[MOTIVASI MENULIS] - Bukan Masalah Menang Atau Kalah ~

Tuesday, May 1, 2012

[MOTIVASI MENULIS]
- Bukan Masalah Menang Atau Kalah ~


Halo para penulis apa kabar?
Aku mau sedikit share nih, tentang yang namanya prestise.
Apa, sih, kebanggan terbesar seorang penulis? Ada yang bangga ketika cerpennya dimuat di media, ada yang bangga saat naskahnya jadi buku, ada yang bangga ketika berhasil memenangkan lomba di facebook. Bahkan ada prestise tertinggi lagi yaitu berhasil memenangkan lomba menulis tingkat Nasional yang diadakan lemba
ga sastra tertinggi di negeri ini. Plus dapat award atas karyanya.

Semua penulis boleh bangga, boleh jumawa, boleh gembira. Tak ada yang melarang. Tapi ternyata banyak pula yang terjebak oleh kebanggaan itu. Nah yang paling berbahaya adalah karena kebanggaan seorang penulis dikirannya hanya bisa diraih dengan memenangkan lomba, maka penulis-penulis pemula pun berbondong-bondong ikut lomba. Demi mendapatkan kebanggaan.

Tak mengapa, itu bagus. Membuat kita semangat, membuat inspirasi kita meledak-ledak. Yang tidak bagusnya adalah : pandangan kita. Kita yang memandang bahwa memenangi sebuah lomba berarti kita hebat, kita patut bangga, berarti kita sudah jadi penulis nomor wahid.

Syukur-syukur kalau kita diberi 'hoki' selalu memenangkan perlombaan. Diberi kesempatan untuk sekali saja menang lomba dari 100 lomba yang kita ikuti. Tapiii... setiap lomba hanya memilih 3 pemenang, setiap lomba akan membuat ratusan peserta merasa kalah dan tidak pede.

Kalau penulis senior kalah lomba, ya mungkin hanya sedih sesaat lalu bisa berkarya lagi. Tulisannya wara-wiri di mana saja. Kalau yang baru bergiat menulis? Baru meniti karir di kepenulisan bagaimana? Seringkali aku membaca status, anak-anak yang semula rajin nulis tiba-tiba mutung karena sering kalah lomba. Ada yang bilang pula : mungkin gue gak bakat jadi penulis, gue kalah terus. Ada yang benar-benar berhenti mencoba menulis lagi. Ada yang masih tetap semangat namun akhirnya merasa jadi lozer karena kalah lomba.

Well... saudaraku, sesama teman-teman yang suka menulis.
Dalam dunia menulis, selalu jadi pemenang bukan patokan tulisannya selalu baik dan bagus. Bukan jaminan karyanya selalu disukai pembaca. Boleh jadi hanya disukai oleh dewan jurinya. Begitu sebaliknya. Belum tentu naskah yang kalah itu jelek, boleh jadi malah best seller di pasaran. Ngga ada yang salah. Yang salah adalah sikap kita memahami arti dari sebuah kebanggaan.

Mari rubah pola pikir bahwa : Memenangkan sebuah lomba kepenulisan tingkat apa pun adalah sebuah prestise tinggi, sehingga kalau kalah berarti kita bukan penulis baik.

Tetap ikut lomba, sambil terus kirim ke media, jangan terpaku pada penilaian dia si pemenang dan dia selalu si kalah. Thats why... aku tetap menulis sampai sekarang.

Meski ratusan lomba menulis tingkat nasional aku ikuti dan selalu kalah. Aku merubah pola pikirku. Tanpa memenangkan sebuah lomba pun, aku bisa tetap jadi penulis. Bedanya adalah : mereka lebih hebat, karyanya lebih bagus. Dan aku akan belajar untuk terus memperbaiki tulisanku.

Percayalah : Dulu aku suka banget menggambar, pengen jadi desainer, pengen jadi komikus. Aku selalu ikut lomba komik juga dan selalu kalah. Sampai suatu hari, aku dan temanku memenangkan lomba komik di majalah nasional. Juara 1! Naik ke panggung megah, nerima banyak hadiah, jumawa, bangga. Setelah itu? What? Aku kehilangan gairah menggambar. Aku merasa puas dan berminat lagi jadi komikus.

Bayangkan : jika aku menang lomba menulis tahun 2004 itu... ngga bakal ada yang namanya Achi TM si penulis *narsis dan bangga dong sama profesi sendiri*

Ini bukan masalah menang atau kalah. Menulis yang baik dan bermanfaat, nasihat menasihati dalam kebaikan dan kebenaran adalah tugas manusia :)
Buat para pengalah ;p orang-orang yang kalah lomba. Heeeii... itu cuma lomba nulis. Just for fun okey! Mungkin Allah lagi mempersiapkan kita supaya siap jadi pemenang!



Achi TM

3 comments:

  1. wah jadi tambah semangat nih, thanks sharenya ya mbak :)

    ReplyDelete
  2. So Inspiratif, terima kasih mba achi t-m.

    ReplyDelete

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati