanya mbak Ade sudah menjadi pengurus Sekolah Inovasi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang training. Setelah ngobrol ngobrol sejenak soal Sekolah Inovasinya, saya pun tertarik buat join mengisi pelatihan menulis yang diselenggarakan Sekolah Inovasi. Bukan Juli ini, mereka punya jadwal mengisi di sekolah Cita Buana.

Saya mewakili Rumah Pena, lembaga kursus yang saya dan keluarga dirikan bersama sama, mulai mempersiapkan materi khusus untuk sekolah inovasi. Sayangnya, dua hari sebelum hari H pelatihan dimulai, saya malah jatuh sakit.

Ya, sakit yang muncul karena kelelahan. Kurang lebih sebulan belakangan, aktifitas saya keluar rumah memang seringkali sekali. Hampir setiap hari saya berangkat pukul 10 pagi dan pulang ke rumah pukul 10 malam. Mending kalau jaraknya dekat, tempat tempat yang saya datangi itu jauh jauh. Mulai dari Tangerang, Jakarta, Depok sampai Bekasi. Melelahlan memang tapi saya senang. Karena kegiatannya adalah kegiatan meeting sama beberapa PH, bahkan buku saya selanjutnya ada yang akan difilmkan lagi setelah film Insya Allah Sah. Btw film Insya Allah Sah masih tayang di bioskop, lho. Selain meeting saya juga promo film ke sana kemari. Menyenangkan memang. Tapi tetap saja badan saya butuh istirahat.

Akhirnya selama 2 hari saya sakit, istirahat full di rumah. Minum obat ini itu dan dibekali. Tadinya nyaris gagal mau datang ke Depok, apalagi belum pulih benar. Tapi saya ingin sekali mengajar menulis lagi setelah hampir dua bulan sibuk ngurusin film Insya Allah Sah. Mengajar menulis adalah sharing yang menyenangkan. Selain memberikan ilmu, kita juga bisa belajar. Apalagi kalau kita mengajar bareng trainer yang lain.

Di pelatihan menulis Cita Buana, yang digawangi oleh Sekolah Inovasi pada tanggal 13 Juli kemarin, saya mengajar bersama dua trainer lainnya. Yaitu mba Ade Ufi yang mengajarkan soal dunia menulis dan self editing, mba Anisa yang mengajarkan untuk membuat karakter dan mencari ide. Uniknya tema khusus pelatihan ini adalah belajar menulis cerita anak. Jadi saya pun belajar hal hal baru. Saya sendiri sharing seputar bagaimana membangun konflik, setting dalam cerita hingga membuat surprise ending.

Pesertanya terdiri dari para guru Tk dan Sd sekolah Cita Buana. Ada 26 guru yang ikut serta. Bagian menyenangkan lainnya adalah : para guru ini smart banget. Jadi mengajarkannya pun semangat. Karena apa? Karena mereka ini cinta membaca, sehingga ketika diberikan materi menulis, cepat sekali tanggapnya.

Bahkan, saat diberikan waktu hanya 1 jam saja untuk latihan menulis, mereka langsung ngebut bikin cerita. Tik tak tok... Wah asyik, satu jam sudah selesai 1 cerita anak. Luar biasa bukan? Saya pun mulai membaca satu per satu tulisan para guru sesuai dengan grup yang saya bina. Subhanallah, cerita cerita mereka unik banget dan seru seru. Padahal waktu bimbingan malah ada yang susah banget ngetik, setelah saya kasih motivasi, kurang dari satu jam sudah selesai 1 cerita.

Menulis itu ternyata mudah, ya. Asalkan mau rajin membaca. Tanpa membaca kita akan kesulitan menulis karena minim kosakata. Di akhir acara, kami pun harus memilih 3 cerpen terbaik versi masing-masing trainer. Saya punya 3 pilihan sendiri, kisah tentang anak yang ditinggal ortunya ke rumah nenek, tentang Rusi si Rusa yang mandi hujan dan kisah tentang pensil emas yang membuat seorang anak jadi rajin belajar. Wah alhamdulillah banget, bisa bermanfaat hari ini.

Terus menulis ya para guru tersayang. Semoga cerita cerita kita kelak bisa memberikan manfaat untuk anak didik kita 😊 terima kasih buat sekolah inovasi atas kesempatan yang menyenangkan ini.

Salam
ACHI TM
Penulis novel INSYA ALLAH SAH






 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati