Saya Tidak Memaksa Anak Saya Untuk Berbagi

Friday, August 16, 2019

Saya Tidak Memaksa Anak Saya Untuk Berbagi

"Ayo, dek mainannya dikasih pinjem temen kamu. Kamu jangan pelit."

Si adek tidak mau tapi tetap dipaksa berbagi oleh orang tuanya. Kasus lain.
"Kaka kan minta makanan kamu, ayo dibagi," lalu tanpa ijin sang adek, ibu langsung membagi dua makanan yang notabene milik si adek.

Saya pikir dulu, mengajarkan anak berbagi harus sejak usia dini. Kalau perlu sejak dia usia 1 tahun. Tapi ternyata setelah belajar parenting di komunitas HS, terkuaklah bahwa anak usia 1-3 tahun tidak perlu diajarkan berbagi. Karena fase umur itu adalah fase mereka egois dengan barang mereka sendiri dan sebaiknya biarkan mereka puas merasa memiliki. Cmiiw ya soal fase ini.

Ketika anak kedua saya berumur 4 tahun saya baru dapat ilmu ini. Cara cara saya mengajarkan anak pertama saya berbagi, ternyata salah. Akhirnya saya terapkan ilmu baru pada anak kedua saya. Apa itu?

Yaitu belajar kepemilikan. Wah bagi saya ini ilmu baru soal kepemilikan. Hal yang disepelekan tapi rupanya punya dampak besar.

Jadi sejak kecil jangan langsung diajarkan harus berbagi tapi ajarkan kepemilikan.

Ini makanan kamu. Ini milik kamu. Kamu boleh membaginya dengan orang lain boleh tidak.

Ini mainan kamu. Ini mainan kakak.
Itu barang ibu. Itu barang kakak.
Kalau kakak minta makanan kamu dan kamu tidak mau kasih, kakak tidak boleh memaksa. Begitu juga sebaliknya. Selama 1-2 tahun pertama dia ogah berbagi sama orang lain. Tidak apa apa batin saya, dia belajar menikmati kepemilikan dia dulu.

Efeknya ternyata luar biasa buat anak kedua saya. Di umur dia ke-5 saya terkaget-kaget melihat dia begitu mudahnya berbagi pada orang lain. Kalau beli susu kotak dia beli 3, untuk dirinya untuk kakak dan untuk sepupunya. Minggu lalu, teman lama datang ke rumah bawa bayinya. Karena gemas dengan si dedek, anak kedua saya langsung ambil boneka kesayangan nya dan dikasih ke si dedek Bayi itu..benar benar dikasih. Syok sekaligus takjub melihatnya. Padahal setahun lalu, minjemin mainan ke teman aja pelit banget.

Lalu esoknya lagi dia jajan dengan uang THR nya dan dia bagi bagi makanan ke temannya. Lalu berbagi mainaan ke teman ke abangnya. Dan saya bahagia mengetahui kenyataan bahwa saya tak perlu memaksa dia untuk berbagi.

Manfaat lain dari belajar kepemilikan. Dia merasa memiliki kamarnya, maka saat kamarnya kotor dia rapihkan sendiri, dia sapu dan dia ganti sprei sendiri tanpa disuruh. Dia juga merapikan mainan sendiri dan menatanya. Karena dia merasa itu miliknya maka secara fitrah dia pasti akan merawat apa yang jadi miliknya.

Kalau dia merusak milik orang lain dia harus ganti rugi sesuai kesepakatan dengan orang yang barangnya dia rusak. Soal belajar ganti rugi ini juga mengajarkan dia buat tanggung jawab dan akan berhati hati sama barang orang.

Manfaat belajar kepemilikan lainnya adalah, jadi mudah mengatur dia main gadget.

Ini, kan ponsel mama. Mama yang punya hak mau berapa lama kasih pinjam kamu. Jadi kalau kita belikan gadget buat anak, wajar kita akan susah kendalikan mereka karena itu, kan milik mereka. Secara naluri mereka akan masa bodo aja, bebas dong punyaku. Kalau kita rampas gadget milik mereka, mereka akan terluka karena merasa hak miliknya dirampok.

Dengan belajar kepemilikan mudah mengatur anak kedua saya untuk tidak lari larian di rumah orang lagi.

Ini rumah orang bukan rumah kamu. Kalau ada barang rusak kamu harus ganti rugi. Meski kadang buat bagian ini dia akan jawab : aku larinya hati hati kok. Hufft masih sulit bagian ini. Tapi setidaknya sudah bisa lebih dikontrol.

Dia juga tidak akan mengambil barang orang lain tanpa ijin. Karena dia tahu nikmat nya memiliki maka dia juga akan paham rasanya kalau milik dia diambil paksa.

Jadi jangan paksa anak anda berbagi dengan orang lain kalau dia belum mau berbagi. Cukup kita iklan kan sifat berbagi itu dari sikap kita, anak pasti akan mencontoh perilaku kita. Biarkan anak berbagi dengan bahagia.

Catatan Homeschooling 2 : SUDAH SETAHUN HOMESCHOOLING, INI GAYA SAYA.

Monday, August 5, 2019

Saya memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak-anak kembali alias Homeschooling tepat 1 tahun yang lalu. Tak terasa ya, satu tahun penuh dengan segala cerita naik turun hehehe. Memutuskan untuk HS itu tidak mudah, galaunya saja bertahun-tahun. Setelah mantap HS pun masih sering diterpa oleh kebimbangan, belum lagi kalau teman bertanya kenapa HS? Terus komentari : sayang banget anaknya berhenti sekolah. Atau orang tua dan mertua yang masih sesekali meminta anak-anak buat sekolah. Tapi apa pun itu saya dapat jawaban dari seorang psikolog.

Kalau ditanya kenapa HS? Jawab saja karena ini pilihan cara belajar saya dan anak-anak.

Sudah, tak perlu dijelaskan karena begini begitu. Dijelaskan seperti apa pun kalau orang tidak menerima konsep HS pasti akan menentang dan hanya akan mencari debat. Saya menghindari perdebatan. Intinya sekolah itu bagus, HS itu bagus. Metode mana yang tepat untuk diterapkan pada keluarga dan anak-anak itu adalah pilihan setiap keluarga. Karena setiap keluarga punya metode mendidik yang berbeda-beda. Saya tidak mau jelek-jelekin orang yang sekolah karena saya tahu, ada anak-anak yang memang cocok dengan konsep sekolah.

Sayang sekali, sejauh ini anak-anak saya belum menemukan sekolah yang cocok dengan karakter mereka. Ya, sebelum HS saya konsultasi ke 3 psikolog dan menemukan karakter-karakter anak saya yang tersembunyi. Yang sebenarnya saya tahu tapi saya baru NGEH setelah diselepet sama psikolog wkwkwkw.

Ada pertanyaan yang nonjok banget dari salah satu psikolog saya : emang kamu HS-in anak buat apa?

Saya jawab : Ya buat mengembangkan bakat anak-anak saya.
Psikolog : Misalkan anak-anakmu bakatnya main piano, kamu asah terus main piano dia sampai dia jadi masternya master piano, terus apa? Gimana kalau 20 tahun lagi ternyata pemain piano ngga diperlukan? Gimana kalau ternyata 20 tahun lagi, penulis, pemusik, tukang masak dll digantikan sama robot atau mesin?

Makjleb banget saya bingung jawabnya. Diskusi-diskusi selama beberapa hari sampailah saya pada sebuah kesimpulan bahwa mendidik anak sesungguhnya adalah membuat anak mampu Akil Baligh dengan sempurna. Anak mempunyai daya juang, ngga baperan, bisa bermasyarakat dengan baik, mandiri, bisa mengelola emosi dll. Nah sikap-sikap begitu yang harus diutamakan. Dengan anak punya daya juang, dia akan berjuang untuk beribadah, belajar, memperbaiki diri dll.

Jadi fokus saya HS selama setahun ini saya tidak membuat jadwal macam-macam. Untuk Abiy (11th) saya masukkan dia ke PKBM, karena tuntutan ortu dan mertua tetap mau dia punya legalitas. Belajar di PKBM online yang hanya seminggu 3 kali @2 jam. Ujian tengah semester ada, ujian akhir semester juga ada.

Selain urusan belajar di PKBM, saya ngga menuntut Abiy belajar keras. Dia lagi suka bikin game sederhana (coding) dan animasi setahun ini, ya, saya biarkan saja dia kembangkan kesukaannya sambil setiap hari melahap buku-buku. Konsentrasi saya adalah di daya juang dia dan adiknya. Abiy jadi bisa masak sendiri, kalau lapar dan mamanya tidak sempat masak, dia masak telur sendiri. Setahun ini inisiatif dia meningkat, rumah berantakan dia rapihkan, ada yang tidak beres dia bereskan, Abiy juga hanya ikut kursus badminton dan tahsin. Tidak ada jadwal khusus yang membuat saya sebagai ibunya pusing wkwkwkw. Makanya ini HS yang santai buat saya.

Karena saya tidak memindahkan sekolah ke rumah tapi menciptakan kebahagiaan belajar di rumah.
Abiy tetap main game dan nonton youtube dengan syarat : harus mandi sebelum jam 8 pagi, sebelum jam 1 siang harus setor resensi buku yang dia baca. Ya saya mewajibkan dia menulis resensi pendek setiap hari dan menerjemahkan 3 kata bahasa inggris dari kamus Inggris-inggris, bukan kamus Indonesia-Inggris. Sejauh ini baru itu saja tugas pribadi dari saya. Tugas-tugas PKBM dikerjakan menjelang UTS dan UAS saja.

Begitu juga dengan adiknya, Arkan. Kalau dia mau sesuatu dia harus berjuang. Misal dia mau mainan A, harga 50 ribu. Saya iyakan dengan syarat kamu harus kumpulkan 20 bintang dari mama, satu bintang harganya 2500. Bintang bisa didapat setelah dia mengerjakan Logico (search aja ya di google apa itu logico wkwkwk). Dia yang kinestetik mau dong mengerjakan logico yang mengharuskan konsentrasi. Wuih awalnya susah bikin dia konsen, 5 bulan pertama treatmentnya adalah diikutkan kelas lego. Karena Arkan ini kinestetik banget. Sampai kemudian bulan 6 HS barulah ketahuan dia suka menggambar dan JAGO meniru gambar. Masya Allah. Jadilah saya fasiitasi dia kertas berim rim dan spidol banyak-banyak.

Awalnya susah membuat syarat-syarat ini karena kita sebagai orang tua harus konsisten dengan ucapan kita dan harus TEGA melihat anak menangis, kecewa, sedih ketika dia tidak bisa memenuhi syarat dari kita. Karena hidup itu kan memang berjuang wkwkwkw. Arkan ini karena kinestetik dan masih 6 tahun, masih suka tantrum awalnya. Saat main game hanya dibatasi 50 menit sehari dia ngamuk-ngamuk, wah butuh 2 bulan buat konsisten dengerin dia ngamuk sampai akhirnya ya... saat kita bilang waktu habis. Semua langsung nutup ponsel/laptop dan berhenti main game.

Duh banyak banget yang mau diceritakan soal HS ini. Perjalanan 1 tahun kayaknya ngga cukup hanya dijabarkan di satu post wkwkw. Tapi saya malas ngisi blogspot sih. Ini aja maksain pengen nulis nulis biar ngga lupa huhuhu.

Dari hasil finger print, Arkan ini ternyata mudah sekali meniru dan kinestetikm jadi kalau mau mengajarkan dia suatu hal, buat energinya habis dulu (kata salah satu psikolognya). Akhirnya ya kami lebih sering jalan-jalan hampir setiap hari minimal ke taman-taman kota Tangerang, thanks pak Walikota udah bikin banyak taman di Tangerang. Memfasilitasi Arkan. Sehari 1-2 jam buat main-main sampai capek, lalu main lagi di rumah, main pasirlah, minta diajarin masak telurlah, minta masak donatlah, pokoknya dia harus capek. Malamnya baru bacain Arkan buku.

Arkan ini kalau dibacain buku selalu kabur-kaburan, ngga kayak abangnya, jadi saya harus sabar habisin energi dia. Alhamdulillah dengan metode habiskan energi dia di pagi-sore, maka malam harinya dia bisa konsentrasi buat dengerin buku meskipun yaa awalnya dia bosan. Lambat laun, dia ngga bisa tidur kalau belum dibacakan buku. Membacakan buku membuat dia penasaran sama huruf, dan dia pun mulai menanyakan huruf huruf namanya. Saya hanya menuliskan nama ARKAN di atas kertas dan dia meniru hanya dengan sekali goresan, saya saja melongo melihatnya.

Padahal ABC-Z dia belum hapal wkwkw cuma modal meniru. Nah modal inilah yang saya nikmati, dia beljar banyak dari jalan-jalan. Belajar huruf, angka, warna dari jalan-jalan. Belajar mneghitung duit dari uang ampao lebaran dan semalam saya syok saat dia mengerjakan soal penambahan dan pengurangan matematik dengan cepat dan jawabannya BENAR. Wkwkwkw... jadi 2 tahun lalu saya membeli buku tambah2an dan pengurangan tapi Arkan ga tertarik sama sekali. Tiba-tiba sekarang dia tertarik sama hitung-hitungan. WOWWW.... terima kasih ampao lebaran.

Jadi semakin percayalah saya bahwa setiap anak sudah ada fitrah belajarnya masing-masing. Fitrah belajar baca-tulis dan matematika Arkan muncul saat usianya 6,5 tahun. Kalau di TK sudah TK B itu, wkwkwkw... tapi saya tidak mengajarkan. Saya hanya menyediakan fasilitas, seperti Logico itu permainan logika dan dasar menulis membaca adalah bermain logika bukan? Thanks Logico (bukan ngiklan karena ngga jualan hahahaha)

Intinya, saya mencoba memahami karakter belajar anak-anak saya. kalau Abiy lebih konsentrasi belajar dalam ketenangan dan kenyamanan, dia tipe anak rumahan. Beda sama Arkan yang hobinya main keluyuran di komplek dan pengen selalu main ke taman karena butuh menghabiskan energinya. Pernah berminggu-minggu Arkan setiap hari hanya menari ratoe jaroe dari meniru gerakan Asean Games dan saya biarin aja, sih. Asal dia capek wakakakaka.... dan dia belajar hal-hal lain dalam setiap kegiatannya.

Sekarang dia bilang mau belajar baca Al-Qur'an wah saya sambut dong langsung deh ajakin hapalan, belajar Iqro. Sejak 2 tahun lalu saya coba ajarin dia tapi dia kabur-kaburan terus, ya sudah saya hanya memberikan contoh nikmatnya baca Al-Qur'an. Lama-lama dia merasa itu nikmat dan kepengen belajar. Kalau soal shalat, dia peniru ulung, jadi rajinlah ke masjid meski banyakan mainnya. Toh belum 7 tahun. Tapi beberapa bulan lalu, abangnya sudah mulai mengajarkan dia berwudhu dan gerakan shalat dengan benar, beberapa kali juga saya melhat mereka shalat berjamaah. Duh... emak santai beud deh. Karena Abang Abiy sudah bisa mengajarkan adik.

Abang Abiy juga yang mengajarkan adik bikin telur dadar enak, ngajarin adik main badminton, ngajarin adik shalat, ngajarin adik bikin animasi wkwkwkw... asyiknya :D

Ya, baru segini perjalanan HS saya. Masih panjaaang euy. Saya termasuk mama yang susah bikin worksheet  atau program program apalah. Kalau ada buku aktifitas yang bisa dibeli ya beli. Karena pekerjaan menulis saja sudah menyita waktu dan tenaga, belum lagi kegiatan menjadi narasumber di sana sini, kegiatan bikin proposal dll. Alhamdulillah sih semua bisa dilakukan di rumah, kalau lagi jadi narasumber di beberapa tempat ya saya ajak anak-anak, karena mereka juga HS. Pekerjaan suami juga menulis naskah, jadi fleksibel deh kemana-mana. Alhamdulillah setelah 4 tahun menolak HS, suami tahun kemarin akhirnya juga mantap buat HS-in anak-anak.

Satu hal yang saya rasakan luar biasanya HS. Saya dan suami juga dituntut buat belajar, dituntut untuk menjadi lebih baik lagi, belajar parenting lagi lebih giat, belajar sabar, dan yang terpenting adalah belajar menciptakan suasana BAHAGIA di rumah. Kalau nanti Abiy SMP/SMA mau HS jugakah?

Wah itu belum tahu... tergantung Abiy-nya dan perkembangan dia selanjutnya bagaimana. Kalau ada sekolah yang cocok buat karakternya dengan harga terjangkau ya bolehlah. Kebanyakan sekolah bagus sedikit kan biaya masuknya aja 30 juta wkwkwkw....

Ternyata nulis 1 blog ini 30 menit. Seharusnya saya bisa lebih rajin ngeblog, nanti kalau ada momen momen lain yang saya ingat, saya akan share. Terima kasih sudah baca blog saya ^^ 

CATATAN HOMESCHOOLING : First Time

Wednesday, September 26, 2018

Catatan Pertama, 27 September 2018

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, lapangan basket, anak dan luar ruangan

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, lapangan basket, anak dan luar ruangan
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, lapangan basket, anak dan luar ruangan


                                                   Foto : Ikut kegiatan JANGKAR OASE 2018


Saya menulis catatan HS ini semata-mata untuk menjadikan ini portofolio dan pengingat diri sendiri yang pelupa. Anak-anak saya kelak harus tahu bahwa inilah yang menjalankan semasa mereka kecil. Semoga saya bisa konsisten memulai menulis ini.

Saya bukan ahli parenting, hanya orang tua yang ingin belajar sampai akhir hayat, meski tertatih-tatih. Ingin membersamai anak semaksimal mungkin. Kalau ada manfaat dari catatan ini silahkan dikonsumsi, kalau ngga enak boleh dilepeh hehehe.

Saya mulai HS tahun ini, memutuskan untuk mengeluarkan anak pertama saya dari sekolah. Abiy sudah naik kelas 4 SD tapi saya putuskan untuk HS. Kenapa? Panjang alasannya. Intinya, sekolah tidak cocok untuk Abiy. Saya tidak mau bilang sekolah itu jelek, nanti malah jadi pro dan kontra. Sekolah itu bagus, HS itu bagus, hanya masalah kecocokan dan kenyamanan saja. Ada anak yang nyaman sekolah dari pagi sampai sore lalu setelahnya kursus lagi sampai malam dan tidak merasa tertekan karena dia enjoy, ada yang merasa tertekan tapi diam saja, ada yang santai-santai saja, dan Abiy tipe anak yang tertekan tapi diam saja. Diamnya cukup lama, sampai kemudian dia meledak dan mengeluarkan keluh kesahnya.

Jadi sekolah itu bagus, HS itu juga bagus, adalah sesuai kebutuhan masing-masing anak ya. Please gak ada pro dan kontra hahaha....

Atas usul beberapa teman akhirnya saya membawa Abiy ke psikolog, buat mengenali diri Abiy lebih jauh seperti apa. Sampai pergi ke 3 psikolog berbeda dan memang ternyata dia bukan tipe anak yang tahan dibully, perasa sekali, halus dan bisa belajar dalam kondisi nyaman. Kalau suasana udah ngga nyaman, dia ngga maksimal dalam belajar.

Mungkin ada beberapa orang tua yang beranggapan, anak dibully harus kuat karena di kehidupan sebenarnya banyak bullyan. Tapi mohon maaf, saya berpijak pada teori : masa kecil anak yang bahagia akan membuat anak menjadi kuat saat dewasa.

Saya tidak mau memaksa anak saya sekolah dan tidak bahagia. Saya melahirkan anak saya, membesarkannya, bekerja keras untuk dia hidup adalah agar dia bahagia.

Tentu memutuskan HS bukan tanpa kesiapan. Saya belajar tentang ruasdito dan bagaiman mempersiapkan akil baliq untuk Abiy. Saya memperbaiki konsep yang ada di kepala saya, bahwa mandiri bukan berarti anak ditinggal di sekolah artinya mandiri. Justru banyak anak yang sekolah tapi dimanja, dianterin sampai pintu gerbang, makanan selalu tersedia, dijemput, semua PR diurus orang tua dan lain sebagainya.

Ketika saya memutuskan untuk HS adalah ketika libur panjang bulan Juni-Juli. Selama  1 bulan itu saya masih dalam pergulatan batin, stress, mau beneran HS-in anak atau batal aja? Mampukah saya? Bisakah saya? Sampai akhirnya saya bertemu dengan Kemah JANGKAR-nya Club OASE (bisa googling). Kemah yang isinya adalah para pegiat HS atau orang-orang yang memang berminat HS.

Sejujurnya saat mau kemah JANGKAR itu, keuangan saya lagi seret karena banyak honor menulis yang mampet. Tapi hati kecil saya berkata saya harus ikut ini. Saya mau belajar dan saya mau menguatkan hati saya. Karena memutuskan HS tentu saja akan banyak pertentangan dari keluarga maupun masyarakat.




Alhasil dengan kerja rodi yang sangat keras, akhirnya saya bisa bayar biaya kemah yang lebih dari 2 juta itu hehehehe. Alhamdulillah go berangkat ke Kaki gunung gede! Banyak cerita di sana, yang seharusnya saya catat. Tapi nantilah saya tulis dalam catatan sendiri. Intinya di sana saya bahagia, anak-anak bahagia, Abiy pun semakin yakin buat HS saat ketemu dengan teman-teman seumurannya yang HS. Arkan apalagi... dia umur 5 tahun dan memang ngga pernah mau masuk ke TK meski drayu jungkir balik. Btw, Arkan ini ternyata adalah anak kinestetik.

Ibaratnya, Jangkar ini adalah pintu gerbang kami sekeluarga untuk memulai HS. Suami saya saat kemping tidak bisa ikut kegiatan JANGKAR, dia hanya ada di kemah saja karena ada pekerjaan menulis skenario. Tapi bersyukur, sound system yang disediakan panitia suaranya kenceng banget. Jadi sambil ngetik, dia masih bisa menangkap beberapa materi. Dan ini semakin menguatkan dia untuk membersamai saya membimbing anak-anak saat HS.

Salah satu kegalauan terbesar saya saat memutuskan mau HS adalah : mama saya mau ke ICU, karena kena serangan darah tinggi sampai 222/180 dan terkena resiko stroke serta gagal ginjal. Kurang lebih 1 bulan saya dan saudara-saudara bergantian untuk menjaga mama sakit. Karena saya kerja di rumah, saya sering kebagian menjadi dari pagi sampai maghrib sehingga anak-anak yang tidak sekolah itu, baru mulai HS itu tidak bisa pergi kemana-mana. Di rumah neneknya terus sehingga mereka terlihat bosan.

Tapi alhamdulillah awal agustus mama bisa sembuh, sehingga kita bisa pergi ke Jangkar, dapat semangat baru dan pulang pun mulai HS dengan sesungguhnya. Hal pertama yang kami lakukan adalah melakukan Deschooling (bisa googling) yang intinya sih detox atas pikiran-pikiran sekolah. Jadi HS itu bukan memindahkan sekolah ke rumah. Jadi karena Abiy baru berhenti sekolah, saya harus berhenti berpikir bagaimana memindahkan kegiatan sekolah di rumah. Sehingga setelah deschooling selama 3 bulan (hanya jalan-jalan, baca buku, ikut kegiatan ini itu, kursus dll) akhirnya kami lebih santai untuk HS. Saya yang lebih santai sih dan ngga stress anak harus kursus ini itu. Ngga usah manggil guru privat dan bikin jadwal kayak sekolahan.




Yang saya lakukan di Bulan Agustus dan September saat anak anak HS adalah :

1. Abiy dan Arkan ikut kelas robotik seminggu dua kali. Selama 1,5 jam di RUMAH PENA (lembaga yang saya kelola sendiri).
2. Seminggu sekali, Abiy ikut kelas belajar menulis kreatif bersama saya dan 4 murid lainnya yang seusia Abiy. So' dia tetap bersosialisikan dengan kursus-kursus itu.
3. Setiap Senen dan Selasa, Abiy ikut kelas Tahsin. Di rumah juga hapalan Qur'an bareng-bareng saya yaaa meski banyak bolongnya hahaha.
4. Saya belajar bikin catatan, hari ini anak-anak ngapain aja, meski banyak bolongnya. Yaaa maklum cyin baru belajar HS.
5. Seminggu 2 kali Abiy saya kasih tugas menerjemahkan buku picture book bahasa inggris adiknya, buku-buku import yang saya beli di Big Bad Wolf, emang sengaja nyetok banyak buat belajar bahasa inggris dia. Insya Allah Oktober baru ikut kelas Bahasa Inggris lagi di RUMAH PENA (Lemabaga yang saya pimpin sendiri)
6. Per September ini Abiy ikut kelas badminton seminggu 2 kali yaitu setiap Rabu dan Jumat sore.
7. Oktober ini Abiy dan Arkan baru mau ikut kelas Bahasa Inggris di Rumah Pena. Tuh siapa mau ikutan juga kuy yaaak langsung follow IG @rumahpenatalenta
8. Oktober ini dia juga bergabung di PKBM Generasi Juara, insya allah ikut kelas online aja biar bisa banyak jalan-jalannya.

Sementara baru itu saja sih kegiatan rutin mereka. Kenapa kayaknya lebih banyak Abiy yang aktifitas kursus? Karena dia sudah kelas 4 SD dan butuh banyak kegiatan, sudah bisa memilih juga apa yang mau dia pelajari. Sementara Arkan kelasnya masih jalan-jalan aja, main di taman, belanja ke pasar, ikut mama ke pengajian, dll.

Di luar waktu kursus mereka ngapain? Abiy tentu membaca buku nyaris sepanjang hari. Bermain lego. Bermain Fun Thinker, main catur, Main Logico Grolier, Membuat animasi atau baru-baru ini dia dan Arkan sedang senang mengukir batu. Ya biarkan sajalah... siapa tahu batu jadi berlian hehehe.

Selain itu juga mereka beberapa kali ikut saya meeting, 2 kali menemani saya jadi juri di Festival Al-Adzom, jalan-jalan ke Asian Games, ikut pelatihan KKPK di Mizan, berenang tidak rutin lebih sering renang dadakan aja, jalan-jalan ke perpustakaan kota Tangerang sudah 2 kali, lebih sering eksplorasi ke taman, jalan-jalan bersama komunitas HS Tangerang (meramban taman kota Srengseng, jalan-jalan ke area Bandara), jalan-jalan ke mall, dll hahaha. Banyak kegiatan jalan-jlan yang belum kesampaian seperti kegiatan ke Museum, TMII, Ancol, Taman Bunga dan lain sebagainya.

Mau ngajarin Abiy bikin jurnal perjalanan. Tapi Oktober ini mau beli PC baru buat dia dan printer dulu, peralatan bundling dll. Intinya sih, emaknya ini nyantai banget hahaha. Pelan-pelan gitu. Alhamdulilllah hampir 3 bulan deschooling Abiy sudah lebih mandiri dan inisiatif. Arkan juga kinestetiknya lebih terarah.

Itu aja dulu, saya mau cus ke kelas privat menulis novel. Murid sudah menanti. Nanti kalau sengang mau cerita-cerita lagi yang lebih terarah hahaha... berasa banget ini nulis lompat-lompat.

See you. Kalau mau sharing soal HS biar saya tambah pinter, boleh dong di kolom komentar.
Jangan dibully karena saya newbie :p

Salam
Achi TM
Penulis 29 Novel dan lebih dari 200 naskah skenario TV
Penulis novel Insya Allah SAH dan Before I Met You.




BISAKAH HIDUP DARI MENULIS? BISA... INI CARA SAYA.

Sunday, September 10, 2017

Sebagai penulis full time, saya dan suami tidak punya gaji bulanan. Tidak punya tunjangan sertifikasi atau apa pun. Oleh karena itu kalau mau hidup layak, kami harus bekerja keras dua kali lipat daripada mereka yang mendapatkan gaji. Karena apa? Karena dunia menulis itu pasang surut.
Pernah dalam satu tahun kami mengalami surut sekali pekerjaan menulis skenario. Sampai kami rela menulis artikel yang dihargai 20 ribu rupiah hanya demi bisa makan. Agar bisa hidup layak, kami harus kerja keras menulis masing-masing 10 artikel dalam satu hari. Karena apa? Karena job nulis artikelnya tiba-tiba saja berhenti di bulan ke-4 kami bergabung. Job dihentikan maka berhenti juga rejeki yang ngalir dari artikel itu.
Di waktu yang lain, dapat panggilan menulis stripping lagi. Gembira. Kami menulis stripping tapi baru 13 episode, tayangannya berhenti. Maka berhenti juga aliran dana ke kami.
Ya, dunia menulis ini dinamis banget. Kalau lagi banyak proyek, banyaaaak sekali yang kami dapatkan. Kalau tidak ada sama sekali ya sama sekali kami ga dapat uang. Di 3 tahun pertama kami memutuskan jadi penulis full time (saya dan suami), kami belum tahu polanya dan tidak tahu bagaimana mengatur ritmenya. Sehingga ketika tidak ada job, uang tabungan pun terus kepakai lalu habis, lalu hidup serba ngepas meski kadang harus ngutang sama adik atau kakak yang kerja gajian.
Sampai kemudian kami belajar tentang prioritas. Maka di tahun 2011, saya mulai fokus lagi menulis novel. Setelah terakhir novel saya terbit tahun 2009. Fakum 2 tahun kemudian bergerak lagi untuk nulis novel. Karena apabila tidak ada pekerjaan di dunia skenario, maka saya menulis novel. Itu strategi saya. Bahwa novel adalah pendapatan jangka panjang. Selain uang royalti bisa menjadi uang tambahan untuk keluarga, nama saya juga bisa naik lagi.
Percaya atau tidak. Rentang tahun 2008-2011 ketika saya fokus nulis ratusan naskah skenario. Nama saya mandeg. Ngga ada yang kenal saya. Apalagi kalau ikut tim nulis, boro-boro masuk TV. Kalaupun nama ditulis di FTV, berapa banyak penonton yang memerhatikan?
Oleh karena itu dengan rajin menulis novel, saya punya bukti fisik bahwa saya penulis.Alhamdulillah setelah digeber, sejak 2011-sekarang, dalam satu tahun rata-rata saya menelurkan 3 novel. Tahun 2011 buku saya hanya ada 6 buah saja. Tahun 2017 sekarang sudah ada 24 novel.
Sejak saat itu, royalti buku bisa membuat kehidupan keuangan rumah tangga kami agak sedikit stabil. Tabungan pun tidak diutak-atik terus saat tidak ada job menulis skenario. Meski tidak ada job stripping tapi kami terus menulis sinopsis buat FTV, ada masa ketika sinopsis kami ditolakin terus, kami masih bisa hidup dengan royalti buku sampai kemudian ada sinopsis yang nembus. dan seterusnya dan seterusnya.
Apa semua novel saya laku di pasaran? Tidak.
Tidak semuanya laku di pasaran. Ada perasaan lelah dan jengah ngga mau nulis novel lagi tapi selalu saja Allah memberikan semangat lewat cara yang berbeda-beda. Salah satu penyemangat saya tetap menulis adalah : ketika saya mendapatkan email dari salah seorang pembaca novel saya. Yang mengatakan bahwa dia menyukai novel saya dan menunggu karya-karya saya yang lain.
Seperti setruman semangat yang mengalir ke seluruh darah saya. Di suatu tempat, ada orang asing yang menantikan karya saya. Ada orang asing yang terinspirasi dengan novel yang saya tulis. Itulah yang membuat saya terus semangat menulis novel. Meski royalti kadang hanya dapat 200 ribu dipotong pajak 15% *halah tapi saya yakin dengan seyakin yakinnya kalau Allah selalu membayar setiap kerja keras kita.
Pernah pula, selama 2 minggu saya ngga nulis apa-apa dan ini stressnya luar biasa. Setelah saya menulis, meski hanya sekedar puisi, saya merasa bahagia dan lega.
Novel Insya Allah SAH yang terbit tahun 2015, adalah momentum luar biasa dalam hidup saya. Hasil kerja keras dan kesabaran saya seperti dibayar sama Allah bertubi-tubi. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa novel Insya Allah SAH bisa difilmkan? For Your Info, novel Insya Allah SAH dipinang oleh PH MD Entertainment saat satu bulan terbit.
Saya hanya mampu menjawab : ini adalah hadiah dari Allah.
Maka ketika saat ini ada PH yang rela bikin kontrak dengan saya untuk memfilmkan novel saya yang belum terbit, saya semakin yakin bahwa kasih sayang Allah begitu sangat besar.
Pernahkah saya dan suami berpikiran mencari rejeki dari tempat lain? Pernah. 5 Bulan kami ngga nulis (untuk industri) sama sekali. Saya hanya nulis puisi, nulis curhatan galau di blog dan nulis status.
Uang tabungan kami, 30 juta, kami pakai untuk bikin usaha makanan selama 4,5 bulan dan hasilnya makanannya kami makan sendiri. Alias gagal total. Nelongso. Babak belur. Ngap-ngapan dan ya udahlah akhirnya seseorang bilang ke kami : selama ini periuk nasi kalian dari mana? Ya dari menulis.
Akhirnya kami balik menulis dan voila... langsung dapat pekerjaan yang terus mengalir sampai jauh. Allah kasih saya talenta menulis. Kasih suami saya talenta menulis. Kalau tidak bakat dagang barang fisik, yang jualan kata-kata saja.
Jadi kalau ada pertanyaan bisakah kita hidup layak dari menulis? Jawabnya : iya. Bisa. Asal menulis terus. Dan harus menulis lebih banyak dari orang lain. Bekerja lebih keras dari orang lain. Berpikir lebih banyak dari orang lain.
Selamat menulis, selamat bersenang-senang.

RUMAH PENA DIGANDENG OLEH SEKOLAH INOVASI

Friday, July 14, 2017

Sekitar dua bulan yang lalu, mbak Ade Ufi - teman lama di Love Asset- mengajak saya untuk mengisi pelatihan menulis di Sekolah  CITA Buana. Lama ngga jumpa, rupanya mbak Ade sudah menjadi pengurus Sekolah Inovasi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang training. Setelah ngobrol ngobrol sejenak soal Sekolah Inovasinya, saya pun tertarik buat join mengisi pelatihan menulis yang diselenggarakan Sekolah Inovasi. Bukan Juli ini, mereka punya jadwal mengisi di sekolah Cita Buana.

Saya mewakili Rumah Pena, lembaga kursus yang saya dan keluarga dirikan bersama sama, mulai mempersiapkan materi khusus untuk sekolah inovasi. Sayangnya, dua hari sebelum hari H pelatihan dimulai, saya malah jatuh sakit.

Ya, sakit yang muncul karena kelelahan. Kurang lebih sebulan belakangan, aktifitas saya keluar rumah memang seringkali sekali. Hampir setiap hari saya berangkat pukul 10 pagi dan pulang ke rumah pukul 10 malam. Mending kalau jaraknya dekat, tempat tempat yang saya datangi itu jauh jauh. Mulai dari Tangerang, Jakarta, Depok sampai Bekasi. Melelahlan memang tapi saya senang. Karena kegiatannya adalah kegiatan meeting sama beberapa PH, bahkan buku saya selanjutnya ada yang akan difilmkan lagi setelah film Insya Allah Sah. Btw film Insya Allah Sah masih tayang di bioskop, lho. Selain meeting saya juga promo film ke sana kemari. Menyenangkan memang. Tapi tetap saja badan saya butuh istirahat.

Akhirnya selama 2 hari saya sakit, istirahat full di rumah. Minum obat ini itu dan dibekali. Tadinya nyaris gagal mau datang ke Depok, apalagi belum pulih benar. Tapi saya ingin sekali mengajar menulis lagi setelah hampir dua bulan sibuk ngurusin film Insya Allah Sah. Mengajar menulis adalah sharing yang menyenangkan. Selain memberikan ilmu, kita juga bisa belajar. Apalagi kalau kita mengajar bareng trainer yang lain.

Di pelatihan menulis Cita Buana, yang digawangi oleh Sekolah Inovasi pada tanggal 13 Juli kemarin, saya mengajar bersama dua trainer lainnya. Yaitu mba Ade Ufi yang mengajarkan soal dunia menulis dan self editing, mba Anisa yang mengajarkan untuk membuat karakter dan mencari ide. Uniknya tema khusus pelatihan ini adalah belajar menulis cerita anak. Jadi saya pun belajar hal hal baru. Saya sendiri sharing seputar bagaimana membangun konflik, setting dalam cerita hingga membuat surprise ending.

Pesertanya terdiri dari para guru Tk dan Sd sekolah Cita Buana. Ada 26 guru yang ikut serta. Bagian menyenangkan lainnya adalah : para guru ini smart banget. Jadi mengajarkannya pun semangat. Karena apa? Karena mereka ini cinta membaca, sehingga ketika diberikan materi menulis, cepat sekali tanggapnya.

Bahkan, saat diberikan waktu hanya 1 jam saja untuk latihan menulis, mereka langsung ngebut bikin cerita. Tik tak tok... Wah asyik, satu jam sudah selesai 1 cerita anak. Luar biasa bukan? Saya pun mulai membaca satu per satu tulisan para guru sesuai dengan grup yang saya bina. Subhanallah, cerita cerita mereka unik banget dan seru seru. Padahal waktu bimbingan malah ada yang susah banget ngetik, setelah saya kasih motivasi, kurang dari satu jam sudah selesai 1 cerita.

Menulis itu ternyata mudah, ya. Asalkan mau rajin membaca. Tanpa membaca kita akan kesulitan menulis karena minim kosakata. Di akhir acara, kami pun harus memilih 3 cerpen terbaik versi masing-masing trainer. Saya punya 3 pilihan sendiri, kisah tentang anak yang ditinggal ortunya ke rumah nenek, tentang Rusi si Rusa yang mandi hujan dan kisah tentang pensil emas yang membuat seorang anak jadi rajin belajar. Wah alhamdulillah banget, bisa bermanfaat hari ini.

Terus menulis ya para guru tersayang. Semoga cerita cerita kita kelak bisa memberikan manfaat untuk anak didik kita 😊 terima kasih buat sekolah inovasi atas kesempatan yang menyenangkan ini.

Salam
ACHI TM
Penulis novel INSYA ALLAH SAH






FILM INSYA ALLAH, SAH! BUAH DARI SABAR DAN DOA

Wednesday, April 26, 2017



Sejak awal menulis novel di tahun 2007, saya selalu berharap agar novel saya diangkat ke layar lebar. Setiap menelurkan satu novel, saya selalu berdoa semoga novel yang ini difilmkan. Total sudah 22 novel saya yang terbit. Sudah 22 doa yang saya panjatkan. Mungkin lebih, karena setiap melihat film Indonesia terbaru, saya selalu berdoa. Setiap hujan turun deras, di antara dua shalat, selesai shalat, saat  didzalimi sama orang, saya selalu berdoa agar ada novel saya yang difilmkan.

Ketika harapan dan ambisi itu menggebu-gebu, kayaknya susah banget doa saya buat jadi kenyataan. Sebaliknya, di tahun 2015, ketika saya udah ikhlasin aja, deh, bikin novel ngga usah ngarep dijadiin film layar lebar. Udah lepas gitu aja. Tau-tau novel saya yang berjudul INSYA ALLAH, SAH dan terbit di Gramedia Pustaka Utama dilamar sama MD Entertainment/MD Pictures. Nah loh... Masya Allah, Allahu Akbar. Ketika kita udah pasrah, udah ikhlas, Allah kasih deh tuh ya ^^

Kemudian rentang 2015 sampai 2017 saya gunakan untuk banyak-banyak berdoa lagi agar MD Pictures segera produksi film INSYA ALLAH, SAH punya saya. Harap-harap cemas, takut masa kontraknya habis, terus film ngga jadi diproduksi kan nangisnya bisa bombay banget. Setelah mendapat ttd kontrak film, saya menggebu-gebu sekali. Udah ngga sabaran, deh, pokoknya pengen supaya film Insya Allah, Sah ini segera disyuting dan segera tayang.

Tapi rupanya, Allah sedang mengajarkan saya bersabar. Disuruh sabar. Saya disuruh nunggu 2 tahun. Ngga apa-apa, deh. Ngejomblo 22 tahun aja saya kuat kan yaaa ^^

Di awal-awal tahun 2017 saya mendapatkan sebuah ujian yang sebenarnya ringan tapi berat menurut saya, yaitu ujian dalam pergaulan. Well... saya gak akan cerita di sini. Pokoknya ujian dengan beberapa teman. Sampai kepikiran, duh kok gini amat. Tapi ketika saya menyabarkan diri, memaafkan dan meminta maaf, mencoba untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah sampai lupa kalau novel Insya Allah, Sah, mau difilmkan hehehe.

Datanglah berita baik itu, Produser saya yang cantik dan baik hati, Mbak Dian Sasmita menelepon dan minta dikirimkan 2 novel Insya Allah, Sah untuk diberikan kepada Benni Setiawan (penulis skenario sekaligus sutradara film). Malam itu juga, saya cari-cari novel ke orang yang pernah nyimpen novel saya. Kemudian suami pergi ke kantor pusat jasa kurir jam 10 malem cuma buat kirim paket ekspress yang nyampe esok paginya.

Satu bulan kemudian dapat kabar kalau novel Insya Allah, Sah! akan diproduksi bulan April tahun 2017. Masya Allah... emang sih ulang tahun saya yang ke 32 tahun ini biasa-biasa aja, ngga ada perayaan heboh atau makan-makan. Tapi Allah kasih saya hadiah luar biasa *makasih Ya Allah. Novel Insya Allah, Sah syuting tanggal 24 April! Yeaaay... yippi! Alhamdulillah.

Tanggal 24 April 2017 ini saya ke Bandung dan ngintip syuting hari pertamanya ^^ nanti ya saya bikin liputan mininya.


Pesan Ayah Kepada Anak Gadisnya Sebelum Meninggal

Wednesday, January 11, 2017

Pesan Ayah Kepada Anak Gadisnya Sebelum Meninggal



Pagi ini aku membuka jendela dapur rumahku. Wajahku disambut terpaan angin dingin sisa hujan semalam, lambaian pohon pisang dan awan mendung yang masih menggelayut. Pandanganku menerawang melihat langit kemudian tersadar kalau anakku harus segera sekolah. Dengan cepat aku mempersiapkan sarapan praktis untuknya. Saat ini dapurku hanya berupa meja belajar kayu berukuran kecil yang aku beli dari sekolah dasar, dua tahun yang lalu. Artinya itu meja belajar bekas anak-anak SD dan banyak tulisan pulpen di atasnya. Ada sejarah tersendiri kenapa meja belajar kayu itu bisa ada di dapurku.

Tapi saat ini aku mau bercerita tentang pesan almarhum ayahku. Sebuah pesan yang lama kupendam, tapi pesan itu selalu terbit mendadak seperti matahari yang kesiangan, setiap aku melihat kompor. Selama 9 tahun menikah, kompor yang aku gunakan dengan suami adalah kompor yang dipasang menyatu dengan tabung gas, otomatis hanya satu tungku dan bentuk kompornya juga tidak seksi.
Setiap aku melihat kompor, wajah almarhum Ayah selalu terbersit sekilas kemudian pesannya menggaung-gaung di telingaku. 

Dulu sekali, satu bulan sebelum aku menikah, Ayah selalu bilang : “Chi, kamu harus belajar masak. Bagaimana pun juga, suami pasti mau makan masakan istri.” Jawabku saat itu hanya, “Iya, ayah.” Tapi belum ada niatku untuk belajar memasak. Aku hanya bisa memasak mie instant yang kadang kematengan atau masak nasi goring yang rasanya antah berantah.

Sampai kemudian aku punya bayi dan mengurus bayiku sendirian, mulai hidup terpisah dari orang tua. Beruntung suamiku orang yang pandai memasak dan memang hobi masak, jadi kami berbagi tugas rumah tangga. Dia memasak, aku menanak nasi, aku menyapu, dia mengepel, aku mengurus bayi, dia bekerja. Setelah beberapa kali berkunjung main ke rumah kontrakan petak kami, ayah pun kembali berpesan. “Nak, belajar masak, masa suami terus yang masak.”

Jleb. Mulai ada rasa malu di hatiku. Iya, ya, kemudian aku mulai belajar masak dari yang mudah-mudah yaitu membuat bubur bayi sendiri untuk bayiku, lalu membuat nasi tim, kemudian belajar bikin nasi goring lagi buat suami yang seringnya gagal jadi enak. Kemudian datanglah kembali pekerjaan menulis scenario dan nulis novel bertubi-tubi. Lalu kesibukan baru mengurus kelas menulis Rumah Pena membuat aku lupa lagi belajar memasak. Beruntungnya, karena keadaan ekonomi yang membaik, aku bisa menyewa ART yang juga memasakkan makanan untuk kami. Selanjutnya selama 6 tahun, kami selalu makan masakan dari ART kami, atau dari warung nasi terdekat.

Saat anakku berusia 1 tahun 6 bulan, saat aku keasyikan kerja, Ayah terkena penyakit kanker tiroid. Sontak saja dunia terasa berguncang karena kanker telah membalikkan keadaan Ayah. Ayah yang dulu kekar mendadak jadi rapuh, Ayah yang senang bercanda, mendadak sering menangis, Ayah yang penuh semangat mendadak terlihat putus asa. Kanker juga yang merenggut banyak impian dan cita-citaku bersama Ayah. Berbagai macam pengobatan kami coba tapi memang semua sudah terlambat. Siang itu, saat aku mendapat jadwal merawat Ayah, Ayah berkata : Chi, udah bisa masak? Gimana pun juga, suami dan anak-anak pasti mau makan masakan istri dan ibunya.

Satu bulan setelahnya, Ayah meninggal dunia. Menyisakan banyak penyesalan. Maaf Ayah, belum bisa membahagiakan Ayah, maaf ayah belum bisa menjadi anak yang berbakti, Maaf Ayah atas banyaknya pertengkaran di antara kita, maaf Ayah karena banyak nasehat Ayah yang belum aku jalankan. Ya, Ayah sering bilang : Nasehat ayah ini mungkin baru kamu dengerin kalau Ayah udah mati. Ya Allah... ampun... tapi memang benar adanya. Banyak nasehat Ayah yang baru kurasakan manfaatnya karena aku jalani, justru setelah Ayah tiada.

Kenapa? Kenapa tidak saat Ayah masih hidup? Pasti Ayah akan bahagia, bukan, melihat nasehatnya dipatuhi? Enam bulan setelah masa berkabung, aku pindah rumah kontrakan dan mencari rumah kontrakan baru yang memiliki dapur lebih bagus dan lebih manusiawi. Karena dapur sebelumnya penuh dengan tikus, bagaimana aku bisa belajar masa bareng tikus? Di rumah kontrakan baru, aku mulai belajar memasak. Masak makanan yang aku sukai dulu, aku membuat mulai belajar membuat siomay, membuat pempek, belajar bikin tekwan, bikin tahu isi goreng lalu belajar bikin sayur bayam. Dua tahun di kontrakan itu, aku mulai belajar masak meski tidak rutin. Setiap aku masak, ucapan Ayah selalu terngiang-ngiang.

Benar kata Ayah, meski aku hanya memasak tahu isi goreng, anakku makan dengan riang dan lahap, suamiku makan dengan senang. Melihat mereka makan masakanku adalah kebahagiaan yang tak bisa diukur oleh apa pun. Lalu aku pindah ke kontrakan selanjutnya, di kontrakan yang ketiga, dapurnya lebih bagus lagi. Gairah memasakku lebih tinggi lagi. Aku mulai belajar membuat pizza di Teflon, belajar membuat nasi goreng yang lebih enak, belajar membuat bakso –ini yang sering gagal, sulit tapi menyenangkan. Sampai kemudian aku punya rumah dan dapurku hanyalah sebuah ruangan kecil yang diisi meja belajar anak SD. Tidak ada kitchen set dapur seperti dua kontrakan sebelumnya.

Tapi justru di sinilah, di rumah tanpa dapur ini, keinginanku memasak semakin menggebu. Aku juga semakin ingin membuat dapur impianku. Kitchen set impian yang nyaman untuk masak. Tempat yang akan membuatku betah untuk memasak. Bagaimana aku bisa mencapai impianku itu? Ya, salah satunya adalah dengan memantaskan diriku.Untuk apa dapur yang cantik, tentu agar aku semakin semangat masak bukan? Oleh karena itu, sebelum dapur cantikku terwujud, aku pun belajar memasak hal-hal lain. Mulai membuat roti, membuat brownies, membuat sop ikan dan aneka makanan lainnya.
Semakin aku semangat belajar, jalan untuk terwujudnya dapur cantik itu pun semakin lebar. Allah membukakan jalan kepadaku, mempertemukanku dengan Imania Desain. Jasa interior yang professional dan membuat nyaman. Sudah satu bulan, kitchen setku sedang diproduksi oleh Imania Desain. Tak lama lagi... Beberapa hari lagi, dapur cantikku akan terwujud.

Terima kasih Ayah...
Sekarang anakmu sudah bisa memasak.

Sop ikan sudah matang dan harumnya memenuhi ruangan. Aku tahu ayah suka sekali makan ikan tapi sekarang aku tak bisa menyajikan sop ikan di depannya karena Ayah telah tiada. Ya Allah, seandainya dulu aku mengikuti nasehat Ayah untuk segera belajar memasak... pastilah aku bisa melihat senyum Ayah yang memakan masakanku dengan lahap.

Dengarkanlah nasehat Ayahmu selagi hidup, karena setelah ia mati, kau hanya akan menyesalinya. 


Foto Achi-tm Penulis.
Kamu bisa ngikutin jejak aku dengan berkunjung ke www.imaniadesain.com
 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati