Saung Angklung Udjo dan Jaket Yang Hilang

Thursday, July 19, 2012

Pada hari selasa tgl 10 Juli saya dikejutkan oleh sebuah telepon dari salah satu EO di Bandung. Mereka meminta saya dan tim Rumah Pena untuk mengisi pelatihan motivasi di Bandung. Karena kondisi sangat mendesak dan hanya minta 2 orang pemateri saja, akhirnya saya mengajak Widuri Al Fath yang selama ini memang jadi rekan saya dalam memberantas kegalauan. Lihat ini buku kebanggaan kita : No More Galau - Dear Bunda Cuwiy :D


Jadi yang belum beli buku kita, buruan ya cari di Gramedia. Apalagi sedang bulan Ramadhan begini, pasti galau-galau karena lapar. Upss... jangan galau, buruan dibeli aja bukunya, hehehe.

Balik lagi ke masalah pemberian training motivasi. Awalnya, sih, deg-degan banget, ya, karena kita akan diminta mengisi motivasi untuk BNI Securities, tapi bermodalkan pengalaman dan jam terbang yang lumayan, akhirnya deg-degan itu juga hilang. Maka pada tanggal 14 Juli kemarin, aku meluncur ke Bandung bersama suami dan anakku. Acara motivasinya sendiri tanggal 15 Juli, tapi karena aku mau ikutan acara Pesta Awug Pabers di Kantor Mizan jadinya berangkat tanggal 14. Wah, bagaimana cerita aku selama di pesta Awug? Nanti akan aku ceritakan di postingan lainnya.

Singkat cerita, aku dan suami akhirnya menginap di rumah om aku. Om Ai namanya. Rumahnya di Daye Kolot, deket Buah Batu kalau ngga salah. Dingin banget saat malam tiba, nyaris ngga bisa tidur karena mengigil. Tapi ada satu hal yang bikin aku tidak bisa tidur, ternyata rekanku Widuri Al Fath nyasar saudara-saudara! Lhoh?

Jadi, karena beliau adalah dosen dan harus mengajar di hari Sabtu. Pukul 5 sore dia baru bisa bertolak dari Tangerang menuju ke Bandung. Sayangnya setelah sampai di Bandung pukul 9 malam, ternyata angkot-angkot sudah jarang beroperasi. Usut punya usut beliau naik angkot yang ke arah Ciparay, melewati daerah rumah Om aku. Tapi karena sudah malam dan Widuri serta suaminya buta soal Bandung, jadilah ia bingung di mana harus turun. Jangankan dia, aku sendiri bingung hehehe...apalagi HP Widuri dan suaminya lowbet secara berjamaah. Ya ampun, akhirnya suamiku dan Om Ai naik motor tengah malam buta, tepat jam 12 malam, menembus dinginnya kota Bandung. Brr... mereka berdua sudah seperti polisi patroli saja, mondar-mandir mencari angkot yang khilaf beroperasi sampai tengah malam. Setelah sempat disangka preman yang mau malak, karena melambai-lambai ngga jelas, akhirnya suamiku bisa menemukan Widuri dan suaminya yang ternyata juga sudah hopeless karena kesasar. Duuh...

Jam 12 lewat, akhirnya sahabatku itu bisa datang ke rumah Om Ai. Saat itu aku sudah terlelap ke dunia mimpi alias ngorok. Antara sadar ngga sadar aku menyambut dia. Hix... shubuh-shubuh sekali kami bangun dan sambil sarapan (karena bandung dingin banget jadi shubuh juga udah harus isi sesuatu) mulai saling berkoordinasi untuk acara training motivasi nanti.

Atas saran Om Ai, kami pun pergi ke tempat acara dengan menggunakan motor. Rencananya kami mau naik taksi saja sesuai dengan instruksi panitia tapi melihat Bandung yang macetnya minta ampun, akhirnya Om Ai menyuruh kami naik motor. Simpel, cepet, bisa nyelip-nyelip! Yeay! Karena motor cuma ada 2, akhirnya Om Ai ngga ikut buat memandu kami. Abiy dititipkan ke Tante Devi alias istrinya Om Ai. Setelah Abiy pergi, kami pun meluncur. Suamiku yang jadi pemandu jalan padahal dia sendiri tidak tahu menahu rute jalan di Bandung. Emang, sih, naik motor cepat, bisa nyalip tapi nyasarnya ngga kuaaat bo! Padahal jalannya, kan, gampang cuma lurus, belok kanan dan belok kiri, susah amat yak! Hehehe....

Nah, jam 10.30 kita sudah standby di tempat acara yaitu Saung Angklung Udjo. Ih noraknya saya melihat ada bule bule bisa main angklung. Tempatnya juga bagus, seperti tempat teater mini, tempat duduk yang melingkar dan di tengah orang-orang membuat pertunjukan. Saya pikir saya dan tim sudah terlambat tapi ternyata tidak. Panitianya sendiri belum datang. Gubrak deeeh...

Setelah menunggu agak lama, akhirnya saya ketemu sama panitia yang memanggil saya. Kami pun mulai berkoordinasi satu sama lain agar acara lancar. Tapi apa mau dikata, kemacetan kota Bandung membuat acara mundur beberapa menit. Peserta yang seharusnya sudah datang ternyata masih terjebak di jalan raya. Saya dan Widuri tetap mencoba untuk berpikir positif, kita akan melakukan yang terbaik apa pun yang terjadi. Rencananya, setelah peserta datang, kita sudah bisa langsung memberikan sesi motivasi. Tapi -lagi-lagi- peserta datang jam 12.30 dan mereka langsung meluncur ke tempat makanan yang disajikan prasmanan. Ya iyalaaah... kalau saya jadi peserta saya juga sudah kelaparan wkwkwkw. Tapi karena kami pembicara jadi ngga berani makan duluan, so nahan-nahan lapar sedikitlah. Lumayan minum-minum air dulu yang sudah dikasih panitia.

Setelah makan, barulah mereka masuk ke teater mininya saung udjo (maaf kalau salah sebut :p) di sana, saya dan Widuri hanya diberi kesempatan 20 menit untuk kasih sesi motivasi. Hap! Hap! Hap! Waah... akhirnya kita memberikan motivasi seperti orang marathon deh hehehe... cepat, ringkas, tuntas dan insya allah berkualitas. Kalau ada kurang-kurang, ya, kurang waktu sepertinya :D karena rencana awal kita mengisi motivasi selama 45 menit. Apa daya, kemacetan karena kecelakaan, kan, ngga bisa diprediksi, ya. Yang penting do the best aja.

Alhamdulillah setelah acara selesai kita langsung makan siang dan menerima amplop yang sudah dijanjikan*wiiih... isinya mah rahasia! Ehem... akhirnya kita pun bersiap untuk pulang. Taraaaaa... ternyata saat mau pulang, jaket hijaunya mba Widuri raib! Nah looh? Ke manakah si jaket hijau? Sebelum kita ketahui di mana jaket itu, marilah lihat foto-foto saya berikut ini.













2 comments:

  1. Ya ampuyuun, Achii... makanannya kelihatan enak bener :D

    ReplyDelete

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati