BISAKAH HIDUP DARI MENULIS? BISA... INI CARA SAYA.

Sunday, September 10, 2017

Sebagai penulis full time, saya dan suami tidak punya gaji bulanan. Tidak punya tunjangan sertifikasi atau apa pun. Oleh karena itu kalau mau hidup layak, kami harus bekerja keras dua kali lipat daripada mereka yang mendapatkan gaji. Karena apa? Karena dunia menulis itu pasang surut.
Pernah dalam satu tahun kami mengalami surut sekali pekerjaan menulis skenario. Sampai kami rela menulis artikel yang dihargai 20 ribu rupiah hanya demi bisa makan. Agar bisa hidup layak, kami harus kerja keras menulis masing-masing 10 artikel dalam satu hari. Karena apa? Karena job nulis artikelnya tiba-tiba saja berhenti di bulan ke-4 kami bergabung. Job dihentikan maka berhenti juga rejeki yang ngalir dari artikel itu.
Di waktu yang lain, dapat panggilan menulis stripping lagi. Gembira. Kami menulis stripping tapi baru 13 episode, tayangannya berhenti. Maka berhenti juga aliran dana ke kami.
Ya, dunia menulis ini dinamis banget. Kalau lagi banyak proyek, banyaaaak sekali yang kami dapatkan. Kalau tidak ada sama sekali ya sama sekali kami ga dapat uang. Di 3 tahun pertama kami memutuskan jadi penulis full time (saya dan suami), kami belum tahu polanya dan tidak tahu bagaimana mengatur ritmenya. Sehingga ketika tidak ada job, uang tabungan pun terus kepakai lalu habis, lalu hidup serba ngepas meski kadang harus ngutang sama adik atau kakak yang kerja gajian.
Sampai kemudian kami belajar tentang prioritas. Maka di tahun 2011, saya mulai fokus lagi menulis novel. Setelah terakhir novel saya terbit tahun 2009. Fakum 2 tahun kemudian bergerak lagi untuk nulis novel. Karena apabila tidak ada pekerjaan di dunia skenario, maka saya menulis novel. Itu strategi saya. Bahwa novel adalah pendapatan jangka panjang. Selain uang royalti bisa menjadi uang tambahan untuk keluarga, nama saya juga bisa naik lagi.
Percaya atau tidak. Rentang tahun 2008-2011 ketika saya fokus nulis ratusan naskah skenario. Nama saya mandeg. Ngga ada yang kenal saya. Apalagi kalau ikut tim nulis, boro-boro masuk TV. Kalaupun nama ditulis di FTV, berapa banyak penonton yang memerhatikan?
Oleh karena itu dengan rajin menulis novel, saya punya bukti fisik bahwa saya penulis.Alhamdulillah setelah digeber, sejak 2011-sekarang, dalam satu tahun rata-rata saya menelurkan 3 novel. Tahun 2011 buku saya hanya ada 6 buah saja. Tahun 2017 sekarang sudah ada 24 novel.
Sejak saat itu, royalti buku bisa membuat kehidupan keuangan rumah tangga kami agak sedikit stabil. Tabungan pun tidak diutak-atik terus saat tidak ada job menulis skenario. Meski tidak ada job stripping tapi kami terus menulis sinopsis buat FTV, ada masa ketika sinopsis kami ditolakin terus, kami masih bisa hidup dengan royalti buku sampai kemudian ada sinopsis yang nembus. dan seterusnya dan seterusnya.
Apa semua novel saya laku di pasaran? Tidak.
Tidak semuanya laku di pasaran. Ada perasaan lelah dan jengah ngga mau nulis novel lagi tapi selalu saja Allah memberikan semangat lewat cara yang berbeda-beda. Salah satu penyemangat saya tetap menulis adalah : ketika saya mendapatkan email dari salah seorang pembaca novel saya. Yang mengatakan bahwa dia menyukai novel saya dan menunggu karya-karya saya yang lain.
Seperti setruman semangat yang mengalir ke seluruh darah saya. Di suatu tempat, ada orang asing yang menantikan karya saya. Ada orang asing yang terinspirasi dengan novel yang saya tulis. Itulah yang membuat saya terus semangat menulis novel. Meski royalti kadang hanya dapat 200 ribu dipotong pajak 15% *halah tapi saya yakin dengan seyakin yakinnya kalau Allah selalu membayar setiap kerja keras kita.
Pernah pula, selama 2 minggu saya ngga nulis apa-apa dan ini stressnya luar biasa. Setelah saya menulis, meski hanya sekedar puisi, saya merasa bahagia dan lega.
Novel Insya Allah SAH yang terbit tahun 2015, adalah momentum luar biasa dalam hidup saya. Hasil kerja keras dan kesabaran saya seperti dibayar sama Allah bertubi-tubi. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa novel Insya Allah SAH bisa difilmkan? For Your Info, novel Insya Allah SAH dipinang oleh PH MD Entertainment saat satu bulan terbit.
Saya hanya mampu menjawab : ini adalah hadiah dari Allah.
Maka ketika saat ini ada PH yang rela bikin kontrak dengan saya untuk memfilmkan novel saya yang belum terbit, saya semakin yakin bahwa kasih sayang Allah begitu sangat besar.
Pernahkah saya dan suami berpikiran mencari rejeki dari tempat lain? Pernah. 5 Bulan kami ngga nulis (untuk industri) sama sekali. Saya hanya nulis puisi, nulis curhatan galau di blog dan nulis status.
Uang tabungan kami, 30 juta, kami pakai untuk bikin usaha makanan selama 4,5 bulan dan hasilnya makanannya kami makan sendiri. Alias gagal total. Nelongso. Babak belur. Ngap-ngapan dan ya udahlah akhirnya seseorang bilang ke kami : selama ini periuk nasi kalian dari mana? Ya dari menulis.
Akhirnya kami balik menulis dan voila... langsung dapat pekerjaan yang terus mengalir sampai jauh. Allah kasih saya talenta menulis. Kasih suami saya talenta menulis. Kalau tidak bakat dagang barang fisik, yang jualan kata-kata saja.
Jadi kalau ada pertanyaan bisakah kita hidup layak dari menulis? Jawabnya : iya. Bisa. Asal menulis terus. Dan harus menulis lebih banyak dari orang lain. Bekerja lebih keras dari orang lain. Berpikir lebih banyak dari orang lain.
Selamat menulis, selamat bersenang-senang.

2 comments:

  1. Mba Achi, salam kenal... Mungkin dirimu tak tau siapa aku hehehe... Tapi kita mengenal lewat HSKM

    Wah saya senang sekali ada orang yang luar biasa... Apalagi saya pun memiliki cita-cita yang sama... Mba kalau saya japri boleh dijawab ya? Terima kasih ☺☺

    ReplyDelete
  2. Semangat, mbak.... saya suka, saya suka...

    ReplyDelete

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati