CATATAN HOMESCHOOLING : First Time

Wednesday, September 26, 2018

Catatan Pertama, 27 September 2018

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, lapangan basket, anak dan luar ruangan

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, lapangan basket, anak dan luar ruangan
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, lapangan basket, anak dan luar ruangan


                                                   Foto : Ikut kegiatan JANGKAR OASE 2018


Saya menulis catatan HS ini semata-mata untuk menjadikan ini portofolio dan pengingat diri sendiri yang pelupa. Anak-anak saya kelak harus tahu bahwa inilah yang menjalankan semasa mereka kecil. Semoga saya bisa konsisten memulai menulis ini.

Saya bukan ahli parenting, hanya orang tua yang ingin belajar sampai akhir hayat, meski tertatih-tatih. Ingin membersamai anak semaksimal mungkin. Kalau ada manfaat dari catatan ini silahkan dikonsumsi, kalau ngga enak boleh dilepeh hehehe.

Saya mulai HS tahun ini, memutuskan untuk mengeluarkan anak pertama saya dari sekolah. Abiy sudah naik kelas 4 SD tapi saya putuskan untuk HS. Kenapa? Panjang alasannya. Intinya, sekolah tidak cocok untuk Abiy. Saya tidak mau bilang sekolah itu jelek, nanti malah jadi pro dan kontra. Sekolah itu bagus, HS itu bagus, hanya masalah kecocokan dan kenyamanan saja. Ada anak yang nyaman sekolah dari pagi sampai sore lalu setelahnya kursus lagi sampai malam dan tidak merasa tertekan karena dia enjoy, ada yang merasa tertekan tapi diam saja, ada yang santai-santai saja, dan Abiy tipe anak yang tertekan tapi diam saja. Diamnya cukup lama, sampai kemudian dia meledak dan mengeluarkan keluh kesahnya.

Jadi sekolah itu bagus, HS itu juga bagus, adalah sesuai kebutuhan masing-masing anak ya. Please gak ada pro dan kontra hahaha....

Atas usul beberapa teman akhirnya saya membawa Abiy ke psikolog, buat mengenali diri Abiy lebih jauh seperti apa. Sampai pergi ke 3 psikolog berbeda dan memang ternyata dia bukan tipe anak yang tahan dibully, perasa sekali, halus dan bisa belajar dalam kondisi nyaman. Kalau suasana udah ngga nyaman, dia ngga maksimal dalam belajar.

Mungkin ada beberapa orang tua yang beranggapan, anak dibully harus kuat karena di kehidupan sebenarnya banyak bullyan. Tapi mohon maaf, saya berpijak pada teori : masa kecil anak yang bahagia akan membuat anak menjadi kuat saat dewasa.

Saya tidak mau memaksa anak saya sekolah dan tidak bahagia. Saya melahirkan anak saya, membesarkannya, bekerja keras untuk dia hidup adalah agar dia bahagia.

Tentu memutuskan HS bukan tanpa kesiapan. Saya belajar tentang ruasdito dan bagaiman mempersiapkan akil baliq untuk Abiy. Saya memperbaiki konsep yang ada di kepala saya, bahwa mandiri bukan berarti anak ditinggal di sekolah artinya mandiri. Justru banyak anak yang sekolah tapi dimanja, dianterin sampai pintu gerbang, makanan selalu tersedia, dijemput, semua PR diurus orang tua dan lain sebagainya.

Ketika saya memutuskan untuk HS adalah ketika libur panjang bulan Juni-Juli. Selama  1 bulan itu saya masih dalam pergulatan batin, stress, mau beneran HS-in anak atau batal aja? Mampukah saya? Bisakah saya? Sampai akhirnya saya bertemu dengan Kemah JANGKAR-nya Club OASE (bisa googling). Kemah yang isinya adalah para pegiat HS atau orang-orang yang memang berminat HS.

Sejujurnya saat mau kemah JANGKAR itu, keuangan saya lagi seret karena banyak honor menulis yang mampet. Tapi hati kecil saya berkata saya harus ikut ini. Saya mau belajar dan saya mau menguatkan hati saya. Karena memutuskan HS tentu saja akan banyak pertentangan dari keluarga maupun masyarakat.




Alhasil dengan kerja rodi yang sangat keras, akhirnya saya bisa bayar biaya kemah yang lebih dari 2 juta itu hehehehe. Alhamdulillah go berangkat ke Kaki gunung gede! Banyak cerita di sana, yang seharusnya saya catat. Tapi nantilah saya tulis dalam catatan sendiri. Intinya di sana saya bahagia, anak-anak bahagia, Abiy pun semakin yakin buat HS saat ketemu dengan teman-teman seumurannya yang HS. Arkan apalagi... dia umur 5 tahun dan memang ngga pernah mau masuk ke TK meski drayu jungkir balik. Btw, Arkan ini ternyata adalah anak kinestetik.

Ibaratnya, Jangkar ini adalah pintu gerbang kami sekeluarga untuk memulai HS. Suami saya saat kemping tidak bisa ikut kegiatan JANGKAR, dia hanya ada di kemah saja karena ada pekerjaan menulis skenario. Tapi bersyukur, sound system yang disediakan panitia suaranya kenceng banget. Jadi sambil ngetik, dia masih bisa menangkap beberapa materi. Dan ini semakin menguatkan dia untuk membersamai saya membimbing anak-anak saat HS.

Salah satu kegalauan terbesar saya saat memutuskan mau HS adalah : mama saya mau ke ICU, karena kena serangan darah tinggi sampai 222/180 dan terkena resiko stroke serta gagal ginjal. Kurang lebih 1 bulan saya dan saudara-saudara bergantian untuk menjaga mama sakit. Karena saya kerja di rumah, saya sering kebagian menjadi dari pagi sampai maghrib sehingga anak-anak yang tidak sekolah itu, baru mulai HS itu tidak bisa pergi kemana-mana. Di rumah neneknya terus sehingga mereka terlihat bosan.

Tapi alhamdulillah awal agustus mama bisa sembuh, sehingga kita bisa pergi ke Jangkar, dapat semangat baru dan pulang pun mulai HS dengan sesungguhnya. Hal pertama yang kami lakukan adalah melakukan Deschooling (bisa googling) yang intinya sih detox atas pikiran-pikiran sekolah. Jadi HS itu bukan memindahkan sekolah ke rumah. Jadi karena Abiy baru berhenti sekolah, saya harus berhenti berpikir bagaimana memindahkan kegiatan sekolah di rumah. Sehingga setelah deschooling selama 3 bulan (hanya jalan-jalan, baca buku, ikut kegiatan ini itu, kursus dll) akhirnya kami lebih santai untuk HS. Saya yang lebih santai sih dan ngga stress anak harus kursus ini itu. Ngga usah manggil guru privat dan bikin jadwal kayak sekolahan.




Yang saya lakukan di Bulan Agustus dan September saat anak anak HS adalah :

1. Abiy dan Arkan ikut kelas robotik seminggu dua kali. Selama 1,5 jam di RUMAH PENA (lembaga yang saya kelola sendiri).
2. Seminggu sekali, Abiy ikut kelas belajar menulis kreatif bersama saya dan 4 murid lainnya yang seusia Abiy. So' dia tetap bersosialisikan dengan kursus-kursus itu.
3. Setiap Senen dan Selasa, Abiy ikut kelas Tahsin. Di rumah juga hapalan Qur'an bareng-bareng saya yaaa meski banyak bolongnya hahaha.
4. Saya belajar bikin catatan, hari ini anak-anak ngapain aja, meski banyak bolongnya. Yaaa maklum cyin baru belajar HS.
5. Seminggu 2 kali Abiy saya kasih tugas menerjemahkan buku picture book bahasa inggris adiknya, buku-buku import yang saya beli di Big Bad Wolf, emang sengaja nyetok banyak buat belajar bahasa inggris dia. Insya Allah Oktober baru ikut kelas Bahasa Inggris lagi di RUMAH PENA (Lemabaga yang saya pimpin sendiri)
6. Per September ini Abiy ikut kelas badminton seminggu 2 kali yaitu setiap Rabu dan Jumat sore.
7. Oktober ini Abiy dan Arkan baru mau ikut kelas Bahasa Inggris di Rumah Pena. Tuh siapa mau ikutan juga kuy yaaak langsung follow IG @rumahpenatalenta
8. Oktober ini dia juga bergabung di PKBM Generasi Juara, insya allah ikut kelas online aja biar bisa banyak jalan-jalannya.

Sementara baru itu saja sih kegiatan rutin mereka. Kenapa kayaknya lebih banyak Abiy yang aktifitas kursus? Karena dia sudah kelas 4 SD dan butuh banyak kegiatan, sudah bisa memilih juga apa yang mau dia pelajari. Sementara Arkan kelasnya masih jalan-jalan aja, main di taman, belanja ke pasar, ikut mama ke pengajian, dll.

Di luar waktu kursus mereka ngapain? Abiy tentu membaca buku nyaris sepanjang hari. Bermain lego. Bermain Fun Thinker, main catur, Main Logico Grolier, Membuat animasi atau baru-baru ini dia dan Arkan sedang senang mengukir batu. Ya biarkan sajalah... siapa tahu batu jadi berlian hehehe.

Selain itu juga mereka beberapa kali ikut saya meeting, 2 kali menemani saya jadi juri di Festival Al-Adzom, jalan-jalan ke Asian Games, ikut pelatihan KKPK di Mizan, berenang tidak rutin lebih sering renang dadakan aja, jalan-jalan ke perpustakaan kota Tangerang sudah 2 kali, lebih sering eksplorasi ke taman, jalan-jalan bersama komunitas HS Tangerang (meramban taman kota Srengseng, jalan-jalan ke area Bandara), jalan-jalan ke mall, dll hahaha. Banyak kegiatan jalan-jlan yang belum kesampaian seperti kegiatan ke Museum, TMII, Ancol, Taman Bunga dan lain sebagainya.

Mau ngajarin Abiy bikin jurnal perjalanan. Tapi Oktober ini mau beli PC baru buat dia dan printer dulu, peralatan bundling dll. Intinya sih, emaknya ini nyantai banget hahaha. Pelan-pelan gitu. Alhamdulilllah hampir 3 bulan deschooling Abiy sudah lebih mandiri dan inisiatif. Arkan juga kinestetiknya lebih terarah.

Itu aja dulu, saya mau cus ke kelas privat menulis novel. Murid sudah menanti. Nanti kalau sengang mau cerita-cerita lagi yang lebih terarah hahaha... berasa banget ini nulis lompat-lompat.

See you. Kalau mau sharing soal HS biar saya tambah pinter, boleh dong di kolom komentar.
Jangan dibully karena saya newbie :p

Salam
Achi TM
Penulis 29 Novel dan lebih dari 200 naskah skenario TV
Penulis novel Insya Allah SAH dan Before I Met You.




BISAKAH HIDUP DARI MENULIS? BISA... INI CARA SAYA.

Sunday, September 10, 2017

Sebagai penulis full time, saya dan suami tidak punya gaji bulanan. Tidak punya tunjangan sertifikasi atau apa pun. Oleh karena itu kalau mau hidup layak, kami harus bekerja keras dua kali lipat daripada mereka yang mendapatkan gaji. Karena apa? Karena dunia menulis itu pasang surut.
Pernah dalam satu tahun kami mengalami surut sekali pekerjaan menulis skenario. Sampai kami rela menulis artikel yang dihargai 20 ribu rupiah hanya demi bisa makan. Agar bisa hidup layak, kami harus kerja keras menulis masing-masing 10 artikel dalam satu hari. Karena apa? Karena job nulis artikelnya tiba-tiba saja berhenti di bulan ke-4 kami bergabung. Job dihentikan maka berhenti juga rejeki yang ngalir dari artikel itu.
Di waktu yang lain, dapat panggilan menulis stripping lagi. Gembira. Kami menulis stripping tapi baru 13 episode, tayangannya berhenti. Maka berhenti juga aliran dana ke kami.
Ya, dunia menulis ini dinamis banget. Kalau lagi banyak proyek, banyaaaak sekali yang kami dapatkan. Kalau tidak ada sama sekali ya sama sekali kami ga dapat uang. Di 3 tahun pertama kami memutuskan jadi penulis full time (saya dan suami), kami belum tahu polanya dan tidak tahu bagaimana mengatur ritmenya. Sehingga ketika tidak ada job, uang tabungan pun terus kepakai lalu habis, lalu hidup serba ngepas meski kadang harus ngutang sama adik atau kakak yang kerja gajian.
Sampai kemudian kami belajar tentang prioritas. Maka di tahun 2011, saya mulai fokus lagi menulis novel. Setelah terakhir novel saya terbit tahun 2009. Fakum 2 tahun kemudian bergerak lagi untuk nulis novel. Karena apabila tidak ada pekerjaan di dunia skenario, maka saya menulis novel. Itu strategi saya. Bahwa novel adalah pendapatan jangka panjang. Selain uang royalti bisa menjadi uang tambahan untuk keluarga, nama saya juga bisa naik lagi.
Percaya atau tidak. Rentang tahun 2008-2011 ketika saya fokus nulis ratusan naskah skenario. Nama saya mandeg. Ngga ada yang kenal saya. Apalagi kalau ikut tim nulis, boro-boro masuk TV. Kalaupun nama ditulis di FTV, berapa banyak penonton yang memerhatikan?
Oleh karena itu dengan rajin menulis novel, saya punya bukti fisik bahwa saya penulis.Alhamdulillah setelah digeber, sejak 2011-sekarang, dalam satu tahun rata-rata saya menelurkan 3 novel. Tahun 2011 buku saya hanya ada 6 buah saja. Tahun 2017 sekarang sudah ada 24 novel.
Sejak saat itu, royalti buku bisa membuat kehidupan keuangan rumah tangga kami agak sedikit stabil. Tabungan pun tidak diutak-atik terus saat tidak ada job menulis skenario. Meski tidak ada job stripping tapi kami terus menulis sinopsis buat FTV, ada masa ketika sinopsis kami ditolakin terus, kami masih bisa hidup dengan royalti buku sampai kemudian ada sinopsis yang nembus. dan seterusnya dan seterusnya.
Apa semua novel saya laku di pasaran? Tidak.
Tidak semuanya laku di pasaran. Ada perasaan lelah dan jengah ngga mau nulis novel lagi tapi selalu saja Allah memberikan semangat lewat cara yang berbeda-beda. Salah satu penyemangat saya tetap menulis adalah : ketika saya mendapatkan email dari salah seorang pembaca novel saya. Yang mengatakan bahwa dia menyukai novel saya dan menunggu karya-karya saya yang lain.
Seperti setruman semangat yang mengalir ke seluruh darah saya. Di suatu tempat, ada orang asing yang menantikan karya saya. Ada orang asing yang terinspirasi dengan novel yang saya tulis. Itulah yang membuat saya terus semangat menulis novel. Meski royalti kadang hanya dapat 200 ribu dipotong pajak 15% *halah tapi saya yakin dengan seyakin yakinnya kalau Allah selalu membayar setiap kerja keras kita.
Pernah pula, selama 2 minggu saya ngga nulis apa-apa dan ini stressnya luar biasa. Setelah saya menulis, meski hanya sekedar puisi, saya merasa bahagia dan lega.
Novel Insya Allah SAH yang terbit tahun 2015, adalah momentum luar biasa dalam hidup saya. Hasil kerja keras dan kesabaran saya seperti dibayar sama Allah bertubi-tubi. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa novel Insya Allah SAH bisa difilmkan? For Your Info, novel Insya Allah SAH dipinang oleh PH MD Entertainment saat satu bulan terbit.
Saya hanya mampu menjawab : ini adalah hadiah dari Allah.
Maka ketika saat ini ada PH yang rela bikin kontrak dengan saya untuk memfilmkan novel saya yang belum terbit, saya semakin yakin bahwa kasih sayang Allah begitu sangat besar.
Pernahkah saya dan suami berpikiran mencari rejeki dari tempat lain? Pernah. 5 Bulan kami ngga nulis (untuk industri) sama sekali. Saya hanya nulis puisi, nulis curhatan galau di blog dan nulis status.
Uang tabungan kami, 30 juta, kami pakai untuk bikin usaha makanan selama 4,5 bulan dan hasilnya makanannya kami makan sendiri. Alias gagal total. Nelongso. Babak belur. Ngap-ngapan dan ya udahlah akhirnya seseorang bilang ke kami : selama ini periuk nasi kalian dari mana? Ya dari menulis.
Akhirnya kami balik menulis dan voila... langsung dapat pekerjaan yang terus mengalir sampai jauh. Allah kasih saya talenta menulis. Kasih suami saya talenta menulis. Kalau tidak bakat dagang barang fisik, yang jualan kata-kata saja.
Jadi kalau ada pertanyaan bisakah kita hidup layak dari menulis? Jawabnya : iya. Bisa. Asal menulis terus. Dan harus menulis lebih banyak dari orang lain. Bekerja lebih keras dari orang lain. Berpikir lebih banyak dari orang lain.
Selamat menulis, selamat bersenang-senang.

RUMAH PENA DIGANDENG OLEH SEKOLAH INOVASI

Friday, July 14, 2017

Sekitar dua bulan yang lalu, mbak Ade Ufi - teman lama di Love Asset- mengajak saya untuk mengisi pelatihan menulis di Sekolah  CITA Buana. Lama ngga jumpa, rupanya mbak Ade sudah menjadi pengurus Sekolah Inovasi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang training. Setelah ngobrol ngobrol sejenak soal Sekolah Inovasinya, saya pun tertarik buat join mengisi pelatihan menulis yang diselenggarakan Sekolah Inovasi. Bukan Juli ini, mereka punya jadwal mengisi di sekolah Cita Buana.

Saya mewakili Rumah Pena, lembaga kursus yang saya dan keluarga dirikan bersama sama, mulai mempersiapkan materi khusus untuk sekolah inovasi. Sayangnya, dua hari sebelum hari H pelatihan dimulai, saya malah jatuh sakit.

Ya, sakit yang muncul karena kelelahan. Kurang lebih sebulan belakangan, aktifitas saya keluar rumah memang seringkali sekali. Hampir setiap hari saya berangkat pukul 10 pagi dan pulang ke rumah pukul 10 malam. Mending kalau jaraknya dekat, tempat tempat yang saya datangi itu jauh jauh. Mulai dari Tangerang, Jakarta, Depok sampai Bekasi. Melelahlan memang tapi saya senang. Karena kegiatannya adalah kegiatan meeting sama beberapa PH, bahkan buku saya selanjutnya ada yang akan difilmkan lagi setelah film Insya Allah Sah. Btw film Insya Allah Sah masih tayang di bioskop, lho. Selain meeting saya juga promo film ke sana kemari. Menyenangkan memang. Tapi tetap saja badan saya butuh istirahat.

Akhirnya selama 2 hari saya sakit, istirahat full di rumah. Minum obat ini itu dan dibekali. Tadinya nyaris gagal mau datang ke Depok, apalagi belum pulih benar. Tapi saya ingin sekali mengajar menulis lagi setelah hampir dua bulan sibuk ngurusin film Insya Allah Sah. Mengajar menulis adalah sharing yang menyenangkan. Selain memberikan ilmu, kita juga bisa belajar. Apalagi kalau kita mengajar bareng trainer yang lain.

Di pelatihan menulis Cita Buana, yang digawangi oleh Sekolah Inovasi pada tanggal 13 Juli kemarin, saya mengajar bersama dua trainer lainnya. Yaitu mba Ade Ufi yang mengajarkan soal dunia menulis dan self editing, mba Anisa yang mengajarkan untuk membuat karakter dan mencari ide. Uniknya tema khusus pelatihan ini adalah belajar menulis cerita anak. Jadi saya pun belajar hal hal baru. Saya sendiri sharing seputar bagaimana membangun konflik, setting dalam cerita hingga membuat surprise ending.

Pesertanya terdiri dari para guru Tk dan Sd sekolah Cita Buana. Ada 26 guru yang ikut serta. Bagian menyenangkan lainnya adalah : para guru ini smart banget. Jadi mengajarkannya pun semangat. Karena apa? Karena mereka ini cinta membaca, sehingga ketika diberikan materi menulis, cepat sekali tanggapnya.

Bahkan, saat diberikan waktu hanya 1 jam saja untuk latihan menulis, mereka langsung ngebut bikin cerita. Tik tak tok... Wah asyik, satu jam sudah selesai 1 cerita anak. Luar biasa bukan? Saya pun mulai membaca satu per satu tulisan para guru sesuai dengan grup yang saya bina. Subhanallah, cerita cerita mereka unik banget dan seru seru. Padahal waktu bimbingan malah ada yang susah banget ngetik, setelah saya kasih motivasi, kurang dari satu jam sudah selesai 1 cerita.

Menulis itu ternyata mudah, ya. Asalkan mau rajin membaca. Tanpa membaca kita akan kesulitan menulis karena minim kosakata. Di akhir acara, kami pun harus memilih 3 cerpen terbaik versi masing-masing trainer. Saya punya 3 pilihan sendiri, kisah tentang anak yang ditinggal ortunya ke rumah nenek, tentang Rusi si Rusa yang mandi hujan dan kisah tentang pensil emas yang membuat seorang anak jadi rajin belajar. Wah alhamdulillah banget, bisa bermanfaat hari ini.

Terus menulis ya para guru tersayang. Semoga cerita cerita kita kelak bisa memberikan manfaat untuk anak didik kita 😊 terima kasih buat sekolah inovasi atas kesempatan yang menyenangkan ini.

Salam
ACHI TM
Penulis novel INSYA ALLAH SAH






FILM INSYA ALLAH, SAH! BUAH DARI SABAR DAN DOA

Wednesday, April 26, 2017



Sejak awal menulis novel di tahun 2007, saya selalu berharap agar novel saya diangkat ke layar lebar. Setiap menelurkan satu novel, saya selalu berdoa semoga novel yang ini difilmkan. Total sudah 22 novel saya yang terbit. Sudah 22 doa yang saya panjatkan. Mungkin lebih, karena setiap melihat film Indonesia terbaru, saya selalu berdoa. Setiap hujan turun deras, di antara dua shalat, selesai shalat, saat  didzalimi sama orang, saya selalu berdoa agar ada novel saya yang difilmkan.

Ketika harapan dan ambisi itu menggebu-gebu, kayaknya susah banget doa saya buat jadi kenyataan. Sebaliknya, di tahun 2015, ketika saya udah ikhlasin aja, deh, bikin novel ngga usah ngarep dijadiin film layar lebar. Udah lepas gitu aja. Tau-tau novel saya yang berjudul INSYA ALLAH, SAH dan terbit di Gramedia Pustaka Utama dilamar sama MD Entertainment/MD Pictures. Nah loh... Masya Allah, Allahu Akbar. Ketika kita udah pasrah, udah ikhlas, Allah kasih deh tuh ya ^^

Kemudian rentang 2015 sampai 2017 saya gunakan untuk banyak-banyak berdoa lagi agar MD Pictures segera produksi film INSYA ALLAH, SAH punya saya. Harap-harap cemas, takut masa kontraknya habis, terus film ngga jadi diproduksi kan nangisnya bisa bombay banget. Setelah mendapat ttd kontrak film, saya menggebu-gebu sekali. Udah ngga sabaran, deh, pokoknya pengen supaya film Insya Allah, Sah ini segera disyuting dan segera tayang.

Tapi rupanya, Allah sedang mengajarkan saya bersabar. Disuruh sabar. Saya disuruh nunggu 2 tahun. Ngga apa-apa, deh. Ngejomblo 22 tahun aja saya kuat kan yaaa ^^

Di awal-awal tahun 2017 saya mendapatkan sebuah ujian yang sebenarnya ringan tapi berat menurut saya, yaitu ujian dalam pergaulan. Well... saya gak akan cerita di sini. Pokoknya ujian dengan beberapa teman. Sampai kepikiran, duh kok gini amat. Tapi ketika saya menyabarkan diri, memaafkan dan meminta maaf, mencoba untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah sampai lupa kalau novel Insya Allah, Sah, mau difilmkan hehehe.

Datanglah berita baik itu, Produser saya yang cantik dan baik hati, Mbak Dian Sasmita menelepon dan minta dikirimkan 2 novel Insya Allah, Sah untuk diberikan kepada Benni Setiawan (penulis skenario sekaligus sutradara film). Malam itu juga, saya cari-cari novel ke orang yang pernah nyimpen novel saya. Kemudian suami pergi ke kantor pusat jasa kurir jam 10 malem cuma buat kirim paket ekspress yang nyampe esok paginya.

Satu bulan kemudian dapat kabar kalau novel Insya Allah, Sah! akan diproduksi bulan April tahun 2017. Masya Allah... emang sih ulang tahun saya yang ke 32 tahun ini biasa-biasa aja, ngga ada perayaan heboh atau makan-makan. Tapi Allah kasih saya hadiah luar biasa *makasih Ya Allah. Novel Insya Allah, Sah syuting tanggal 24 April! Yeaaay... yippi! Alhamdulillah.

Tanggal 24 April 2017 ini saya ke Bandung dan ngintip syuting hari pertamanya ^^ nanti ya saya bikin liputan mininya.


Pesan Ayah Kepada Anak Gadisnya Sebelum Meninggal

Wednesday, January 11, 2017

Pesan Ayah Kepada Anak Gadisnya Sebelum Meninggal



Pagi ini aku membuka jendela dapur rumahku. Wajahku disambut terpaan angin dingin sisa hujan semalam, lambaian pohon pisang dan awan mendung yang masih menggelayut. Pandanganku menerawang melihat langit kemudian tersadar kalau anakku harus segera sekolah. Dengan cepat aku mempersiapkan sarapan praktis untuknya. Saat ini dapurku hanya berupa meja belajar kayu berukuran kecil yang aku beli dari sekolah dasar, dua tahun yang lalu. Artinya itu meja belajar bekas anak-anak SD dan banyak tulisan pulpen di atasnya. Ada sejarah tersendiri kenapa meja belajar kayu itu bisa ada di dapurku.

Tapi saat ini aku mau bercerita tentang pesan almarhum ayahku. Sebuah pesan yang lama kupendam, tapi pesan itu selalu terbit mendadak seperti matahari yang kesiangan, setiap aku melihat kompor. Selama 9 tahun menikah, kompor yang aku gunakan dengan suami adalah kompor yang dipasang menyatu dengan tabung gas, otomatis hanya satu tungku dan bentuk kompornya juga tidak seksi.
Setiap aku melihat kompor, wajah almarhum Ayah selalu terbersit sekilas kemudian pesannya menggaung-gaung di telingaku. 

Dulu sekali, satu bulan sebelum aku menikah, Ayah selalu bilang : “Chi, kamu harus belajar masak. Bagaimana pun juga, suami pasti mau makan masakan istri.” Jawabku saat itu hanya, “Iya, ayah.” Tapi belum ada niatku untuk belajar memasak. Aku hanya bisa memasak mie instant yang kadang kematengan atau masak nasi goring yang rasanya antah berantah.

Sampai kemudian aku punya bayi dan mengurus bayiku sendirian, mulai hidup terpisah dari orang tua. Beruntung suamiku orang yang pandai memasak dan memang hobi masak, jadi kami berbagi tugas rumah tangga. Dia memasak, aku menanak nasi, aku menyapu, dia mengepel, aku mengurus bayi, dia bekerja. Setelah beberapa kali berkunjung main ke rumah kontrakan petak kami, ayah pun kembali berpesan. “Nak, belajar masak, masa suami terus yang masak.”

Jleb. Mulai ada rasa malu di hatiku. Iya, ya, kemudian aku mulai belajar masak dari yang mudah-mudah yaitu membuat bubur bayi sendiri untuk bayiku, lalu membuat nasi tim, kemudian belajar bikin nasi goring lagi buat suami yang seringnya gagal jadi enak. Kemudian datanglah kembali pekerjaan menulis scenario dan nulis novel bertubi-tubi. Lalu kesibukan baru mengurus kelas menulis Rumah Pena membuat aku lupa lagi belajar memasak. Beruntungnya, karena keadaan ekonomi yang membaik, aku bisa menyewa ART yang juga memasakkan makanan untuk kami. Selanjutnya selama 6 tahun, kami selalu makan masakan dari ART kami, atau dari warung nasi terdekat.

Saat anakku berusia 1 tahun 6 bulan, saat aku keasyikan kerja, Ayah terkena penyakit kanker tiroid. Sontak saja dunia terasa berguncang karena kanker telah membalikkan keadaan Ayah. Ayah yang dulu kekar mendadak jadi rapuh, Ayah yang senang bercanda, mendadak sering menangis, Ayah yang penuh semangat mendadak terlihat putus asa. Kanker juga yang merenggut banyak impian dan cita-citaku bersama Ayah. Berbagai macam pengobatan kami coba tapi memang semua sudah terlambat. Siang itu, saat aku mendapat jadwal merawat Ayah, Ayah berkata : Chi, udah bisa masak? Gimana pun juga, suami dan anak-anak pasti mau makan masakan istri dan ibunya.

Satu bulan setelahnya, Ayah meninggal dunia. Menyisakan banyak penyesalan. Maaf Ayah, belum bisa membahagiakan Ayah, maaf ayah belum bisa menjadi anak yang berbakti, Maaf Ayah atas banyaknya pertengkaran di antara kita, maaf Ayah karena banyak nasehat Ayah yang belum aku jalankan. Ya, Ayah sering bilang : Nasehat ayah ini mungkin baru kamu dengerin kalau Ayah udah mati. Ya Allah... ampun... tapi memang benar adanya. Banyak nasehat Ayah yang baru kurasakan manfaatnya karena aku jalani, justru setelah Ayah tiada.

Kenapa? Kenapa tidak saat Ayah masih hidup? Pasti Ayah akan bahagia, bukan, melihat nasehatnya dipatuhi? Enam bulan setelah masa berkabung, aku pindah rumah kontrakan dan mencari rumah kontrakan baru yang memiliki dapur lebih bagus dan lebih manusiawi. Karena dapur sebelumnya penuh dengan tikus, bagaimana aku bisa belajar masa bareng tikus? Di rumah kontrakan baru, aku mulai belajar memasak. Masak makanan yang aku sukai dulu, aku membuat mulai belajar membuat siomay, membuat pempek, belajar bikin tekwan, bikin tahu isi goreng lalu belajar bikin sayur bayam. Dua tahun di kontrakan itu, aku mulai belajar masak meski tidak rutin. Setiap aku masak, ucapan Ayah selalu terngiang-ngiang.

Benar kata Ayah, meski aku hanya memasak tahu isi goreng, anakku makan dengan riang dan lahap, suamiku makan dengan senang. Melihat mereka makan masakanku adalah kebahagiaan yang tak bisa diukur oleh apa pun. Lalu aku pindah ke kontrakan selanjutnya, di kontrakan yang ketiga, dapurnya lebih bagus lagi. Gairah memasakku lebih tinggi lagi. Aku mulai belajar membuat pizza di Teflon, belajar membuat nasi goreng yang lebih enak, belajar membuat bakso –ini yang sering gagal, sulit tapi menyenangkan. Sampai kemudian aku punya rumah dan dapurku hanyalah sebuah ruangan kecil yang diisi meja belajar anak SD. Tidak ada kitchen set dapur seperti dua kontrakan sebelumnya.

Tapi justru di sinilah, di rumah tanpa dapur ini, keinginanku memasak semakin menggebu. Aku juga semakin ingin membuat dapur impianku. Kitchen set impian yang nyaman untuk masak. Tempat yang akan membuatku betah untuk memasak. Bagaimana aku bisa mencapai impianku itu? Ya, salah satunya adalah dengan memantaskan diriku.Untuk apa dapur yang cantik, tentu agar aku semakin semangat masak bukan? Oleh karena itu, sebelum dapur cantikku terwujud, aku pun belajar memasak hal-hal lain. Mulai membuat roti, membuat brownies, membuat sop ikan dan aneka makanan lainnya.
Semakin aku semangat belajar, jalan untuk terwujudnya dapur cantik itu pun semakin lebar. Allah membukakan jalan kepadaku, mempertemukanku dengan Imania Desain. Jasa interior yang professional dan membuat nyaman. Sudah satu bulan, kitchen setku sedang diproduksi oleh Imania Desain. Tak lama lagi... Beberapa hari lagi, dapur cantikku akan terwujud.

Terima kasih Ayah...
Sekarang anakmu sudah bisa memasak.

Sop ikan sudah matang dan harumnya memenuhi ruangan. Aku tahu ayah suka sekali makan ikan tapi sekarang aku tak bisa menyajikan sop ikan di depannya karena Ayah telah tiada. Ya Allah, seandainya dulu aku mengikuti nasehat Ayah untuk segera belajar memasak... pastilah aku bisa melihat senyum Ayah yang memakan masakanku dengan lahap.

Dengarkanlah nasehat Ayahmu selagi hidup, karena setelah ia mati, kau hanya akan menyesalinya. 


Foto Achi-tm Penulis.
Kamu bisa ngikutin jejak aku dengan berkunjung ke www.imaniadesain.com

DAPUR IMPIAN

Sunday, December 25, 2016





Selama 8 tahun menikah, saya tidak punya rumah. Mengontrak di sana sini. Barulah di tahun ke 9, Allah memudahkan saya dan suami untuk memiliki rumah. Ya, rumah mungil pertama kami.
Tinggal di kontrakan selama 8 tahun tentu saja membuat saya dan suami enggan membangun interior rumah. Lha wong rumah orang, ngapain dicakepin. Iya, kan? Di kontrakan pertama, ada meja dapur, tapi ngga ada tempat cuci piring. Jadi cuci piringnya jongkok. Bertahan tinggal di sana selama 6 bulan.
Di kontrakan kedua juga sama, cuci piringnya jongkok, ada meja dapur, bertahan selama 2 tahun. Ajaibnya dapur di sana itu jadi sarang tikus yang naudzubillah deh. Mau dibongkar tuh atap dapur ga enak karena itu rumah orang.
Di kontrakan tiga, ada kitchen sinknya yeeey... cuci piringnya bisa sambil berdiri. Mirip seperti dapur di rumah mama. Meja dapurnya terbuat dari beton dan juga ada lemari. Tapi pas lemarinya dibuka, ya ampuuun isinya kecoak semuaa. Hadeeh, peralatan makan yang kita simpan di sana jadi bau dan cepat rusak. Karena lembab juga. Apalagi dapurnya terletak paling belakang dan ngga ada sirkulasi udaranya. Untungnya ga ada tikus, di sini bertahan selama 2 tahun.
Pindah ke kontrakan keempat. Ada meja dapur dan kitchen sinknya. Yang lebih enak lagi, dapurnya punya pintu dan jendela. Wow... aku sukaaa banget. Sayangnya, lagi-lagi meja betonnya lembab dan bagian bawah cuma dikasih pintu lemari tanpa ada lemarinya. Alhasil bagian bawahnya jadi sarang kecoak juga. Banyak barang rusak juga. Hix.
Nah saat membeli rumah tahun 2015, saya sudah bertekad ke suami saya kalau saya mau menabung! Saya mau bikin kitchen set yang bagus. Kitchen set warna putih yang sesuai dengan impian saya, yang rak piringnya di bawah, ada laci-laci, dengan kompor tanam, cooker hood dan lemari. Well... saya sadar diri, sebagai penulis freelance untuk bikin dapur bagus kayak gitu rasanya susah banget.
Butuh dana sekitar 20 juta dan well... saya menabung selama 18 bulan. Satu bulannya satu juta rupiah. Saya nabung lewat arisan hehehe. Kalau ngga nabung, ga mulai-mulai saya. Berbulan-bulan saya sabar menabung, menyesampingkan keinginan-keinginan lain sambil terus berdoa semoga Allah mudahkan jalan saya mempunyai dapur. Satu bulan nabung sejuta buat penulis yang ngga pasti pendapatannya, tentu itu sebuah perjuangan sendiri.
Singkat cerita, saya dapat arisan dan akhirnya bisa pesan kitchen set. Pilihan saya jatuh ke Imania Design, setelah saya survey ke banyak jasa pembuatan kitchen set. Kenapa pilihan saya jatuh ke Imania Design? Dan kenapa saya ngotot banget pengen bikin kitchen sink?

Nantikan post saya selanjutnya. 
Buat yang penasaran sama IMANIA bisa lihat-lihat produknya di sini 
https://www.facebook.com/Imania-Desain-Interior-153597668004097/?fref=ts&hc_location=ufi


Rain Oppa Is Back!

Wednesday, November 23, 2016

Hasil gambar untuk please come back mister

sumber gambar di sini 
: https://www.dramafever.com/st/img/nowplay/4873_PleaseComeBackMister_Nowplay_Small.jpg


Banyak cara untuk mengingat kematian. Setiap saat seharusnya jadi momen untuk selalu ingat mati sehingga kita lebih maksimal menghargai kehidupan. Termasuk saat sedang menonton drama korea, drama korea yang satu ini benar-benar mengajarkan kita untuk ingat mati.
Judulnya Please Come Back, Mister.

Awalnya melihat status teman yang habis nonton film ini, katanya lumayan, kocak dan surprise ending. Sebagai pecinta twist dan surprise ending, saya pun penasaran banget mau nonton drakor ini dan langsung cari link buat streaming. Episode awal saya masih bertanya-tanya ini cerita tentang apa, sih? Kok pemeran-pemerannya ngga ada yang ganteng dan tua-tua? Tumben banget, kan. Biasanya drakor selalu dipenuhi oleh tokoh ganteng dan cantik.

Tapi di pertengahan cerita episode satu kita lumayan dibuat paham maksud penokohan ini. Saat nonton drakor ini, diharapkan tidak menyangkut pautkan dengan ajaran agama, karena saya menganggap ini pure fiksi, pure imajinasi aja, apalagi soal kehidupan di akheratnya bener-bener fantasy banget dan just for fun aja nontonnya.

Siapa sangka, setiap episodenya penuh dengan kejadian-kejadian lucu dan kejutan-kejutan tak terduga. Cerita bermula dari Young Soo dan Han Gi Tak yang sudah mati dan akan pergi naik kereta ke surga, tapi Young Soo protes minta pulang ke bumi karena ada masalah dengan istrinya yang belum ia selesaikan. Protes Young Soo malah menimbulkan keributan, sehingga Han Gi Tak menghajar petugas kereta akhirat itu. Mereka pun dikejar-kejar hingga nekat loncat dari gerbang kereta akhirat yang ceritanya lagi terbang di langit :D

Singkat cerita, mereka dikasih kesempatan untuk hidup lagi tapi dengan fisik berbeda. Young Soo yang pendek dan kurang ganteng, dikasih fisik ganteng seperti lee Hae Joon yang diperankan oleh Rain. Lee Hai Joon ini tinggi dan berbadan six pack, beda banget sama fisik Young Soo sebelumnya.  Sedangkan Han Gi Tak, cowok macho mantan preman malah turun ke bumi dengan fisik sebagai perempuan. Gi Tak sempat emosi dan menimbulkan masalah. Apalagi dia turun ke bumi mau menyelesaikan masalahnya dengan cinta pertamanya yaitu Song Yi Yeon. Diceritakan, Yi Yeon ini artis yang udah ngga laku, single parent karena cerai, dan Gi Tak versi cewek dating untuk memberikan Yi Yeon semangat supaya bangkit.

Ya, cerita pun terus mengalir sampai kita menemukan apa sih keterkaitan antara Young Soo dan Gi Tak ini. Ternyata di episode sepuluh ke atas, kita udah dibuat mewek terus-terusan. Apalagi endingnya bikin baper banget. View dan pengambilan gambarnya juga indah disertai kata-kata romantis.

Satu pelajaran yang bisa diambil dalam drakor ini adalah, gunakan waktu hidupmu sebaik-baiknya. Jangan terlalu forsir diri untuk bekerja, karena keluarga kita juga butuh kita. Kalau kita meninggal, perusahaan akan terus berjalan dan tidak sedih tapi keluargalah yang paling sedih dan mengasihi kita. Jadi keluarga nomor satu. Selama masih hidup di dunia, lakukanlah hal yang terbaik untuk keluarga kita. Selama masih hidup di dunia, jadilah pemberani, bukan pecundang yang selalu mengalah dan tidak mau memperjuangkan cinta kita.

Dan yang pasti, hidup di dunia ini sementara banget. Hidup di akherat itu kekal. Sudahkah kita punya kekal untuk pergi ke akherat? Kalau dalam film ini mungkin ke surga itu kayaknya gampang banget, padahal untuk pergi ke sana kita harus beribadah dengan taat dan punya iman. Jadi mumpung masih hidup, persiapkanlah bekal di akhirat yaitu dengan beribadah, menaati perintah-NYa dan menjauhi larangan-Nya.

Meskipun punya pesan yang bagus, ada banyak adegan-adegan di film ini yang terlalu lompatnya jauh, ada yang adegannya terlalu diputar-putar. Niatnya mungkin mau bikin twist tapi kadang spoilernya udah ada di adegan sebelumnya. Penjahatnya juga kurang kerenlah, kalau soal action, belum ada yang nyaingin action Three Days nya park yoochun dan Missing You-nya Park Yoochun juga. Baper dan pengalaman masa lalunya juga ngga terlalu menyayat hati seperti dua drakor di atas sih. Tapi nilai buat please come back ini, 7 dari 10 lah. Komedinya dapet, sedihnya lumayan, dan twistnya bagus meski di episode ending udah ada adegan yang bisa ketebak.


Selamat menonton dan ingat ambil hal-hal yang positif dan tinggalkan yang negative-negatifnya. 
Dan tenang saja, di sini Oppa Rain ngga mati, kok. Yang mati tetap di Young So. Badan Oppa Rain tetap main jadi Lee Hae Joon yang tetep ganteng hehehe. 

O iya di sini aku juga jadi ngefans sama artis cantik Honey Bee. She is so sweet and elegant. 

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati