Aku Benci Sama Penerbit Itu!

Saturday, November 15, 2014

Naskahku ditolaaak... huhuhu... Jungkir Baliik!


Siapa bilang kalau sudah menerbitkan 20 buku lebih dan menulis ratusan naskah skenario SEMUA tulisannya pasti di acc sama penerbit? Siapa yang bilang? Sini saya ceplokin telor, kasih mesis dan gulung-gulung pake saos... ah jadi laper.

Ya, pernah ada yang bilang begitu. Beberapa kali di komentar status facebook. Padahal mah ya, saya ini tetap saja sering ditolak sama penerbit. Dua tahun yang lalu naskah saya ditolak mentah-mentah sama sebuah penerbit dan mereka review naskahnya sadis banget. Mulai dari kurang taste, kurang konflik, karakter ngga kuat dan lain sebagainya yang detail sekali. Masukannya sampai satu halaman lebih tapi tidak ada kesempatan revisi. DITOLAK blas!

Akhirnya aku benci sama penerbit itu! Huh! Huh! begitu sih reaksi awalnya, lebay banget. Hayoo ngaku yang naskahnya pernah ditolak pernah ngga lebay begitu? Hehe... masa aku sendiri, sih? Temenin dong.

Nah, setelah berbete bete sama penerbit itu sampai seminggu, akhirnya kubuka kembali masukan dari sang penerbit. DETAIL banget itu. Akhirnya aku revisi naskahku yang ditolak itu sesuai dengan kritik pedas si penerbit. Oh iya, sekedar catatan, aku tidak kirim sinopsis lho ke penerbit ini. Aku langsung kirim naskah dan satu hikmahnya adalah : MEREKA MEMBACA NASKAH! Ini yang aku apresiasi banget. Akhirnya aku jadi ngga benci lagi, deh.

Apalagi berkat review sadis mereka, novel itu jadi ciamik setelah aku rapihkan sana sini, tambal, bongkar, poles-poles. Kemudian aku lempar ke penerbit lain dan alhamdulillah di penerbit lain itu malah jadi novel unggulan! Dalam enam bulan sudah terjual lebih dari 3000-an eks buku, cetak ulang sampai 10 ribu eks dan masuk rak-rak best seller. Uwow... jungkir balik.

Ya, meski bukan mega best seller sih tapi udah alhamdulillah bingitzlah dengan royaltinya yang sampai sekarang -setelah dua tahun berlalu- masih ngalir aja kayak air mancur.

Oke, setelah 2 tahun terakhir itu aku tak menerima penolakan. Bulan ini aku menerima 2 penolakan naskah bertubi-tubi! Satu naskah tentang kematian, di luar trend banget dan ngga populer. 3 Editornya bilang sih naskah OKE dan ACC, pas dikasih ke BIG BOSS, ternyata BIG BOSS ngga suka. Yaa... batal terbit, deh, alias DITOLAK. Hix... aku tanya jeleknya di mana, biar kurapihkan, jawab si editor : ga jelek, kok, cuma big bos ga suka. Masalah selera aja.

JADI KALAU NASKAHMU DITOLAK... Itu terkadang hanya masalah selera saja hehehe.... catet bo.

Oke, sakit sih ditolak. Meski udah sering ditolak. Akhirnya aku menggarap satu novel penerbit lain saja supaya ngga sakit berkepanjangan. Toh, di depan mata sudah ada 3 penerbit besar yang menunggu naskah novelku. Bahkan satu penerbit khususon mengirim WA setiap minggu untuk bertanya sudah sampai di mana perjalanan kitah... eh penulisannya. Ya, semakin ditanya semakin garanglah aku menulis.

Udah reda sakit di hate... eh aku keingetan sama naskah novel Bisikan Sahabat yang dulu pernah dipublish di penerbit CUPID. Rencana aku menawarkan republish ke sebuah penerbit lain di Jakarta. Apalagi editornya sudah kontek-kontek aku minta endorsment novel mereka sampai 2 novel. Kukirimlah draft novel itu.

Dua bulan berlalu, baru kemarin aku inbox lagi penerbitnya dan nanya pukul 13.00 WIB. Gimana dengan naskah saya berjudul Bisikan Sahabat? Sudah dua bulan saya kirim. Katanya : Masih di antrian. Oh oke.

Jam 13.20 ada email masuk ke HP. Ternyata dari penerbit yang tadi. Email pernyataan bahwa NASKAH SAYA DITOLAK.... sekarang saya mau guling-guling di kasur. Buseeet barusan eike nanya jam 1, 20 menit kemudian udah ditolak. Saya inbox aja : naskah saya dibaca full ngga?

Ngga katanya, hanya baca sinopsis saya. Well... setelah saya ingat-ingat, di naskah saya itu memang ada sinopsis, tapi itu BLURB buat di belakang novel. Oh ya ampun.

Iya, sih, saya sudah tahu kalau penerbit itu sibuk banget, biasanya penerbit baca sinopsis aja baru naskah. Beberapa novel saya juga hasil orderan penerbit, biasanya yang order ke kita juga minta dibuatkan sinopsis dulu yang detail sampai ending. Seharusnya saya paham, saya ngga teledor dan harusnya tahu kalau penerbit yang saya sambangi ini HANYA BACA SINOPSIS! (cuma tetep aja gagal paham, saya kirim 2 bulan lalu napa dibahasnya cuma 20 menit langsung TOLAAk... tak bisakah baca barang sebab dua bab dulu? Hix- plaak... penerbit itu sibuk Achi--- guncang-guncang bahu sendiri)

Ngga seperti penerbit yang 2 tahun lalu menolak saya, well... saya jadi angkat topi deh buat penerbit yang dua tahun lalu nolak saya... keren banget karena baca keseluruhan cerita.

Jadi yang baca sinopsis itu bukan hanya penerbit yang order naskah ke kita. Tapi almost semua penerbit itu juga baca sinopsis. Nih, ada bocoran dari Chief Editor senior di Mizan, Benny Rhamdani soal dapur editor :

Ini biasanya urutan yang dibaca editor akuisisi:

1. Sinopsis plot (bukan blurb) jangan sekali-kali mengirim blurb.
2. Bab 1. Jika menarik akan lompat
3. Bab random. Jika menarik akan lompat
4. Ending

Jika 4 hal itu menarik maka dia akan membaca seluruhnya.



CATEET yaa semuanyaa :)





Oh iya, ngomong-ngomong soal Mizan, saya sudah bekerja sama menerbitkan satu novel di Dar! Mizan berbekal sinopsis yang ciamik. Novel pertama : Berburu Bintang, itu novel remaja yang keren banget. Ini nih penampakan covernya : 








Cakep kan cakep kan? Hehehe... beli yaa... *ups keceplosan promo. Dan novel kedua nanti akan terbit berjudul MY YELLOW LETTER. Catet dulu judulnya, cover coming soon. 




Nah, Finally, ini jadi PELAJARAN BERHARGA bangeeet buat saya. JANGAN CEROBOH kasih blurb ke penerbit. HAROM hukumnya.



Fyuuh... akhirnya lega sudah saya menuliskan ini di blog saya. Malam ini saya bisa bekerja dengan tenang. Semoga sharing ini bermanfaat ya. 




Intinya adalah JANGAN KIRIM BLURB, kirimlah sinopsis utuh, konflik utuh, karakterisasi utuh, penyelesaian masalah utuh dan ending yang utuh. 



Oke... lanjuut bikin novelnya. 



Jangan patah semangat ya buat yang naskahnya ditolak. Biarlah naskah itu ngeJOMBLO itu sampai nanti takdir yang akan mempertemukan dia dengan jodoh penerbit yang tepat. Ahay....



Akhir kata jangan terpengaruh sama judul yang agak propokatip. Saya gak benci sama penerbit mana pun. Semua penerbit yang pernah nolak naskah kita gak boleh kita benci. Bete sedikit gapapa, abis itu kirimin naskah lagi. Gempur terus. Bagaimana pun juga penerbit dan penulis harus selalu harmonis manis kismis klimis klimis. 



Salam Pena

Achi TM
Mau kursus menulis? SMS ke : 0855643376193


15 comments:

  1. Fenny juga pernah illfeel sama agensi naskah yang gak memberi kabar naskah pertama tapi untungnya malah jadi penyemangat karena akhirnya bsa nembus langsung ke penerbit tanpa agensi, wohooooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Miss Fenny, iya jodoh pasti bertemu ya hehe... naskah kita pasti laku kok, hanya waktu yang akan menjawab ^^

      Delete
  2. semangat! :)
    makasih sharingnya...
    semoga saya bisa segera menyusul kirim naskah ke penerbit heuheu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangaaatt Nathaliaa.... fyi nih, aku pernah saking kesalnya naskah ditolak tahun 2006, tuh naskah aku buang ke tong sampah hehee. Tapi temanku ngambil naskah itu dan ngingetin aku supaya naskah itu dikirim ke tempat lain. Alhamdulillah thn 2007 terbit di Media Pressindo :D judulnya Quly Girl. Jadi jangan menyeraah yaa.

      Delete
  3. Seru ih bacanya dan dapat tips keren juga sih akhirnya untuk menyikapi naskah yang ditolak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayooo mba wiwiek, semangat semangat mbaa, naskahku sing ditolak ini akeh banget, tapi naskah yang di acc juga akeh. Mbk wik pokus dulu ke yang di acc mba... uhuuy deh kalo dah mup on baru cari penerbit lain hihihi

      Delete
  4. Aahh... postingan ini langsung membakar semangat kuu. Ciamik!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hilda, baca postingan lainnya yaa... biar makin terbakaarrr.

      Delete
  5. Makasiii mak Achi... Postingannya bikin makin semangat, semangat, semangaaat!

    ReplyDelete
  6. utk naskah yg sinopsis dan bab 1, tp blm kelar, ada gak penerbit yg mau terima model gitu ya chi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak uni, sinopsis yang penting full, karakter utuh, konflik utuh, penyelesaian masalah sampai ending sudah ada juga. Kemudian tulisa bab 1 sampai bab 2 lah. Tapi 2 bab ini dibuat yang ciamik. Bahkan ada lho, penerbit yang karena tahu kapasitas menulis kita mereka ngga minta bab 1, cukup minta sinopsis aja uni.

      Ini sharing aja, 1 novelku yang sedang digarap buat Gramedia hanya acc by sinopsis, 2 novelku di Erlangga juga acc by sinopsis aja, di Penerbit Andi, karena mereka sudah tahu track menulisku, mereka juga minta sinopsis saja. Kalau di penerbit lain aku belum tahu :) ayo semangat uni....

      Delete

 
BLOGGER TEMPLATE BY Langit Amaravati