Apakah Penulis WAJIB Punya Laptop?

Monday, February 4, 2013

Saya baru saja selesai memberikan sharing tentang perjalanan menulis saya di sebuah grup.
Rencananya saya mau copas sharing itu ke dalam blog ini, tapi sebelum saya mulai merapihkan isi sharing itu saya teringat pada sebuah pengalaman.



Impian terbesar seorang penulis adalah ingin sekali bisa menulis di mana saja, kapan saja. Tentu saja untuk mewujudkan keinginan itu setiap penulis harus punya gadget, minimal laptop yang bisa dibawa ke mana saja. Tahun 2005, ketika saya menekuni dunia menulis, laptop itu masih merupakan barang yang sangat mahal. (khususnya untuk saya yang berasal dari keluarga pas-pasan). Maka untuk mengganti peran laptop, saya pun membawa buku agenda berukuran besar kemana-mana. Tentu saja setiap ada inspirasi yang nyangkut di otak, saya langsung mencari tempat duduk dan menuliskan ide-ide di mana saja dan kapan saja. Dengan modal buku agenda dan pulpen.

Saya yakin, selain saya, banyak sekali penulis-penulis lain yang juga bawa notes ke mana-mana. Sekarang setelah ada BB dan harga laptop yang murah meriah, kemana-mana penulis selalu bawa laptop dan BB :D atau minimal HP yang punya fitur word/note.

Tahun 2005, keinginan untuk punya laptop sangat menggebu-gebu. Terlebih komputer di rumah saya hanya ada satu, sudah tua pula! Dan menjadi rebutan Ayah saya yang seorang guru serta adik saya yang sejak SMA sudah jadi pembuat website untuk sekolah-sekolah negeri. Jadilah saya selalu dapat urutan menggunakan komputer paling akhir. Bahkan tidak dapat jatah sama sekali. Ujung-ujungnya saya harus ke rental komputer, ngetik berjam-jam, ngeluarin uang berpuluh ribu, belum kalau harus ngeprint atau ke warnet untuk kirim naskah. Akses internet di rumah pun saat itu belum familiar. Keperluan internet masih mengandalkan warnet.

Kondisi menyebalkan seperti itu membuat saya sering mengeluh, andaikan saya punya laptop! Dan laptop menjadi prioritas utama saya, saya mulai menabung dari uang jajan kuliah untuk bisa beli laptop. Tapi Oooh... laptop mahal sekali saat itu T_T minimal harganya 6 juta. Belum familiar notebook murah meriah seperti sekarang. Bertahun-tahun Laptop menjadi obsesi saya, membuat saya semangat untuk terus menulis. MEMBARA!

Sampai akhirnya tahun 2007, saya mendapat kesempatan menulis skenario serial Si ENTONG. Menulis serial pertama kali -meski masih jadi co writer dan honornya kecil sekali- saya akhirnya bisa punya akses menulis yang menghasilkan uang cepat dan sering. Namanya serial stripping jadi sehari saya menulis satu episode. Saat itulah saya nekat sama boss saya untuk minta dibelikan laptop. Alias nyicil laptop! Senangnya permintaan saya dikabulkan.

Saya punya laptop tahun 2007, Acer (lupa lengkapnya Acer berapa) ukurannya besar, kerenlah pokoknya. Harganya 6,5 juta. Setiap satu episode honor nulis saya dipotong Rp. 300 ribu sampai akhirnya bisa lunas. Waaaw benar-benar sesuatu deh, butuh berbulan-bulan untuk bisa melunasi laptop pertama saya.

Karena merasakan bagaimana susahnya punya laptop, saya pun sangat menghargai fungsi laptop yang saya beli yaitu : UNTUK BEKERJA (MENULIS DAN MENULIS) saya ingin dengan menggunakan laptop saya bisa lebih produktif menulis. Itu janji saya pada diri sendiri, alhamdulillah terkabulkan. Saya semakin banyak menulis.

Perihal laptop ini tak berhenti di sini, setelah dua tahun punya laptop saya bertemu dengan beberapa teman (yang baru mulai karir sebagai penulis) belum menembus media mana pun mereka sudah mengeluh "Ini karena saya ngga punya laptop makanya saya ngga bisa nembus media. Kamu enak, chi, punya laptop jadi bisa produktif" maka tak bosan-bosan saya ceritakan perihal kondisi saya sebelum punya laptop.

Dan pernyataan itu bukan hanya dari satu dua orang. Sampai-sampai saya bosan menjelaskan dan akhirnya hanya bisa bilang ya sudah beli saja laptop kalau memang mampu. Tapi apa yang terjadi? Setelah sang teman mempunyai laptop dia malah lebih sibuk fesbukan daripada menulis, dia malah lebih sering main game daripada menulis, lebih sering nonton film di laptopnya daripada menulis. Lalu di mana semangat dan janji menggebu-gebu dirinya dulu yang mengatakan : kalau saya punya laptop saya pasti lebih produktif menulis.

Nah, sekarang buat kamu yang suka nulis, apakah kamu punya laptop?
Apakah laptop kamu sudah dipergunakan dengan maksimal? Apa tujuan kamu punya laptop?
Sudah berapa cerpen dan novel kamu hasilkan dari laptop kamu?

Mari kita merenung sama-sama... benarkah semua fasilitas yang sudah kita miliki : laptop, internet, kemudahan informasi, penerbit yang semakin banyak dan lain sebagainya, sudah menjadikan kita lebih produktif dalam menulis?

Salam
Achi TM

6 comments:

  1. wah, ternyata sama mbak achi.
    nih netbukku juga hasil kredit dua tahun. dipotong dari uang beasiswaku. alhamdulillah sangat mendukung aktifits kuliah dan menulis. insya allah selalu dimanfaatkan dengan baik.
    thanks sharingnya mbak achi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Debu :D
      Iya betul sekali, sesuatu yang didapatkan dengan susah payah insya allah akan kita pergunakan dengan maksimal, dijaga dengan baik-baik dan tidak disia-siakan :D makasih udah baca, boleh dishare kok ^_* heheheh

      Delete
  2. xixixi... senyum-senyum sendiri baca tulisan Mbak Achi. Bener banget tuh, Mbak. Aku sudah mulai suka nulis (bisa dibilang gitu lah) dari piyik. Buku tulis buat sekolah, beberapa halamannya terselip tulisan-tulisan 'nggak jelas' sasaran 'ide' yang nongol tiba-tiba. Masih SD dah pengeeen punya mesin ketik, padahal di pelosok dusun mah (apalagi jadul) cuma perangkat desa yang punya :D Tapi yaa sebelum sampai punya mesin ketik, tetep nulis di manapun ide datang, masih pake pulpen/pensil dan kertas apa aja. Sampe SMU (udah lulus malah) mesin ketik belum punya juga. Pokoknya aku mau punya mesin ketik (Komputer masih barang eksklusif waktu itu), alhamdulillah bisa kebeli juga eta mesin ketik, walau diriku harus menyebrang pulau buat ngumpulin lembaran dan pecahan rupiah. Eh, alhamdulillah lagi sekarang dah dikasih lappy, sebagai hadiah beberapa tulisanku lolos antologi. Jadi semangat deh nulisnya ^_^ Hiya curcol sama Mbak Achi, jangan-jangan dijadiin naskah FTV xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woooww kayaknya harus saya jadikan novel terus dijadikan FTV xixixixi :D
      Iya mbaa... subhanallah sekali ya, susah payah ngumpulin uang demi mesin TIK :D alhamdulillah susah payahnya dibayar sama laptop ;) semoga laptopnya semakin berguna, semakin banyak menghasilkan karya ya, mbak. Ditunggu novel-novelmu :)

      Delete
  3. waah mbaak tulisan mbak Achi mengenaaa di hatiku. Telak tepat.Wkkki. Ya gitu deh,mbak saat gak punya smngat menggebu gebu, sampe dibela2in melek tengah malem setelah tahjut,bablas ngetik tulisan apapun sampe subuh. Karena kondsinya, saat itu saya harus berkorban ikhlas antara swami, anak. Siang(anak) malam buat lembur sidejob. Sisanya baru diriku yg kudu kuat menahan godaan kepenatan setelah banting tulang sbg ibu rmh tangga. Hehehe. Akhirnya, bisa nyicil netbook malahan dongkrok tuh, meski ide sliweran (terpaksa buat mindmapping).
    Terakhir mbak, aku mau belajar keras n smampunya sama mbak. kira2 kpn ada klas biar saya punya skill utk membantu beli susu anak2 mbak :) Please

    ReplyDelete
  4. duuh kak, sakitnya tuh disini *nunjukdiri
    ya benar kak, Pada akhirnya sukses menulis bukan karena kita miliki semua fasilitas tapi karena kerja keras dan kemauan.ini jadi cambuk buat diri

    ReplyDelete

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati