RUMAH PENA DIGANDENG OLEH SEKOLAH INOVASI

Friday, July 14, 2017

Sekitar dua bulan yang lalu, mbak Ade Ufi - teman lama di Love Asset- mengajak saya untuk mengisi pelatihan menulis di Sekolah  CITA Buana. Lama ngga jumpa, rupanya mbak Ade sudah menjadi pengurus Sekolah Inovasi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang training. Setelah ngobrol ngobrol sejenak soal Sekolah Inovasinya, saya pun tertarik buat join mengisi pelatihan menulis yang diselenggarakan Sekolah Inovasi. Bukan Juli ini, mereka punya jadwal mengisi di sekolah Cita Buana.

Saya mewakili Rumah Pena, lembaga kursus yang saya dan keluarga dirikan bersama sama, mulai mempersiapkan materi khusus untuk sekolah inovasi. Sayangnya, dua hari sebelum hari H pelatihan dimulai, saya malah jatuh sakit.

Ya, sakit yang muncul karena kelelahan. Kurang lebih sebulan belakangan, aktifitas saya keluar rumah memang seringkali sekali. Hampir setiap hari saya berangkat pukul 10 pagi dan pulang ke rumah pukul 10 malam. Mending kalau jaraknya dekat, tempat tempat yang saya datangi itu jauh jauh. Mulai dari Tangerang, Jakarta, Depok sampai Bekasi. Melelahlan memang tapi saya senang. Karena kegiatannya adalah kegiatan meeting sama beberapa PH, bahkan buku saya selanjutnya ada yang akan difilmkan lagi setelah film Insya Allah Sah. Btw film Insya Allah Sah masih tayang di bioskop, lho. Selain meeting saya juga promo film ke sana kemari. Menyenangkan memang. Tapi tetap saja badan saya butuh istirahat.

Akhirnya selama 2 hari saya sakit, istirahat full di rumah. Minum obat ini itu dan dibekali. Tadinya nyaris gagal mau datang ke Depok, apalagi belum pulih benar. Tapi saya ingin sekali mengajar menulis lagi setelah hampir dua bulan sibuk ngurusin film Insya Allah Sah. Mengajar menulis adalah sharing yang menyenangkan. Selain memberikan ilmu, kita juga bisa belajar. Apalagi kalau kita mengajar bareng trainer yang lain.

Di pelatihan menulis Cita Buana, yang digawangi oleh Sekolah Inovasi pada tanggal 13 Juli kemarin, saya mengajar bersama dua trainer lainnya. Yaitu mba Ade Ufi yang mengajarkan soal dunia menulis dan self editing, mba Anisa yang mengajarkan untuk membuat karakter dan mencari ide. Uniknya tema khusus pelatihan ini adalah belajar menulis cerita anak. Jadi saya pun belajar hal hal baru. Saya sendiri sharing seputar bagaimana membangun konflik, setting dalam cerita hingga membuat surprise ending.

Pesertanya terdiri dari para guru Tk dan Sd sekolah Cita Buana. Ada 26 guru yang ikut serta. Bagian menyenangkan lainnya adalah : para guru ini smart banget. Jadi mengajarkannya pun semangat. Karena apa? Karena mereka ini cinta membaca, sehingga ketika diberikan materi menulis, cepat sekali tanggapnya.

Bahkan, saat diberikan waktu hanya 1 jam saja untuk latihan menulis, mereka langsung ngebut bikin cerita. Tik tak tok... Wah asyik, satu jam sudah selesai 1 cerita anak. Luar biasa bukan? Saya pun mulai membaca satu per satu tulisan para guru sesuai dengan grup yang saya bina. Subhanallah, cerita cerita mereka unik banget dan seru seru. Padahal waktu bimbingan malah ada yang susah banget ngetik, setelah saya kasih motivasi, kurang dari satu jam sudah selesai 1 cerita.

Menulis itu ternyata mudah, ya. Asalkan mau rajin membaca. Tanpa membaca kita akan kesulitan menulis karena minim kosakata. Di akhir acara, kami pun harus memilih 3 cerpen terbaik versi masing-masing trainer. Saya punya 3 pilihan sendiri, kisah tentang anak yang ditinggal ortunya ke rumah nenek, tentang Rusi si Rusa yang mandi hujan dan kisah tentang pensil emas yang membuat seorang anak jadi rajin belajar. Wah alhamdulillah banget, bisa bermanfaat hari ini.

Terus menulis ya para guru tersayang. Semoga cerita cerita kita kelak bisa memberikan manfaat untuk anak didik kita 😊 terima kasih buat sekolah inovasi atas kesempatan yang menyenangkan ini.

Salam
ACHI TM
Penulis novel INSYA ALLAH SAH






FILM INSYA ALLAH, SAH! BUAH DARI SABAR DAN DOA

Wednesday, April 26, 2017



Sejak awal menulis novel di tahun 2007, saya selalu berharap agar novel saya diangkat ke layar lebar. Setiap menelurkan satu novel, saya selalu berdoa semoga novel yang ini difilmkan. Total sudah 22 novel saya yang terbit. Sudah 22 doa yang saya panjatkan. Mungkin lebih, karena setiap melihat film Indonesia terbaru, saya selalu berdoa. Setiap hujan turun deras, di antara dua shalat, selesai shalat, saat  didzalimi sama orang, saya selalu berdoa agar ada novel saya yang difilmkan.

Ketika harapan dan ambisi itu menggebu-gebu, kayaknya susah banget doa saya buat jadi kenyataan. Sebaliknya, di tahun 2015, ketika saya udah ikhlasin aja, deh, bikin novel ngga usah ngarep dijadiin film layar lebar. Udah lepas gitu aja. Tau-tau novel saya yang berjudul INSYA ALLAH, SAH dan terbit di Gramedia Pustaka Utama dilamar sama MD Entertainment/MD Pictures. Nah loh... Masya Allah, Allahu Akbar. Ketika kita udah pasrah, udah ikhlas, Allah kasih deh tuh ya ^^

Kemudian rentang 2015 sampai 2017 saya gunakan untuk banyak-banyak berdoa lagi agar MD Pictures segera produksi film INSYA ALLAH, SAH punya saya. Harap-harap cemas, takut masa kontraknya habis, terus film ngga jadi diproduksi kan nangisnya bisa bombay banget. Setelah mendapat ttd kontrak film, saya menggebu-gebu sekali. Udah ngga sabaran, deh, pokoknya pengen supaya film Insya Allah, Sah ini segera disyuting dan segera tayang.

Tapi rupanya, Allah sedang mengajarkan saya bersabar. Disuruh sabar. Saya disuruh nunggu 2 tahun. Ngga apa-apa, deh. Ngejomblo 22 tahun aja saya kuat kan yaaa ^^

Di awal-awal tahun 2017 saya mendapatkan sebuah ujian yang sebenarnya ringan tapi berat menurut saya, yaitu ujian dalam pergaulan. Well... saya gak akan cerita di sini. Pokoknya ujian dengan beberapa teman. Sampai kepikiran, duh kok gini amat. Tapi ketika saya menyabarkan diri, memaafkan dan meminta maaf, mencoba untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah sampai lupa kalau novel Insya Allah, Sah, mau difilmkan hehehe.

Datanglah berita baik itu, Produser saya yang cantik dan baik hati, Mbak Dian Sasmita menelepon dan minta dikirimkan 2 novel Insya Allah, Sah untuk diberikan kepada Benni Setiawan (penulis skenario sekaligus sutradara film). Malam itu juga, saya cari-cari novel ke orang yang pernah nyimpen novel saya. Kemudian suami pergi ke kantor pusat jasa kurir jam 10 malem cuma buat kirim paket ekspress yang nyampe esok paginya.

Satu bulan kemudian dapat kabar kalau novel Insya Allah, Sah! akan diproduksi bulan April tahun 2017. Masya Allah... emang sih ulang tahun saya yang ke 32 tahun ini biasa-biasa aja, ngga ada perayaan heboh atau makan-makan. Tapi Allah kasih saya hadiah luar biasa *makasih Ya Allah. Novel Insya Allah, Sah syuting tanggal 24 April! Yeaaay... yippi! Alhamdulillah.

Tanggal 24 April 2017 ini saya ke Bandung dan ngintip syuting hari pertamanya ^^ nanti ya saya bikin liputan mininya.


Pesan Ayah Kepada Anak Gadisnya Sebelum Meninggal

Wednesday, January 11, 2017

Pesan Ayah Kepada Anak Gadisnya Sebelum Meninggal



Pagi ini aku membuka jendela dapur rumahku. Wajahku disambut terpaan angin dingin sisa hujan semalam, lambaian pohon pisang dan awan mendung yang masih menggelayut. Pandanganku menerawang melihat langit kemudian tersadar kalau anakku harus segera sekolah. Dengan cepat aku mempersiapkan sarapan praktis untuknya. Saat ini dapurku hanya berupa meja belajar kayu berukuran kecil yang aku beli dari sekolah dasar, dua tahun yang lalu. Artinya itu meja belajar bekas anak-anak SD dan banyak tulisan pulpen di atasnya. Ada sejarah tersendiri kenapa meja belajar kayu itu bisa ada di dapurku.

Tapi saat ini aku mau bercerita tentang pesan almarhum ayahku. Sebuah pesan yang lama kupendam, tapi pesan itu selalu terbit mendadak seperti matahari yang kesiangan, setiap aku melihat kompor. Selama 9 tahun menikah, kompor yang aku gunakan dengan suami adalah kompor yang dipasang menyatu dengan tabung gas, otomatis hanya satu tungku dan bentuk kompornya juga tidak seksi.
Setiap aku melihat kompor, wajah almarhum Ayah selalu terbersit sekilas kemudian pesannya menggaung-gaung di telingaku. 

Dulu sekali, satu bulan sebelum aku menikah, Ayah selalu bilang : “Chi, kamu harus belajar masak. Bagaimana pun juga, suami pasti mau makan masakan istri.” Jawabku saat itu hanya, “Iya, ayah.” Tapi belum ada niatku untuk belajar memasak. Aku hanya bisa memasak mie instant yang kadang kematengan atau masak nasi goring yang rasanya antah berantah.

Sampai kemudian aku punya bayi dan mengurus bayiku sendirian, mulai hidup terpisah dari orang tua. Beruntung suamiku orang yang pandai memasak dan memang hobi masak, jadi kami berbagi tugas rumah tangga. Dia memasak, aku menanak nasi, aku menyapu, dia mengepel, aku mengurus bayi, dia bekerja. Setelah beberapa kali berkunjung main ke rumah kontrakan petak kami, ayah pun kembali berpesan. “Nak, belajar masak, masa suami terus yang masak.”

Jleb. Mulai ada rasa malu di hatiku. Iya, ya, kemudian aku mulai belajar masak dari yang mudah-mudah yaitu membuat bubur bayi sendiri untuk bayiku, lalu membuat nasi tim, kemudian belajar bikin nasi goring lagi buat suami yang seringnya gagal jadi enak. Kemudian datanglah kembali pekerjaan menulis scenario dan nulis novel bertubi-tubi. Lalu kesibukan baru mengurus kelas menulis Rumah Pena membuat aku lupa lagi belajar memasak. Beruntungnya, karena keadaan ekonomi yang membaik, aku bisa menyewa ART yang juga memasakkan makanan untuk kami. Selanjutnya selama 6 tahun, kami selalu makan masakan dari ART kami, atau dari warung nasi terdekat.

Saat anakku berusia 1 tahun 6 bulan, saat aku keasyikan kerja, Ayah terkena penyakit kanker tiroid. Sontak saja dunia terasa berguncang karena kanker telah membalikkan keadaan Ayah. Ayah yang dulu kekar mendadak jadi rapuh, Ayah yang senang bercanda, mendadak sering menangis, Ayah yang penuh semangat mendadak terlihat putus asa. Kanker juga yang merenggut banyak impian dan cita-citaku bersama Ayah. Berbagai macam pengobatan kami coba tapi memang semua sudah terlambat. Siang itu, saat aku mendapat jadwal merawat Ayah, Ayah berkata : Chi, udah bisa masak? Gimana pun juga, suami dan anak-anak pasti mau makan masakan istri dan ibunya.

Satu bulan setelahnya, Ayah meninggal dunia. Menyisakan banyak penyesalan. Maaf Ayah, belum bisa membahagiakan Ayah, maaf ayah belum bisa menjadi anak yang berbakti, Maaf Ayah atas banyaknya pertengkaran di antara kita, maaf Ayah karena banyak nasehat Ayah yang belum aku jalankan. Ya, Ayah sering bilang : Nasehat ayah ini mungkin baru kamu dengerin kalau Ayah udah mati. Ya Allah... ampun... tapi memang benar adanya. Banyak nasehat Ayah yang baru kurasakan manfaatnya karena aku jalani, justru setelah Ayah tiada.

Kenapa? Kenapa tidak saat Ayah masih hidup? Pasti Ayah akan bahagia, bukan, melihat nasehatnya dipatuhi? Enam bulan setelah masa berkabung, aku pindah rumah kontrakan dan mencari rumah kontrakan baru yang memiliki dapur lebih bagus dan lebih manusiawi. Karena dapur sebelumnya penuh dengan tikus, bagaimana aku bisa belajar masa bareng tikus? Di rumah kontrakan baru, aku mulai belajar memasak. Masak makanan yang aku sukai dulu, aku membuat mulai belajar membuat siomay, membuat pempek, belajar bikin tekwan, bikin tahu isi goreng lalu belajar bikin sayur bayam. Dua tahun di kontrakan itu, aku mulai belajar masak meski tidak rutin. Setiap aku masak, ucapan Ayah selalu terngiang-ngiang.

Benar kata Ayah, meski aku hanya memasak tahu isi goreng, anakku makan dengan riang dan lahap, suamiku makan dengan senang. Melihat mereka makan masakanku adalah kebahagiaan yang tak bisa diukur oleh apa pun. Lalu aku pindah ke kontrakan selanjutnya, di kontrakan yang ketiga, dapurnya lebih bagus lagi. Gairah memasakku lebih tinggi lagi. Aku mulai belajar membuat pizza di Teflon, belajar membuat nasi goreng yang lebih enak, belajar membuat bakso –ini yang sering gagal, sulit tapi menyenangkan. Sampai kemudian aku punya rumah dan dapurku hanyalah sebuah ruangan kecil yang diisi meja belajar anak SD. Tidak ada kitchen set dapur seperti dua kontrakan sebelumnya.

Tapi justru di sinilah, di rumah tanpa dapur ini, keinginanku memasak semakin menggebu. Aku juga semakin ingin membuat dapur impianku. Kitchen set impian yang nyaman untuk masak. Tempat yang akan membuatku betah untuk memasak. Bagaimana aku bisa mencapai impianku itu? Ya, salah satunya adalah dengan memantaskan diriku.Untuk apa dapur yang cantik, tentu agar aku semakin semangat masak bukan? Oleh karena itu, sebelum dapur cantikku terwujud, aku pun belajar memasak hal-hal lain. Mulai membuat roti, membuat brownies, membuat sop ikan dan aneka makanan lainnya.
Semakin aku semangat belajar, jalan untuk terwujudnya dapur cantik itu pun semakin lebar. Allah membukakan jalan kepadaku, mempertemukanku dengan Imania Desain. Jasa interior yang professional dan membuat nyaman. Sudah satu bulan, kitchen setku sedang diproduksi oleh Imania Desain. Tak lama lagi... Beberapa hari lagi, dapur cantikku akan terwujud.

Terima kasih Ayah...
Sekarang anakmu sudah bisa memasak.

Sop ikan sudah matang dan harumnya memenuhi ruangan. Aku tahu ayah suka sekali makan ikan tapi sekarang aku tak bisa menyajikan sop ikan di depannya karena Ayah telah tiada. Ya Allah, seandainya dulu aku mengikuti nasehat Ayah untuk segera belajar memasak... pastilah aku bisa melihat senyum Ayah yang memakan masakanku dengan lahap.

Dengarkanlah nasehat Ayahmu selagi hidup, karena setelah ia mati, kau hanya akan menyesalinya. 


Foto Achi-tm Penulis.
Kamu bisa ngikutin jejak aku dengan berkunjung ke www.imaniadesain.com

DAPUR IMPIAN

Sunday, December 25, 2016





Selama 8 tahun menikah, saya tidak punya rumah. Mengontrak di sana sini. Barulah di tahun ke 9, Allah memudahkan saya dan suami untuk memiliki rumah. Ya, rumah mungil pertama kami.
Tinggal di kontrakan selama 8 tahun tentu saja membuat saya dan suami enggan membangun interior rumah. Lha wong rumah orang, ngapain dicakepin. Iya, kan? Di kontrakan pertama, ada meja dapur, tapi ngga ada tempat cuci piring. Jadi cuci piringnya jongkok. Bertahan tinggal di sana selama 6 bulan.
Di kontrakan kedua juga sama, cuci piringnya jongkok, ada meja dapur, bertahan selama 2 tahun. Ajaibnya dapur di sana itu jadi sarang tikus yang naudzubillah deh. Mau dibongkar tuh atap dapur ga enak karena itu rumah orang.
Di kontrakan tiga, ada kitchen sinknya yeeey... cuci piringnya bisa sambil berdiri. Mirip seperti dapur di rumah mama. Meja dapurnya terbuat dari beton dan juga ada lemari. Tapi pas lemarinya dibuka, ya ampuuun isinya kecoak semuaa. Hadeeh, peralatan makan yang kita simpan di sana jadi bau dan cepat rusak. Karena lembab juga. Apalagi dapurnya terletak paling belakang dan ngga ada sirkulasi udaranya. Untungnya ga ada tikus, di sini bertahan selama 2 tahun.
Pindah ke kontrakan keempat. Ada meja dapur dan kitchen sinknya. Yang lebih enak lagi, dapurnya punya pintu dan jendela. Wow... aku sukaaa banget. Sayangnya, lagi-lagi meja betonnya lembab dan bagian bawah cuma dikasih pintu lemari tanpa ada lemarinya. Alhasil bagian bawahnya jadi sarang kecoak juga. Banyak barang rusak juga. Hix.
Nah saat membeli rumah tahun 2015, saya sudah bertekad ke suami saya kalau saya mau menabung! Saya mau bikin kitchen set yang bagus. Kitchen set warna putih yang sesuai dengan impian saya, yang rak piringnya di bawah, ada laci-laci, dengan kompor tanam, cooker hood dan lemari. Well... saya sadar diri, sebagai penulis freelance untuk bikin dapur bagus kayak gitu rasanya susah banget.
Butuh dana sekitar 20 juta dan well... saya menabung selama 18 bulan. Satu bulannya satu juta rupiah. Saya nabung lewat arisan hehehe. Kalau ngga nabung, ga mulai-mulai saya. Berbulan-bulan saya sabar menabung, menyesampingkan keinginan-keinginan lain sambil terus berdoa semoga Allah mudahkan jalan saya mempunyai dapur. Satu bulan nabung sejuta buat penulis yang ngga pasti pendapatannya, tentu itu sebuah perjuangan sendiri.
Singkat cerita, saya dapat arisan dan akhirnya bisa pesan kitchen set. Pilihan saya jatuh ke Imania Design, setelah saya survey ke banyak jasa pembuatan kitchen set. Kenapa pilihan saya jatuh ke Imania Design? Dan kenapa saya ngotot banget pengen bikin kitchen sink?

Nantikan post saya selanjutnya. 
Buat yang penasaran sama IMANIA bisa lihat-lihat produknya di sini 
https://www.facebook.com/Imania-Desain-Interior-153597668004097/?fref=ts&hc_location=ufi


Rain Oppa Is Back!

Wednesday, November 23, 2016

Hasil gambar untuk please come back mister

sumber gambar di sini 
: https://www.dramafever.com/st/img/nowplay/4873_PleaseComeBackMister_Nowplay_Small.jpg


Banyak cara untuk mengingat kematian. Setiap saat seharusnya jadi momen untuk selalu ingat mati sehingga kita lebih maksimal menghargai kehidupan. Termasuk saat sedang menonton drama korea, drama korea yang satu ini benar-benar mengajarkan kita untuk ingat mati.
Judulnya Please Come Back, Mister.

Awalnya melihat status teman yang habis nonton film ini, katanya lumayan, kocak dan surprise ending. Sebagai pecinta twist dan surprise ending, saya pun penasaran banget mau nonton drakor ini dan langsung cari link buat streaming. Episode awal saya masih bertanya-tanya ini cerita tentang apa, sih? Kok pemeran-pemerannya ngga ada yang ganteng dan tua-tua? Tumben banget, kan. Biasanya drakor selalu dipenuhi oleh tokoh ganteng dan cantik.

Tapi di pertengahan cerita episode satu kita lumayan dibuat paham maksud penokohan ini. Saat nonton drakor ini, diharapkan tidak menyangkut pautkan dengan ajaran agama, karena saya menganggap ini pure fiksi, pure imajinasi aja, apalagi soal kehidupan di akheratnya bener-bener fantasy banget dan just for fun aja nontonnya.

Siapa sangka, setiap episodenya penuh dengan kejadian-kejadian lucu dan kejutan-kejutan tak terduga. Cerita bermula dari Young Soo dan Han Gi Tak yang sudah mati dan akan pergi naik kereta ke surga, tapi Young Soo protes minta pulang ke bumi karena ada masalah dengan istrinya yang belum ia selesaikan. Protes Young Soo malah menimbulkan keributan, sehingga Han Gi Tak menghajar petugas kereta akhirat itu. Mereka pun dikejar-kejar hingga nekat loncat dari gerbang kereta akhirat yang ceritanya lagi terbang di langit :D

Singkat cerita, mereka dikasih kesempatan untuk hidup lagi tapi dengan fisik berbeda. Young Soo yang pendek dan kurang ganteng, dikasih fisik ganteng seperti lee Hae Joon yang diperankan oleh Rain. Lee Hai Joon ini tinggi dan berbadan six pack, beda banget sama fisik Young Soo sebelumnya.  Sedangkan Han Gi Tak, cowok macho mantan preman malah turun ke bumi dengan fisik sebagai perempuan. Gi Tak sempat emosi dan menimbulkan masalah. Apalagi dia turun ke bumi mau menyelesaikan masalahnya dengan cinta pertamanya yaitu Song Yi Yeon. Diceritakan, Yi Yeon ini artis yang udah ngga laku, single parent karena cerai, dan Gi Tak versi cewek dating untuk memberikan Yi Yeon semangat supaya bangkit.

Ya, cerita pun terus mengalir sampai kita menemukan apa sih keterkaitan antara Young Soo dan Gi Tak ini. Ternyata di episode sepuluh ke atas, kita udah dibuat mewek terus-terusan. Apalagi endingnya bikin baper banget. View dan pengambilan gambarnya juga indah disertai kata-kata romantis.

Satu pelajaran yang bisa diambil dalam drakor ini adalah, gunakan waktu hidupmu sebaik-baiknya. Jangan terlalu forsir diri untuk bekerja, karena keluarga kita juga butuh kita. Kalau kita meninggal, perusahaan akan terus berjalan dan tidak sedih tapi keluargalah yang paling sedih dan mengasihi kita. Jadi keluarga nomor satu. Selama masih hidup di dunia, lakukanlah hal yang terbaik untuk keluarga kita. Selama masih hidup di dunia, jadilah pemberani, bukan pecundang yang selalu mengalah dan tidak mau memperjuangkan cinta kita.

Dan yang pasti, hidup di dunia ini sementara banget. Hidup di akherat itu kekal. Sudahkah kita punya kekal untuk pergi ke akherat? Kalau dalam film ini mungkin ke surga itu kayaknya gampang banget, padahal untuk pergi ke sana kita harus beribadah dengan taat dan punya iman. Jadi mumpung masih hidup, persiapkanlah bekal di akhirat yaitu dengan beribadah, menaati perintah-NYa dan menjauhi larangan-Nya.

Meskipun punya pesan yang bagus, ada banyak adegan-adegan di film ini yang terlalu lompatnya jauh, ada yang adegannya terlalu diputar-putar. Niatnya mungkin mau bikin twist tapi kadang spoilernya udah ada di adegan sebelumnya. Penjahatnya juga kurang kerenlah, kalau soal action, belum ada yang nyaingin action Three Days nya park yoochun dan Missing You-nya Park Yoochun juga. Baper dan pengalaman masa lalunya juga ngga terlalu menyayat hati seperti dua drakor di atas sih. Tapi nilai buat please come back ini, 7 dari 10 lah. Komedinya dapet, sedihnya lumayan, dan twistnya bagus meski di episode ending udah ada adegan yang bisa ketebak.


Selamat menonton dan ingat ambil hal-hal yang positif dan tinggalkan yang negative-negatifnya. 
Dan tenang saja, di sini Oppa Rain ngga mati, kok. Yang mati tetap di Young So. Badan Oppa Rain tetap main jadi Lee Hae Joon yang tetep ganteng hehehe. 

O iya di sini aku juga jadi ngefans sama artis cantik Honey Bee. She is so sweet and elegant. 

Di Balik Kesulitan Kita Ada Rejeki Orang Lain

Saturday, June 18, 2016

Hari ini adalah hari pembagian rapot Abiy, anak pertamaku yang guantengnya ngalahin Dude Herlino - ampun mas Dude- ya abis pas hamil dia aku lagi ngidam sama Dude, sih, sampe bela-belai nelepon Dude yang lagi syuting. Eh... udah udah bahas dudenya, sekarang bahas tentang bagi rapot.

foto ambil di sini : https://m.tempo.co/read/news/2015/05/20/219667933/jadi-hot-daddy-dude-herlino-belajar-memandikan-anak
Seperti ibu-ibu normal lainnya, saat bagi rapot saya juga dandan dong, ya pakai gamis cakep, jilbab cakep, sepatu cakep minus lipstik n make up, karena emang ga punya make up (kasian amat). Karena sejak shubuh hujan ngga berhenti-henti, aku merengek sama si Papa buat anterin aku dan ABiy ke sekolah pake mobil. Dengan sadisnya dia nyuruh kita naik motor aja, langsung dong aku ngeluarin jurus seribu satu ngambek. Seperti biasa jurus itu selalu sukses kena sasaran, singkat cerita, tanpa mandi-si papa langsung cus anterin kita ke sekolah naik mobil.
Benar saja, sampai di gang masuk sekolah saja sudah macet cet luar biasa. Mobil sudah diparkir di sana sini, jalan pun kayak siput, lama banget. Itu pun ngga bisa berhenti pas di depan gerbang, bisa berhentinya agak jauh kira-kira 50 meter dari gerbang. Ujung-ujungnya gerimisan juga sama Abiy sampai ke depan kelasnya, ya, setidaknya Abiy masih ganteng meski kena gerimis.
Singkat cerita lagi -ketauan males nulis- setelah nunggu cantik bareng ibu-ibu lainnya, akhirnya bagi rapot pun dimulai. Karena bu gurunya abis dua hari full nemenin anak-anak ikut pesantren kilat, bu guru kelihatan lelah banget. Jadi cuma kasih kata pengantar sedikit terus mulai bagi-bagi rapot dan dikasih marchandise handuk dengan nama siswa : Abiy. Seneng, dong, si Abiy apalagi emaknya seneng banget, kan, mayan ga perlu beli handuk baru ‪#‎eh‬.
Si Papa pun nelepon, dia bilang udah ngejemput, nungguin di taman perapatan kantor. Terus aku dan Abiy disuruh jalan ke sana? Hello papaaa... di luar masih gerimiiis... mana tahan basah-basahan gitu kan. Papa bilang, gang bisa masuk ke gang menuju sekolah, dilarang satpam karena udah penuuuh banget mobil yang ngantri. Akhirnya aku nyuruh papa pulang, tapi beberapa menit kemudian berubah pikiran dong, gapapa deh jalan bentaran lalu kirim WA yang apesnya tuh WA nyampe satu jam kemudian. Nyuruh si papa jangan pulang.
Terus aku dan Abiy niat mau nebeng sama mama Nayaka, salah satu CS abiy di sekolah, tapi ternyata mobil mama nayaka diparkir di lapangan yang notabene deket taman, ah nanggung bleeh sekalian aja basah. Aku dan Abiy pun jalan kira-kira 100 meter lagi, gerimis gerimisisan, Abiy nutupin kepala pakai rapot dan didobel dengan handuk marchandise. Aku cukup nutupin kepala pake telapak tangan - yaaa sebenarnya keujanan juga, nutup kepala biar action aja. Tibalah kita di taman dan tadaaa... mobil merah si papa udah gak ada. Huhuhu... rasanya mau nangis meraung-raung, gegulingan tapi malu sama pak pulisi. Akhirnya aku celingukan dan melihat ada ibuu-ibu naik becak.
Kucek-kucek mata sebentar, ratusan kali lewat sini naik mobil dan motor kenapa ya kok ngga ngeh kalau di sini ada tukang becak mangkal? Akhirnya aku melihat satu tukang becak yang nganggur. Karena udah lelah dikeroyok sama gerimis, aku pun mengajak Abiy naik becak, Abiy pun naik becak dan mukanya kelihatan pucat banget.

pict boleh copy dari link ini : http://www.leladies.com/2015/09/09/kisah-nyata-shodaqoh-jumat-seorang-tukang-becak-renta/


Jarak dari kami naik becak ke rumah itu kira-kira 300 meterlah, jalannya pun luruuus aja ngga pake naik turun. Aku memeluk Abiy dan terjadi percakapan menyenangkan.
Aku : Jarang-jarang, kan, Biy, naik becak?
ABIY : Iya, Ma, asik ya ma, pemandangannya indah (padahal yang dia liat tiap hari itu-itu juga hik)
Aku : Nyanyi yuk, saya mau tamasya keliling kota, saya panggilkan becak kereta tak berkuda, becak-becak... coba bawa saya.
ABIY : .... (meneng bae)
Jadi aku heboh sendiri naik becak, hmmm kalau dipikir-pikir udah lima tahun lebih gak naik becak, ya. Lambaaat lajunya tapi kok bikin tenang. Bisa lebih melihat kanan kiri jalan. Mendekati rumah Abiy nyeletuk.
ABIY : Mah, abangnya kuat, ya, bawa mama 95 kilo, Abiy 30 kilo, 125 kilo, mah.
AKU : (ya gak usah bawa-bawa kiloan napa biiy). Iya, abangnya hebat! Kuat!
Begitu tiba di depan rumah aku dan Abiy turun, saat mau bayar aku agak kaget karena abang becak yang sedari tadi mengayuh beban 125 kilo gram itu sudah tua, rambutnya putih semua, kerutannya banyak dan badannya kurus. Ngek... pas naik tadi sama sekali ngga merhatiin abangnya, cuma mikir gimana caranya gak keujanan. Akhirnya yang tadi mau ngasih dikit, diganti jadi ganti agak banyakan. Soalnya abang becak bapak tua ini ngga ngeluh sepanjang jalan, disuruh belok kanan kiri juga diem aja, saat dia nerima uang dengan mata berbinar, semua keluhanku soal hujan hilang sudah.
Papa dan Arkan keluar menyambut aku dan Abiy, hujan belum juga berhenti. Aku buru-buru masuk sambil cerita dengan cepat kenapa akhirnya bisa naik becak.
PAPA : Beginilah cara Allah ngasih rejeki ke tukang becak tua itu.
Ah... aku baru kehujanan dikit ngeluh, jalan hujan-hujanan dikit ngerasa tersiksa, padahal bapak itu menunggu penumpang hujan-hujanan dengan sabar, mengayuh becak dengan penumpang 125 kg dengan sabar... rasanya malu.
AKU : Apa yang menjadi kesulitan bagi kita boleh jadi adalah rejeki buat orang lain, ya, Pa.
Masya Allah... begitu indah Allah mengatur rejeki hamba-Nya.

Peugeot, Salah Satu Mobil Eropa Yang Nyaman banget.

Thursday, June 16, 2016

Finally si merah bisa juga masuk garasi. Ini adalah mobil pertama yang kami beli dengan cash thn 2013, waktu mikirnya yang penting mesin bagus, body bagus, nyaman, dan bisa bayar cash. Kemudian fungsiny mobil juga dapat. Jadi ngga mikirin gengsi harus mobil baru yang di pakai sejuta umat. Mampunya cash yang ini ya udah.

Apalagi saya dan suami ini keduanya penulis, mau ambil apa apa secara kredit juga susah. Awalnya ngeluh sih kok susah banget mau beli mobil n rumah apa-apa harus cash, kan lama ngumpulin duitnya. Tapi sekarang setelah dipikir-pikir ya Alhamdulillah, Allah lagi ngejauhi kita dari riba. Biar kata ini mobil tahun 1997, jadul, or ngga kekinian tapi aku bersyukur karena punya, masih banyak yang mau beli mobil juga susah. 
Awalnya saya dan suami juga agak tahu apakah si merah bisa menemani kami. Apalagi omongan kanan kiri selalu bilang kalo mobil eropa itu perawatannya susah dll dll. Tapi alhamdulillah dia berhasil membawa saya dan suami keliling jabodetabek. Pulang pergi Jogjakarta-Tangerang yang nyaman bangeeet... pp jogja-semarang, beberapa kali tangerang-bandung dan subang.
Si merah berfungsi dengan baik. Tercatat dari 2013, 3 kali mogok di jalan, 5 kali masuk bengkel. Sisanya asik asik aja hehe. Saat pindahan kemarin dia ngga diangkut karena ada masalah yang aku ga ngertii wkwk. Duitnya belum ke bagian buat bawa dia ke bengkel. Alhamdulillah akhirnya kemaren masuk juga ke bengkel bintaro dan hari ini siap jalan jalan lagi. Nongkrong dulu di garasi barunya.
Ini cerita si merah. Mobil kesayangan yang suami jadi cinta mati sama peugeot ini. Fyi perawatannya ga ribet kok, cuma bengkel ya aja agak jarang. Masuk bengkel juga ga mahal mahal amat. Jadi kalau butuuh banget mobil buat keluarga sementara uang ngepas mending beli ini dulu. Bagus juga buat yang belajar nyetir, ini sering tabrak sana sini body belum ada yang penyok hehe. Beda sama mobil murah kekinian yang baru ketabrak dikit aja udah penyok... ini bedanya kualitas mobil eropa sama mobil kekinian yang kataya murah meriah itu padahal hargaya seratus juta ke atas weeksss apanya yang murah huhuhu. 

FYI, saya beli si merah ini cuma 35 juta tahu 2013, tahun ini kemungkinan akan turun lagi harganya hehehe. Tapi inget, sebaiknya kalau mau beli mobil second, mau mobil eropa or mobil jepang, minimal pelajari dulu tentang mesin. Cari yang mesinnya belum pernah diganti, lebih enak lagi sih ngajakin orang bengkel buat bantu liatin. 


 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati